
"Kenapa tidak kau katakan dari tadi." ucap Reza lalu melangkah kekamar mandi istrinya itu. Jasmine langsung meraih boneka besar berwarna biru, mendekap Doraemon tak bersalah itu dengan sangat erat. Melepaskan semua rasa di hatinya dengan menggigit gemas kepala bonekanya itu.
Jasmine memejamkan matanya sembari memeluk erat boneka Doraemon besar kesayangannya. Badan berada di tengah tempat tidur bagai polisi tidur, rambut acak-acakan dan tanktop yang sudah naik setengah ke atas.
Reza mengambil kasar boneka yang sedang berada di dekapan Jasmine, lalu membuangnya kasar. Jasmine langsung terbangun dengan mata setengah terpejam mengamati Reza yang sedang berkacak pinggang di hadapannya.
"You have no other job but to bother me? (Kau tidak punya pekerjaan lain selain mengganggu ku)"
"Kau itu tertidur atau mabuk sih?!" ucap Reza lalu menghempaskan tubuh istrinya yang sedang duduk manis di atas ranjangnya.
"Jika dua bulan lalu kau seperti ini, aku tidak akan menyangka jika itu kau." ucap Reza lalu berbaring di samping Jasmine. Gadis itu langsung memeluk erat tubuh suaminya hingga membuat Reza tidak bisa bergerak sedikit pun. Reza mengalihkan pandangannya ke arah Jasmine, namun bukan wajah istrinya yang ia lihat, Reza justru melihat kedua gunung kembar istrinya.
"Please! Aku baru saja mandi air dingin di tengah malam, masa iya harus ku lakukan lagi." ucap Reza lalu melepaskan pelukan Jasmine, kini dirinya lah yang mendekap istrinya.
...🍃🍃🍃...
Sang mentari telah terbit. Karena hari ini adalah hari liburnya perusahaan, Reza dan Jasmine berencana membantu dan menemani Lunna untuk belajar berjalan. Namun kedua manusia itu masih tertidur santai di ranjangnya.
"Mine?" panggil Reza masih mendekap erat tubuh istrinya.
"Hm." gumam Jasmine masih dengan mata terpejam.
"Kau apakan anak orang hingga membuat hidungnya patah hingga pingsan?" ucap Reza meraba perut rata istrinya, Jasmine yang merasakan tangan Reza semakin ke atas langsung memukul keras tangan suami mesumnya itu.
"Kapan aku akan menanam benih di sini? Jika dia selalu bersikap seperti ini." batin Reza mengecup keras bahu Jasmine.
"Aku hanya meninju hidungnya lalu menampar pipinya seperti ini. Plakkk!" Jasmine memukul sangat keras tangan Reza yang mencoba membuka pengait branya.
__ADS_1
"Hei ayolah! Jika kau seperti ini terus, mungkin pemikiran mu tentang aku dan Aya akan terjadi." ucap Reza melepaskan kedua tangan nya dari tubuh Jasmine.
"Terserah." ucap Jasmine acuh tak acuh.
"Astaga Lunna!" pekik Jasmine lalu menyibakkan selimut dan beranjak dari kamarnya tidak memperdulikan Reza.
"Ada apa Mine?" tanya Lunna ketika Jasmine masuk ke dalam kamarnya. Ayana yang sudah stay 24 jam untuk Lunna menatap penuh arti ke Jasmine.
"Kebiasaan tidurmu itu selalu saja masih buruk. Lihat lah diri mu! Rambut acak-acakan, dan hanya pakai hot pans dan tanktop. Jika Kak Reza tahu kebiasaan mu itu, mungkin dia akan menerkam mu setiap malam." ucap Lunna memakan kembali buah yang di sediakan memang untuknya.
"Astaga! Bukan kah Reza dan Jasmine tidak pernah tidur bersama?! Mengapa tampak jelas ada bekas kismark di bahunya?!" batin Ayana saat melihat pundak Jasmine.
"Kak Aya, bisakah kakak keluar sebentar? Ada yang ingin aku bicarakan dengan Lunna." ucap Jasmine membuat Ayana mengangguk lalu keluar.
"Loh Ay, kok kamu tinggalin nona Lunna sendirian?" ucap seorang perawat yang baru kembali dari dapur.
"Ada nona Jasmine di dalam."
"Kesempatan apa?"
"Nona Jasmine sepertinya selingkuh!" bisik Ayana membuat rekannya itu shock bukan main.
"Jangan gila kamu Ay. Mana mungkin Nona Jasmine selingkuh dari tuan Reza."
"Beneran kak, aku tadi liat ada kismark di bahunya Nona Jasmine. Sumpah aku gak bohong kak."
"Ish kamu itu! Ya mungkin saja itu dari tuan Reza sendiri. Sudah jangan berandai yang enggak-enggak."
__ADS_1
"Kak Reza mana pernah tidur satu kamar dengan Nona Jasmine, kak lupa? Sebenarnya aku itu iri setengah mati sama Nona Jasmine, karena Kak Reza itu pernah cerita bagaimana dia mencintai gadis itu, tetapi sangat di sayangkan Nona Jasmine selingkuh!"
"Ehem!" Reza yang mendengar perkataan kedua perawat yang menceritai dirinya langsung berdehem keras. Kedua wanita itu refleks membalikkan badan menatap Reza. Namun kedua wanita itu malah melihat perut sixpack Reza yang terekspos bebas.
"Sudah cukup melihatnya?" tanya Reza membuyarkan segala lamunan kedua perawat itu.
"Maaf." ucap keduanya menundukkan kepala bersamaan. Reza tidak memperdulikan kedua perawat itu, ia hanya berjalan menuju lemari es, mengambil air dingin dan meneguknya hingga kandas.
"Apa yang ingin kau katakan Mine." ucap Lunna ketika Jasmine menatap intens wajahnya.
"Apakah kau benar-benar mencintai Dika? Atau itu hanya rasa nyaman kau berada di dekatnya?" tanya Jasmine.
"Dua-duanya. Jika aku mencintainya pasti akan terasa nyaman di dekatnya. Dan juga, rasa nyaman dapat menumbuhkan cinta di hati ku." ucap Lunna dengan senyuman manis di bibirnya.
"Kau masih ingat bukan, apa yang di janjikan Dika? Dia akan menikahi mu jika kau tidak sembuh, dan dia akan melepaskan mu jika kau terbebas dari kelumpuhan ini."
"Lihatlah, dalam kurun waktu satu bulan saja keretakan di tulang kering mu telah sembuh, yah karena keretakan itu terjadi tidak terlalu parah. Dan hari ini pun, kau akan menjalankan belajar berjalan. Benar bukan?" tanya Jasmine.
"Kau mau mengatakan apa sih? Jangan muter-muter, pusing tau." ucap Lunna. Jasmine yang mendengar perkataan Lunna hanya mendengus kesal.
"Dika sudah memiliki kekasih satu minggu sebelum kau kecelakaan, maka dari itu kau kau harus membuang rasa berlebihan mu itu padanya. Jangan menyita waktu Dika berlebihan karena kekasihnya juga menginginkan kebersamaan dengan Dika." Lunna yang mendengar itu langsung tercengang, perkataan Jasmine bagai petir yang menyambar dirinya. Bibirnya terasa kelu, air mata menggenang di pelupuk matanya.
"Maka dari itu dia menjanjikan hal yang tidak akan pernah terjadi." ucap Jasmine kembali. Ia tahu jika perkataannya menyakiti hati Lunna, namun cepat atau lambat Lunna juga akan tahu.
"Maaf Lunna. Lebih baik kau mengetahui hal ini sekarang, sebelum kau mengukir nama Dika terlalu dalam." ucap Jasmine mendekap tubuh Lunna yang saat ini sedang menangis pilu, namun kali ini tidak ada lagi teriakan histeris seperti terakhir kali ia di hianati oleh Nathan.
"Apakah Jasmine belum keluar dari kamar Lunna bi?" tanya Reza pada asisten rumah tangganya.
__ADS_1
"Belum tuan." ucap kedua art yang menghidangkan makanan untuk Reza. Setelah kejadian itu, Reza bukan hanya mencari asisten pribadi, pria itu juga menugaskan tiga asisten rumah tangga untuk menjaga kebersihan apertemennya, dan dua di antara-nya adalah asisten rumah tangga yang bertugas siaga 24 jam.
To be continued