Mr. Sargeant

Mr. Sargeant
Chapter 32


__ADS_3

"Kamu sepertinya sudah cocok jadi ibu Mine." Jasmine langsung mencubit kuat pinggang Reza, namun pandangan gadis itu menatap ibu-ibu penjaga panti dengan tersenyum.


"Lunna dan yang lain ke mana?" tanya Jasmine karena baru menyadari jika adik ipar dan dokter Aditya belum datang. Reza yang di tanya hanya diam tidak menjawab karena masih fokus ke arah Dita.


"Aku sudah lama ingin mengadopsi mereka, tetapi aku urungkan karena mungkin mereka akan bosan jika di apertemen sendiri bersama Nany. Jadi, bisa kah kita mengadopsi mereka berdua? Kau akan menemani mereka. Sungguh visual yang sempurna, kedua anak kembar yang manis, ibu yang baik dan ayah tampan rupawan yang mapan, tinggi dan juga kekar."


"Diam lah! Bisa tidak ke narsis-an mu itu di minimalisir sedikit, jadi gak usah terlalu sombong gitu." ucap Jasmine menatap jengah suaminya.


"Tidak bisa." Reza mencium pipi Jasmine tiba-tiba, membuat mereka menjadi pusat perhatian di sana. Jasmine yang mendapatkan ciuman sekilas itu menatap malu kepada orang-orang yang menatapnya. Rasanya gadis itu ingin memendam diri ke inti terdalam bumi karena saking malunya.


"Sudah narsis tidak tahu malu lagi." ucap Jasmine mencubit sekuat tenaga perut sixpack suaminya. Reza yang mendapatkan cubitan itu hanya meringis pelan. Kedua anak kembar yang duduk di pangkuan kedua manusia itu tengah tertidur pulas, ibu-ibu panti yang bertugas menjaga para anak di sana mengambil Dita dan Dito dari pangkuan Reza dan Jasmine.


"Mbak, kami permisi ke taman." Reza menarik paksa tangan Jasmine yang tidak mau ikut dengannya. Karena malu dan kembali menjadi pusat perhatian, akhirnya Jasmine mengikuti langkah kaki Reza yang panjang.


Setelah kedua manusia itu sampai di taman, Jasmine langsung menghempaskan tangan Reza dengan kasar. Kebiasaan pria narsis itu jika mencengkeram tangannya pasti menggenggam erat pergelangan tangannya.


"Ini benar kau yang merenovasi?" tanya Jasmine saat melihat sekeliling, pemandangan asri dari pinggiran kota yang sangat menyejukkan mata meskipun hanya di panti asuhan anak. Jasmine duduk di bangku kayu panjang yang tersedia di taman itu.


"Ya tidak lah, yang merenovasi itu pasti kuli." ucap Reza merebahkan kepalanya di paha Jasmine.


"Za! Jangan aneh-aneh, kau tidak malu dari tadi di lihatin orang terus?!"

__ADS_1


"Dito dan Dita tadi kau pangku, jika mereka bisa kenapa aku tidak?" Reza melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Jasmine dan membenamkan wajahnya di perut ramping Jasmine.


"Mereka itu anak berumur enam tahun, kau itu sudah dua puluh enam tahun, beda jauh! Sudah awas!" Jasmine mencoba menjauhkan wajah Reza dari perutnya, namun nihil tangan kekar pria itu melingkar erat di pinggangnya jadi sedikit mustahil untuknya menjauhkan Reza. Jasmine mengelus rambut Reza dan membiarkan pria itu melakukan semaunya.


"Za, dimana handphone mu?" tanya Jasmine saat menyadari sesuatu. Reza mengambil handphone yang ada di saku celananya lalu menyerahkan kepada istrinya itu. Setelah memberikan apa yang Jasmine mau, Reza kembali melingkarkan tangannya ke pinggang Jasmine.


"Memangnya kau tidak butuh oksigen? Hei bedebah kau memberikan ponselmu tapi tidak memberi tahu passwordnya." Reza tidak membalas ocehan Jasmine dan langsung merebut handphonenya kembali.


"kiss me, I'll tell you the password after that." Reza membalikkan tubuhnya menatap ke arah wajah Jasmine. Istrinya itu hanya membelalakkan matanya tidak terima.


"Gak, pemerasan banget. Mana kunci mobil, aku ingin mengambil tas ku, handphone ku di sana." Jasmine merasa lebih baik mengambil handphonenya Yanga berada di parkiran panti dari pada mencium suaminya sendiri, jika dipikir-pikir tidak ada salahnya untuk mencium pasangan halal sendiri bukan? Justru itu akan menambah pahala. Jasmine menatap ke arah Reza yang seakan tidak peduli pada perkataannya. Merasa tidak memiliki pilihan lain, Jasmine langsung menutup matanya dan mencium cepat pipi Reza.


Setelah menjauhkan bibirnya dari pipi Reza, Jasmine langsung mengusap bibirnya. Namun dengan angkuhnya Reza menutup mata dengan tangan bersedekap, seolah tidak mau perduli dengan tatapan jengkel istrinya.


"Aku tidak mengatakan kau harus mencium pipi ku."


"Jangan gila, tahu tempat tidak?! Kau tidak malu dari tadi jadi pusat perhatian? Terlebih ini di panti asuhan." Reza membuka katanya menatap intens ke wajah Jasmine yang terlihat memerah menahan marah.


"Kau tidak perlu malu sampai wajah mu memerah seperti itu, aku suami mu wajar jika istri mencium suami sendiri. Yang tidak wajar itu mencium suami orang." Jasmine tidak menggubris perkataan Reza, gadis itu justru menatap ke sekitar taman untuk memastikan tidak ada orang yang melihat mereka. Jasmine langsung mencium bibir manusia tidak tahu malu itu, namun pada saat Jasmine ingin memundurkan wajahnya, Reza langsung menarik tengkuk Jasmine dan menekan agar tautan bibir mereka tidak hanya sebatas kecupan ringan.


"Kau mau membunuhku ya!" ucap Jasmine dengan nafas tersengal ketika berhasil melepaskan diri dari rangkulan suami narsisnya itu. Reza hanya tersenyum lalu memberikan handphonenya ke Jasmine.

__ADS_1


"Tanggal pernikahan kita."


"Tanggal pernikahan kita kapan?" tanya Jasmine. Reza langsung bangkit ketika mendengarkan pertanyaan istrinya itu.


"Cantik, cerdas, pintar memasak sayangnya pikun." ucap Reza merebut paksa handphonenya.


"Aku tidak pernah menganggap pernikahan kita itu benar terjadi, jadi hal yang wajar jika aku melupakannya." Dengan entengnya Jasmine mengatakan hal itu, entah mengapa dada Reza bagai di tusuk belati ketika mendengarkan perkataan istrinya. Dengan kasar pria itu melemparkan handphonenya ke pangkuan Jasmine lalu melangkah pergi.


Jasmine hanya terdiam menatap punggung Reza yang perlahan mulai menghilang dari pandangannya. Setelah Reza masuk ke dalam aula panti asuhan, Jasmine langsung membuka mencari kontak seseorang dari handphone suaminya.


"Kalian di mana?" tanya Jasmine ketika orang yang ia hubungi menjawab telfonnya.


"Maaf sepertinya kami tidak bisa menyusul kalian ke sana. Saat ini kami sedang berada di restoran dekat dengan taman kota."


"Baiklah, sepertinya sebentar lagi kami juga akan pulang." Jasmine mematikan sambungan telefon itu lalu melangkah pergi mengikuti arah Reza tadi. Karena Jasmine tidak familiar dengan tempat ini, gadis itu hanya mengitari bangunan tempat penampungan anak yang tidak memiliki pendamping. Karena lelah terus berjalan dan mengitari bangunan itu, Jasmine mendudukkan tubuhnya di salah satu bangku yang tersedia di sana.


"Bisa saya bantu mbak?" tanya seseorang mendekat ke arah Jasmine. Gadis itu mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah seseorang yang menghampirinya. Merasa tidak ada pilihan lain, akhirnya Jasmine menyuarakan pertanyaannya.


"Bisakah anda membantu saya pergi ke aula tempat anak-anak biasa bermain?" tanya Jasmine. Saat ini adalah jam para anak panti tidur siang, dan otomatis para penjaganya juga beristirahat untuk meredakan penat.


"Tentu saja, mari." ucap pria berparas blasteran itu dengan ramah.

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2