
"Apakah dia sudah mendapatkan informasi nya?" tanya Reza sembari memasukkan makan malamnya.
Jasmine meletakkan sendok dan garpu nya lalu berkata...
"Bersabarlah, dari Barcelona ke Jakarta harus menempuh perjalanan 18 jam lebih. Dan dia juga pastinya lelah, adik Jessy juga berada di Indonesia tidak mungkin dia langsung melakukan apa yang ku minta tanpa harus istirahat. Jangan gila deh." ucap Jasmine menatap tajam pada Reza.
"Sudah lah kalian ini ribut terus. Sebelumnya aku tidak pernah mendengar kalian banyak bicara, terlebih kau Jasmine. Saking jarangnya kau berbicara aku sampai lupa bagaimana suara mu dulu." ucap Lunna lalu kembali menatap layar ponselnya sembari memakan steak yang di masak oleh Jasmine tadi.
"Kak apaan sih, balikin!" pekik Lunna saat Reza mengambil ponselnya.
"Jangan bermain handphone jika sedang makan." ucap Reza memasukkan handphonenya Lunna kedalam kantong celana tidurnya.
"Baiklah tapi kembalikan handphone ku. Aku tidak bisa hidup tanpanya walau itu sedetik." ucap Lunna merengek.
"Buktinya saat ini kau bisa bukan?" ucap Jasmine membuat Lunna mendengus kesal dan menatap tajam pada kakak nya, sedangkan yang ditatap membentuk senyuman licik dengan pandangan yang menjengkelkan.
"Lunna besok giliran mu membuat sarapan." ucap Jasmine membawa piring kotornya ke wastafel.
"Aku? Jangan bercanda. Jika kalian tidak mau apertemen ini kebakaran sebaiknya jangan menugaskan diri ku di dapur." ucap Lunna kembali memakan steak nya.
"Jangan banyak alasan, ada banyak pekerjaan di kantor dan aku harus datang lebih awal. Begitu juga Reza dia memiliki tanggung jawab untuk perusahaan kakek." ucap Jasmine mencuci piring kotornya.
"Mine sekalian yah." ucap Reza memberikan piring kotornya.
"Ogah, sudah aku yang masak, kau yang makan, aku yang mencuci piring mu." ucap Jasmine membersihkan sisa-sisa air di tangannya dengan lap bersih.
"Tapi aku tidak bisa," menatap Jasmine yang berjalan menuju kamarnya.
"Cuci saja kak. Sekalian yah." ucap Lunna memberikan piring kotornya, sedangkan Jasmine sudah berada di kamarnya.
"Gak sudi." ucap Reza lalu mengambil spons cuci piring dan memberikan banyak sabun di sana.
"Kurang banyak ini sabunnya." ucap Lunna memberikan sabun cuci piring dengan sangat banyak di spons cuci piring itu.
"Prang..."
"Apa itu?!" ucap Jasmine kembali ke dapur saat mendengar suara itu.
"Za aku menyuruh mu mencuci piring bukan menghancurkan nya." ucap Jasmine menatap nanar pada piring yang pecah di lantai.
"Kan aku sudah bilang aku tidak bisa. Piring itu jatuh dari tangan ku begitu saja karena licin." ucap Reza membela dirinya.
__ADS_1
"Jangan banyak alasan, sudah kembali kau ke kamarmu." ucap Jasmine mengambil sapu dan kain bersih.
"Mine kau--"
"Kau juga kembali ke kamar mu." ucap Jasmine. Kakak adik itu dengan patuh kembali ke kamarnya seperti anak yang sedang di marahi oleh ibu mereka.
Jasmine mengumpulkan pecahan piring itu dengan sekali sapuan dari kain yang di pegangnya. Lalu membuang kain yang berisi kaca itu kedalam tempat sampah.
"Mine maaf." ucap keduanya tiba-tiba membuat Jasmine kaget bukan main tetapi tidak mengatakan apapun.
"Mine maaf. Ntar asam urat loh." ucap kedua nya mengikuti langkah Jasmine.
Lunna mengikut keras lengan kakaknya yang sedang menatap pintu kamar Jasmine. Reza yang mendapatkan sikutan itu balik mengikut adiknya dengan keras sehingga gadis mungil itu terjatuh ke lantai.
"Kak!" protes Lunna.
"Rasain!" ucap Reza lalu berjalan menuju kamarnya yang terletak tepat di depan pintu kamar Jasmine.
"Oh iya, besok kamu yang masak sarapan." ucap Reza sebelum dirinya menutup pintu kamarnya.
"Ceritanya gue jadi pembokat besok?" tanya Lunna kepada dirinya sendiri.
Keesokan harinya...
"Astaghfirullah halazim." ucap Jasmine dan Reza bersamaan karena melihat dapur menjelma menjadi kapal pecah.
"Kau memasak nasi goreng?" tanya Jasmine.
"Tentu saja, aku membuatnya dengan penuh dedikasi." ucap Lunna membuat kedua manusia di hadapannya menggelengkan kepala.
"Sudahlah, bukan kah kalian itu sudah terlambat? Ayo cepat habiskan sarapan kalian." ucap Lunna bersemangat.
"Bentuk dan aromanya kok aneh?" tanya Reza sembari mencium nasi goreng buatan adik semata wayangnya itu.
"Sudahlah jangan banyak komentar." ucap Jasmine lalu memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya.
"Uhuk... Uhuk!" Jasmine menyemburkan nasi goreng itu ke meja makan membuat Reza dan Lunna kaget bukan kepalang.
Jasmine langsung berlari ke arah dispenser dan meminum air sebanyak-banyaknya seperti telah meminum racun sebelumnya.
"Kau kenapa." ucap Reza sembari menepuk pundak Jasmine yang saat ini masih terbatuk-batuk.
__ADS_1
"Kau mau membunuh kami yah?!" pekik Jasmine saat dirinya sudah tidak terbatuk lagi.
"Apa?!" ucap Reza dan Lunna bersamaan.
"Kau rasakan sendiri masakan adikmu itu." ucap Jasmine kembali meminum air.
"Uhuk... Uhuk!" Reza memuntahkan nasi goreng buatan adiknya itu lalu merebut gelas yang di pegang oleh Jasmine. Bahkan dirinya tidak sadar bahwa ia meminum di gelas bekas bibir Jasmine.
"Kalian kenapa?" tanya Lunna.
"Hei kau yakin itu makanan? Bawang dan wortel itu masih mentah dan baunya sangat menyengat. Dan itu nasi goreng atau sup nasi minyak, minyak makannya terlalu banyak membuat ku tercekik ketika memakannya. Nasinya juga keras seperti belum matang dan yang paling parah itu asin sekali." ucap Jasmine.
"Tadi aku di katai banyak komentar, tapi lihat lah sekarang justru dirinya yang tidak bisa diam." gumam Reza.
"Aku mendengar mu." ucap Jasmine menatap tajam kepada Reza.
"Ini adalah tragedi." lanjutnya.
"Baiklah kalau begitu, apa aku juga akan memasan untuk nanti malam?" tanya Lunna membuat Jasmine dan Reza menggeleng.
"Berarti giliran kak Reza." ucap Lunna.
"Tidak!"
"Kenapa tidak mine? Bukan kah kita akan bergiliran memasak?" tanya Lunna sembari mengerutkan keningnya.
"Jika kau saja seperti ini apa lagi kakak mu?" ucap Jasmine sembari merampas kembali gelas kosong yang di pegang oleh Reza.
"Kau benar. Jadi kita akan makan apa pagi ini?" tanya Lunna sembari menatap nanar pada nasi gorengnya.
"Buatkan saja omelet." ucap Reza membuat Jasmine mendengus kesal.
"Apakah masih ada nasi di rice cooker?" ucap Jasmine.
"Ada." ucap Lunna mencicipi makanannya.
"Uhukkk... Uhuk! Kenapa rasanya seperti ini, dasar penipuan." ucap Lunna.
"Bukan mereka yang menipu tetapi kau lah yang terlalu bodoh sampai tidak bisa membuat nasi goreng bahkan saat kau sudah melihat tutorial nya di YouTube." ucap Reza melihat bagaimana Jasmine memasak telur dadar itu. Hanya telur dadar author pun bisaš¤£.
"Sudah jangan banyak drama cepat makan ini." ucap Jasmine memberikan omelet sederhana yang cepat dan praktis
__ADS_1
"Aku iri pada mu." ucap Lunna kembali menatap nanar pada nasi goreng nya yang amburadul.
To be continued