Mr. Sargeant

Mr. Sargeant
Chapter 10


__ADS_3

"Ya Bu?" ucap Jasmine setelah menjawab telepon dari ibunya.


"Mine apa benar pabrik perusahaan kakak kamu kebakaran?" tanya ibunya Jasmine.


"Iya Bu, bukan hanya itu. Produk terbaru handphone yang akan kami rilis dua bulan lagi ternyata juga akan di rilis oleh perusahaan lawan bulan depan dengan harga yang lebih murah." ucap Jasmine sembari memijat pelipisnya.


"Oh my God."


"Jasmine!" panggil Reza dari dalam ruangannya.


"Ibu, si narsis itu memanggil ku. Aku tutup dulu telefonnya ya." ucap Jasmine.


"Baiklah." ucap ibunya Jasmine, dan setelah drama perpisahan antara telefon itu berakhir Jasmine langsung menuju ke ruangan Reza yang berada tepat di ruangannya.


"Ada apa?"


"Jasmine? Apakah orang yang kau suruh menyelidiki kasus ini masih belum menemukan apapun? Kau tahu kan jika hari ini aku akan di interogasi oleh polisi karena kasus ini? Padahal aku juga tidak pasti apa yang menyebabkan kebakaran dan ledakan itu." ucap Reza tiada henti.


"Kau calon pemilik perusahaan, kenapa bukan kau saja yang menyuruh orang untuk menyelidiki kasus ini? Memang benar perusahaan lebih maju dua kali lipat karena kau memimpin saat ini. Tapi juga perusahaan menanggung kerugian tiga kali lipat karena Kebakaran itu." ucap Jasmine menatap tajam kearah Reza yang tidak bisa tenang dari kemarin.


"Brakkk!" Reza menggebrak meja dengan sangat kuat.


"Ya baiklah terserah mu mau mengatakan apa. Tetapi yang jelas itu bukan lah salah ku! sejauh ini setiap bulan anak buah ku akan mengecek alat-alat di pabrik. Penjagaan di sana juga sangat lah ketat, dan bukan tidak mungkin kebakaran itu hanya masalah teknis." Jasmine yang mendengar perkataan Reza langsung tersenyum.


"Dia tersenyum? Mustahil! Tumben anak itu tidak mencak-mencak? Biasanya dia selalu tersulut emosi hanya karena masalah sepele. Tapi senyumannya sangat manis? Hei apa yang ku pikirkan!" batin Reza menatap tajam pada Jasmine.


"Mengapa kau tersenyum?" ucap Reza namun tidak mendapatkan jawaban sama sekali dari sepupunya itu.


Jasmine yang mendengar perkataan Reza langsung membuang jauh-jauh senyuman itu dan berdehem untuk menghilangkan kecanggungan nya.


"Ehem! Tidak." ucap Jasmine datar membuat Reza menyirit.


"Drt..."


"Iya kak? Apakah kakak sudah mendapatkan hasilnya?" tanya Jasmine setelah mengangkat telfon itu.


"Min speaker." ucap Reza membuat Jasmine mengepalkan tangannya dan mengarahkan itu ke hadapan Reza.


"...." ucap Jessy dari sebrang telefon. Ya dia adalah Jessy, mata-mata cantik dari perusahaan Weasley.


"Benarkah?" ucap Jasmine dengan senyuman manis.


"Akhir-akhir ini dia sering tersenyum." batin Reza.

__ADS_1


"Speaker mine." ucap Reza dan lagi-lagi Jasmine tidak menghiraukan nya.


"...."


"Saat ini aku sedang berada di kantor pusat wescott." jawab Jasmine.


"..."


"Baiklah, terima kasih kak."


"..."


"Apa yang dia katakan?" ucap Reza begitu panggilan telefon itu di putus Jasmine.


"Lima belas menit lagi dia akan ke sini." ucap Jasmine lalu melangkah pergi dari ruangan itu.


Setengah jam sudah berlalu namun belum ada tanda-tanda Jessy datang ke perusahaan wescott.


"Mine!" tiba-tiba Reza berada di hadapannya membuat Jasmine kaget bukan kepalang.


"Sabarlah! Jangan memancing emosi ku dan selalu menanyakan hal itu!" pekik Jasmine membuat Reza tersenyum.


Reza mendekati Jasmine dengan perlahan lalu duduk di meja kerjanya Jasmine sembari menatap lembut ke arah Jasmine, membuat gadis itu begidik ngeri. Perlahan tapi pasti tangan kekarnya membelai lembut rambut Jasmine dan mencium pucuk kepala rambut coklat itu. Bibir yang semulanya berada di puncak kepala kini turun ke bibir Jasmine membuat wanita itu terbelalak.


"Hei!" panggil Jasmine membuyarkan semua imajinasi Reza.


"Apa?" tanya Reza tidak menyadari situasi saat ini.


"Apa kau sedang melamun?" tanya Jasmine menatap tajam ke arah Reza.


"Apa? Hah tidak mungkin!" elak Reza lalu pergi melangkah ke ruangannya. Dirinya bahkan sampai lupa tujuan sebenarnya ke meja Jasmine.


"Apa yang ku pikirkan tadi? Membayangkannya saja sudah puas apa lagi-- Hei apa yang ku pikirkan?!" batin Reza berperang dengan dirinya sendiri.


Karena salah tingkah Reza sampai tersandung oleh kakinya sendiri membuat pria itu terus mengumpat dalam hati.


"Mengapa lama sekali? Apa sedang terjadi sesuatu di jalan. Mari masuk." ucap Jasmine ramah lalu membuka kan pintu ruangan Reza untuk Jessy.


"Ya tadi ada orang gila yang mencoba menghentikan langkah dan gerakan ku." ucap Jessy sembari duduk di sofa ruangan itu.


"Orang gila?" tanya Reza berjalan mendekat ke arah wanita berumur 28 tahun itu.


"Ya orang gila!" ucap seseorang yang baru saja memasuki ruangan itu.

__ADS_1


"Kak Harry?" ucap Reza.


"Ya aku Harry Weasley. Dan siapa yang kau panggil orang gila tadi." ucap lelaki bernama Harry itu


"Kau." ucap Jessy santai lalu mengeluarkan berkas dan bukti dari semua


"Apa?! Kau mendapatkan informasi se ditail ini?!" tanya Reza melihat semua


"Tentu saja, aku mengerahkan seluruh anak buah ku untuk menyelidiki kebakaran itu Za." ucap Harry lalu duduk di samping Jessy.


"Apa! Bukan kah kau mengatakan Jessy yang akan menyelidiki nya? Kenapa jadi anak buah Kak Reza."


"Plakkk." Jasmine memukul kepala bagian belakang Reza membuat lelaki itu menatap tajam padanya.


"Sopan lah sedikit. Panggil dia kak, dia lebih tua dari dirimu." ucap Jasmine lalu duduk di samping Reza.


"Tidak perlu se kasar itu." gerutu Reza.


"Kan sudah ku katakan padamu, banyak penghianat dari golongan penjilat yang berada di perusahaan mu." ucap Harry lalu menaruh sepuntung rokok ke bibirnya.


"Di larang merokok di kantor!" ucap Jessy mengambil rokok yang baru saja ingin di nyalakan oleh Harry lalu membuangnya ke tempat sampah yang berada tidak jauh dari tempat duduknya.


"Jadi ini adalah ulah mereka!" geram Reza saat melihat deretan nama yang terpampang disana.


"Ya mereka yang membocorkan produk terbaru kalian kepada perusahaan biadab itu. Dan dengan mudahnya mereka menjiplak handphone yang akan kalian luncurkan nantinya, semua sudah di rencanakan oleh si tua Bangka itu. Mulai dari harga, dan kapan tanggal rilisnya." terang Harry membuat Reza terbelalak.


"Kenapa bukan kakak yang menyelidiki kasus ini?" tanya Jasmine pada Jessy.


"Manusia satu ini yang menghalangi ku." ucap Jessy yang membuat Jasmine terkekeh.


"Memang aku melakukan apa?" ucap Harry sembari mencium pipi Jessy membuat wanita itu memekik.


"Perusahaan ku bukan tempat untuk berbuat mesum, jadi pergilah." ucap Reza membuat Jasmine menyikut kuat perutnya.


"Aku yakin jika kalian juga sering melakukan hal ini." ucap Harry membuat Jessy mencubit pelan perut Harry.


"Baiklah kami pergi dulu ya mine." pamit Jessy dengan senyuman manisnya.


"Terima kasih atas bantuannya kak." ucap Jasmine membalas senyuman manis Jessy.


"Cantik kami pulang dahulu ya." ucap Harry membuat Jessy mencubit keras-keras perut Harry.


"Ada yang cemburu, kami pulang dulu za. Sepertinya kau juga sedang cemburu." goda Harry.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2