
Semua kini tengah fokus mendengarkan cerita tentang peristiwa malam naas yang menimpa Mentari dan permintaan maaf dari Abra dan juga Bu Asih.
Sementara Mentari sendiri hanya duduk dengan menundukkan kepalanya ditengah tengah antara Bulan dan juga Mamah Ayu.
Meski awalnya Mamah Ayu sedikit meradang namun itu semua hanya sesaat dan emosinya mereda saat dengan sungguh sungguh Abra meminta maaf dan berjanji akan menikahi Mentari.
Bulan dan Radit sendiri hanya menjadi pendengar setia saja tanpa mau ikut campur urusan antara sang kakak dengan pria yang datang bersama nya yang ternyata adalah putra sulung Bu Asih yang dibawa oleh mantan suami Bu Asih setelah keduanya bercerai karena sang suami telah menikah lagi.
Dan setelah Mentari menyetujui pernikahan nya dengan Abra sebuah kesepakatan pun dibuat kalau Mentari akan menikah terlebih dahulu sebelum Bulan dan juga Radit.
Dan resepsi keduanya akan dilaksanakan dihari yang sama dengan konsep satu pelaminan dua pasang pengantin.
Dan karena acara pernikahan antara Abra dan juga Mentari akan berlangsung satu minggu kedepan maka Bu Asih dan juga Laras pun untuk sementara akan tinggal diJakarta dengan menempati apartemen Bulan dulu yang dijaga dan dirawat dengan begitu baik oleh Radit.
Ketegangan di antara kedua keluarga itu pun kini sudah tidak ada lagi berganti dengan sebuah keakraban dan kehangatan.
Bahkan acara makan malam pun di penuhi dengan canda tawa antara semua yang hadir disana.Mentari sendiri masih terasa canggung saat harus berinteraksi dengan pria asing yang kini menjadi calon suaminya.
__ADS_1
"Sendirian saja,nggak baik loh malam malam gini melamun sendiri"suara bariton Abra mengejutkan Mentari yang sedang duduk menepi sendiri dihalaman belakang rumahnya.
"Siapa yang melamun?"sanggah Mentari memalingkan wajahnya karena tiba tiba merasa salah tingkah saat Abra menatap dalam wajah cantiknya yang berbalut hijab yang senada dengan gamis yang dia pakai.
"Maaf ya"ucap Abra lagi sembari duduk disamping Mentari dengan memberi jarak antara keduanya.
"Maaf untuk apa?"
"Untuk malam itu.Aku belum sempat meminta maaf sama kamu secara pribadi,sungguh aku tidak tahu kalau itu ternyata bukanlah mimpi dan aku juga kaget saat tahu kalau wanita yang aku tiduri itu kamu pas lihat kamu pingsan dikamar mandi"lanjut Abra.
"Sudahlah semua nya kan sudah diluruskan,sudah menemui titik temu jugakan.Tidak perlu membahas dan mengingat hal buruk tidak baik"
"Bismillah saja,layak atau tidaknya biar waktu yang menjawab.Selama kamu yakin sama aku Insya Allah aku juga akan meyakini kamulah jodohku dan semoga ini yang terakhir untukku"
"Aamiin"
"Tapi boleh aku tanya satu hal?"tanya Tari memberanikan diri menatap wajah tampan Abra.
__ADS_1
"Apa?tanya saja"
"Apa kamu tidak keberatan kalau aku inikan seorang janda?"
"Kenapa harus keberatan?aku juga bukan perjaka lagi dan kamu harus tanggung jawab akan hal itu"
"Tanggung jawab?tanggung jawab apa?"
"Karena kamu aku kehilangan keperjakaan aku dan karena kamu sepertinya aku akan candu akan hal itu"
Mentari membelalakan matanya saat mendengar kata kata yang cukup frontal dari pria yang kini tertawa terbahak bahak saat melihat wajah terkejut Mentari.
"Dasar mesum"gerutu Mentari sembari bangkit dan meninggalka Abra yang masih tertawa dikursi itu.
"Hey itu juga gara gara kamu loh,awas aja kalau nggak tanggung jawab nanti kalau sudah halal"jawab Abra yang mengikuti langkah Mentari masuk kembali kedalam rumah dimana seluruh keluarga masih berkumpul bersama.
Membangun suasana hangat dan saling mengakrabkan diri masing masing karena sebentar lagi mereka akan menjadi satu keluarga dengan adanya pernikahan Mentari dan Abra.
__ADS_1
...****************...