Mr. Sargeant

Mr. Sargeant
Chapter 25


__ADS_3

"Jangan berlebihan, minggir aku mau mandi!" ucap Jasmine mendorong kuat tubuh Reza agar menyingkir dari hadapannya.


Baru satu langkah Jasmine melewati Reza, lelaki itu langsung menggenggam erat tangannya. Genggaman yang sangat erat hingga gadis itu meringis. Reza yang menyadari pegangan tangannya terlalu erat hanya terdiam, namun saat Jasmine ingin melepaskan tangan Reza dari pergelangan tangannya Reza langsung menarik tangan Jasmine dan membawa tubuh itu ke dekapannya.


"Apa yang kau lakukan bersama dirinya tadi?" tanya Reza sembari mencoba menghirup aroma parfum seseorang di leher jenjang istrinya.


"Apaan sih Za!" Jasmine mencoba menjauhkan wajah Reza dari lehernya karena merasa geli menjulur ke seluruh tubuhnya. Namun hasilnya nihil, bukannya menjauh Reza justru melingkarkan tangannya ke pinggang rampingnya.


"Za!" pekik Jasmin saat Reza menggigit gemas lehernya. Meskipun gadis itu menikmati permainan suaminya namun akal sehatnya yang masih berfungsi menolak hal tersebut. Jika di biarkan mungkin saja hal ini akan menjalar kemana-mana.


"Sudah awas aku mau mandi!" ucap Jasmine lalu melangkah pergi ke kamarnya. Reza yang melihat kepergian Jasmine hanya tersenyum penuh arti lalu menyusul istrinya sebelum Jasmine mengunci kamarnya.


Jasmine keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk merah maroon dan handuk putih yang melilit rambutnya.


"Kau mau ngapain." Ucap Jasmine saat melihat Reza duduk di ranjangnya dengan kaki yang di ayunkan. Mata lelaki itu menatap intens tubuh Jasmine, membuat yang ditatap menjadi sedikit kikuk.


"Mata mu mau aku colok?" ucap Jasmine lalu melangkah pergi ke lemarinya. Saat Jasmine meraih tanktopnya, tangan kekar suaminya melingkar di pinggang Jasmine membuat gadis itu langsung memekik.


"Hei! Diam lah Lunna sedang istirahat." ucap Reza dengan bibir traveling di leher jenjangnya. Jasmine yang belum mengenakan pakaian merasa agak canggung, dan mencoba mengusir Reza dengan menggerakkan pundaknya.


"Kenapa hari ini aku merasa dia berbeda ya? Dari tadi kerjaannya nempel Mulu!" geram Jasmine dalam hati. Namun dirinya tetap membiarkan apa yang di lakukan oleh Reza.


"Mine aku mau." Ucap Reza membuat nafas Jasmine tercekat.


"Tidak!" ucap Jasmine mendorong tubuh Reza. Dan saat ia berjalan ke arah kamar mandi Reza menarik handuknya hingga membuat tubuh istrinya polos tanpa sehelai benang pun.


"Reza! Dasar bedebah! Kembalikan itu!" pekik Jasmine menyambar handuk yang di pegang suaminya lalu menendang keras tulang kering Reza, hingga membuat pria itu meringis kesakitan sembari memegang betisnya yang terasa nyeri. Jasmine yang sudah memakai kembali handuknya, langsung mengusir Reza dari kamarnya.

__ADS_1


"Pergi!" Jasmine mendorong tubuh kekar itu keluar dari kamarnya. Baru saja Reza keluar Jasmine langsung menutup pintu kamarnya rapat-rapat, lalu menyandarkan tubuhnya ke pintu sembari memegang dadanya yang sedang berdebar hebat.


Sementara itu, di luar pintu kamarnya Reza hanya terdiam sembari tersenyum manis. Menggelengkan kepalanya lalu masuk ke kamar.


"Cincin mu bagus Mine, Kakak yang membelikannya?" tanya Lunna saat mereka duduk di ruang makan. Lunna duduk di kursi roda dan ada perawat di sampingnya.


"Tidak." Ucap Jasmine menyembunyikan cincin yang dikenakannya saat Reza menatapnya.


"Perasaan kemarin-kemarin kau tidak memilikinya?" ucap Lunna kembali.


"Di belikan pacarnya." Ucap Reza membuat ketiga wanita di ruangan itu menatap kearahnya. Namun perawat itu langsung menundukkan kepalanya merasa tidak enak jika harus ikut campur di sana.


"Gila kau mine. Baru juga kalian menikah satu bulan, sudah lah pisah ranjang, selingkuh pula." Ucap Lunna menyindir sepupu yang kini telah menjadi kakak iparnya.


"Lun, apaan sih! Siapa yang selingkuh, gila kali ya?" tanya Jasmine lalu menatap Reza yang tampak cuek akan kejadian ini.


Jasmine yang melihat hal itu merasa sakit menghujam jantungnya. Perasaan sakit yang tidak pernah hadir dalam hidupnya entah mengapa tiba-tiba tercipta. Padahal Reza ada di sampingnya dan air minum itu juga berada di hadapannya, mengapa Reza justru meminta bantuan perawat itu, bahkan suaminya memanggil Ayana dengan panggilan Aya, bukan Yana seperti semua orang yang berada di rumah itu memanggilnya.


"Kita sudah terlambat, cepat habiskan makananmu!" ucap Reza membuat dada Jasmine terasa hancur, ketika tadi suaminya meminta Ayana mengambil minum untuknya, Reza sangat lembut bicara, namun lihat lah sekarang.


"Tadi malam dia sangat manis bahkan mencoba membuat hal mesum, tetapi lihatlah sekarang menatap ku saja dia enggan." batin Jasmine.


...🍃🍃🍃...


"Mine aku ingin curhat pada mu." Ucap Hanna saat mereka berdua duduk di sebuah kafe. Jasmine menepati janjinya kemarin untuk menemani Hanna dinner sembari menceritakan masalahnya.


"Apakah ini tentang pangeran katak mu itu." Ucap Jasmine terkekeh lalu meminum jusnya.

__ADS_1


"Hei! Jangan menghinanya. Dia itu adalah pria terbaik yang pernah aku temui, namun untuk saat ini hubungan kami hanya hanya sekedar pacaran bukan sebuah pernikahan. Kau tahu bukan? Hubungan yang hanya berlandaskan perasaan tanpa adanya ikatan itu tidak akan kokoh dan bertahan? Namun juga sebaliknya, hubungan yang memiliki ikatan namun tidak ada kekuatan perasaan juga tidak akan bertahan." Ucap Hanna panjang lebar membuat Jasmine merasa tertusuk sebuah kenyataan.


"Aku berdoa siang dan malam agar wanita yang menjeratnya itu cepat pulih dari keadaan dan pangeran ku kembali ke pelukan ku." Ucap Hanna dengan mata berkaca-kaca.


"Kak, hei kok nangis?" tanya Jasmine saat wanita di hadapannya menyeka air matanya.


"Aku hanya merasa sakit Mine, sudah satu bulan sejak kejadian itu. Dan dia terus saja bersama wanita itu, dia mau saja menyisihkan waktunya untuk bersamaku. Namun aku tidak tega melihat dirinya yang lelah seusai bekerja dan menghadapi si iblis betina." Ucap Hanna menatap ke arah jendela, membungkam bibirnya rapat-rapat agar tidak ada Isak tangis yang keluar dari bibirnya.


"Semua pasti berakhir kak, percayalah itu. Mungkin memang saat ini wanita itu benar-benar membutuhkan your prince, bersabarlah." Ucap Jasmine tersenyum manis mencoba menguatkan satu-satunya sahabat dekat di kantor.


"Iya ending happy kalau sad?" ucap Hanna dengan menangis sesenggukan. Jasmine bingung harus menenangkan Hanna bagaimana, karena saat ini pun hatinya sedang berkecamuk karena masalah rumah tangga yang tidak tahu endingnya.


"Disini yang sakit hati bukan hanya kamu Kak, saat ini pun aku seperti sedang berada di ujung jurang yang curam." Ucap Jasmine mengelus punggung tangan Hanna sembari tersenyum.


"Kau sedang terpuruk juga? Aku kira kau itu tidak punya hati." Ucap Hanna membuat Jasmine menatapnya dengan tatapan tajamnya.


"Sialan." Ucap Jasmine membuat Hanna langsung tergelak.


"Bercanda Mine, ya sudahlah saatnya hari ini kita Happy time." Ucap Hanna dan diangguki oleh Jasmine.


...🍃🍃🍃...


Jam telah menunjukkan pukul setengah sepuluh. Jasmine yang tidak menyangka akan pulang larut lagi hanya menghela nafasnya.


"Ah! Sakit kak!" pekik seseorang dari balik pintu kamarnya Reza. Suara seorang wanita yang sangat familiar di telinga Jasmine. Jasmine yang mengetahui suara wanita di dalam kamar suaminya hanya diam mematung dengan tangan yang masih menggenggam erat gagang pintu.


"Pelan kan suara mu Aya. Jika Lunna terbangun nanti akan ribet masalahnya. Bersabarlah, sakitnya akan segera hilang." Ucap Reza lembut dari dalam kamarnya. Jasmine yang mendengar perkataan Reza langsung masuk ke dalam kamarnya dengan air mata yang mengalir deras.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2