Mr. Sargeant

Mr. Sargeant
Chapter 34


__ADS_3

Please, yang masih di bawah umur skip. Author gak mau nanggung dosa kalian, bijaklah dalam memilih bacaann


"Maaf." ucap Jasmine mengecup lembut pipi suaminya. Reza hanya diam dengan wajah datar nan coolnya saat menerima kecupan kecil itu. Lelaki itu membalikkan badannya kembali berusaha melepaskan kancing bajunya dengan paksa karena kesal hingga membuat kancingnya terlepas. Rasa bersalah makin menyeruak di dalam hatinya ketika Reza menghempaskan kasar tangannya.


"Aku mohon maafkan aku, aku benar-benar minta maaf." Reza sama sekali tidak menggubris perkataan Jasmine, ia lebih memilih untuk masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Jasmine hanya bisa terdiam menatap Reza, dalam hati kecilnya ia menangis sejadi-jadinya namun wajahnya menolak mengekspresikan hal itu.


Saat menunggu Reza keluar dari kamar mandi, Jasmine ingin buang air kecil saat ini, karena Reza di dalam Jasmine akhirnya bangkit dari ranjang suaminya ingin buang air kecil di kamar mandi di kamarnya. Namun belum sampai ia di depan pintu, pintu kamar mandi itu terbuka, dengan cepat Jasmine melewati Reza dan memasuki kamar mandi. Jasmine yang lupa menutup pintu karena sudah tidak tahan langsung kaget saat melihat Reza menatapnya.


Jasmine mengenakan kembali celananya dengan cepat. Jasmine malu setengah mati saat menyadari Reza menatapnya, ia sama sekali tidak mempermasalahkan Reza yang menatap tubuhnya, toh itu juga hak dirinya. Ya ia sesali adalah Reza yang memandangnya tanpa ekspresi, ia sadar kesalahannya itu termasuk fatal.


"Mau melakukan apa lagi? Memukul? menendang? Silahkan!" ucap Reza saat Jasmine berjalan mendekatinya. Gadis itu menggelengkan kepalanya dengan tatapan mata menatap intens ke arah suaminya.


"Aku tau dengan mengatakan hal bodoh itu membuat ku melakukan kesalahan fatal dalam sebuah hubungan yang sakral, tapi aku tidak pernah bermaksud seperti itu, kau adalah kau, satu-satunya suamiku. Maafkan perkataan ku itu, maaf telah menyakiti mu, aku mohon maafkanlah aku." ucap Jasmine memeluk erat tubuh kekar Reza yang hanya terbalut handuk putih sebatas pinggang sepinggang.


Kedua pelupuk mata Jasmine mengalirkan air mata yang terjatuh di dada bidang Reza. Awalnya Reza hanya terdiam saat Jasmine menangis dan memeluk erat tubuhnya, namun perlahan isakan tangis Jasmine mulai terdengar, Jasmine makin makin membenamkan wajahnya ketika isakan tangisnya terdengar lebih keras.

__ADS_1


"Apa kau benar-benar menyesal?" ucap Reza dan dengan cepat Jasmine menganggukkan kepalanya.


"Apa kau tidak akan mengatakan hal itu lagi?" tanya Reza kembali, dan lagi-lagi Jasmine menganggukkan kepalanya.


"Apa kau bersedia jika kita membuat baby malam ini?" ucap Reza kembali dan lagi-lagi Jasmine menganggukkan kepalanya cepat, namun saat menyadari pertanyaan terakhir Reza, Jasmine langsung terdiam. Gadis itu langsung menggigit dada bidang Reza membuatnya meninggalkan bekas gigitan di dada Reza yang putih bersih itu.


"Tidak ada penolakan! Kau bisa dengan santainya mencium Gilang di hadapan ku, bahkan kau terlihat sangat menikmatinya." Jasmine menganggukkan kepalanya menyetujui perkataan Reza, karena apa yang di ucapkan suaminya itu memang benar terjadi.


Dengan tersenyum licik Reza lalu menenggelamkan wajahnya di curuk leher Jasmine. Terdengar ringisan Jasmine pada saat Reza mencium keras lehernya membuat kecupan pria itu meninggalkan bekas kismark di leher jenjang istrinya. Reza yang tidak mendengarkan atau menerima penolakan dari Jasmine hanya tersenyum sembari menggendong wanita manisnya itu ke atas ranjang.


"Apa kau melakukan ini dengan terpaksa, hingga kau enggan mengeluarkan suara mu itu?" tanya Reza melepaskan bibirnya dari salah satu gunung kembar Jasmine. Reza menatap intens wajah istrinya yang tengah menggigit keras bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan suara aneh yang mampu membuat suaminya kehilangan kendali nantinya.


"Aku mau pakai selimut!" Reza tidak mendengarkan perkataan Jasmine, ia kembali ke aktivitasnya semula.


"Reza!" protes Jasmine.

__ADS_1


"Diamlah, ini membantu mu agar tidak terlalu sakit." Setelah Jasmine mendapatkan pelepasan, Reza berdiri untuk membuka handuk yang masih melingkar di pinggangnya. Seketika terlihat sebuah benda kesayangan Reza yang sangat pria itu jaga tengah berdiri tegak di tempatnya. Jasmine yang melihat bukit gairah suaminya refleks berteriak dan memejamkan kedua matanya. Seumur hidupnya ia tidak pernah melihat Junior para pria, dan saat pertama kali melihatnya ia harus melihat ular anaconda Amazon besar yang selama ini bersarang di balik celana suaminya.


"Reza, hari ini permainannya di cancel dulu yah. Besok aku janji akan membantumu bermain, tapi tidak hari ini." ucap Jasmine masih dengan mata tertutup.


"Sudah jangan banyak bicara, kau kira apa bisa di cancel? Lagi pula ini adalah masa subur mu bukan? Kita akan cepat memiliki Baby jika sering melakukannya, para wanita ku tidak ada yang pernah seperti mu ini." Jasmine yang mendengar perkataan Reza langsung membuka matanya marah dan bangkit dan ikut berdiri di hadapan Reza, ia tidak peduli dengan tubuhnya yang kini terekspos bebas di hadapan Reza.


"Jadi kau sering melakukannya dengan wanita lain?! Kenapa kau meminta ku melayani mu jika kau bisa bermain sesuka mu di luar sana?!" bentak Jasmine tidak terima. Reza langsung meraih tubuh Jasmine dan mengungkung tubuh gadis itu di bawahnya. Kecupan lembut mendarat di kening gadis itu.


"Tidak ada satu pun wanita yang merasakan adik kecil ku ini, hanya kau yang akan merasakan bagaimana sensasi nya." ucap Reza dengan suara beratnya.


Merasakan ada sebuah benda keras yang mencoba masuk dan merobek selaput darahnya membuat bagian inti Jasmine sakit bukan main. Reza mencoba melakukan semuanya perlahan, namun sia-sia, area pribadi Jasmine masih sangat sempit untuk juniornya bersarang dan bermain bersama. Reza langsung mengentakkan tubuhnya memaksa menerobos masuk ke area inti istrinya.


Darah mengalir dari bagian sensitifnya, bersamaan dengan air mata yang mengalir dari pelupuk mata gadis itu. Jasmine hanya bisa mencengkeram erat seprai saat Reza memasukkan juniornya lebih dalam. Kenikmatan yang di berikan Jasmine di tepis sementara oleh Reza, pria itu menggenggam erat telapak tangan Jasmine, dengan bibir mengecup lembut mata istrinya satu persatu, menyeka air mata Jasmine.


"Tutup dengan selimut!" ucap Jasmine ketika rasa sakit di area sensitifnya mulai mereda. Reza menarik selimut putih di kakinya menutupi separuh tubuh mereka. Meskipun di tutup dengan selimut, apakah percuma saja? Bukan kah mereka sudah melihat tubuh satu sama lain ketika tidak mengenakan satu benangpun.

__ADS_1


Entah sampai berapa lama keduanya bertempur, Jasmine langsung tertidur karena kelelahan akibat melayani suaminya yang seakan tidak ada puasnya.


TO BE CONTINUED


__ADS_2