
Jasmine melanjutkan kembali pekerjaannya. Mengecek satu persatu file-file yang ada di hadapannya, hingga pada suatu file yang tergeletak di mejanya.
"Warner.Bros Company? sepertinya nama perusahaan ini tidak asing." ucap Jasmine lalu mengecek proposal dari perusahaan itu.
"Bagus, meskipun perusahaan kecil tetapi memiliki pemikiran maju ke depan. Mungkin mereka kekurangan modal untuk melajukan nama perusahaan mereka. Entahlah." Lagi-lagi Jasmine berbicara sendiri.
"Drt... Drt..." Ponsel gadis itu bergetar, tampak dengan malas ia merogoh tasnya karena berfikir yang menelfonnya Adah Reza. Namun dugaannya salah besar, bukan kontak Reza yang menghubunginya melainkan nomor asing yang tidak di ketahui Jasmine.
"Maaf ini siapa? Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Jasmine sopan karena tidak tahu siapa yang menghubunginya.
"Halo nona cantik, aku adalah Hardhan calon pemilik sekaligus penguasa muda di kota Berlin ini."
"Siapa pun kau aku tidak ada urusannya dengan mu." Balas Jasmine.
"Kau lupa? Kau menumpahkan kopi di jas yang baru saja aku beli, ya aku tahu bagi mu jas seperti itu tidak ada harganya, tapi aku membelinya karena kerja keras ku sendiri."
"Jadi apa mau mu?" tanya Jasmine langsung to the poin karena malas berbicara dengan orang seperti Hardhan.
"Aku mau weekend besok kau menemani ku membeli jas baru, tenang saja jas ku itu tidak limited edition tapi harganya memang selangit."
"Terserah mu, jam berapa?" tanya Jasmine tidak mau membuang waktunya.
"Makan siang saja, sekalian."
"Baiklah." Jasmine menutup telfon itu.
...🍃🍃🍃...
"Kak, jika kau pergi aku sama siapa di sini?" tanya Lunna ketika Reza keluar dari kamarnya waktu menenteng sebuah koper.
"Para bibi ada di sini. Kau itu kenapa manja sekali?"
__ADS_1
"Aku tidak manja, aku hanya bertanya nasib ku kedepannya seperti apa. Sudah lah, good luck untuk kepergian kakak." Lunna memeluk tubuh Reza manja dan di saksikan oleh semua orang yang ada di situ.
"Kira-kira Nona Jasmine pernah tidak ya bermanja-manja seperti itu kepada Pak Reza." Bisik Renata kepada Ayana yang juga sedang menyaksikan hal itu dengan koper di tangan kanannya. Dokter Anggun yang sedang berdiri di dekat mereka mendengarkan obrolan kedua perawat itu, tampangnya memasang wajah datar namun telinganya bersiap mendengar bisikan-bisikan Ayana dan juga Renata.
"Nanti dia dengar, sudah jangan di bahas di sini." bisik Ayana ketika melihat dokter Anggun berdiri semakin dekat dengan mereka.
"Berapa lama kakak ada di sana?" tanya Lunna masih tidak merelakan dirinya di tinggal sendirian di apertemen besar dan super mewah itu.
"Hanya tiga atau empat hari, sudah lah jika kau terus merengek kapan aku berangkat." Setelah mencium lembut kening adiknya itu, Reza langsung berjalan keluar apertemen.
"Ya ampun! Kapan lagi bisa naik pesawat pribadi jaya gini!" pekik Sifa, sekretaris Reza yang dua bulan lalu di pekerjakan.
Reza tidak memperdulikan Sifa dan merebahkan tubuhnya di kursi nyaman pesawat pribadinya itu, telinganya telah terpasang headphone dan tangannya sedang memegang berkas-berkas yang akan di bahas di perjalanan kali ini.
Setelah menempuh perjalanan selama belasan jam, Reza dan Sifa memesan hotel Dengan kamar yang bersebelahan agar mudah menyampaikan sesuatu.
"Sifa apa kau sudah makan siang?" tanya Reza lewat sambungan telefon.
"Bagaimana jika kita makan di luar saja? Saya ingin membeli sesuatu yang lupa saya bawa." ucap Reza. Dengan senang hati Sifa mengiyakan perkataan Reza. Meskipun terselip rasa kagum di hatinya untuk Reza, tapi Sifa sadar diri siapa dirinya dan siapa Reza membuatnya mundur sebelum bertarung.
Reza dan Sifa bergegas pergi ke mall pusat kota Berlin. Bersamaan dengan seseorang yang MN sangat ia kenal.
Jasmine dan Hardhan berjalan beriringan menuju toko pakaian, keduanya sama-sama terdiam karena tidak tahu harus mengatakan apa.
"Bagaimana bagus tidak?" tanya Hardhan ketika ia mencoba mengenakan jas yang di berikan para pekerja di sana.
"Terserah mu, sudah cepat aku tidak punya banyak waktu." ucap Jasmine. Hardhan yang kesal membuka jas yang di kenakannya lalu membuangnya tepat ke hadapan Jasmine. Karena tadi menempel beberapa saat di tubuh Hardhan, jas yang menutupi wajah Jasmine beraroma parfum masuk khas pria, mengingatkan Jasmine pada suaminya yang ia tahu saat ini sedang berada di Indonesia.
Jasmine bangkit dari duduknya dan meraih salah satu jas mahal bermerek yang di tunjukkan para karyawan itu. Jasmine memposisikan jas itu di tubuh Hardhan yang di anggapnya sama besar dengan Reza, beberapa jas ia cocokkan ke tubuh pria di hadapannya bermaksud ingin membelikan untuk Reza meskipun tidak akan pernah di pakai suaminya nanti, pikirnya.
Di dekat pintu masuk toko itu, seorang pria tengah berdiri dengan mengepalkan tangannya dengan sangat erat membuat baku tangan itu memutih. Reza yang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara keduanya manusia yang sedang ia amati langsung terbakar amarah yang membara.
__ADS_1
"Ayo kembali!" ucap Reza menyeret Sifa yang baru saja membeli minuman dan menemui Reza.
"Pak, tunggu!" pekik Sifa.
"Aku tidak menyangka kau benar-benar melakukan hal yang sangat murahan seperti itu." Batin Reza sangat kecewa dengan istrinya. Karena merasa masih sangat kesal, Reza langsung membanting stir dengan sangat kuat melampiaskan rasa emosinya.
"Ini pak Reza kenapa sih? Serem banget!" Pekik Sifa menatap ngeri ke arah atasannya.
Sementara itu di tempat yang berbeda, Hardhan sedang menatap jengkel pada Jasmine yang sedang membayar belanjaan mereka.
"Sudah bukan? Ayo pulang." ucap Jasmine menyerahkan paper bag berisi jas baru untuk Hardhan namun tangan kirinya memegang paper bag berisi beberapa jas yang lebih keren dan mahal.
"Apa kau membeli semua itu untuk menjadi kenang-kenangan pernah jalan bersama dengan pria setampan diri ku?"
"Kau itu narsis sekali, sama dengannya. Tadi kau berkata apa? Tampan? Wajahmu bahkan tidak bisa di bandingkan dengan suami ku yang mempunyai paras bak dewa Yunani namun narsis bagai Firaun."
"Suami? Kau sudah menikah?!" tanya Hardhan terkejut setengah mati.
"Ah itu, kau tidak perlu tahu. Sudah ayo kembali." ucap Jasmine melenggang pergi ke parkiran pusat perbelanjaan itu.
"Siapa pria yang sangat beruntung itu?" Batin Hardhan bertanya-tanya.
...🍃🍃🍃...
"Maaf kami terlambat." ucap seseorang saat semua wakil perusahaan yang sedang menjalin kerja sama dengan mereka sudah berkumpul.
Jasmine sangat terkejut ketika melihat suaminya berada di hadapannya dengan wajah datar tanpa ekspresi. Wanita itu tidak tahu apa yang telah terjadi dengan Reza, yang ia tahu saat ini Reza menatapnya dengan sangat dingin namun tidak dengan lainnya.
"Manusia satu itu terlihat seperti tidak ada aura kehidupannya." Bisik Hardhan selaku perwakilan perusahaannya. Jasmine hanya diam tidak menjawab perkataan Hardhan sama sekali.
"Kau itu juga tidak memiliki aura kehidupan." Ucap Hardhan lalu lanjut memperhatikan orang yang sedang presentasi di hadapan mereka.
__ADS_1
To be continued.