
"Maaf kan aku." Ucap Hardhan setelah rasa sakit di keningnya mereda. Jasmine tidak mengatakan apapun dan langsung membuang muka ke arah jendela.
"Benar apa yang kau katakan, aku seperti wanita gampangan yang sangat mudah di sentuh orang." Batin Jasmine mengingat perkataan Reza pada saat dirinya di cium oleh Gilang.
"Maafkan aku, aku tidak tahan melihat bibir seksi mu itu. Ngomong-ngomong kenapa sepertinya bibir mu terlihat membengkak?" tanya Hardhan membuat wajah Jasmine seketika memerah.
"Itu karena Reza yang ******* bibir ku tanpa ampun tadi." Batin Jasmine kesal.
"Bukan urusan mu." Ketus Jasmine.
"Maafkan aku, ya sebagai Casanova aku memang tidak bisa tahan melihat yang seksi-seksi." ucap Hardhan jujur.
"Seksi dari mana? Kau tidak lihat pakaian ku ini?! Apa mata mu itu buta." Ucap Jasmine. Ya, wanita itu memang menggunakan pakaian tertutup karena Reza sama sekali tidak memperbolehkan tubuh istrinya di lihat siapapun.
"Bukan tubuh mu tetapi bibir mu." Jasmine hanya mendengus kesal ketika mendengar perkataan Hardhan. Perkataan pria itu sama persis dengan perkataan Reza saat juniornya terbangun hanya karena ia membalas ciuman hangat suaminya.
"Ayolah Jasmine, kau kesana untuk mengembangkan dan menstabilkan perusahaan ayah, kenapa di otak mu hanya terfikir Reza saja. Hei makhluk tidak tahu malu, keluarlah dari fikiran ku!" Bentak Jasmine dalam hatinya. Jasmine yang tidak mau memikirkan suaminya atau meladeni pria di sampingnya itu akhirnya memutuskan untuk tertidur.
Setelah mendarat di Jerman pada pukul dua dini hari, Jasmine langsung melaju ke hotel terdekat karena tidak mau membangunkan orang rumah. Untuk selanjutnya juga Jasmine telah berfikiran untuk menyewa apertemen atau langsung membelinya.
Selesai mandi, Jasmine bersiap untuk kembali tidur ke ranjangnya hanya dengan menggunakan tanktop dan hotpants-nya.
"Sudah sampai?" tanya Reza melalui sambungan telefon.
"Sudah. Kau habis dari mana?"
"Tadi meeting sebentar, baiklah tidur kembali. Kau pasti lelah." ucap Reza lalu mematikan sambungan telepon.
...🍃🍃🍃...
Dua bulan telah berlalu, baik perusahaan Thinder maupun perusahaan Wescott sama-sama stabil. Ya, Jasmine adalah seorang wanita cerdas dan selalu kompeten terhadap pekerjaannya. Namun, komunikasi keduanya sangat buruk karena kesibukan masing-masing. Bahkan sudah satu minggu ini Reza dan Jasmine sama sekali tidak pernah bertegur sapa walau hanya sebatas dari chat.
Seorang wanita berjalan penuh dengan keanggunan keluar dari gedung perusahaan. Derap langkah kakinya di ikuti oleh lirikan mata para karyawan yang sedang menatapnya, ada tatapan tajam mematikan yang seakan ingin mencabik-cabik Jasmine, ada pula tatapan memuja kepada wanita itu.
__ADS_1
"Siang Bu." sapa salah satu karyawan dengan hormat menggunakan bahasa Jerman. Jasmine hanya menganggukkan kepala menghargai karyawan wanita itu.
Jasmine membawa langkah kakinya menuju cafe terdekat dari perusahaan itu. Setelah menunggu beberapa menit untuk mengantri ia langsung berjalan kembali keluar dengan membawa kopinya.
"Bruk!" Jasmine tidak sengaja menabrak seseorang.
"Hei! Apa kau tidak punya mata?!" bentak pria yang di tabrak Jasmine, jas yang di kenakannya terkena tumpahan kopi hangat membuat pria itu langsung melepaskan jasanya.
"Kau?!" bentak pria itu ingin mencaci maki Jasmine. Namun saat ia mengetahui siapa yang menabraknya langsung tersenyum.
"Nona jutek, sepertinya kita benar-benar berjodoh." ucap Hardhan dengan senyuman menggoda. Tadinya Hardhan ingin memaki orang yang di hadapannya, karena itu jas barunya yang di beli dengan harga fantastis. Namun saat ia melihat wajah Jasmine ia langsung memikirkan hal gila untuk membalas wanita di hadapannya.
"Apa?!"
"Hei Nona, di sini kau yang bersalah. Kenapa jadi kau yang marah-marah, kau tahu berapa harga jas ku ini?" tanya Hardhan menunjukkan jasnya yang terkena kopi.
"Aku akan mengampuni mu jika kita bermain hari ini." bisik Hardhan dengan tidak tahu malunya.
Kopi yang di pegangnya masih tersisa setengah, dengan kesal Jasmine membuka tutup tempat kopi itu lalu menyiramkannya di kemeja Hardhan. Kopi itu sudah terlanjur dingin, karena itulah Jasmine berani menyemburkannya di kemeja pria narsis itu.
Jasmine mengambil kartu namanya dan langsung menaruhnya di saku kemeja Hardhan lalu pergi begitu saja.
"Tidak mungkin?! Dia Jasmine Angelina? Anak tunggal pemilik perusahaan Thinder, Hardhan kau bodoh sekali." Ucap pria itu lalu berlari menyusul Jasmine. Namun saat ia keluar dari cafe, ia tidak melihat Jasmine sama sekali.
Sedangkan itu, seorang pria tengah duduk bersandar di sofa apertemennya.
"Mau aku bantu pijat kan Za?" tanya seorang wanita yang melihat Reza sedang kelelahan.
"Boleh." Dengan perlahan wanita itu memijat bahu Reza dengan kedua tangannya. Sedangkan itu, Renata, perawat yang bertugas menjaga Lunna terbakar api cemburu melihat adegan itu.
"Dia suami orang Kak, sudah kubur perasaan kakak dalam-dalam, tidak baik menyimpan rasa kepada suami orang." Ucap Ayana dengan nampan berisi makan malam untuk Lunna lalu pergi ke kamar gadis manja itu.
"Aku masih memaklumi jika itu Nona Jasmine, ini orang tidak tahu diri yang ada di sana!" cecar Renata lalu mengikuti langkah Ayana.
__ADS_1
Seseorang menghubungi kontak pria itu. Reza yang merasakan ponselnya berdering dari saku celananya merogoh dengan malas. Namun saat ia melihat kontak siapa yang menelfonnya hanya tersenyum samar, Renata yang menatap televisi yang mati di hadapan mereka yang memantulkan wajah dirinya dan Reza yang tersenyum langsung menatap ponsel Reza. Matanya membelalak ketika melihat kontak yang menghubungi pria di hadapannya dengan nama yang manis di kontak Reza.
"Halo wanita karir, apa kepala mu terbentur sesuatu?" tanya Reza ketika mengangkat telfon itu.
"Apa?"
"Ya, aku kira kau baru akan mengingat jika kau memiliki suami ketika kepala mu itu terbentur."
"Ya, tadi memang aku menabrak dada bidang seseorang yang sangat tampan. Dada berototnya yang terekspos bebas dengan perut sixpack yang lebih menonjol dari pada milik mu. Bahkan aku tadi membelainya dengan lembut."
"Apa?!" bentak Reza dengan suara yang sangat tinggi hingga membuat dokter tidak tahu malu yang memijat bahunya terkejut bukan main.
"Aku hanya bercanda, tapi tadi memang aku terbentur dada seseorang yang narsis persis sama dengan mu."
"Kak, apa kau sudah puas?" tanya dokter itu.
"Siapa itu Za?" tanya Jasmine sedikit curiga. Reza menutup speaker ponselnya lalu menyuruh wanita itu untuk pergi.
"Ah dia, dia adalah wanita yang tadi bermain dengan ku. Baru saja dia mengatakan sudah puas dengan pelayanannya belum. Kau tahu, dia bermain hingga aku terpuaskan berkali-kali dengannya, apa lagi bentuk tubuhnya. Desahan erotis yang membuat ku makin bergairah. Tidak seperti mu, rata dan datar seperti tembok." ucap Reza membalas perkataan Jasmine yang tadi membuatnya sangat emosi.
Jasmine yang mendengar perkataan Reza langsung menutup panggilan itu lalu menghempaskan handphone dengan kasar ke sofa yang ada di sampingnya.
"Bajingan! Lalu kenapa kau mengambil mahkota ku jika kau tetap bermain dengan para jalang itu?!" bentak Jasmine lalu pergi ke meja kerjanya.
Sedangkan Reza hanya terkekeh saat Jasmine mematikan telfon itu. Reza berjalan ke kamarnya sembari mencoba menelfon Jasmine kembali.
"Apa?!" bentak Jasmine ketika ia menerima panggilan itu.
"Aku ingin meminta mu menanda tangani surat untuk aku poligami." Jawab Reza.
"Bajiangan!"
To be continued
__ADS_1