
"Kau benar-benar mau pergi meeting dan meninggalkan ku sendiri di sini?" tanya Reza menatap pada istrinya yang duduk di depan meja rias sedang memoleskan lipstik di bibirnya.
"Jangan lebay, bukan kah kau kesini bersama teman mu itu? Jalan-jalan saja, keliling-keliling kota atau terserah kalian. Ya sudah aku pergi dulu, kak Jeniffer sudah menunggu ku." Ucap Jasmine lalu beranjak pergi menuju ke luar.
Reza menatap Jeniffer penuh arti, begitu pula dengan Jeniffer. Jasmine yang tidak memperhatikan keduanya hanya berlalu meninggalkan Jeniffer begitu saja.
"Kau ingat tugas mu bukan?" tanya Reza.
"Kau tidak perlu bertanya kembali, pekerjaan ku akan perfact seperfact imbalan ku."
"Mau kemana kau?" tanya Reza saat melihat David berjalan melalui dirinya begitu saja dengan menggunakan jaketnya.
"Ayolah, ini Paris bro! Kau mau aku menyia-nyiakan kesempatan ku untuk berkeliling kota ini dan mendapatkan kekasih bule? Ayolah, tampang ku dari dulu blasteran masa iya aku tidak memiliki seorang kekasih yang berasal dari dunia yang sama." Ucap David. Reza menarik leher jaket David kebelakang membuat pria itu mengikuti arah tangan Reza.
"Bantu aku, aku akan membebaskan mu di sini sebanyak yang kau mau." Ucap Reza dengan tampang seriusnya ketika David hendak melangkah kembali.
"Kenapa tidak mengatakannya dari tadi, sudah lepaskan tangan ku kak, aku bukan kucing." Ucap Davi menghempaskan tangan Reza dari jaketnya.
"Apa yang kau ingin kan?" tanya David.
"Hubungi pihak hotel."
...🍃🍃🍃...
"Wanita itu lebih suka warna pink, bonekanya itu hello Kitty." Usul David ketika dirinya sedang mutar-mutar keliling mall mencari boneka besar incaran Reza.
"Tidak, dia lebih suka boneka Doraemon yang berwarna biru itu, sudah cepat lakukan tugas mu."
__ADS_1
"Lebih bagus ini atau ini?" tanya Reza pada dirinya sendiri ketika melihat kertas bergambar kesukaan anak-anak.
"Sepertinya dia lebih suka yang ini, tidak biru warna favoritnya tapi ini bukan gambar kartun satu itu." Setelah cukup lama ia berdebat dengan dirinya sendiri ia memutuskan mengambil kertas berwarna pink bergambar Doraemon, entah untuk apa kertas itu nanti, kita lihat saja nanti.
Setelah mendapatkan apa yang ia cari, Reza dan David kembali menyusuri kota Paris untuk mencari apa yang Reza butuhkan.
"Apa kau sudah memesan tiketnya?" tanya Reza ketika mereka sampai di hotel kembali.
"Semua sudah beres, aku sudah menyuruh pihak hotel melakukan apa yang kau mau, untuk makan malam kau tenang saja kak, aku sudah memesan koki terbaik di sini untuk acara makan malam mu. Dan untuk tiket yang kau mau itu kau tenang saja, aku sudah menghubungi mereka."
Reza naik ke kamarnya dan memulai pekerjaan konyolnya itu. Diambilnya salah satu lembar kertas yang tadi ia beli, cukup lama ia berfikir dan tapi tidak bisa juga tertuangkan di atas kertas itu.
"Bagai bunga... Tidak itu terlalu alay!" Reza meremas kertas yang ada di hadapannya lalu mencampakkannya ke tempat sampah. Pria itu kembali mengambil kertas yang baru, dan saat tangannya bersiap menorehkan kata-kata, semua kata yang ada di pikirannya lenyap membuat Reza kesal lalu kembali meremas kertas itu dan mencampakkannya ke tempat sampah.
Waktu berjalan terasa semakin cepat, dan sebentar lagi Jasmine akan kembali. Di lantai itu sudah berserakan kertas yang entah apa isinya, karena kesal dan waktu yang mepet akhirnya Reza menyelesaikan pekerjaan dengan gayanya sendiri.
"Kak tunggu, kau belum mengatakan akan seperti apa nanti kamar mu itu." Ucap David ketika Reza berjalan melewatinya.
"Seperti apa contohnya?" tanya Reza dan David langsung merogoh kantong jaketnya untuk mengambil ponsel.
"Ini bagaimana?" tanya David memperlihatkannya sebuah dekorasi indah dengan lilin yang menyala dan melingkar membentuk sebuah simbol, yaitu cinta. Lilin yang di susun secara rapi dan dinyalakan bagai karpet merah yang akan membuat wanita merasa istimewa. Belum lagi taburan bunga mawar yang ada di sana sungguh sangat romantis, di tengah simbol itu juga ada sepasamg boneka yang tengah memegang buket bunga mawar.
"Tidak, terlalu kekanak-kanakan. Cuaca di sini sedang panas, dan mereka dengan mudahnya membuat kubangan api seperti itu?"
"Astaga, kau ini! Ini simbol cinta yang sangat-sangat romantis, dan kau menyebutnya apa tadi? Kubangan api? Astaga, terserah lah bagaimana yang ini." Tanya Reza namun pria itu tetap tidak suka dengan konsep yang di tawarkan David.
"Sudahlah pergi sana, jemput istri mu itu. Kau yang butuh aku yang repot, sudah sana serahkan semuanya pada ku!" usir David karena menyesal meminta pendapat Reza.
__ADS_1
Reza menelfon Jasmine tepat ketika wanita itu keluar dari gedung perusahaan rekan bisnisnya.
"Ada apa Za?" tanya Jasmine ketika mengangkat telfon itu.
"Mine, besok aku harus kembali ke Indonesia. Keluar yuk?" ajak Reza. Jasmine yang mendengarkan perkataan suaminya entah mengapa tiba-tiba timbul rasa tidak nyaman di hatinya.
"Boleh, kau mau kemana?" tanya Jasmine masuk ke mobil yang Jeniffer sebagai supirnya.
"Sudahlah ayo, temui aku di taman kota." Ucap Reza lalu memutuskan sambungan telefon itu.
...🍃🍃🍃...
Jasmine kini tengah celinguk-an menatap keadaan kapal pesiar yang saat ini ia naiki. Tidak ada satu penumpang pun yang campur dengan mereka, hanya ada dirinya, Reza, para pelayan dan pekerjaan yang bertugas menjalankan kapal pesiar itu.
"Reza kenapa tidak ada orang selain kita di sini?" tanya Jasmine menghampiri suaminya yang tengah menikmati pemandangan kota bersejarah itu dari kapal yang mereka naiki.
"Entahlah, mungkin mereka tidak mau naik kapal ini." Ucap Reza sekenanya.
"Tapi kenapa? Lihat kapal pesiar yang ada di belakang, bahkan kelebihan penumpang." Reza tidak menghiraukan perkataan istrinya dan langsung menarik Jasmine ke pelukannya.
"Kau ini bodoh sekali, tentu saja aku menyewa kapal ini hanya untuk kita agar tidak ada yang mengganggu." Ucap Reza dalam hatinya.
Tidak ada lagi suara yang terdengar dari mereka, keduanya masih menikmati angin yang berhembus yang menerpa tubuh mereka. Jasmine memejamkan matanya bukan hanya menikmati sentuhan angin yang seakan membelai kulitnya, tetapi juga menikmati sentuhan bibir suaminya yang berada di leher jenjangnya. Tangan Reza masih melingkar erat di perut istrinya, membelai lembut dan berharap akan tumbuh baby mungil di sana.
Reza membalikkan tubuh Jasmine, melingkarkan mesra tangan kirinya di pinggang Jasmine. Tangannya kanan pria itu berada di dagu Jasmine, meminta perhatian dan tatapan istrinya yang kini tengah membuang muka. Ketika Jasmine menatapnya, dengan cepat Reza mel***t lembut bibir istrinya yang membuat dirinya seakan candu dan ber-tergantungan.
"Jasmine..."
__ADS_1
To be continued.