
"Selamat ya Kak atas kelahiran baby boy nya,duh lucu deh gemes"ucap Bulan saat melihat bayi Mentari yang kini ada didalam gendongan Abra.
"Kamu juga sebentar lagi nyusul kan dek,sudah ketahuan jenis kelamin nya?"tanya Tari yang kini kondisinya sudah mulai pulih dan bisa duduk.
"Masih harus nunggu dua bulan lagi baru dwh ketemu sama si kecil.Sudah tapi masih belum yakin sih,ya apapun yang keluar nanti sama sama anak Bulan Kak.Mau cewek atau pun cowok sama sama sakit pas ngeluarinnya"jawab Bulan yang langsung mendapat genggaman tangan yang erat dari sang suami.
Radit memang selalu merasa bersalah setiap Bulan membahas proses melahirkan.Pasalnya dulu Radit tidak diberi kesempatan untuk menemani Bulan saat melahirkan Bintang.
Namun untuk kehamilan yang ke dua ini Radit benar benar menjadi suami yang siaga.Tidak peduli dengan rasa kantuk dan juga lelah,Radit selalu berusaha memberikan apa yang Bulan butuhkan dan Bulan inginkan.
Tidak jarang Radit keluar malam malam demi memenuhi ke inginan bumil kesayangan nya itu.Namun semua Radit lakukan penuh dengan rasa ikhlas.
*
*
Disisi lain Bian yang datang menjenguk Tari tidak henti henti nya melirik ke arah Laras yang begitu nampak cuek seolah olah mereka tidak saling mengenal.
Padahal jika ditempat kerja keduanya sering terlibat kerja bareng.Apa lagi kini Laras bertugas menjadi sekertaris dari Bian setelah sekertaris yang sebelum nya mengambil resign karena hamil dan akan melahirkan.
Sontak duanya sering terlibat kerjasama yang cukup kompak.Bian dan Laras selalu bekerja dengan profesional selama masa kerja
Dan kinerja Laras yang cukup profesional dan juga kompeten membuat Bian cukup mengagumi wanita itu dan diam-diam Bagas juga cukup tertarik pada sosok Laras yang ternyata sangat ceria dan baik hati
__ADS_1
Mudah bergaul dan tidak pandang bulu dalam berteman namun nampaknya hanya Bianlah yang memiliki perasaan ketertarikan pada Laras
Berbeda dengan Laras yang selalu bersikap cuek dan dingin di luar pekerjaan dan jujur itu membuat Bian merasa tidak nyaman.
"Mah aku pulang dulu ya,besok pulang kerja aku langsung kesini"ujar Laras yang bangkit dari duduknya sembari menyambar tas slempang miliknya dan bersiap untuk pergi.
Melihat itu Bian pun ikut serta bangkit dan berpamitan pada Tari yang dulu sempat menjadi Kakak iparnya dan hubungan keduanya pun nampak baik,itulah kenapa Bian juga datang kerumah sakit untuk mengucapkan selamat dan memberikan bingkisan untuk si kecil.
"Tunggu"ucap Bian setengah berlari mengejar Laras yang sudah agak jauh berjalan.
Seruan Bian pun membuat langkah Laras terhenti dan menoleh ke arah Bian dengan kedua alis yang menyatu.
"Kita pulang bareng,biar aku antar kamu pulang"ujar Bian saat sudah tiba didepan Laras yang berdiri menatap penuh kebingungan.
Laras pun mengikuti langkah Bian tanpa banyak protes.Keduanya masuk kedalam mobil yang sama dengan posisi duduk dibagian depan.
"Maaf ya"ucap Bian tiba tiba yang membuat Laras kebingungan.
"Maaf?maaf untuk apa?"
"Untuk yang tempo hari,masalah cincin.Sungguh aku tidak bermaksud menuduhmu"sesal Bian.
"Nggak masalah kok,lagi pula aku juga nggak tahu kalau cincin itu begitu berarti buat kamu"
__ADS_1
"Boleh berteman?"
"Bukan nya kita sudah jadi rekan kerja ya?"
"Iya itu rekan kerja kan,bukan teman.Sekarang boleh kalau jadi teman?"
"Boleh,kenapa nggak"
"Habis kalau diluar pekerjaan kamu suka jutek dan cuek bikin ga nyaman"
"Itu perasaan kamu aja kali,ya mana bisa juga sok akrab dengan atasan.Si boss besar,ya segan lah mana berani"
"kalo sekarang sudah tidak segan lagikan?kan disini aku cuma seorang Fabian,bukan si bos besar"
Kedunya pun tertawa bersama disela obrolan mereka menuju ke arah rumah Bu Asih dan kini hubungan keduanya pun nampak jauh lebih mencair dan lebih akrab lagi meski dijam kerja tetap menjadi karyawan dan atasan.
...***...
...đ¸ Tamat đ¸...
*
Akhirnya,alhamdulillah selesai juga.Buat para readerku tersayang terima kasih atas dukungan nya selama ini dan terima kasih sudah setia membaca karya receh aku ini hingga selesai...â¤â¤â¤ banyak banyak buat kalian.đĽ°đĽ°đĽ°
__ADS_1
...đ¸ â¤â¤â¤â¤â¤ đ¸...