
🌬️Reza
Setelah selesai menghadiri rapat dengan beberapa klien kalot, aku bergegas pulang berharap bisa berendam air panas. Rasanya letih sekali, terlebih hari ini aku belum mendengar sama sekali tangisan dan rengekan manja dari putra putri ku.
Ketika pintu penthouse ku terbuka, suara tawa dan kekehan manis langsung menyambut membuat hatiku menghangat seketika. Itu suara anak-anak ku yang sedang bermain bersama wanita yang menjadi ratu di hatiku.
"Assalamualaikum...." Ketiganya seketika menoleh, membuat senyuman ku semakin melebar.
"Papa!" Pekik Aera bangkit ingin berlari ke arahku, namun dengan sigap langsung di hadang oleh Jasmine, istriku.
"Papa belum mandi."
"Jagain adiknya bentar ya, mama mau nyiapin air mandi papa dulu." Ucapnya lalu mencium pipi gembul itu.
Di kamar, aku sedang menunggu Jasmine mengisi bathup dengan air hangat.
"Za, ayo mandi!" Teriaknya membuat senyum ku terbit.
Hampir tiga tahun dia menjadi istri ku, namun cinta ku sama sekali tak berkurang untuknya. Justru cintaku padanya semakin besar.
Aku melepaskan seluruh pakaian ku, melemparnya ke sembarang arah tanpa memperdulikan keranjang cucian yang tersedia di dekat lemari. Dan hanya menyisakan ****** ***** yang menampakkan Missile yang kepalanya mengintip di paha dalam ku, dan dengan segera ku bereskan. Sungguh beresiko jika Jasmine melihatku seperti ini.
"Hei apa yang kau lakukan!" Pekiknya ketika aku memasuki kamar mandi.
"Aku ingin mandi, masa pakai pakaian?"
Sepertinya dia lelah hari ini, itu terlihat bagaimana dia mencoba bersabar tidak ingin ada perdebatan. Sudah puluhan kali aku menyarankan agar Aera dan Arsenio di sewakan nanny. Namun Jasmine menolak dengan keras.
"Ada apa?" Tanyaku merengkuh pinggangnya.
__ADS_1
"Memangnya ada apa?" Jawabnya pura-pura tidak mengerti.
"Mine. Katakan ada apa? Kau terlihat sangat lelah."
"Itu hal yang wajar. Nio sedang aktif aktifnya bermain." Jemari tangannya mengusap dada ku, matanya terpejam sebisa mungkin aku menyalurkan kehangatan.
"Apa aku per-"
"Tidak, Nio dan Aera adalah tanggung jawab ku." Balasnya cepat tidak ingin di bantah. Tak pernah lelah rasanya ketika menawarkan ini terus menerus.
"Baiklah, tapi masalah dapur aku akan menambah satu pelayan untuk itu."
Terlihat dia akan protes, namun langsung aku bekap bibir cerewetnya dengan bibir ku. Ah rasa manis itu sama sekali tidak berubah.
"Sayang...." Jarang-jarang aku memanggilnya begini.
"Aku menikahi mu untuk menjadi ratu di rumah ku, bukan menjadi pelayan. Tugasmu cukup mengurus aku dan anak-anak, sudah itu sudah lebih dari cukup." Ujar ku setelah tautan bibir kami terlepas.
"Dan aku ingin kita menjadi bagian terpenting dalam hidup mereka, menjadikan dirimu sebagai guru hidup mereka. Aku tahu mine, aku tahu... Tapi aku tidak tega melihat mu setiap malam merasa kelelahan, kekurangan tidur, bahkan-"
"Aku bahagia Za, dengan melihat mereka tersenyum di pagi dan malam hari, itu menjadi kebahagiaan untukku sendiri." Selanya lalu mencium pipi kiriku.
"Bahkan dalam lima tahun ke depan rasanya aku ingin-"
Aku langsung membekap mulutnya, menyesap dalam bibir dan mengulurkan lidahku dan di sambut dengan lilitan lidah hangat dan lembut miliknya.
"Tidak, mereka saja sudah cukup. Aku tidak rela melihat mu kesakitan seperti itu, aku masih ingat bagaimana milikmu di jamah dokter sialan itu." Dengusku tidak terima.
Jika di ingat-ingat kembali, dokter yang sudah lancang memasukkan jemarinya di milik Jasmine, sungguh membuat otak ku mendidih. Masih terasa segar di ingatan ku bagaimana jemarinya memasuki milik istriku yang bahkan saat itu aku belum pernah menaruhnya di sana. Cih, jika saat itu dokter kenalan Jerry tidak hadir, aku sudah membuatnya mati di tempat.
__ADS_1
"Aku sudah sehat za,"
"Aku tidak menerima alasan apapun. Ini tidak boleh kembali melebar untuk mengeluarkan bayi-bayi mungil kita lagi."
"Jadi kalau benih orang lain boleh?" Godanya dengan wajah tengil.
"Kau mau selingkuh?!" Tanya ku dengan nada meninggi, otak ku langsung mendidih memikirkannya.
"Tidak berca- ahhh apa yang kau lakukan?" Tanya nya.
Aku tidak peduli apa yang dia katakan. Dengan ringan aku mengangkat tubuhnya, menggendongnya lalu memasukkan tubuhnya ke bathub yang bahkan bisa menampung tiga orang dewasa.
"Aku baru saja mandi, hei! Anak-anak, jangan lupa mereka-Ouhhh za he-hentikan aku astaga...." Haha apa yang kau rasakan hm?
"Dia sudah agak mengendur ya?" Tanya ku ******* ***** dadanya yang sungguh pas di telapak tangan ku.
"Hei ratuku, ayo biar pelayan rendah ini melayani mu." Ucapku sebelum menggeranyangi tubuh nya.
Baru saja aku menurunkan ****** ********, Aera sudah berteriak teriak memanggil di depan kamar mandi. "Papa! Mama! Adik haus katanya!" Pekik Aera menggedor pintu.
Astaga nak, jika aku tidak menyayangi mu sudah ku buang kau ke Amazon.
"Sayang, Mama masih mandi." Jawab ku sekenanya.
"Za!"
"Main sebentar saja, ayolah... Sudah keburu bangun!" Bisik ku menggosokan Missile di perutnya yang rata, aku benar-benar tidak berharap perut rata itu kembali menggelembung. Cukup, aku trauma.
"Ma!"
__ADS_1
Bersambung...
Bingung akutuh, akun aku kemarin dinyinyir sama si kakak. Katanya gak penting akun banyak-banyak, jadi dari pada dia ngomel terus aku hapus akun untuk nulis di sebelah. Karma kali yak? Hahah, mau lanjut di sini takut di omel reader.