
"Mau kemana?" tanya Reza saat Jasmine menyibakkan selimut kamar mereka.
"Udah pagi Za, gak lihat tuh udah terang? Bangun gih." Ucap Jasmine lalu mengutip pakaiannya yang kemarin malam di campakkan Reza begitu saja di lantai.
"Kalau mau jangan memancing, tinggal bilang aku siap 86." Ucap Reza lalu bangkit dan menggendong Jasmine kembali ke kasur mereka. Keduanya masih sama-sama polos dalam artian yang berbeda.
"Orang pagi-pagi itu morning kiss, ini kok malah morning sex." Gerutu Jasmine ketika Reza memposisikan tubuhnya.
"Kita kan beda sayang, jangan membandingkan dengan orang lain. Kamu hanya satu di mata aku, sempurna bagi ku. Kisah romansa kita nantinya akan kita kenang di hari tua, jadi apa salahnya menambah memory bersama." Ucap Reza lalu mengusap lembut pipi Jasmine dengan tersenyum.
"Sudah jangan banyak bicara, cepat lakukan aku sudah lapar."
"Ingat istri yang menolak ajakan suami untuk berhubungan, maka dia akan di laknat oleh tuhan hingga pagi tiba." Ungkap Reza sembari merenggangkan kedua paha istrinya.
"Ini sudah mau siang Za." Ucap Jasmine lalu meremas sprei dengan erat.
"Tinggal bilang iya aja gengsi, lihat tuh ekspresi kamu gak bisa bohong tau." Ucap Reza meraih telapak tangan istrinya dan menggenggam erat telapak tangan kiri Jasmine.
"Kenapa?" tanya Jasmine ketika merasakan adik kecil suaminya hilang. Padahal dia baru saja menerima hal luar biasa yang di berikan sang suami.
"Tidak jadi, kau istirahat lah." Ucap Reza menutup tubuh Jasmine dengan selimut, lalu beranjak menuju kamar mandi.
"Huh! Reza brengsek. Kemari kau bajingan!" Pekik Jasmine lalu menyusul kedalam kamar mandi dan menguncinya meskipun tahu tidak mungkin ada yang masuk karena pintu kamar merekapun terkunci rapat.
...🍃🍃🍃...
"Mengantuk?" tanya Aldi karena Lunna sedari tadi diam tanpa bersuara sejak naik ke pesawat.
Hari ini adalah kepulangan mereka kembali ke Indonesia setelah satu bulan lebih berada di negri orang. Lunna sendiri merasa bersyukur akan hal itu, mengingat sesi pengambilan adegan yang padat luar biasa karena mengejar waktu. Bahkan mereka sering pulang dini hari, namun ada satu hal yang ia tidak inginkan di hatinya ketika kembali ke Indonesia.
Dalam diamnya pikiran Lunna berkelana ke kejadian bulan lalu, pikirannya tentang Aditya yang menciumnya dengan ganas dan rakus tidak bisa hilang dalam ingatan. Ciuman dengan Aldi bisa di hitung dengan hitungan hari, namun entah kenapa ia lupa kapan ciuman dengan sang kekasih sedangkan dengan kekasih orang masih terngiang-ngiang di kepalanya.
__ADS_1
"Lun, kau baik-baik saja bukan?" tanya Aldi dan hanya di jawab anggukan dan senyuman dari sang kekasih.
Jauh di dalam lubuk hatinya, Lunna memang menyimpan perasaan yang berbeda ini untuk Aditya. Ia juga tidak tahu kapan rasa itu muncul, semua pertengkaran kecil dan perhatiannya Aditya pada Lunna membuat gadis itu menyukai Aditya. Namun ketika seorang wanita datang dan mengatakan sebagai kekasihnya Aditya, membuat Lunna mengubur perasannya dalam-dalam.
Sebenarnya Lunna tidak mau menjadi wanita jahat karena melampiaskan semuanya pada Aldi dan menerima pernyataan cinta lelaki di sampingnya. Tidak ada perasaan apapun yang hinggap di hati Lunna untuk Aldi, karena pada dasarnya hati tidak bisa di paksa. Tapi karena tidak
Lunna menyandarkan kepalanya di bahu Aldi, mencari sebuah kenyamanan di pundak kekasihnya saat ini. Pikirannya kini berkelana memikirkan dirinya yang tidak pernah benar dalam mencintai seseorang. Dari cinta pertama hingga cinta saat ini hatinya selalu saja salah memilih. Setidaknya Aldi benar-benar tulus padanya, tidak seperti Nathan yang hanya numpang tenar dan menghabiskan dompetnya.
"Meet and great nanti pakai baju couple yuk?" ajak Aldi mengusap lembut rambut halus kekasihnya.
"Masih lama Al, syuting saja belum siap kok sudah mikir ke meet and great nya." Ucap Lunna lalu menguap dan merangkul lengan Aldi dan mencoba tidur.
Sedangkan di apertemennya, Reza dan Jasmine sedang beradu mulut.
"Tidak!" tolak Reza tegas karena dari tadi istrinya terus saja merengek.
"Kau jahat!" Ucap Jasmine meneteskan air matanya lalu berjalan kembali ke kamar mereka.
"Lihat apa kalian?" tanya Reza ketika mendapati beberapa pelayan yang menonton mereka sedari tadi. Beberapa pelayan yang menonton sedari tadi langsung gelagapan ketika majikannya menatap mereka dengan tajam.
"Sayang, dengarkan dulu!"
Di dalam kamarnya Jasmine sedang menghapus air mata buayanya. Memang benar kata Lunna, sesekali menangis di hadapan Reza akan membuat lelaki itu luluh (hanya berlaku untuk orang yang dia sayang, kalau tidak? Sampai kiamat pun tidak akan di gubris manusia satu ini)
Ponsel Jasmine berdering beberapa menit.
"Ya, Kak?" tanya Jasmine ketika menerima panggilan telefon dari Hanna.
"Mine, ketemuan yuk?"
"Iya-iya, persiapannya beres semua kan?" tanya Jasmine masuk kedalam ruang ganti yang berisikan pakaian dan semua aksesoris dirinya dan Reza. Sedangkan di luar sana, Reza sedang teriak-teriak minta di bukakan pintu.
__ADS_1
"Beres kok, ketemuan di kafe biasa ya?"
"Jangan di kafe, di apertemen Kakak saja." Ucap Jasmine karena sangat menghargai suaminya meskipun terlalu posesif padanya.
"Baiklah, aku tunggu ya."
Setelah bercermin dan menilai penampilannya sendiri, Jasmine keluar dan membukakan pintu kamar yang sedari tadi di gedor oleh suaminya.
"Mau kemana?!" tanya Reza dengan nada yang sedikit tinggi sebagai bentuk protesnya.
"Mau jalan-jalan ke mall, ngabisin duit mu, siapa tau dapat brondong, kan lumayan. Sudah awas!" usir Jasmine.
"Mau apa?!" ulang Reza dengan mata melirik dari atas kepala Jasmine hingga ujung kakinya. Reza mendengus kesal karena melihat penampilan istrinya. Padahal Jasmine tidak berdandan berlebihan, hanya memakai pakaian yang sederhana dan simpel.
"Mau nikah lagi." Reza langsung menggendong Jasmine dan membawanya kembali kedalam kamar.
"Reza turunin! Nanti rusak aku tidak dapat--" Ucapan Jasmine terhenti karena bibirnya terbungkam dengan bibir suaminya. Reza seakan tidak memberikan ruang untuk Jasmine bernafas dan terus **********.
Jasmine mendorong tubuh kekar Reza karena tidak bisa bernafas sama sekali. Mencoba mengatur nafas kembali, bukan untuk menstabilkan paru-parunya tetapi untuk memarahi Raza habis-habisan.
"Kau mau aku mati ya!" bentak Jasmine dengan dada masih naik turun.
"Kau tahu bukan? Apa aturan yang harus kau patuhi? Jangan--"
"Astaga! Sudah diam!"
"Aku hanya mau ke apertemen Kak Hanna!"
Kini giliran ponsel Reza yang berdering, Reza merogoh kantong celananya dengan tersenyum. Namun ketika melihat kontak yang menghubunginya mendadak senyuman itu hilang.
"Kau pergilah, minta salah satu di antara mereka mengantar mu." Ucap Reza mengecup lembut kening Jasmine dan beranjak pergi ke balkon untuk menerima panggilan telefon.
__ADS_1
Jasmine yang masih duduk di ranjang memperhatikan raut wajah Reza yang mulai kesal, ingin rasanya ia langsung bertanya. Namun niatnya ia urungkan karena Hanna yang sedari tadi sudah menunggu.
To be continued.