
Reza membuka pintu kamar adiknya. Reza melihat dengan jelas mata sembab Lunna, dan hidung gadis itu yang memerah.
"Mata dan hidungnya memerah, tetapi bibirnya tersenyum manis, bahkan tertawa." batin Reza sembari berjalan ke arah kedua wanita itu.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Reza mencium pucuk rambut adiknya. Tawa Jasmine mereda, saat melihat visual sempurna adik dan kakak satu ini. Reza mencium dan mengelus pucuk rambut adiknya, namun matanya menatap intens ke manik mata istrinya.
"Hei hei, apa ini? Sebelumnya aku tidak pernah mendapatkan perlakukan manis sari mu? Kau itu jauh berbeda dengan kakak ku dua bulan yang lalu. Siapa kau sebenarnya? Dimana kakak ku yang asli?" ucap Lunna memeluk pinggang kakaknya.
"Kak ada yang cemburu." ucap Lunna melepaskan tangannya dari pinggang sang kakak. Reza menatap Jasmine yang seakan malas menatapnya.
"Cup!" Reza mengecup singkat bibir Jasmine di hadapan adiknya sendiri, kedua wanita itu membelalakkan mata karena kelakuan gila Reza.
"Kak kau gila ya? Aku ada di hadapan kalian, dan dengan gampangnya kau mencium Jasmine di hadapan ku?" tanya Lunna dengan tatapan tidak percaya.
"Mandi dan ganti pakaian mu." ucap Reza mengacuhkan perkataan adiknya. Jasmine hanya menatap malas ke arah Reza, namun gadis itu melakukan apa yang di perintahkan suaminya. Saat Jasmine berdiri, pintu kamar Lunna terbuka, tampak seorang pria tampan di sana membuat senyuman manis mengembang di bibir Jasmine.
"Selamat pagi." ucap pria itu. Apa yang di takutkan Reza terjadi, dokter yang menangani adik manjanya itu telah menginjakkan kaki di apertemennya. Yang menjadi masalah dalam hal ini adalah, Jasmine tampak menyukai dokter itu, entahlah Jasmine yang selalu dingin pada pria kini seperti anak remaja yang histeris ketika melihat idola mereka berada tepat di hadapannya.
"Pagi." ucap Jasmine dengan tersenyum.
"Karakter mu benar-benar menghilang Mine." batin Reza.
Baru saja melangkahkan kakinya, tangan Jasmine di genggam erat oleh suaminya.
"Kau bisa memulainya, kami akan mandi sebentar." ucap Reza menekan suaranya di kalimat terakhir. Tanpa mau mendengar jawaban dari dokter tampan itu, Reza langsung menarik tangan Jasmine agar mengikuti langkahnya.
"Apa sih Za!" bentak Jasmine saat mereka sudah berada di kamarnya. Jasmine menghempaskan tangan Reza yang menggenggam erat tangannya.
"Jika satu minggu kau menarik tangan ku seperti ini, pergelangan tangan ku sudah bisa di pastikan akan lepas." ucap Jasmine mengelus pergelangan tangannya yang memerah.
__ADS_1
"Kau mau apa?!" ucap Jasmine datar ketika Reza mendekati tubuhnya perlahan. Dengan wajah datar Jasmine menjauhkan wajah Reza yang semakin mendekat ke wajahnya.
"Jangan macam-macam." ucap Jasmine berjalan ke kamar mandi.
"Aku hanya minta satu macam." ucap Reza mengekori Jasmine. Namun gadis itu tiba-tiba berhenti dan menatapnya dengan jengah.
"Baiklah!" ucap Reza lalu mundur ke ranjang istrinya.
...🍃🍃🍃...
"Jadi rencana mu selanjutnya bagaimana?"
"Aku akan fokus untuk mengembangkan perusahaan ayah. Untuk saat ini perusahaan Uncle yang pegang, dan ketika aku sudah siap ia akan mengembalikannya kembali kepada ku." ucap Jasmine lalu kembali memakai pelembab bibirnya.
"Jadi ceritanya kau tidak jadi membuktikan kemampuan mu kepada kakek?" tanya Reza sembari menikmati kegiatan istrinya. Jasmine tidak pernah memakai make up berlebihan, natural dengan rambut yang di kuncir tinggi.
"Ya, kemungkinan terbesar seperti itu." ucap Jasmine lalu membalikkan badannya ke arah Reza.
"Ya, kau memang seharusnya lebih terfokus pada perusahaan ayah mu. Karena hanya kau yang--"
"Bukan itu bodoh! Riasan ku bagus tidak?!" ucap Jasmine melemparkan pelembab bibirnya kearah Reza.
"Kau tidak mengatakan bagus apanya." Reza meraih pelembab bibir istrinya lalu berjalan mendekat ke arah Jasmine.
"Tidak biasanya kau berdandan? Apa karena kau mau menemui dokter sialan itu?"
"Ah! Jangan menghina dirinya. Aku tau dia itu tampan, tapi aku tidak terlalu terobsesi dengannya."
"Apa karena suami-suami khayalan mu itu?" tangan kekarnya melingkar di bahu Jasmine dan dengan gemas Reza mencium pipi istrinya. Jasmine sekuat tenaga mendorong Reza agar menjauh darinya namun hasilnya nihil, Jasmine justru merasakan Reza semakin memeluk erat bahunya dari samping.
__ADS_1
"Mine, suami istri yang baik tidak boleh tidur pisah ranjang. Jadi, kau mau aku tidur di sini atau kau yang tidur di kamar ku? Ah tidak pernah ada yang menolak untuk tidur bersama ku, pintar, mapan dan rupawan."
"Oh maaf suami ku yang pintar, mapan, dan rupawan tapi, mari kita tertidur di posisi seperti biasa, aku di kamar ku, kau di kamar mu."
"Tunggu! Kau bilang tidak ada yang pernah menolak untuk tidur bersama mu? Apa kau sering tidur dengan wanita lain?!" lanjut Jasmine dengan tatapan tajamnya menatap ke arah suaminya itu. Reza yang melihat tatapan tajam mata Jasmine langsung tergelak, lalu lelaki itu kembali mencium pipi istrinya.
"Yah, bisa di katakan begitu. Dari yang masih perawan sampai jalang yang setiap malam di booking sudah aku---"
"Jahanam! Pergi kau!" pekik Jasmine mencoba melepaskan diri dari dekapan suaminya. Setelah lepas dari dekapan Reza Jasmine langsung mengarahkan kaki ingin menendang benda pusaka milik Reza.
"Mine, kau bisa memukul atau menendang bagian manapun, tapi jangan yang satu ini, jika kau menendangnya saat ini, bagaimana bisa aku memuaskan wanita-wanita ku?" tanya Reza. Bukannya amarah Jasmine mereda, justru ucapan Reza bagaikan bahan bakar untuk kemarahannya.
"Auh!" pekik Reza saat Jasmine menendang kuat adik kecil Reza.
"Percuma badan kekar, dan bermain wanita tiap malam jika di tendang seperti itu saja sudah tidak berdaya." Reza tidak menghiraukan ejekan istrinya, pikirannya kini fokus kepada adik kecilnya yang terasa sangat nyeri. Jasmine berdiri di hadapan Reza dengan tangan bersedekap dengan senyuman menjengkelkan dari bibirnya.
Dengan sekuat tenaga Reza menahan nyeri di bagian sensitifnya, Reza berdiri lalu membopong tubuh Jasmine ke ranjang kamar itu. Reza seakan tidak peduli dengan teriakan dan pukulan istrinya. Setelah sampai di kaki ranjang, Reza menghempaskan tubuh Jasmine berhitung saja ke ranjang. Untungnya ranjang orang kaya itu nyaman, empuk dan mewah, jadi Jasmine tidak merasakan sakit di bahu atau kepalanya.
"Tadi kau menendang ini bukan?" tanya Reza melirik adik kecilnya yang sedang kesakitan hebat. Jasmine yang tadinya berbaring dengan tangan terlentang kini berusaha untuk duduk, namun Reza mendorong kembali tubuh Jasmine agar istrinya itu tertidur.
"Apa sih Za?!"
"Dia mau di sembuhkan." Jasmine menatap wajah suaminya lalu beralih ke junior milik Reza, pikiran gadis itu berkelana ke kejadian kemarin dimana Gilang langsung pingsan saat junior nya di tendang oleh Hanna.
"Apa semenyakitkan itu?"
"Sangat menyakitkan, sembuhkan dia sekarang." ucap Reza dengan senyuman licik dibibirnya.
"Baiklah bagaimana caranya." Jasmine akhirnya pasrah. Jika Reza nantinya pingsan seperti Gilang kemarin itu akan sangat merepotkan, karena tubuh suaminya itu sangatlah kekar.
__ADS_1
"Dia minta di belai dengan kasih sayang." bisik Reza di telinga Jasmine. Jasmine yang mendengar perkataan Reza langsung kembali menendang junior suaminya hingga membuat Reza meringis menahan sakit yang mendalam di benda pusaka miliknya.
To be continued