
"Bukankah ini yang kau maksud? Membantuku?" Suaranya begitu lembut, mendayu dengan sedikit usapan-usapan lembut pada seseorang yang tengah ia aniaya. Wajahnya berparas cantik khas pemeran antagonis, menampilkan seringai yang tampak jelas di kamar bernuansa temaram.
Di bawah kungkungannya, seorang pria tampak tenang tanpa melakukan pergerakan apapun. Kedua tangan dan kakinya terikat kuat dengan tali, membentuk huruf x dengan tubuh panasnya. Membukanya satu persatu, kancing kemeja putih bersih milik si pria yang lantas terbuka lebar menampakkan dada bidang yang berbulu halus. Segera wanita itu melancarkan aksi dan misi mulia, yaitu melakukan fertilisasi hingga terbentuknya zigot.
Tangan halusnya dengan perlahan mengusap sebuah peluru nuklir yang tengah bersembunyi di balik celana bahan milik pria dibawahnya. Meremas halus juga lembut membuat sang empu terpejam singkat.
"Jadi ini dirimu yang sesungguhnya? Ms. Skarsten?" Tanya pria itu memandangi sebuah netra coklat di balik kaca mata bening sang sepupu.
Sepupu? Ya dia adalah wanita bajingan yang tengah memperkosa pria lajang terpanas tahun ini. Sepupu yang sudah tidak berjumpa selama lebih dari tujuh tahun, dan sekarang tengah mencoba melepas sabuk dari pinggang ramping si pria.
Pria itu adalah Reza, Reza Sargeant. Pria yang selalu masuk dalam nominasi pria lajang terpanas tahunan yang dimuat dari tabloid dan majalah majalah ternama. Seorang pengusaha muda yang berjaya membangkitkan ekonomi puluhan ribu orang-orang kecil yang membutuhkan. Pengusaha muda yang telah berjasa dalam sebuah pemberantasan pengangguran di negeri zamrud yang terkenal dengan produk mie instannya.
"Em? Benar. Itu yang kulakukan! Panggil aku nona pemerkosa mulai sekarang." Kembali membenarkan letak kaca matanya, kontan Reza tertawa dengan suara besar dan berat miliknya.
"Kau yakin dengan mata rabunmu bisa memperkosaku? Sekarang aku tau mata mesum mu itu benar benar menyimpan gairah gila." Wanita itu tidak menggubris ucapan sepupunya. Segera ia melepaskan kaitan celana Reza, menariknya turun sampai setengah paha.
Jasmine Angelina skarsten, wanita yang selalu menunjukkan wajah tegas dan ekspresi bak pemeran antagonis. Kaca mata bening tersangga sempurna di hidung mancungnya yang menjulang tinggi. Menyembunyikan tatapan matanya yang sensual sayu pun tenang. Seperti seseorang yang sedang bernafsu tinggi, tapi memang begitulah tatapan Jasmine adanya.
Saat wanita itu ingin membuka penutup terakhir penyimpanan benih manusia, tanpa aba-aba Reza menarik tangannya. Kuat penuh tenaga. Seketika tiang kelambu hotel itu ambruk, jatuh menimpa punggung Reza yang telah membalikkan badan melindungi Jasmine.
Dibawah tubuhnya, Reza dapat melihat mata sepupunya yang bulat membola besar. Nafas wanita itu seakan berhenti mendadak. Saat Jasmine melihat keatas tepat pada mata Reza, pria itu mendadak menindih tubuhnya.
"Berat! Beraatt!" Pekik Jasmine seakan kesulitan bernapas saat pria besar itu menindihnya. Tubuh mereka yang tertutup oleh jaring tipis, membuat Reza kesulitan bangkit.
__ADS_1
"Bodoh! Seharusnya pilih kamar yang nyaman sedikit. Kau kira kau hidup di jaman apa?" Dengan kesal Reza menyingkirkan jaring tipis yang menimpa mereka. Namun sialnya, kelambu itu sungguh sulit terlepas dari mereka berdua.
Setelah kekacauan dan membayar kerugian pihak hotel, Reza menyeret Jasmine ke kamar lain. Kamar yang lebih nyaman dan mendukung untuk melakukan praktek ilmu biologi. Disinalah keduanya berada, lantai eksklusif yang hanya dapat diakses orang-orang eksekutif. Menikmati malam panjang yang tidak berkesudahan.
🕛🕧🕐🕜🕑🕝🕒🕞🕓🕟🕔🕠🕕🕡🕖
"Anak tidak berguna!" Teriakan menggelegar terdengar begitu pintu kamar terbuka. Menampakkan sosok pria yang tak lagi muda dengan setelan licinnya.
Sedangkan kedua manusia yang baru saja mengistirahatkan tubuh, terpaksa terbangun. Keadaan kamar sudah tak tertolong, baju mereka terlempar bersamaan dengan bantal-bantal yang berserakan diatas lantai.
Sedangkan biang masalah itu, justru menampilkan wajah linglung. Ekspresi wajahnya terkesan polos, meskipun ditubuhnya hanya melekat sepotong bra hitam. Segera ia menyambar kacamata bening miliknya.
"Ayah?" Jasmine menggenggam selimut putihnya dengan begitu erat. Melindungi tubuhnya dari mata telanjang yang telah menyorot dirinya dan Reza.
"****! Tiga puluh menit. Bersiaplah! Dan kenakan pakaian normal."
Sepeninggal ayahnya, Jasmine langsung menyikap selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Menampakkan bentuk tubuh sempurnanya yang berkulit khas bangsa Eropa. Hanya dengan di balut ****** ***** tipis berenda dan kain penutup payudara, ia bangkit dari ranjang menuju kamar mandi.
"Ayahmu," celetuk Reza.
"Ya sialnya itu ayahmu," batin Jasmine membenarkan.
Tiga puluh menit kemudian, keduanya berjalan beriringan menyusuri lorong hotel yang tampak sepi. Didominasi dengan suara langkah kaki keduanya, tempat itu seperti tak berpenghuni. Jasmine menarik tangan bersar Reza, membuat pria itu otomatis berhenti.
__ADS_1
"Ada ap-" belum sempat menyelesaikan ucapannya, Reza dibuat bingung dengan tingkah Jasmine yang menarik tengkuknya dengan sedikit berjinjit. Tanpa sadar Reza membungkuk, dan mendadak terkena serangan jantung.
Jasmine menghisap pelan kulit lehernya, memberikan gigitan-gigitan kecil yang membuat Reza mendesis. Mengulurkan lidah, ia membasahi setiap inci yang terlewat dari lidah basahnya. Membelai sensual dan kembali menghisap pelan-pelan kulit leher eksotis itu.
"Kau membangunkannya!" Desis Reza.
Jasmine menyudahi kegiatannya, tatapan puas tercetak jelas kala melihat hasil karya yang ia ciptakan. Jasmine melihat kebawah, terlihat gundukan besar dibalik celana itu membuatnya canggung. Ingin menyentuhnya, namun takut ular besar itu akan memakannya dengan rakus. Sudah cukup, hanya kemarin malam saja.
"Lakukan padaku juga!"
Reza menarik pinggang Jasmine, membawanya bersandar di tembok berwarna krem. Mencengkram pelan, Jasmine seakan berhenti bernafas untuk sejenak. Dengan rakus Reza meraup lehernya, menjilat dan menghisap tiada henti. Bercak merah sebesar kuku jempolnya mulai bertabur dengan jilatan-jilatan basah menjadi sentuhan akhir sebelum berpindah ketempat lainnya.
Tatapan Jasmine yang sayu, semakin terlihat sensual dengan kegiatan mereka. Reza menarik pinggang Jasmine, memepetkan tubuh mereka tanpa ada jarak sedikitpun. Miliknya yang sudah membesar dan keras, ia gesek dan tekan pelan keatas permukaan perut Jasmine membuat kaki wanita itu bagaikan jelly. Seandainya tak ada kain yang menutup milik keduanya, mungkin Reza akan hilang kendali dan memasukkan peluru nuklir miliknya kedalam sumur angker milik Jasmine.
Ini pelecehan, namun sialnya Jasmine seakan tak bisa menolak perlakuan bejat yang Reza lakukan. Ia menggigit kecil bibirnya, mata sayu yang semakin sensual seakan mengundang Reza untuk melakukan hal lebih. Namun seakan mendapatkan hidayah, Reza menghentikan kegiatan gila mereka.
"Baiklah, akhiri ini atau ayahmu yang mengakhiri hidupku." Reza mengecup leher Jasmine, membuat wanita itu terpejam untuk beberapa detik.
"Karyaku yang berharga,"
Jasmine terkekeh mendengarnya. Segera mengikuti Reza yang berjalan dengan kaki lebar dan langkah yang cepat. Di belakang sana, Jasmine menyentuh lehernya yang masih terasa basah oleh air liur milik Reza.
To be continued...
__ADS_1