Merindukan Rembulan

Merindukan Rembulan
Bab.82


__ADS_3

"Assalamualaikum,ayo Mas masuk"Tari mengucap salam dan mengajak Abra untuk pertama kalinya memasuki kamar pribadinya.


Seketika sebuah senyuman muncul diwajah Abra,hatinya menghangat saat Mentari memanggilnya dengan sebutan 'Mas'.


"Assalamualaikum"gumam Abra saat masuk kedalam kamar Tari.


"Wa'alaikumsalam"jawab Tari dengan gumaman juga.


"Maaf ya kalau kamarnya kurang nyaman buat Mas"ucap Tari lagi saat melihat ekspresi wajah Abra saat memasuki kamar yang bernuansa pink itu.


"Tidak masalah,lagi pula kita juga tidak akan tinggal disini.Tapi ngomong ngomong kamu tidak keberatankan jika setelah ini kita kembali ke Bali dan menetap disana?"tanya Abra ragu.


"Bukan nya tugas seorang istri itu mengikuti suaminya ya?jadi kenapa aku harus keberatan.Cukup sekali saja rumah tanggaku gagal karena ke egoisan aku,kini aku ingin menjadi seorang istri yang sebenarnya.Mas maukan membimbing atau sengga nya kita sama sama belajar membangun rumah tangga ini sebagaimana mestinya.Meski aku belum pandai memasak dan melayani suami dengan baik tapi aku ingin belajar melakukan nya,Mas maukan menerima aku yang masih banyak kurang nya ini?"ujar Mentari yang kini benar benar memasrahkan hidup dan matinya pada sang suami.


Bahkan merelakan klinik yang dia bangun dengan susah payah.Beruntung Mamah Ayu bersedia meneruskan usaha sang anak itu meski harus memboyong Dokter kecantikan yang lain.

__ADS_1


Dan sudah berjalan selama lima tahun klinik itu diambil alih oleh Mamah Ayu dan sudah ada dua cabang baru lagi.


Mendengar jawaban dari sang istri yang membuatnya lega dan juga gemas,Abra pun tidak mengeluarkan kata kata lagi melainkan mengikis jarak dan tanpa aba aba langsung menyatukan bibirnya dan juga bibir Tari yang membuat Tari membelalakan matanya tapi detik kemudian menyambut baik saat bibir suaminya bertanda ke bibir ranum miliknya untuk pertama kalinya setelah berlebel halal.


"Mas,lebih baik kita bersih bersih dulu ya"ucap Tari dengan nafas yang masing terengah engah saat pangutan itu terlepas.


"Baiklah,terima kasih hadiah selamat datang nya"jawab Abra yang kembali mengecup bibir Tari sekilas lalu memberi jarak dan berlalu masuk kedalam kamar mandi.


Selepas Abra hilang dibalik pintu kamar mandi Tari pun segera menuju ke arah koper milik Abra dan membukanya untuk menyiapkan ganti.


*


*


Bintang tiba tiba saja tidak berhenti menangis saat melihat Radit tengah bersiap siap untuk pulang dan ini untuk pertama kalinya Bintang bersikap manja seperti itu.

__ADS_1


Meski sudah berbagai cara dilakukan untuk membujuk nya namun nampaknya saat ini Bintang benar benar lagi butuh Papahnya.


"Menginaplah Nak Radit,biar kamu tidur dikamar Bintang"ucap Mamah Ayu yang sudah kewalahan menghadapi cucunya.


"Baiklah Mah jika itu yang terbaik"jawab Radit yang sebenarnya masih merasa sungkan.


Pasalnya dia dan Bulan belum resmi menikah walaupun telah memiliki satu orang putri cantik bernama Bintang.


Dan kini disinilah kedua orang tua dari Bintang itu.Dikamar gadis kecilnya yang bernuansa pink dan dipenuhi oleh boneka barbi dan teman teman nya.


"Maaf ya jadi merepotkan Mas"ucap Bulan saat Radit sudah berhasil menidurkan Bintang dalam gendongan nya lalu memindahkan nya ke ranjanh agar tidurnya lebih nyaman.


"Tidak masalah,dia juga anakku.Jadi jangan sungkan,lebih baik kamu istirahat gih udah tengah malam tidak baik buat kesehatan"jawab Radit mengikis jarak lalu mengusap lembut pucuk kepala calon istrinya.


Kedua netra itu pun kini saling bertemu dan saling mengunci satu sama lain,jantung Bulan berdetak tak karuan saat Radit semakin mendekatkan wajahnya kewajah Bulan.

__ADS_1


__ADS_2