Mr. Sargeant

Mr. Sargeant
Chepter 57


__ADS_3

"Kau yang bayar." Ucap Jasmine lalu melenggang pergi dari restoran itu kembali ke mobilnya. Reza hanya menghela nafas melihat sifat kekanakan istrinya, dan ketika Reza kembali ke parkiran ia tidak menemukan istrinya berada di mobil. Saat ia sedang celinguk-an mencari seseorang katanya terpaku pada seseorang yang sedang berjalan menyebrang di sana.


"Jasmine awas!" Pekik Reza saat sebuah mobil melaju cepat ketika wanita itu berada di tengah jalan. Reza langsung berlari secepat mungkin mencoba menyelamatkan istrinya, namun naas ketika Jasmine berlari menghindar dari mobil yang melaju cepat kearahnya ia malah berlari ke samping ia tidak menyadari di sana juga ada sebuah mobil yang sedang melaju cepat membuatnya terhempas, untungnya mobil itu langsung berhenti ketika melihat seorang wanita yang ia tabrak tergeletak di jalan begitu saja.


Reza langsung menggendong istrinya menjauhi jalanan itu, mobil yabg tadi melaju kencang membuat sebuah kecelakaan masal. Ia tidak bisa membayangkan jika Jasmine tetap berdiri mematung di jalanan itu tadi.


"Cepat bawa ke rumah sakit." Ucap beberapa orang yang sedang memperhatikan mereka.


Dengan lembut ia mencoba menyadarkan Jasmine, mengusap lembut dahi istrinya yang sudah tidak sadarkan diri. Kening gadis itu mengeluarkan darah membuat Reza panik bukan main, namun ketika Reza melihat darah yang mengalir deras dari bagian bawah istrinya Reza benar-benar panik. Dengan cepat Reza menggendong istrinya ke mobil dan membawanya ke rumah sakit terdekat.


"Sayang bangun lah, Jasmine! Mine, sayang tolong bangun lah!" Ucap Reza dengan tangan kirinya memegang kemudi dan tangan kanannya terus mencoba menyadarkan istrinya itu.


Ketika memasuki rumah sakit, Reza langsung menggendong tubuh istrinya. Suaranya menggelegar memanggil perawat dan dokter agar langsung menangani istrinya.


Jasmine sudah cukup lama berada di ruang ICU, selama itu pula dirinya terus saja mondar-mandir bak setrika dan selama itu pula ponselnya sedari tadi terus saja berdering membuat Reza sangat pusing.


"Ada apa?!" Sahut Reza ketika ia menerima sambungan telefon itu.


"Kau di mana kak?" tanya David kesal karena Reza dari tadi tidak mengangkat telfonnya.


"Datanglah ke rumah sakit sekarang!"


"Hei! Rumah sakit banyak! Mana aku tahu kau di mana." Tapi mau sekeras apapun David berteriak Reza tidak akan mendengarkannya karena pria itu sudah memutuskan telefon itu.


"Rumah sakit yang ada di mana?" tanya David melalui chatnya, namun nihil karena ponsel Reza tidak aktif. Dengan instingnya sendiri, David langsung mencari ke rumah sakit terdekat yang ada di sana.


Sedangkan di kamar mandi umum rumah sakit yang sedang menangani Jasmine, seorang pria tengah membenturkan kepalanya berulang-ulang merutuki kebodohannya sendiri. Ia benar-benar tidak bisa berfikir jernih saat ini, ia benar-benar tidak bisa membayangkan jika Jasmine akan pergi meninggalkannya. Reza menatap telapak tangannya yang berlumuran darah istrinya, rasa bersalah yang amat besar membuatnya tak merasakan air mata yang jatuh membasahi pipinya.


Reza langsung membasuh berulang-ulang wajahnya lalu berjalan melangkah kembali ke ruang ICU karena tidak ingin ketinggalan info tentang istrinya sedikit pun. Dan benar saja, belum sampai lima menit pintu ruangan itu terbuka.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan istri saya saat ini dok?" tanya Reza ketika dokter yang bertugas menangani istrinya keluar.


"Sebelumnya, kami turut berduka cita dengan kepergian anak anda, kami sudah mencoba dengan seluruh kemampuan kami."


"Deg!" Detak jantung Reza seketika terasa terhenti ketika mendengar perkataan dokter di hadapannya. Anak? Bagaimana mungkin ia tidak mengetahui hal sebesar ini? Untuk pertama kalinya ia mendengar dirinya dan Jasmine memiliki calon malaikat kecil di janin istrinya, namun untuk pertama kalinya juga ia mendengar calon baby nya sudah tiada karena insiden itu.


Mencoba tegar namun gagal, air mata yang menggenang di wajahnya tidak dapat di tutupi kembali, ingin Reza berteriak sekeras mungkin saat ini juga, namun ia sadar ada di mana saat ini. Rasa hancur mendengar kehilangan sang calon baby ia tepis untuk saat ini, yang terpenting hanya lah Jasmine seorang.


"Bagaimana keadaan istri saya dok?"


"Untuk itu... Apakah anda memiliki seorang kerabat yang memiliki darah AB negatif? Untuk saat ini pasokan darah itu sedang kosong dan pasien saat ini benar-benar sedang membutuhkan darah tambahan."


"Ab negatif? Golongan darah itu hanya dimiliki Uncle dan Jerry--" Ketika ia masih berdebat dengan pikirannya, suara seseorang dari arah belakang membuat lamunan Reza terhempas begitu saja.


"Kau ini dari mana saja?" tanya seseorang dari arah belakang.


"Tunggu! Bocah sialan, bukan kah golongan darah mu itu AB negatif?" tanya Reza.


"Bisalah kau mendonorkan darah mu untuk istriku? Aku baru saja kehilangan calon baby kami dan aku tidak akan pernah bisa jika yang pergi itu istri ku jadi aku mohon--"


"Baiklah, sudah aku tahu seberapa berharganya istri mu itu." Ucap David menepuk pundak sahabatnya itu.


...🍃🍃🍃...


Lunna kini tengah duduk santai di cafe pinggir pantai, karena kakinya terkilir membuat proses pembuatan film untuk sesinya tertunda dan di gantikan untuk pemain figuran.


"Dokter mesum!" panggil Lunna kepada seseorang yang sedang duduk di salah satu kursi yang tidak terlalu jauh dengannya.


"Hei gadis manja, bisa kah kau memanggil ku dengan benar? Apa kata orang nanti jika mendengar panggilan mu itu." Ucap Aditya mendekati Lunna yang sedang minum minumannya.

__ADS_1


"Baiklah karena kau sudah membantu ku tadi, aku minta maaf kepada mu atas kejadian beberapa bulan yang lalu."


"Ya memang seharusnya kau yang minta maaf, sudah di bantu tidak tahu terima kasih malah memecat seenaknya lagi. Mbak..." Panggil Aditya ketika pelayan sedang membawakan makanan dan makan malamnya di kursi yang tadi.


"Salah siapa kau mencium ku? Walaupun artis begini aku tidak pernah melanggar aturan Papa dan Mama ku untuk tidak berciuman dengan siapapun sebelum itu suami ku. Karena kau semuanya hancur."


"Seriously? Kau tidak pernah bersentuhan bibir dengan siapapun?"


"Ya, karena itu juga Nathan selingkuh. Katanya dia butuh pelepasan ketika aku tidak bisa memberikan itu. Makasih mbak..." Ucap Lunna ketika pelayan membawakan makanannya.


"Cih! Itu semua hanya karena nafsu? Jika seperti itu kenapa dia tidak menikahi mu? Banyak sekali alasannya."


"Kata dia jika aku dan dia menikah pasti akan berdampak dengan popularitas dirinya yang sedang naik daun, apa yang di katakan orang tentang dirinya jika tahu dia menikah dengan ku."


"Astaga, kau ini bodoh sekali. Bukan kah bagus jika kian menikah? Itu artinya dia memiliki ketampanan tak terhingga hingga membuat artis cantik dan berbasis internasional ini terpukau, bodoh!"


"Radit!" panggil seseorang dari arah belakang Lunna. Dengan cepat wanita itu berjalan kearah lelaki yang dipanggilnya.


"Oh baby, kau ini kemana saja?!" pekik wanita itu sembari mencium pipi kanan dan kiri Aditya.


"Aku merindukan mu." Ucap wanita itu sembari mencium bibir Aditya.


"Deg!" Jantung Lunna kini seperti terasa berhenti, nafasnya tercekat dan pandang mata masih terkunci kepada pria dan wanita di hadapannya.


To be continued.


Nunggu Doble update dan visual yah, sambil nunggu mampir dulu yuk ke novel temen author.


__ADS_1



Selamat membaca Love you...


__ADS_2