
"Saya David Tante, bukan Jerry." Ucap David tersenyum ramah lalu memberikan koper yang ia bawa kepada Reza.
"Oh begitu, kamu siapanya Reza?" Tanya Ibunya Jasmine sembari mempersilahkan duduk David.
"Saya temannya kak Reza."
"Bang lihat, bukan kah wajahnya dia itu sangat mirip dengan Ayahnya Jasmine?" Papanya Reza menatap intens pada David yang kini tengah tersenyum kepadanya, sekelebat bayangan masa lalu yang indah membuat Papanya Reza tersenyum.
"Kau benar, wajahnya sangat mirip dengan almarhum suami mu."
David yang mendengar hal itu langsung kikuk, lelaki itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena merasa malu. Sedangkan Jasmine menatap intens suaminya yang sedang melirik David. Cukup lama mereka berbincang, hingga David pamit kembali ke hotel karena sudah mengantuk dan ingin segera tertidur. Begitu juga para orang tua, mereka memilih pergi ke hotel untuk istirahat.
"Reza." Panggil Jasmine saat suaminya masih sibuk pada ponselnya.
"Reza!" Namun nihil, meskipun Jasmine berteriak Reza tidak akan mendengarkan karena ada headphone di telinga pria itu.
"Baby, ih!" Keluh Jasmine dengan suara manjanya yang sembari memilin kaus oblong putih suaminya.
"Ada apa my queen?" Tanya Reza langsung menarik Jasmine kepelukannya setelah membereskan selang infus Jasmine.
"Sepertinya memang David dan Ayah memang mirip, tidak ada salahnya untuk mengecek lelaki itu bukan?" Ucap Jasmine memakai lengan suaminya sebagai bantalan.
"Em! Reza!" Pekik Jasmine ketika wajahnya di himpit oleh Ketiak suaminya yang berbulu rimbun. Reza memiliki bulu ketiak seperti pohon beringin, namun tidak ada satupun bulu dada yang tumbuh di dada bidang pria ini.
"Za. Tidak janggut tidak bulu ketiak, gak ada yang di cukur. Geli tau!" Lihatlah wanita ini sekarang, tadi teriak-teriak tidak suka, saat ini malah menggesekkan pipinya ke bulu ketiak Reza dan sesekali menghirup aroma tubuh suaminya.
"Yang di tanya cuma itu? Yang di bawah?" Jasmine yang mencoba berfikir positif berasumsi jika bulu yang di maksud suaminya adalah bulu kaki, ya bulu kaki Reza memang lebat menyelimuti kulit putihnya yang bersih.
"Gak mungkin dong kamu cukur bulu kaki, masa iya nanti kaki kamu lebih mulus dari kaki aku." Ucap Jasmine. Untuk saat ini ia bertekad untuk menjadi istri yang baik, patuh, perhatian dan sedikit manja untuk berjaga-jaga karena tidak mau suami seperfact Reza pergi dari sisinya. Pemikiran itu hinggap di kepala Jasmine karena obrolannya dengan sang Ibu dan Mama mertua.
"Bukan itu, ini." Ucap Reza menyentuh tangan Jasmine dan membawanya ke adik kecilnya yang tengah semangat empat lima namun harus puasa beberapa minggu kedepan.
"Apaan sih kamu Za!" Protes Jasmine.
"Cie yang udah nyaman, panggilannya aku kamu nih?" Goda Reza membuat sifat lama Jasmine muncul kepermukaan.
"Kalau gak mau ya udah, jangan ngelunjak. Awas!" Bentak Jasmine ingin melepaskan pelukannya, namun sebelum wanita itu menarik diri dari dekapan sang suami, Reza lebih dulu mendekapnya kembali lalu mencium pucuk kepala Jasmine dengan tersenyum.
"Sayang, itu panggilan aku ke kamu. Kamu manggil aku apa? Aku ini pria tampan nan mapan yang digilai banyak wanita--"
__ADS_1
"narsis." Potong Jasmine cepat, lalu mencari kembali posisi ternyaman di dalam dekapan sang suami.
"Aku tidak narsis Mine, aku hanya--"
"Hanya apa? Gak bisa jawab kan? Emang nyatanya kamu itu narsis kok!"
"Kok jadi galak lagi sih? Kamu jelma jadi kaya gitu, sehari aja bisa gak?" Tanya Reza.
"Oh jadi kau mau istri yang kaya tadi? Murahan dan terus menggoda pria? Cari saja di club malam banyak tuh."
"Murahan, kau itu--"
"Kau benar-benar mengataiku murahan? Dasar kau! Apa kau tahu tidak ada satu pun pria yang menyentuh ku sebelum--"
"Bukan sayang, astaga kau ini." Reza mengusap bibir Jasmine yang seperti sedang mengejeknya tanpa mengeluarkan suara.
"Apa kau lupa siapa yang membobol gawang mu itu? Terima kasih sudah menjaganya untuk Ku." Ucap Reza mencium gemas pipi Jasmine dengan janggutnya yang menempel di pipi Jasmine.
"Geli tau." Ringis Jasmine ketika Reza menelusuri lehernya dengan janggut yang sengaja ia tempelkan di leher istrinya.
"Mine, masih lama ya?"
"Kau mau menidurkan atau membangunkan singa?" Jasmine tidak membalas perkataan Reza karena matanya sudah sangat mengantuk.
"Night my queen." Bisik Reza lalu mengeratkan dekapannya.
Matahari telah terbit, tidak di Paris melainkan di sebuah pulau kecil yang memiliki sejuta pesona didalamnya. Lunna masih berbalut selimutnya, kemarin ia banyak memakan tenaga karena syuting hingga pukul dua dini hari.
Deringan ponselnya membuat Lunna kesal bukan main, dengan malas Lunna meraba nakas tempat benda sialan berdering.
"Tak!" Lunna langsung bangkit dan melihat malang ponsel yang ia beli dengan uang rampasan sang kakak, Lunna memang hobi membeli tas, pakaian, sepatu dan aksesoris lainnya namuntidak pernah membeli ponsel baru. Tapi gadis satu ini tidak pernah memakainya, Lunna lebih suka seperti Jasmine yang berpenampilan simpel dan tidak ribet, namun yang namanya orang kaya, bebas mau menghamburkan uangnya untuk apa.
"Ada apa?" Tanya Lunna ketika ia mengangkat telfon dari ponselnya yang sudah pecah di anti gores.
"Lun, kau di mana? Sarapan yuk? Siang nanti kita akan terbang." Ucap Aldi.
"Iya on the way." Ucap Lunna namun mulutnya masih menguap lebar lalu mematikan telfonnya.
Karena masih mengantuk, Lunna kembali merebahkan tubuhnya. Namun ponselnya kembali berdering.
__ADS_1
"Iya, Aldi. Bisa sabar enggak!" Bentak Lunna dan saat ia ingin mematikan sambungan telefon itu, sebuah suara muncul.
"Saya bukan Aldi, dan kenapa saya harus sabar?" Lunna langsung terlonjak ketika mendengar suara Aditya dari sebrang sana.
"Dokter mesum?" Gumam Lunna dan saat ia melihat nama kontak yang menghubunginya, Lunna langsung mematikan ponselnya cepat.
...🍃🍃🍃...
"Lunna." Panggil Aldi mengetuk pintu kamar Lunna.
"Ada apa? Bukan kah kita sudah--"
"Tidak bisa kah kau menyuruhku masuk terlebih dahulu?"
"Aku mau mandi dulu, lengket dari kemarin belum mandi. Jika kau mau menunggu tidak masalah, silahkan masuk." Ucap Lunna lalu menyambar handuknya dan pergi ke kamar mandi.
Aldi hanya duduk di sofa kamar Lunna sembari menikmati suara percikan air dari dalam kamar mandi. Beberapa menit telah berlalu namun Lunna belum kunjung menampakkan diri dari kamar mandi.
"Tok... Tok... Tok."
Aldi beranjak dari duduknya membukakan pintu dan melihat siapa yang datang ke kamar Lunna, dan saat Aldi membukakan pintu itu tampak makhluk tuhan yang sempurna berdiri tegap di depan pintu menatap tajam kepada Aldi.
"Siapa Al?" Lunna keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai kaus putih kebesaran hingga menutupi pahanya yang seakan tidak mengenakan apapun, ia tidak tahu hot pans pendek yang ia kenakan akan mengundang permasalahan berkelanjutan nantinya. Rambut yang basah dan masih terbalut handuk membuat leher putih mulusnya terekspos sempurna.
Dua pasang mata pria itu tidak lepas dari paha dan kaki mulus Lunna yang seakan sangat menggoda untuk di jelajahi. Keduanya salah besar jika mengatakan Lunna memiliki bentuk tubuh rata bagai jalan tol, dengan kausnya itu Lunna membuktikan bahwa bagian dada yang ia miliki tidak kalah jauh dengan sepupunya.
"Hello!" seru Lunna dengan menjentikkan jari membuat Aldi dan Aditya gelagapan.
To be continued.
Perhatian! Di cari....
Reader yang sabar nunggu, dengan Kim yang tidak pernah memberikan kepastian^^
Yang nanya kapan Update dan kenapa updatenya lama.
Oh iya kalian di tim mana? Aditya? Aldi? Balikan ke Nathan? Atau Lunna jadi pelakor di antara Dika dan sang kekasih^^
Kim? Kebanyakan nonton drakor dan drama chinese jadi mau di panggil Kim Chi.
__ADS_1