
"Jadi hanya karena ini?!" tanya Dika menatap malas ke arah Lunna. Dirinya tidak habis fikir dengan jalan pikiran adik. semata wayang sahabat sekaligus atasannya itu.
"Apa?! Aku kesetrum listrik dan kakak bilang apa?!" tanya Lunna karena dirinya sama sekali seperti tidak di perdulikan.
"Lun, aku tau kau patah hati karena bajingan itu, kau tenang saja, aku sudah membereskan dia, jadi untuk itu kau tidak perlu mencoba bunuh diri dengan kesetrum seperti itu." Ucap Dika membuat Lunna jengkel bukan main, dirinya mengerjakan pekerjaan rumah karena ingin melupakan buaya tidak tahu tempat itu, malah sekarang dirinya di tuduh bunuh diri karena pacar sialan nya itu, ralat mantannya itu.
"Kenapa kalian itu jahat sekali? Niat ku baik ingin membereskan apertemen kakak, tapi malah di tuduh ingin bunuh diri karena bedebah itu?"
"Lun kau tahu? Aku meninggalkan pekerjaan ku yang menumpuk di kantor, dan hanya demi mendengarkan ocehan mu? Tolonglah jangan seperti anak kecil. Aku akan menelfon bi Imah dan menyuruhnya membereskan apertemen ini, jadi kau bebas mau pergi kemana pun." Ucap Dika lalu pergi dari apertemen sahabatnya itu.
"Yes! Yuhuuuu! I love you kak Dika! Thank you so much!" ucap Lunna lalu berlari ke kamarnya, saat ini yang hanya bisa menyegarkan kembali otaknya hanya shopping.
...πππ...
"Tenanglah, aku juga maunya tetap di Jerman tetapi kantor saat ini sedang sedang dalam masalah. Belum lagi pabrik kebakaran itu, aku juga yakin ayah mu baik-baik saja." Ucap Reza menenangkan Jasmine. Saat ini mereka berdua sedang lepas landas kembali ke Indonesia karena masalah perusahaan yang belum tertuntaskan. Jasmine hanya terdiam menatap kota kelahirannya itu dari balik jendela, ia enggan bergerak dari posisinya, saat ini yang dia pikirkan hanyalah ayahnya jika ayahnya Jasmine tidak melarangnya tetap di Jerman pasti saat ini ia sedang duduk menemani ayahnya sembari bercerita pengalamannya bekerja di Indonesia.
Setelah lepas landas dan pesawat itu meninggalkan Jerman Jasmine hanya memejamkan matanya, tidak tidur tidak juga tersadar. Reza yang melihat Jasmine begitu terpuruk saat melihat Ayahnya sakit tidak bisa membayangkan bagaimana jika Uncle nya itu sudah tidak ada di dunia lagi.
...πππ...
"Aku memang sepertinya tidak benar-benar mencintai bedebah itu, buktinya aku sedang fun time saat ini, karena tidak ada yang membatasi belanjaan ku." Ucap Lunna meminum sodanya, saat ini dia sedang berada di salah satu cafe di mall Jakarta menikmati masa-masa indahnya berbelanja. Namun, kesenangannya itu langsung lenyap saat ia melihat sepasang kekasih mendatangi dirinya.
"Sayang kau mau belanja apa, ayo kita beli apapun yang kau ingin kan." Ucap wanita itu kepada mantan kekasihnya.
"Ah masih meminta pacar-pacar mu membiayai belanjaan mu? Bedebah?" Ucap Lunna dan memberikan penekanan nada pada kata terakhir.
"Ah ini mantan mu sayang? Cantik hanya miskin."
__ADS_1
"Maaf? Siapa yang kau bilang miskin?" tanya Lunna membersihkan bibirnya karena dia baru saja selesai makan.
"Tentu saja kau! Hei aku tahu kau itu miskin! Jadi jangan ngayal pakai barang-barang bermerek, itu yang kau pakai pasti palsukan? Alias KW." Ucap wanita itu membuat Lunna tertawa hambar.
"KW? Tidak salah dengar? Jika aku mau mulut mu pun bisa aku beli, kau tau itu?" ucap Lunna menatap tajam ke arah wanita yang merendahkannya tadi.
"Hei diam kau!" gertak Nathan.
"Hah! Sekarang menggertak dirim ku? Besok juga pasti minta balikan, dasar pria matre!" ucap Lunna lalu mengambil tas dan barang belanjaannya.
"Plakkk!" wanita yang dari tadi menggelayut seperti koala di lengan Nathan menampar Lunna karena perkataan terakhir gadis itu. Lunna yang tidak terima di tampar langsung menampar balik wanita itu jauh lebih keras dari apa yang ia dapatkan.
Tangan Nathan sudah terangkat, bersiap untuk menampar Lunna. Dan saat tangannya itu hampir saja menyentuh pipi mulus Lunna tangannya di cengkram kuat oleh seseorang. Sedangkan beberapa orang yang menyaksikan itu langsung merekam semua kejadian di mall itu, merekam dua orang ternama di Jakarta dengan ponsel mereka.
"Jangan pernah sentuh adik ku!" ucap pria itu menghempaskan tangan Nathan lalu memukuli laki-laki brengsek itu dengan brutal.
"Apa kalian tidak memiliki pekerjaan lain? Jika ada beredar berita tentang mereka jangan menyalahkan ku untuk keuangan kalian yang tiba-tiba amblas!" gertak Dika.
"Kak tunggu! Barang-barang ku banyak sekali!" ucap Lunna membuat Dika menghentikan langkahnya lalu berjalan ke arah adik sahabatnya itu, tampak dengan jelas wajah kesal dirinya, wajah kesal yang di tunjukkan karena gagal keren dengan cara meninggalkan mall itu dengan kharismanya.
"Adik sama kakak sama saja, huh!" gumam Dika membuat Lunna menyengir.
Dika sudah berada di lantai dasar sedangkan Lunna sedang berjalan menuju eskalator karena baru saja membayar makan siangnya. Namun saat gadis itu baru saja melangkahkan kakinya ke eskalator...
"Brakkk! Kak Dika!" pekik Lunna saat ia terjatuh di eskalator yang kebetulan sedang longgar dan belum di perbaiki. Dika yang berdiri agak jauh dari eskalator itu langsung melihat ke arah eskalator, tampak adik sahabatnya terjatuh di eskalator dan sulit untuk berdiri.
"Cepat matikan sistem mekaniknya!" teriak Dika kepada para pegawai mall.
__ADS_1
"Lunna cepat berdiri!" ucap Dika dan berlari secepat mungkin ke arah Lunna sebelum kaki adik sahabatnya itu terlindas eskalator.
"Kaki ku terkilir, Aaaa! Kak sakit!" pekik Lunna. Apa yang di khawatirkan Dika benar terjadi, kaki Lunna tergiling eskalator membuat Lunna berteriak histeris. Rasa sakit yang amat mendalam di kakinya tidak bisa tertahan.
"Lunna!" Untungnya eskalator itu langsung mati tidak berfungsi, sedangkan Lunna sendiri sudah pingsan karena tidak tahan dengan rasa sakit yang ia derita.
"Bangun Lun, Lunna!" ucap Dika panik.
...πππ...
Jasmine dan Raza sudah sampai di bandara dengan wajah datar keduanya. Perjalanan panjang yang sangat melelahkan.
"Ya, Bu?" ucap Jasmine saat mengangkat telfon dari ibunya.
"Mine, cepat kembali nak! Ayahmu sedang masa kritis." ucap Ibunya Jasmine membuat gadis itu kelimpungan.
"Za!" panggil Jasmine dengan air mata yang sudah tak terbendung lagi.
"Ayah mu akan baik-baik saja. Tenanglah..." ucap Reza lalumendekap tubuh sepupunya itu. Perlahan di usapnya punggung Jasmine mencoba menenangkan gadis itu sembari tetap mencoba menghubungi seseorang.
"Siapkah jet dan pilot yang baru!" perintah Reza setelah orang yang ia hubungi mengangkat telefonnya.
To be continued
...πππ...
Oh my God apa yang terjadi iniπ² Kakinya Lunna terlindas eskalator sedangkan ayahnya Jasmine kritis! Diantara mereka berdua siapa yah yang akan selamat π€ Pantengin aja terus ya guys, Makasih... See you next time.
__ADS_1