
Penyakit jantungnya sudah sangat parah Za, kau bilang aku harus tenang dan jangan egois? Mana ada anak yang mau orang tuanya merahasiakan sesuatu, apalagi ini menyangkut kehidupannya. Bagaiman jika..." Jasmine tidak melanjutkan perkataannya karena terbungkam oleh air mata yang menetes deras dari matanya.
"Tenang lah tidak kan terjadi apapun. Sekarang kamu masuk ke dalam dan bicarakan hal apapun yang membuat dia lebih fress, biarkan ia menghabiskan waktu nya dengan mu." ucap Reza mencoba menenangkan Jasmine.
"Kau tahu bukan kemungkinan dia sembuh sangatlah kecil? Kau tahu itu kan?! Seandainya aku tahu ini akan terjadi, seharusnya aku menerima permintaan ayah agar aku bekerja di perusahaan nya." Jasmine ambruk ke lantai dengan air mata yang tak terbendung lagi, menangis sejadi jadinya membuat mereka berdua menjadi sorotan orang-orang yang keluar masuk toilet.
"Udah dramanya jangan disini, malu diliatin orang. Ntar aku lagi yang dikira ngapa-ngapain kamu. Ayo bangkit!" ucap Reza.
"Dasar manusia gak punya perasaan." ucap Jasmine disela-sela tangisannya.
"Serah bapak mu lah mine, aku tinggal nih. Malu tau diliatin begitu." ucap Reza menarik tangan Jasmine agar berdiri dari duduknya.
Kaki Jasmine yang tadinya lemas dan seperti tidak bertulang kini merasa sangat bertenaga. Ditendangnya kuat kaki Reza seperti di atas atap kemarin, membuat sepupunya berteriak sangat keras.
"Diam buat malu saja." ucap Jasmine menyibakkan rambutnya di wajah Reza, Reza dapat mencium dengan jelas aroma sampo yang di gunakan sepupunya itu.
"Itu rambut atau ijuk? Keras banget, kaya di tampar sapu tau gak." ucap Reza membuat Jasmine menghadap kembali ke arahnya.
"Di tampar kenyataan mau?" tanya Jasmine. Reza yang mendengar perkataan Jasmine hanya bisa tergelak.
"Kau bodoh atau apa sih? Mana ada orang tertampar kenyataan." ucap Reza di sela-sela tawanya.
"Kau selalu berkata kau itu sempurna, tampan dan kaya. Kaya sih iya tampan enggak tau. Tapi meskipun begitu kau itu tampak mengenaskan. Buktinya saja Tidaka ada satu pun wanita di muka bumi ini yang menyukaimu tulus dengan hatinya. Ya enggak ada lah, orang narsis tujuh turunan tujuh tanjakan. Tapi takut sama jarum suntik dan film horor." ucap Jasmine membuat Reza tertampar hanya dengan kata-kata.
"Itu yang di namakan tertampar oleh kenyataan. Benar bukan? Ah iya satu lagi, kedua orang tua mu lebih menyayangi sepupu dan adik manja mu di banding kau." ucap Jasmine dengan karismanya, namun setelah mengatakan itu ia tergelak dan tertawa sejadi-jadinya.
"Tawamu sangat menyeramkan." ucap Reza meninggalkan Jasmine di depan Toilet. Untung saat itu toilet sedang sepi.
"Sialan tunggu!" pekik Jasmine berlari mengejar Reza, Reza yang di kejar langsung lari dengan kencangnya ke kamar rawat ayahnya Jasmine.
"Masuk dan temani lah ayahmu berbicara." ucap Reza, dan dengan patuh Jasmine mengangguk.
"Hei hei kemana sepupu ku yang pembangkang?" ucap Reza membuat Jasmine memukul sepupunya kembali.
"Sudahlah badan Kus udah memar semua karena kau aniaya." ucap Reza lalu mereka berdua masuk kekamar VVIP itu.
"Kalian kemana saja?!" ucap ibunya Jasmine yang sedang menguapi makan suaminya.
__ADS_1
"Ibu keluar lah, biar Jasmine yang menyuapi ayah." ucap Jasmine mengusir ibunya secara halus.
"Bilang saja mau ngusir! Ya sudah ibu titip ayah ya. Ibu mau makan siang dulu." ucap ibunya Jasmine.
"Aunty mau Za temenin?" ucap Reza ramah.
"Pencitraan, udah bu jangan mau. Manusia semacam dia ini patut di buang ke segitiga Bermuda." ucap Jasmine membuat mereka semua tertawa.
"Dih ngomongin orang pencitraan, emang kau enggak pernah?" ucap Reza duduk duduk di sofa sedangkan ibunya Jasmine sudah menghilang di telan pintu.
"Ya enggak lah, aku kan bukan kamu yang suka cari muka." ucap Jasmine menyuapkan makanan kemulut ayahnya.
"Mine, ayah mau meminta sesuatu boleh?" tanya Ayahnya serius setelah memakan suapan terakhir dari Jasmine.
"Ayah mau apa? Jasmine akan turutin semua kemauan ayah, Jasmine janji." ucap Jasmine membantu ayahnya meminum air.
"Ayah hanya meminta satu mine, tapi kau harus janji melaksanakan nya." ucap Ayahnya Jasmine lemah mengangkat jari kelingkingnya untuk membuat sebuah janji kepada putrinya, kebiasaan mereka sejak dulu.
"Baiklah Jasmine berjanji, apa yang ayah inginkan?" tanya Jasmine memasang senyum terbaik di wajahnya. Sedangkan Reza meraih gelas di sampingnya dan hanya menjadi pendengar ayah dan anak itu.
"Menikahlah dengan Reza."
"Uncle yang bener aja dong? Masa Reza harus ikut masuk ke dalam lingkaran setan?" ucap Reza setelah meredakan batuknya, tampak dengan jelas hidung pria itu merah memanas karena air yang di semburkannya tadi.
"Kau mengatai aku setan?" ucap Jasmine menatap tajam kearah Reza. Sedangkan ayah Jasmine yang melihat adu mulut putri dan keponakannya hanya diam
"Iya. Kenapa itu menyakitkan sekali?" ucap Reza menyeka hidungnya.
"Ayah, Reza dan Jasmine sepupuan tidak mungkin menikah. Jika mungkin pun seumur hidup aku malas menikah dengannya." ucap Jasmine mencoba membujuk ayahnya agar membatalkan permintaan yang menurutnya tidak masuk akal itu.
"Baiklah kalian tidak mau mengabulkan permintaan terakhir pria tua ini, aku juga tidak memaksa, tapi hanya ingin mengingatkan ada seseorang yang berjanji kepada ku tadi." ucap ayahnya Jasmine membuang muka.
"Uncle, pernikahan adalah sesuatu ikatan suci yang sakral. Reza hanya ingin menikah satu kali seumur hidup, menikah, hidup bahagia sampai ajal Reza nanti menjemput." ucap Reza.
"Ayah baru kali ini Reza benar, Jasmine juga ingin menikah dan menjalin ikatan suci itu dengan pria yang Jasmine cintai." ucap Jasmine membuat Reza berdecak.
"Jadi jika aku mati kalian akan bercerai? Tetaplah menjadi seperti Aisyah meski tak ada pria seperti Muhammad, belajarlah mencintai Reza seperti Fatimah meski dia tidak sebaik Ali." ucap ayahnya Jasmine bijak.
__ADS_1
"Bisakah kalian memenuhi permintaan ku? Jika kalian tahu, pertemuan pertama ku dan ibumu adalah sebuah kesalahan. Kami belajar mencintai satu sama lain dan setuju untuk terbuka ketika sedang ada masalah. Dibalik sifat ibu mu yang cerewet itu, tersembunyi sifat keibuan dan kasih sayang yang luar biasa." ucap ayah Jasmine mengenang kembali masa-masa dimana pertemuan pertama dirinya dan sang istri.
"Uncle Reza keluar sebentar."
"Jangan melarikan diri dari kenyataan anak muda, aku juga membantu mu memikul tanggung jawab yang lebih besar dari memegang sebuah perusahaan kakek tua mu itu." ucap Ayahnya Jasmine tertawa.
"Menantu kurang ajar kau berani membicarakan ku di belakang?" ucap seseorang berjalan dari arah pintu, refleks ketiga orang itu berhenti tertawa.
"Dad, tidak mungkin aku membicarakan mu." ucap ayahnya Jasmine sembari tersenyum ringan dengan bibir pucatnya.
"Kau kira aku ini tuli? Pletakkk!" pria tua itu memukul kepala ayahnya Jasmine sangat ringan dengan tongkatnya.
"Kakek kapan kau sampai?" tanya Reza ramah dengan senyum cerah secerah mentari hari ini, sayangnya cuaca di sana sedang mendung jadi senyuman Reza nampak suram.
"Jiwa pencitraan dia kuat sekali." nyinyir Jasmine duduk di sebelah Reza.
"Diam lah." ucap Reza membuat Jasmine memukul pelan kepala bagian belakang Reza.
"Belum menikah saja sudah hobi menganiaya ku, bagaimana nanti menikah." bisik Reza
"Hai kek mari duduk." ucap Reza mempersilahkan kakeknya duduk di sofa tempatnya duduk tadi.
"Minggir aku mau bertemu cucuku." ucap kakek mereka duduk di samping Jasmine.
"Aku bukan cucu mu, dia cucu mu. Aku permisi." ucap Jasmine dingin lalu beranjak berdiri dari duduknya.
"Hei kau tahu bukan dia itu hanya kita jadikan alat untuk memajukan perusahaan, kau itu cucu kesayangan ku princess kemarilah apa kau tidak merindukan aku?" ucap kakeknya Jasmine membujuk Jasmine agar mau mendengarkannya.
"Sayang kemarilah, jangan dengarkan pria tua itu, kau tidak menyayangi aku lagi?" tanya ayahnya Jasmine.
"Hei diam kau menantu kurang ajar! Cucu ku kemari lah."
"Sayang ayah mau berbicara dengan mu, kemari lah dan jangan dengarkan pria tua itu."
"Kalian diam lah, dia calon istri ku aku yang berhak bersamanya. Bukan begitu sayang?" ucap Reza menggandeng tangan Jasmine.
"Apa?" ucap kedua pria tua itu. Yang satu sangat tua, yang satu tidak tua-tua amat.
__ADS_1
To be continued.