Mr. Sargeant

Mr. Sargeant
Chapter 3


__ADS_3

Hasil dari teriakan Reza itu bagaikan nasib buruk bagi Jasmine. Gadis itu kini tengah duduk di hadapan Reza dengan wajah memberengut kesal. Pupus sudah angan-angannya untuk menjelajahi pulau kapuk impiannya malam ini. Ia terpaksa membantu Reza dengan alasan Pekerjaan yang dilakukan bersama lebih cepat selesai. Jadilah dia terjebak di ruang kerja Reza bersama pemiliknya.


Saat keduanya sama-sama terhanyut dalam pekerjaan masing-masing, suara bel berbunyi berulang kali.


"Buka!" Perintah Reza karena merasa terganggu dengan bel yang berulang kali berbunyi.


Jasmine menutup laptop yang ada di pangkuannya lalu menatap tajam kearah Reza. "Buka!" Perintah Jasmine balik.


"Bu ... Okay!" Ucap Reza pasrah karena tatapan tajam Jasmine seolah mengintimidasi dirinya.


Saat ia membuka pintu, tiba-tiba seorang wanita berhambur memeluk dirinya dengan posesif. Reza hanya tersenyum sembari mengelus pucuk rambut Chika dengan penuh kelembutan, dan sesekali ia mencoba menghirup aroma rambut wanitanya.


"Aku merindukan mu." Ucap Rika sembari membelai lembut dada bidang Reza yang hanya terbalut kaus rumahan.


"Aku juga Baby." Jawab Reza lalu melahap dengan rakus bibir tebal kekasihnya yang berlapis zat kimia yang tak kalah tebalnya.


Jasmine yang sedang duduk sembari memangku laptop sedikit curiga karena Reza tak kunjung kembali. Apa maksudnya ini, ia disuruh mengerjakan pekerjaannya sedangkan Reza sendiri entah kemana. Akhirnya gadis itu memutuskan untuk menyusul Reza di ruang tengah. Namun nihil, saat gadis itu sampai di ruang tengah tidak ada satu orangpun. Dan saat ia ingin kembali ke kamarnya, tampak lampu kamar Reza yang berada tepat di depan kamarnya menyala.


Jasmine mendobrak pintu itu dengan sekali tendangan, benar saja apa yang berada di pikirannya. Reza kini tengah bercumbu dengan wanita kurang adab tadi pagi yang menentang dirinya.


"Ehem! Sudah permainannya?" Ucap Jasmine cukup keras menghentikan aksi gila sepupunya. Reza langsung terjingkat dan dengan cepat menritsletingkan kembali celananya. Sedangkan Chika menarik selimut tebal untuk menutupi tubuhnya yang sudah polos.


"Keluar dari sini sebelum aku menyeret mu seperti tadi pagi!" Ucap Jasmine dengan tangan bersedekap dan wajah yang tampak datar.


Chika membalas tatapan tajam Jasmine dengan tatapan tajamnya. Namun tatapan itu tidak akan mengintimidasi Jasmine sama sekali, buktinya gadis itu masih menatap tajam kepada Rika, dengan tatapan bak ingin menghunus wanita itu, tatapan tajam sinis dan merendahkan.


"Baby, keluarkan dia dari sini!" Pinta Chika dengan wajah memelasnya.


"Hei kau, cepat kerjakan pekerjaan mu! Enak saja, aku sudah pusing dengan pekerjaan mu yang menumpuk dan kau di sini mau bermain dengan wanita kurang adab ini? Ku adukan pada kakek jadi gembel kau." Ucap Jasmine menatap tajam pada Reza.


"Chika keluarlah, besok kita akan bertemu di apertemen mu." Bisik Reza lembut.


"Baby!" Protes Rika.


"Ck! Kau mau uang jajan mu aku potong bulan ini?" Ancam Reza membuat wanita itu mengangguk patuh.


Setelah Chika selesai berpakaian di kamar mandi Reza, wanita itu langsung melesat pergi meninggalkan Reza dan Jasmine berdua.


"Ck, sudah puas kau?! Lihat apa yang kau lakukan pada adik kecil ku."


"Pria yang tidak mampu menahan juniornya tidak pantas di sebut pria berkelas. Tuntaskan saja dengan sabun, beres kan? Gitu saja repot." Ucap Jasmine lalu kembali ke kamarnya.


Saat sudah berada di kamarnya, Jasmine membuka pakaian tidurnya dan hanya menyisakan tank top dan hot pantsnya saja. Gadis itu merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan tatapan lurus ke langit-langit kamarnya. Pikirannya kini telah terkontaminasi oleh benda milik Reza yang tidak sengaja dilihatnya, bahkan tadi ia sampai ingin berteriak saking kagetnya.


Tengah malam telah menyapa, Jasmine terbangun dari tidurnya karena merasakan tenggorokan terasa kering bagai sedang di gurun pasir. Dengan malas ia mengenakan kembali pakaian tidurnya namun tetap membiarkan hot pantsnya yang hanya mampu menutupi pangkal pahanya.


Saat menuju ke dapur sayup-sayup ia mendengar suara televisi menyala dari ruang tengah, dan benar saja saat ia memastikan sendiri ia mendapati Reza yang duduk bersandar sembari menikmati cairan rokok elektriknya.


"Ck! Mau mati saja tanggung." Sindir Jasmine ketika menghampiri Reza saat pria itu menghembuskan asap dari hidungnya.


Reza tidak menghiraukan sindiran Jasmine lalu kembali meneguk wine yang tersisa di gelasnya. Kesal, dengan paksa Jasmine merebut botol berisi cairan Vape yang ada di genggaman Reza dengan kasar.

__ADS_1


"Aku aduin ke Tante baru tau rasa." Ucap Jasmine kemudian bangkit dari duduknya dan kembali masuk ke dalam kamarnya.


Reza menatap keki pada Jasmine yang masuk kembali ke kamarnya dengan botol berisi cairan rokok elektrik miliknya. Ingin rasanya Reza mencekik leher gadis itu dan membuangnya dari atas balkon, namun sayangnya ia masih sayang pada tubuh sempurnanya untuk tidak di habisi oleh kakek dan pamannya.


Sudah membuat ku main sabun di tengah malam, sekarang malah kembali membuat ulah! Batin Reza.


Namun saat ia melihat betis dan paha mulus sepupunya darahnya seakan berdesir hebat. Gadis itu hanya mengenakan pakaian tidur bergambar dan celana ralat, dan hotpants se pangkal paha.


Jika tidak ingat siapa kau itu, sudah ku terkam kau kucing liar. Batin Reza dengan senyuman samar lalu kembali meneguk winenya langsung dari botol.


Oooo_oooO


Matahari telah terbit di ufuk timur, namun tampaknya seorang gadis masih ingin bergelut manja di atas kasurnya. Bukan manja, namun liar. Lihat bagaimana penampilannya saat ini, urakan dan mengerikan.


Reza membuka pintu kamar Jasmine dengan santainya, bermaksud ingin menanyakan dimana file yang di urus Jasmine malam tadi. Namun bukannya penampilan elegan yang biasa gadis itu pertunjukan, Reza justru melihat wujud asli sepupunya. Tubuhnya tengkurap dengan tangan yang menjuntai kebawah, selimut sudah teronggok ke lantai, bantal dan guling juga telah berserak ke atas lantai, bad cover yang malam tadi tersusun rapi kini urakan tidak berbentuk karena agresifnya Jasmine di atas kasur.


"Ck, ck, ck! Jika sadar saja elegan, lihat bagaimana dia tidur saat ini!" Ucap Reza setelah selesai memotret Jasmine.


Ketika berada di meja makan, Reza tidak ada hentinya melirik penampilan Jasmine, penampilan elegan yang sangat mempesona. Blouse longgar berwarna putih gading, rambut yang diikat tinggi memperlihatkan leher jenjangnya. Reza mengeram ketika melirik leher putih mulus sepupunya, karena leher itulah dia pertama kali tidak menerapkan sikap profesionalisme kemarin.


Namun kini lirikan matanya tertuju pada bibir Jasmine, bibir merah menyala karena polesan lipstick yang berpadu dengan raut wajah Jasmine yang tampak patuh pada pagi ini. Ingin rasanya Reza melahap bibir tipis itu dan membuatnya menjadi bengkak.


"Apa lihat-lihat!" Ucap Jasmine garang.


Ck! Baru juga di puji patuh. Batin Reza.


"Perasaan! Siapa juga yang mau melihat wajahmu yang jelek itu." Dusta Reza.


Reza melirik leher jenjang milik Jasmine, ada perasaan tidak nyaman ketika ia melihat beberapa staf prianya terus saja melirik Jasmine. Tatapan yang berpusat pada leher gadis itu. "Gerai rambut mu!" Perintah Reza tiba-tiba.


Jasmine melirik kearah Reza dengan tatapan sinisnya. "Aku tidak merasa memiliki kewajiban untuk melaksanakan perintah mu."


Jasmine berlalu dari meja makan. Menyisakan Reza yang saat ini sedang menatapnya dengan intens, tidak pria itu menatap pada bokong padat Jasmine yang terbalut dengan rok pensil berwarna biru tua.


Berhenti berpikiran kotor! Leher mu akan ditebas Amca. Batin Reza lalu menggelengkan kepalanya berulang kali.


"Cepatlah!" Teriak Jasmine dari ruang tengah.


Anggap dunia ini kejam! Batin Reza lalu bergegas menyusul Jasmine.


"Kau ini lama sekali!"


"Ini bukan hutan Nona muda. Kecilkan sedikit suara mu!" Ucap Reza lalu menyambar tas dan kunci mobilnya.


Oooo_oooO


Reza dan Jasmine kini tengah berada di sebuah lahan kosong sudah di bangun rangka untuk membuat sebuah bangunan megah. Lahan kosong yang tampak gersang. Jasmine sendiri tidak berniat untuk mendengarkan penjelasan seorang pria paruh baya yang matanya terus jelalatan melihat kearah leher dan betisnya.


Baru saja Jasmine ingin menyuarakan pendapatnya, gerimis turun dengan perlahan. Kepalanya refleks menengadah ke atas langit yang tampak mendung.


"Buka jas mu!" Perintah Jasmine tiba-tiba kepada Reza.

__ADS_1


Pria tua itu menatap tidak percaya dengan perkataan sekretaris baru bosnya. Mimpi jika Reza mau menuruti perkataannya. Awalnya Reza mengerutkan keningnya tidak mengerti, namun saat dirinya melihat tatapan tajam Jasmine pria itu paksa.


"Untuk apa?" Tanya Reza bingung.


"Bodoh, taruh itu di atas kepala mu! Cepat lari ke dalam mobil. Ucap Jasmine lalu berlari dengan tas yang bertengger di kepalanya. Sementara itu, seluruh orang yang berada di dekatnya sudah berlarian mencari tempat untuk berteduh.


"Kau itu bodoh atau bagaimana?! Sudah tau tidak bisa terkena air hujan! Ditarik untuk lari saja susah!" Ucap Jasmine ketika mereka berdua berteduh di dalam mobil Reza.


"Astaga jas ku! Jas berkelas yang terbuat dari bahan wol berkualitas tinggi, dirancang oleh desainer ternama! Dan sekarang jas seharga US$ 101.860 dengan mudahnya kau jadikan payung!" Keluh Reza menatap nelangsa pada jasnya yang di lempar Jasmine ke jok belakang.


Plakkk!


Jasmine memukul kepala Reza, tidak keras namun mampu mendapatkan perhatian dari sepupunya ini.


"Kau memilih jas itu atau kesehatan mu?!" Ucap Jasmine garang.


"Iya-iya, tapi tidak jas itu juga yang kau pakai untuk payung!" Ucap Reza lalu membuka kemejanya yang basah.


Memperlihatkan lekukan ototnya yang tak terbalut apapun. Untuk sesaat otak kotor Jasmine memikirkan hal yang tidak-tidak, namun setelah ia melihat Reza telah mengganti pakaiannya dengan baju santai kering pikiran itu langsung di babat habis hingga tak berbekas di pikirannya.


Reza mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, membelah jalanan yang tampak buram karena derasnya air hujan.


Oooo_oooO


"Reza mana?" Tanya Jasmine santai kepada Art Reza.


Bi Imah, seorang art yang telah bekerja untuk bersih-bersih apertemen Reza yang lebih luas dari pada lapangan sepak bola dunia. Namun setelah membereskan makan malam, ia diperbolehkan pulang oleh Reza.


"Saya tidak tahu mbak, dari tadi ndak keluar kamar." Jawab wanita paruh baya itu lalu kembali mengerjakan tugas-tugasnya.


"Dari balik tadi?" Tanya Jasmine kembali, memastikan.


"Iya mbak, kalau gitu saya pamit pulang. Anak-anak saya mungkin belum makan." Ucap wanita itu dengan tersenyum hangat.


Apa yang ditakutkan terjadi, Reza kini tengah meringkuk di bawah selimutnya seperti pepes ikan.


"Ck, jangan kekanakan seperti ini." Ucap Jasmine setelah usahanya untuk menarik selimut sepupunya gagal total.


"Reza ayolah jangan kekanakan! Makan makan malam mu, aku pergi ke apotek di lantai bawah."


Oooo_oooO


Pagi hari kembali menyapa, Reza merasakan kepalanya saat ini seperti mau pecah. Namun saat dirinya ingin bergerak, pergerakannya terkunci oleh tubuh seseorang.


Reza terkejut bukan main saat mendapati Jasmine tertidur pulas di atas badannya. Namun saat pandangan matanya terfokus pada belahan Jasmine seakan akal sehatnya hilang secara mendadak. Secara tidak sadar ia menyentuh benda itu membuat Jasmine yang masih berada di bawah alam sadarnya mengeluarkan suaranya yang parau.


"Alex!" Teriak seorang wanita paruh baya yang berdiri di depan pintu kamarnya


To be continued


Amca: Paman dari bahasa Turki.

__ADS_1


Cairan Vape: Cairan rokok elektrik yang mengandung propilen glikol atau gliserin, nikotin, dan penambah rasa.


__ADS_2