Mr. Sargeant

Mr. Sargeant
Chapter 14


__ADS_3

"Ayah tidak apa-apa sayang." Ucap ayahnya Jasmine sembari tersenyum. Tampak wajah ayahnya pucat membuat hati Jasmine teriris melihatnya.


"Uncle Reza keluar sebentar ya." Ucap Reza mencoba memberikan ruang antara ayah dan anak itu. Ucapannya diangguki oleh ayahnya Jasmine sedangkan manusia dingin itu hanya diam membisu melihat kepergian Reza.


"Hei hei hei, ada apa dengan anak gadis ayah ini." Ujar ayahnya Jasmine menggoda putri semata wayangnya. Tampak pria itu mencoba tersenyum dan memberikan senyuman terbaiknya untuk putri tercintanya.


"Ayah..." Panggil Jasmine manja lalu memeluk ayahnya yang sedang terbaring lemah. Didalam pelukan itu Jasmine memejamkan matanya, mencoba mengingat kembali masa lalu di mana saat ia sangat di manja oleh pria di hadapannya.


"Kau sudah besar sayang, masih manja saja. Ayah masih ingat dengan jelas ayah sering di panggil kepala sekolah karena ulahmu memukul teman-teman. Auh!" pekik ayahnya Jasmine saat mendapat cubitan kecil di perutnya dari Jasmine.


"Makannya jangan menggoda." Ujar Jasmine melepaskan tangannya yang tadi mencubit gemas perut ayahnya.


"Ayah mengatakan hal yang sebenarnya sayang, dulu kau sering membuat ulah karena sikap dingin dan pendiam mu itu. Sampai teman mu mengganggu dan mengejek mu hanya untuk berbicara dan bermain dengannya, yang paling ayah ingat itu saat kau menghajar habis-habisan teman sekelasmu yang mengejek poni lucu mu. Sebenarnya itu pujian tau. Auh!" Jasmine kembali mencubit pinggang ayahnya pelan.


"Ayah jangan mengalihkan pembicaraan. Sebenarnya apa yang terjadi dan mengapa ayah menutupi ini dari Jasmine?" tanya Jasmine dengan wajah seriusnya. Jasmine manarik kursi di belakangnya lalu duduk tepat dihadapan wajahnya.


"Ayah tidak apa-apa."


"Ah! Jangan berbohong lagi, tidak mungkin ayah seperti baik-baik saja. Dulu ayah pernah meregang nyawa tetapi Jasmine tidak tahu sama sekali apa yang terjadi, jadi saat ini tolong jujur lah pada Jasmine." Ucap gadis itu serius.


"Baiklah-baiklah kau ini memang keras kepala, kemari lah." ucap Ayahnya Jasmine. Jasmine yang mengerti maksud Ayahnya langsung beranjak mendekati ayahnya.


"Baik lah ayah akan jujur, tapi kau harus tenang yah." Ayahnya Jasmine mencubit gemas hidung mancung Jasmine membuat gadis itu tersenyum, namun ketika teringat akan perkataan Reza yang menyebut hidungnya ekonomis membuat Jasmine jengkel.

__ADS_1


......🍃🍃🍃......


Jasmine kini berada di lantai tertinggi rumah sakit itu, menatap kosong ke arah bawa dengan diam membisu. Kedua tangannya menancap di pembatas dan dengan perlahan air matanya menetes, menandakan kepiluan yang terjadi kepadanya.


Jika kalian ingin tahu, Jasmine itu hampir sama sekali tidak pernah menangis denganya masalah duniawi. Air matanya jarang menetes dan hanya pernah menetes jika itu menyangkut masalah ayahnya, dan kepergian adik kecilnya.


"Mine." Panggil Reza menepuk pundak sepupunya ringan. Ia bisa melihat bagaimana terpuruknya Jasmine saat ini.


"Kenapa kau tidak pernah mengatakan yang sebenarnya Za? Aku merasa hidup ku ini penuh dengan drama. Yang selalu di permainkan oleh takdir. " Ucap Jasmine dengan nada yang hampir tidak terdengar oleh Reza.


"Hei, seperti nya baru kali ini aku melihat mu frustasi, dan seperti kehilangan arwahnya. Hei mengaku kau siapa?!" Ucap Reza menunjuk wajah Jasmine dengan pandangan penuh selidik.


"Apa sih." Geram Jasmine menangkis telunjuk tangan Reza.


"Enak aja orang tua, kakek mu tuh yang tua. Aku jamin seumur hidup ku, aku akan tetap tampan dengan pandangan istri ku nanti . Kalau kau?" ucap Reza dengan tangan di dagunya seperti memberikan penilaian kepada sepupunya.


"Apa? Operasi pelastik kaya oppa-oppa mu itu, buat apa bangga kalau muka yang di pamerin aja dari kresek." Ucap Reza bersedekap lalu bersandar di pembatasan atap rumah sakit itu.


"Plakkk... Auh!" lagi-lagi dirinya mendapatkan pukulan di kepalanya dari Jasmine.


"Jangan pernah menghina mereka, habis kau ku buat! Lagi pula siapa yang mau mengoperasi wajah jelek mu itu, udah jenggotan, bulu ketiaknya kaya pohon bringin, narsisan lagi." Ucap Jasmine membuat sepupunya itu tergelak.


"Hei itu artinya aku ini laki-laki yang sesungguhnya, kau kira oppa mu itu. Wajahnya saja lebih putih, mulus, glowing dan tanpa cacat. Badan pun kurus kaya kurang makan. Jangan kan tumbuh jenggot seperti ini, tumbuh jerawat sekecil ini juga mereka pasti berteriak histeris." Ucap Reza membuatnya mendapatkan pukulan bertubi-tubi dari Jasmine.

__ADS_1


"Pergi kau dasar makhluk tidak tahu diri!" pekik Jasmine. Reza tersenyum karena berhasil mengubah kesedihan Jasmine menjadi emosi, ya setidaknya tidak meneteskan kembali air matanya, tapi seperti nya emosi Jasmine kali ini bukan main-main. Wanita itu menendang kuat tulang kering Reza membuat Reza berteriak karena nyeri di kakinya.


"Kau itu bar-bar sekali!" ucap Reza sembari menahan nyeri di kakinya yang di tendang oleh Jasmine.


"Kau itu mau tampan seumur hidup bukan? Lompat! Aku malas melihat wajahmu." Ucap Jasmine menunjuk ke bawah tempat jalanan di lalu lalangi oleh berbagai kendaraan dengan ketinggian mencapai 50 meter lebih.


"Jangan gila."


...🍃🍃🍃...


"Kau masih marah dengan pria tua ini?" tanya ayahnya Jasmine saat mereka berdua dalam ruang inap. Jasmine hanya mengelus lembut telapak tangan Ayahnya dan tersenyum tipis lalu menggeleng.


"Jasmine yakin ayah pasti sembuh, seperti tiga tahun yang lalu? Tanpa memberi tahu Jasmine pasti semuanya akan baik-baik saja bukan?" tanya Jasmine menusuk di dada ayahnya.


"Tidak seperti itu mine," ucap ayahnya menatap sendu kearah putri kesayangan nya, gadis kecil yang selalu digendongnya kini menangi


"Ayah Jasmine keluar sebentar." Ucap Jasmine menyeka air matanya. Jasmine langsung menuju toilet untuk mengeluarkan semua keluh kesahnya. Didalam toilet itu ia menangis tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Ia lebih memilih mencari toilet umum dari pada toilet di kamar ayahnya karena tidak mau mengganggu cinta pertamanya itu.


"Sudah nangisnya?" tanya Reza yang berdiri di pembatas toilet pria dan wanita.


"Mine, ambil positifnya dari kejadian ini. Ayahmu meminta merahasiakan semuanya dari mu karena dia sangat menyayangi mu dan tidak mau kau terluka. Kamu mikir gitu gk sih? Jelas enggak, egois..." Ucap Reza membuat Jasmine terasa tertampar.


"Coba kamu pikirin, jika ayah mu sedang berjuang di rumah sakit dengan kau yang menangis sesenggukan di sampingnya pasti dia tidak tenang. Kau tahu kan cara ayahmu mendeskripsikan rasa sayang kepada ku itu bagaimana? Aku dan Lunna saja sampai iri kepada mu. Coba kau pikir, ada ayah yang ingin melihat ayahnya menangis? Gak ada... Dia begini karena dia mau berusaha melawan penyakitnya dan langsung menemuimu saat dia sudah sembuh nantinya, seperti tiga tahun yang lalu. Kau ingat?" ucap Reza panjang lebar.

__ADS_1


"Penyakit jantungnya sudah sangat parah Za, kau bilang aku harus tenang dan jangan egois? Mana ada anak yang mau orang tuanya merahasiakan sesuatu, apalagi ini menyangkut kehidupannya. Bagaiman jika..." Jasmine tidak melanjutkan perkataannya karena terbungkam oleh air mata yang menetes deras dari matanya.


To be continued.


__ADS_2