Mr. Sargeant

Mr. Sargeant
Chapter 61


__ADS_3

Jasmine Angelina POV


Reza masuk kedalam ruangan inap baru ku di rumah sakit yang berbeda pula. Ketika aku dan dia kehilangan baby kecil yang ada di perut ku, dia tampak sangat kacau. Meskipun dia tidak menunjukkan ekspresi marah dan kecewanya pada diri sendiri, Reza tidak pernah menunjukkannya kepada ku. Dia selalu meredam semuanya.


Awalnya aku terkejut mendengar jika ada baby di perut ku ini, namun pada dasarnya juga aku tidak menginginkan dahulu seorang baby sehingga rasa kehilangan ku tidak sebesar manusia satu ini.


"Mine, sudah makan." Ucapnya lembut sembari mencium kening ku.


"Belum, makanannya hambar. Tidak ada rasa, tidak enak." Keluh ku saat dia mengelus rambut ku dengan tersenyum manis. Astaga, sejak kapan aku menjadi manja seperti ini? Aku memeluk pinggangnya dan menyembunyikannya wajah ku di perut sixpack Reza. Lihatlah betapa sempurnanya laki-laki satu ini, bahkan kurang dari satu minggu sejak pembobolan gawang itu para kecebongnya sudah hinggap dirahim ku.


Sejak tiga hari itu pula dia makin memanjakan ku. Tapi yang membuatku kesal dia sangat jarang memanggil ku sayang, cinta atau sebutan menggelikan lainnya. Dia selalu memanggilku Mine, aku tahu aku istrinya dan otomatis aku adalah miliknya tapi jangan memanggilku Mine juga. Tapi memang panggilan itu di ambil dari nama ku.


"Kita kebawah yuk." Ujarnya lalu beranjak mengambil kursi roda, kemudian menggendong ku ke kursi itu dan beranjak dengan tiang infus yang aku genggam.


Ketika aku dan Reza ingin masuk kedalam lift, aku melihat seorang wanita tengah menangis di dalam dekapan pria yang aku duga dia adalah suaminya. Aku menepuk punggung tangan Reza, lalu memberinya isyarat agar mendekati pasangan itu.


"Sorry sir, kalau boleh tahu ibunya kenapa?" Tanya ku melihat ibu itu mencoba menghentikan tangisnya, mungkin malu karena keberadaan ku dan Reza.


"Beberapa tahun--" ucapan pria itu terhenti saat istrinya menggenggam erat pergelangan tangannya dengan menggeleng.


"Saya tidak ada apa-apa kok mbak, mbaknya sendiri kenapa?" Tanya wanita itu mencoba tersenyum meskipun mata masih tergenangi air mata. Jika aku yang ada di posisi wanita itu mungkin Reza akan menghapus cepat air mata itu, sedari kecil Reza memang membuat ku jengkel ketika bertemu namun dirinya tidak pernah membuat air mata ini jatuh. Tidak, kecuali adegan kecemburuan ku karena dia dan kak Ayana berdua di dalam kamarnya dengan berkata yang tidak jelas, pikiran ku kan jadi treveling.


"Saya kecelakaan dua hari yang lalu, baby di janin saya juga pergi karena kecerobohan saya." Ucapku jujur membuat wanita itu sangat terkejut. Reza membelai rambut ku dengan lembut membuat wanita itu tersenyum.


"Saya turut berduka cita, ngomong-ngomong mbak ini beruntung sekali loh. Masih bisa mengandung dan memiliki suami seperti masnya." Ucap wanita itu membuat ku tersenyum.

__ADS_1


"Memangnya--"


"Apakah kalian sudah makan? Mari kita berbincang di bawah." Ajak Reza memotong perkataan ku.


"Eh boleh, kebetulan kami juga mau ke bawah."


"Mine, papa telfon aku angkat sebentar ya?" Tanya Reza dan aku mengangguk saja. Sebelum ia pergi, Reza mengecup kembali keningku dan sekilas menempelkan bibirnya di atas bibir ku. Aku malu sekali di tatap intens oleh kedua manusia ini.


"Mbak udah berapa lama nikah sama si mas?" Tanya wanita itu. Kami hanya berdua, Reza dengan ponselnya dan suami wanita ini sedang ke kamar mandi karena panggilan alam.


"Panggil saja Jasmine."


"Oh saya Canan." Ucap wanita itu dengan tersenyum manis.


"Ya. Jadi kapan mbak nikah? Kok kayanya masih daun muda sekali ini."


"Saya menikah sudah tiga bulan lebih, itu jiga karena kondisi yang mendesak." Ucap ku lalu menatap Reza yang sedang berbicara di ponselnya.


"Benarkan, berarti gawang kebobol langsung jadi? Astaga mas sama mbaknya ini bibit unggul sekali." Ucap wanita itu ngelantur.


"Pasti asik kan mbak? Tiap malam goyang ranjang sama suami yang badannya kaya gitu." Astaga dia ini bicarain apa sih, kok makin ngawur.


"Mbak sama masnya tinggal di mana?" Tanya Canan. Apa ini? Tadi dia menangis tersedu-sedu, dan sekarang sedang membicarakan masalah rumah tangga orang cepat sekali.


"Saya tinggal di Berlin, suami saya tinggal di Jakarta." Jawabku jujur, karena kami di Paris menang hanya untuk liburan.

__ADS_1


"LDR mbak? Mbak percaya gitu aja kalau suaminya gak ke pancing cacing cantik yang siap bisa uget-uget di atas tempat tidur masnya?"


"Tidak mbak. Dia percaya pada saya, kenapa saya tidak percaya pada dia? Oh iya kenapa tadi mbak menangis?" Tanya ku hati-hati karena tidak mau menyakiti hati Canan.


"Saya dan suami saya sudah 13 tahun menikah, tapi sampai saat ini kami tidak punya keturunan. Dua tahun yang lalu sudah cek katanya saya sangat kecil kemungkinan punya keturunan, dan juga ternyata suami saya mandul. Semua program sudah kami jalani bertahun-tahun tetapi hasilnya tetap saja, nihil." Ucap Canan panjang lebar membuat ku sangat terkejut.


Aku menjadi seperti seorang wanita tidak tahu diri di dunia ini, menjadi wanita terjahat karena tidak menginginkan anak lahir dengan selamat dari perut ku. Lihat, betapa mereka yang ada di luaran sana yang menginginkan anak tapi tidak di beri oleh tuhan. Dan ketika aku di beri anugrah terbesar itu, aku malah tidak mensyukuri bahkan tidak merasa kehilangan sama sekali ketika ia pergi.


Beberapa hal kami bicarakan hingga para suami datang menghampiri kami.


"Sayang sudah selesai?" Tanya suaminya Canan.


"Mine, sudah?" Lihatlah manusia satu ini, pasangan lain selalu memanggil dengan panggilan sayang.


Setelah Canan dan suaminya pergi, Reza mendorong kembali kursi roda ku kembali ke kamar. Ucapan Canan terngiang-ngiang di kepala ku, tentang memanjakan suami dan bersikap baik dan patuh. Aku sendiri masih kecewa dengan diri ku sendiri karena sikap ku yang selalu bersikap kasar kepada Reza, dan juga masalah baby yang saat ini sudah ada di surga bersama ayah dan adik ku. Ngomong-ngomong soal almarhum adik ku, aku tidak benar-benar yakin dia sudah pergi ke surga.


"Haus." Keluh ku dan hanya di balas dengan senyuman manisnya. Reza mengambil gelas di atas nakas lalu meminumkan dengan perlahan kepada ku.


"Terima kasih sayang." Astaga itu menggelikan sekali, tidak mungkin aku mengatakannya jika tidak di dalam hati. Aku juga wanita yang memiliki harga diri, sebelum dia yang memanggil ku sayang aku bertekad tidak mau memanggilnya sayang.


Reza membuka bajunya dan hanya tersisa kaus oblongnya jika hendak tidur, kebiasaan satu ini aku ketahui sejak aku tidur satu kamar dengannnya


"Maaf." Ucap ku memeluk erat tubuhnya yang terbaring di samping ku. Ranjang kami berukuran lebih besar dari pada di rumah sakit kemarin.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2