
"Aku akan datang terlambat hari ini, atur ulang jadwal dan carikan aku sekretaris baru." ucap Reza lalu menutup sambungan telefon itu. Reza membuka lemari kaca yang biasa untuk menaruh jam dan dasinya.
"Sepertinya tidak akan mudah menjenguknya." Reza membuang nafasnya kasar lalu melilitkan dasi di kera kemejanya sembari menatap cermin besar yang memantulkan tubuh sempurnanya.
Reza keluar dari ruang ganti itu lalu berjalan ke arah meja hias istrinya. Ya, setelah kejadian kemarin saat Reza mengambil mahkota istrinya, Reza langsung menyuruh Jasmine pindah ke kamarnya dan memindahkan semua baju dan peralatan Jasmine. Reza mengambil sisir lalu merapikan rambutnya yang terlihat berantakan. Gerakan tangannya mengambil parfum maskulin dan menyemprotkan ke tubuh sempurnanya. Ditatapnya tajam bayangan dirinya di cermin, tangan kanannya membentuk sebuah pistol lalu menembakkannya kecermin itu.
"Bang!" ucap Reza menutup sebelah matanya.
"Aura ketampanan ku!" seru Reza melihat kembali pantulan tubuhnya dari kaca. Merasa cukup kadar ke narsisannya yang over dosis, Reza mengambil pelembab bibir dan mengoleskan ke bibirnya. Jasmine yang merasa Reza terlalu lama langsung memanggil suaminya, namun pemandangan yang cukup aneh dilihatnya. Reza mengoleskan pelembab bibir yang seperti lipstik wanita dibibirnya.
"Astaga, apa suami narsis ku ini mau fashion show hingga berdandan?" tanya Jasmine berjalan mendekat ke arah Reza dengan tangan bersedekap di depan dada.
"Ini pelembab bibir, kau tahu bukan bibir ku sering kering?"
"Tidak." ucap Jasmine acuh dan membuang wajahnya.
"Astaga istri bar-bar ku ini."
"Apa maksudmu bar-bar?!" seru Jasmine.
"Apa aku perlu memperlihatkan bekas cakaran mu di punggung ku?" tanya Reza membuat wajah Jasmine seketika memerah, karena gadis itu mengingat hobinya yang mencakar dan menancapkan kukunya di punggung Reza saat mereka melakukan hubungan intim.
"Apa kau mau memakainya?" tanya Reza.
"Untuk apa? Aku sudah memakai lipstik."
"Bibir mu terlihat kering." ucap Reza lalu mengecup bibir Jasmine, hanya sekedar kecupan biasa, tidak lebih.
"Reza! Sudah lah ayo sarapan, kau sudah sangat terlambat untuk pergi ke kantor." Jasmine meletakkan pelembab bibir yang ada di tangan Reza ke meja riasnya itu, dan menarik Reza agar ikut dengannya.
...🍃🍃🍃...
"Reza apa kau kenal dengan David?" tanya Jasmine saat mereka berdua sedang menuju bandara.
__ADS_1
"Ya, dia adalah anak panti asuhan yang di temukan salah satu pengasuh disana dahulu. Entahlah aku juga tidak tahu pasti, jauh sebelum aku datang ke Indonesia pertama kali. Jika di menurut kata pengasuh di sana, kira-kira saat David berumur tiga tahun ia di temukan. Saat aku bertemu David lima tahun lalu, aku merasa sedikit familiar dengan anak itu." ucap Reza mencoba mengorek masa lalunya kembali.
"Kau benar, entah mengapa saat aku bertemu dengan David aku merasa seperti ada seorang Jery di dalam David."
"Jery?" batin Reza.
Mereka berdua kini telah sampai di bandara. Dengan cepat Jasmine berjalan ke arah landasan pesawat, namun saat merasa ada yang hilang Jasmine langsung berbalik badan. Wanita itu melihat Reza yang berjalan dengan santai dan melihatnya cuek, tanpa banyak bicara Jasmine menyusul suaminya.
"Maafkan aku, aku lupa." Jasmine mengecup cepat bibir Reza saat melihat orang-orang disana tengah sibuk melakukan aktivitasnya masing-masing.
"Jadi lah anak yang baik, aku pergi untuk mencari uang dan membuktikan kepada kakek tua mu itu jika aku juga bisa seperti dirimu. Kurangi kadar kenarsisan mu itu." Ucap Jasmine sebelum pergi ke ruangan khusus calon penumpang pesawat. Reza hanya terdiam melihat kepergian istrinya, tampak sebuah senyuman samar ketika Jasmine menoleh ke arahnya. Setelah Jasmine tidak tampak dari penglihatannya, Reza melangkah keluar dari bandara menuju ke kantornya.
Sedangkan di apertemennya, berdiri seorang wanita menggunakan jubah putih melihat isi apertemen Reza dengan lirikan matanya. Wanita itu tersenyum lalu melangkah mengikuti Ayana berjalan ke kamar Lunna.
"Sekarang aku mempunyai peluang yang lebih besar sayang." Batin wanita dengan senyuman liciknya.
...🍃🍃🍃...
"Bos, ini jadwal anda hari ini. Dan untuk sekretaris anda yang baru, saya akan membuka lowongan pekerjaan itu hari ini." Ucap Gilang.
"Lusa, dan sepertinya besok akan ada rapat bulanan." Reza hanya diam mendengar perkataan Gilang sembari melemparkan tablet itu di mejanya sembarangan.
"Maaf pak, jika saya boleh tahu apakah Jasmine anda pecat? Atau dia yang resign?" tanya Gilang hati-hati.
"Kau dulu mengatakan mengenal Jasmine, jadi kau pasti tahu dia adalah anak pengusaha sukses di Jerman."
"Maksudnya?" tanya Gilang masih tidak mengerti apa yang di bicarakan atasannya.
"Dia mengundurkan diri untuk memimpin perusahaan ayahnya, apa kurang jelas?!" bentak Reza tiba-tiba dengan suara yang sangat tinggi membuat Gilang terkejut bukan main dengan nada suara atasannya.
"Maaf Bos, saya permisi." Gilang langsung keluar dari ruangan Reza dengan cepat takut di bentak kembali dan akhirnya di pecat.
"PMS kali tuh orang." Gumam Gilang lalu kembali mengerjakan tugasnya.
__ADS_1
Jasmine kini yang tengah duduk di dalam pesawat yang terbang tinggi di atas ribuan kaki dari ketinggian lautan berombak tenang di bawahnya. Pikirannya melayang jauh memikirkan nasib pernikahannya dengan sepupu narsisnya sendiri, ia juga tidak tahu harus berapa lama mereka berpisah karena kedua perusahaan itu adalah perusahaan besar yang memerlukan pengawasan ketat dari sang pemimpin.
"Hai nona? Kenapa kau dari tadi melamun?" tanya seorang pria yang duduk di sebelahnya yang sedari tadi menatap Jasmine. Membuat Jasmine menoleh ke arah sampingnya.
"Tidak." Jawab Jasmine singkat lalu menatap ke jendela pesawat lagi.
"Baiklah, anggap saja kau introvert dan tidak bersahabat." Pria itu bersikap seolah tidak memperdulikan Jasmine lagi, namun matanya masih sering mencuri-curi pandang ke arah Jasmine.
"Kau sebenernya mau apa?!" bentak Jasmine namun dengan nada rendah tidak mau mengganggu yang lainnya.
"Aku ingin mengetahui nama mu, boleh kita berkenalan?" tanya pria itu. Pria di samping Jasmine berani mengatakan hal itu karena melihat tidak ada satupun cincin yang melingkar di jari manis wanita di sebelahnya.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku." Jasmine mengatakan itu tanpa melihat wajah orang yang sedari tadi terus saja mengoceh.
"Kalau begitu kenalkan, aku Hardhan." ucap pria itu mengulurkan tangannya, karena Jasmine tidak membalasnya Hardhan kembali menarik tangannya.
"Aku tidak peduli."
"Baiklah Nona, kau kejam sekali."
"Jasmine."
"Nama yang cantik, sama seperti orangnya." Hardhan meraih tangan Jasmine paksa lalu menjabatnya dengan sangat erat. Jasmine yang tidak suka di sentuh siapa pun langsung menarik kembali tangannya.
"Aku Hardhan Williams, putra tunggal keluarga Williams pemilik perusahaan Warner Bros company."
"Maaf tidak pernah dengar."
"Aku tahu perusahaan ku hanya perusahaan kecil yang bahkan tidak masuk dalam 100 perusahaan besar di Jerman. Tapi tidak begitu juga kali, perkataan mu membuatku seakan tertusuk belati di dada ku ini." Ucap Hardhan dengan sedikit di dramatisasi. Ucapan Hardhan mengingatkan Jasmine tentang sifat Reza yang selalu mendramatisasi keadaannya jika mereka hanya berdua, mengingat hal itu Jasmine tersenyum samar dan senyuman itu tertangkap oleh manik mata Hardhan.
"Sepertinya kau terpesona kepada ku?" ucap Hardhan mendekatkan wajahnya ke hadapan wajah Jasmine, gadis itu langsung membelalakkan mata ketika merasakan nafas Hardhan yang hangat menerpa wajahnya. Karena masih kaget, Jasmine belum menyadari sedang di kondisi apa dia sekarang. Perlahan Hardhan ingin mendaratkan bibirnya ke bibir ranum Jasmine, Jasmine yang mendapatkan kembali kesadarannya langsung teringat pada suaminya yang saat ini sedang berada di Indonesia. Sekuat tenaga Jasmine membenturkan kepalanya ke kepala Hardhan membuat keduanya sama-sama meringis.
"Dasar brengsek!" geram Jasmine.
__ADS_1
To be continued.