Mr. Sargeant

Mr. Sargeant
Chapter 55


__ADS_3

Seorang gadis tengah duduk di hamparan pasir putih, menatap lurus ke matahari yang tampak berada di kaki cakrawala dengan warna jingga yang mempesona. Keindahan alam di hadapannya seakan tidak membuat raut wajahnya tersenyum menikmati tenggelamnya mentari, ia membiarkan angin pantai memainkan rambutnya yang tergerai dan sebuah tetesan air mata jatuh ke pipi mulus wanita itu.


"Dan Cut!" ucap seorang lelaki yang sedang duduk di sebuah kursi menyaksikan Lunna bangkit dan bertepuk tangan karena benar-benar puas dengan aktornya yang satu ini.


"Apakah masih ada yang harus di perbaiki?" tanya Lunna mendekat ke layar yang menangkap rekaman kerja kerasnya.


"Untuk hari ini sudah cukup, kita break saja dulu dan besok mulai kembali bekerja."


"Oke semua selamat istirahat, bereskan dulu semua peralatannya!" Arahan sang sutradara seakan bagai sihir yang membuat mereka bergegas membereskan peralatan mereka lalu kembali ke penginapan.


Lunna kembali ke penginapan dengan langkah gontai, sejak kemarin ia terus saja kurang tidur dan untungnya kini sutradara mengistirahatkan mereka. Karena tidak fokus dan terlalu lelah Lunna menabrak dada bidang seseorang membuat tubuhnya terpental dan jatuh ke lantai.


"Maaf Mas saya tadi tidak menyadari kehadiran anda." Ucap Lunna yang masih merasakan sakit pada keningnya yang terbentur dada lelaki itu.


"Kamu?!" tanya Lunna sangat terkejut karena menyadari siapa seseorang yang saat ini sedang menatapnya intens.


"Hei dokter mesum apa yang kau lihat? Minggir!" usir Lunna memutus paksa tatapan Aditya. Saat Aditya dan Lunna berjalan kembali, mereka tetap bertatap tubuh membuat Lunna kesal bukan main.


"Minggir!" gertak Lunna mendorong paksa tubuh kekar dokter tampan itu, Aditya hanya diam dan mengalah tidak mau berdebat dan banyak bicara.


Setelah membersihkan diri dan memakai segala perawatan untuk kulitnya, Lunna membaringkan tubuh mungilnya itu di ranjang penginapan ala kadarnya. Pikirannya kini melayang-layang kembali dimana dirinya menabrak dokter yang telah merawatnya dengan telaten dan selalu sabar akan perilakunya yang bisa dikatakan manja, kurang ajar dan juga memperlakukannya semena-mena.


Aroma maskulin yang menyegarkan yang ia hirup sesaat membuat pikiran gadis itu melayang entah kemana. Memang benar kata Jasmine, dokternya itu lebih tampan dari pada Reza. Akal sehatnya tiba-tiba berfungsi kembali menyadarkan Lunna tentang apa yang di pikirannya.

__ADS_1


"Tampan? Cih!"


"Tapi memang benar-benar tampan sih, Nathan saja kalah jauh. Hei gadis bodoh apa yang kau pikirkan!" Lunna menarik selimutnya hingga ke ujung rambut, mencoba membuang pikiran anehnya yang ajaibnya membuat dirinya tersenyum bahagia.


Sedangkan di kamar yang berbeda, seorang pria tengah memakai kaus oblongnya dan bawahan hanya memakai boxer. Pikirannya kini tengah treveling saat ia menabrak Lunna beberapa menit yang lalu, wajah cantik wanita itu terlihat sangat lelah hingga membuatnya tidak meladeni sama sekali ocehan Lunna. Sekelebat bayangan beberapa bulan yang lalu saat dirinya mencuri pandang gadis itu kembali menghampiri pikirannya.


"Ayolah, jangan seperti apa yang di tuduhkan wanita itu kepada mu." Ujar Aditya kepada dirinya sendiri ketika bayangan bibirnya dan bibir Lunna menyatu ketika dahulu ia mencoba membantu Lunna dan berakhir pemecatan dirinya, dan akhirnya terbuang ke pulau ini. Bukan terbuang, tetapi mencoba membantu pasiennya agar cepat sembuh karena perintah dari atasan.


...🍃🍃🍃...


Jasmine menghempaskan kasar lengan kekar yang semalaman mendekap dirinya, rasa kesal karena kejadian kemarin membuatnya sangat jengkel kepada suaminya itu. Saat ia ingin bangkit, Reza mendekap kembali tubuhnya dengan mata masih terpejam.


"Singkirkan tangan mu!" seru Jasmine namun tetap saja Reza tidak menghiraukannya. Tempramental buruk wanita itu membuatnya terbakar amarah ketika Reza makin erat memeluknya. Jasmine membalikkan tubuhnya lalu mengangkat lutut yang sedang berada di bawah selimut menendang sedikit kuat aset paling berharga suaminya.


Flashback on


Reza tengah menggendong mesra tubuh istrinya menuju ke kamar mereka, Jeniffer sendiri telah lepas landas kembali ke Berlin karena sudah sangat merindukan suami dan buah hatinya.


"Duk!"


"Auh!" raung Jasmine ketika kepalanya terbentur pintu ketika berada di gendongan bayi besarnya. Kejutan di mulai, taburan bunga melati mawar dan bunga lainnya berserak di atas ranjang mereka membuat Jasmine terkejut bukan main. Bukannya senang Jasmine justru melompat turun dan gendongan Reza dan langsung menatap tajam suaminya.


"Kau mau menyamakan ku dengan orang yang meninggal? Kau lihat ini astaga! Kau kira aku mayat yang ada di atas ranjang? Ini seperti taburan bunga di kuburan!" Jasmine menarik selimut itu dan membuang taburan bunga beraneka warna dari atas sana.

__ADS_1


Reza ingin sekali menghajar orang yang menyusun tempat ini, kubangan api benar-benar di rangkai oleh David, namun lilin yang ia susun rapi sudah meleleh semua membuat kamar itu menjadi kacau balau. Reza tidak memperdulikan semua itu dan ingin segera memadu kasih antara dirinya dan Jasmine. Namun ketika ia membuka kancing blouse istrinya tidak bisa, kesal karena semua kejadian Reza langsung menarik paksa pakaian istrinya. Hal tidak mengenakan kembali terjadi, pengait pakaian dalam wanita itu tersangkut rambutnya membuat Reza kesal bukan main, mengapa sepertinya dunia menolak jika dirinya menyentuh Jasmine malam ini.


Karena kesal dengan semua kejadian itu, Jasmine hanya bersikap pasif dan membiarkan suaminya melakukan apa yang dia mau. Karena merasa tidak enak dengan suasana malam ini, Reza menyudahi permainan mereka tanpa adanya pelepasan membuat Jasmine menyirit.


"Lanjutkan!" seru Jasmine ketika Reza lebih memilih meredam secara paksa adik kecilnya dari pada melanjutkan permainan mereka.


"Tidak usah, istirahat lah." Tolak Reza dan menarik tubuh Jasmine kedalam dekapannya.


"Lanjutkan!" seru Jasmine kembali.


"Tid--"


"Lanjutkan atau ku usir kau dari sini!" potong Jasmine membuat Reza langsung melompat ke atas tubuh istrinya. Namun ketika mereka melakukan kembali Jasmine tetap bersikap pasif dan mencengkram erat seprai membuat Reza kembali menyudahi permainan.


"Lanjutkan." Ucap Jasmine ketika Reza menarik diri darinya.


"Sebenarnya apa mau mu sih!" batin Reza mulai kesal sendiri.


Flashback off


To be continued


Makasih ya yang udah mau nungguin, author lagi banyak tugas sekolah. Karena ini hari minggu author akan triple update, ada saran mau lanjutin Reza dan Jasmine atau Lunna dan dokter Aditya?

__ADS_1


Oke jawab di kolom komentar yah, kalau gak ada ya gak author up. Love you all, see you next time...


__ADS_2