Mr. Sargeant

Mr. Sargeant
Chapter 36


__ADS_3

Seorang pria paruh baya dengan setelan lengkap duduk di sofa ruangan Reza. Kedua manik mata yang telah melihat berbagai belahan dunia kini menyapu ruangan cucunya itu. Reza sama sekali tidak peduli dengan keberadaan kakeknya, yang ia pikirkan hanyalah cepat mengerjakan tugasnya dan pulang menemui sang istri.


"Kemana Jasmine? Apa dia tidak masuk kantor hari ini?" tanya Tuan Handrick menatap cucu pria satu-satunya, cucu yang selalu ia banggakan karena prestasi Reza yang selalu menyanjung dirinya.


"Tidak." ucap Reza menutup berkas yang baru saja ia cek dan beralih ke berkas-berkas lainnya. Tuan Handrick hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat seberapa kompeten cucunya itu.


"Gunakan waktu mu untuk bersantai sedikit, jangan seperti orang yang kesetanan seperti itu jika bekerja." ucap Tuan Handrick menasehati Cucunya. Reza tidak perduli dengan perkataan kakeknya dan melanjutkan pekerjaannya dengan cepat.


"Kenapa Cucuku itu tidak bekerja? Kan sudah aku katakan padamu jangan menyiksanya dengan pekerjaan yang berat!"


"Yang pertama, bukan hanya dia cucu mu tetapi aku juga cucu mu. Dan yang kedua, aku tidak menyiksanya dengan pekerjaan yang berat, aku hanya menyiksanya dengan rasa nikmat sepanjang malam kemarin." Reza melirik tuan Handrick dengan seringai licik di bibirnya. Kakeknya itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya ketika mendengar jawaban Reza.


"Bajiangan ini! Bagaimana rasanya?" Ucap Tuan Handrick mencoba menggoda cucunya. Ia tahu betul itu pertama kali bagi Reza melakukan hubungan intim kepada wanita karena Reza memang paling anti jika ada wanita yang menggelayut manja di sisinya seperti koala.


"Sudah tua, mesum pula."


"Hei, hei! Sejak kapan kau mulai berkata seperti itu kepada ku? Tidak ku jadikan ahli waris baru tahu kau." Reza menatap sekilas kepada kakeknya dengan alis terangkat sebelah seperti mengejek kakeknya itu.


"Tinggal jawab saja bagaimana rasanya?"


"Jika mau tau, pergi dan bermainlah bersama nenek, aku sedang banyak pekerjaan."


"Pasti kau sangat buruk melakukannya, kasihan sekali cucu ku itu, punya suami tapi tidak bisa memberikan sesuatu--"


"Aku melakukannya sampai cucu kesayangan mu itu tidak bisa berjalan." potong Reza, Kakeknya langsung tergelak ketika mendengar perkataan mesum Cucunya, ia tidak menyangka seorang Reza yang terkenal dingin nan galak mengungkapkan rahasia private kepada dirinya.

__ADS_1


"Baiklah, aku ingin bertemu dengan gadis ketus itu. Kau pasti sudah tahu tujuan ku ke Indonesia bukan?" tanya Tuan Handrick.


"Ya pergilah." ucap Reza lalu menghubungi Gilang yang berada di mejanya yang tepat berada di luar ruangan pria narsis itu.


"Gilang, cancel semua rapat dan atur ulang jadwal ku besok."


"Dasar anak ini, kau mau apa?! Perusahaan sedang membutuhkan pemimpin dan kau justru ingin lari? Selesaikan dahulu pekerjaan mu, setelah itu terserah kau mau apa."


"Aku hanya ingin berada di samping Jasmine saat dia terpuruk, aku juga tidak bisa membayangkan bagaimana reaksinya jika mengetahui keadaan perusahaan ayahnya." Batin Reza namun dengan santainya ia berjalan menuju ke arah kakeknya sembari merapikan setelan jasnya.


"Dasar bedebah sialan!" Tuan Handrick mengikuti Reza keluar dari ruangan itu.


...🍃🍃🍃...


"Apakah mereka akan berpisah untuk selamanya? Dan endingnya menyakitkan?" tanya Ayana dengan memeluk bantal sofa di ruang tengah.


Drama itu tengah menampilkan adegan romantis pemeran utama, teriakan histeris para wanita di ruang tengah itu meledak ketika hampir sampai di penghujung drama dimana bibir sang MC bertautan. Lunna mempercepat gerakan mangunyahnya karena gemas dengan adegan yang di tonton, Ayana hanya bisa menggigit bantal sofa yang di peluknya, sedangkan Jasmine menghindari melihat adegan itu.


"Mine, kenapa kau tidak bekerja? Apa kau sakit?" tanya Lunna ketika film yang mereka tonton telah usai.


"Tidak."


"Lalu kenapa kau tidak bekerja?"


"Kemarin Kak Reza telah mencetak gol." ucap Ayana keceplosan, saat ia menyadari keteledorannya ia menatap memelas kepada Jasmine yang menatap tajam kepadanya.

__ADS_1


"Mencetak gol apa? Kenapa jadi Jasmine yang terkena imbasnya." Belum lagi Jasmine membuka bibirnya untuk berbicara, seseorang tengah memencet bel pintu apertemen mereka. Dengan cepat Ayana pergi membukakan pintu.


"Siang Nona, maaf terlambat datang apa kau sudah siap?" tanya dokter Aditya saat memasuki ruangan itu.


"Apakah bisa hari ini di cancel saja? Latihan itu sangat sakit, bahkan sampai sekarang aku masih tidak bisa berdiri sendiri." Keluh Lunna.


"Jika kau mau lumpuh seumur hidup mu silahkan, aku akan kembali ke rumah sakit, masih banyak orang yang membutuhkan ku di sana." ucap dokter Aditya lalu


"Eh! Tidak-tidak, Lunna kau ini berbicara apa?! Cepat ayo kita latihan, aku akan menemanimu."


"Nona! Bukan kah itu mu masih nyeri? Jangan memaksakan diri, aku dan kak Renata sudah cukup menjaga Nona Lunna." Jasmine menatap tajam ke arah Ayana, sedangkan semua orang yang berada di sana menatap bingung kepada dua makhluk di hadapannya.


Saat mereka masih berdebat, pintu apertemen itu kembali terbuka. Tampak seorang pria bertubuh kekar yang di susul seorang pria tua dari pintu. Lunna langsung menyikut lengan Jasmine untuk mendapatkan perhatian kakak iparnya itu, namun tidak di gubris sama sekali oleh Jasmine. Kesal, Lunna langsung mencubit perut Jasmine membuat kakak iparnya itu refleks menatapnya.


"Apa?!" bentak Jasmine dengan suara berbisik.


"Kenapa mereka datang kesini? Terlebih kakek tua itu, aku harap Kak Reza dan dia tidak memperebutkan mu." Jasmine dan Lunna menatap pada kedua orang yang tengah tersenyum kepada mereka dengan pandangan yang aneh.


"Siapa dia Nona?" tanya Ayana berbisik kepada Jasmine dan Lunna.


"Pria tua posesif." jawab Lunna dan Jasmine bersamaan tanpa menoleh ke arah Ayana, ingin rasanya perawat satu ini mengambil ponselnya lalu memotret kedua manusia di hadapannya. Namun ia masih butuh uang untuk bertahan hidup dan tidak di pecat oleh kedua Nona besar yang pasti akan berimbas dengannya di rumah sakit.


"Nasib menjadi bawahan!" pekik Ayana dalam hati yang tengah menangis pilu.


"Hay cucu-cucu manis ku." Sapa Tuan Handrick berdiri di samping dokter Aditya.

__ADS_1


"Hay, kau pasti dokter yang bertugas menangani kelumpuhan cucu manja ku itu bukan? Jika kau teledor sedikit saja maka akan aku pecat kau dari pekerjaan mu, dan ku asingkan di pulau terpencil." Ancam Tuan Handrick membuat Lunna, Jasmin, dan Reza menggelengkan kepalanya. Sedangkan dokter Aditya, Ayana dan Renata hanya terdiam mencerna perkataan pria tua itu.


To be continued.


__ADS_2