
"Tentu saja, mari." ucap pria berparas blasteran itu dengan ramah. Mereka berdua berjalan beriringan menuju ke aula, namun tidak ada percakapan sedikit pun yang lolos dari bibir keduanya hingga sampai ke aula.
"Baiklah, saya tinggal mbak."
"Ya, Terima kasih." Setelah pria itu pergi, Jasmine langsung menatap ke arah sekitar mencari keberadaan suaminya. Namun hasilnya nihil, Jasmine sama sekali tidak menemukan Reza di aula.
"Bu maaf, lihat Reza tidak?" tanya Jasmine kepada salah seorang ibu penjaga panti.
"Oh, abis balik dari taman tadi Den Reza ke parkiran mbak. Lah Embaknya dari tadi kemana toh? Awas loh Mbak suaminya, nanti di curi kucing liar." setelah mengatakan hal itu, wanita paruh baya di hadapan Jasmine langsung tergelak.
"Di curi kucing? Ikan kali Yan." jawab seorang wanita paruh baya yang duduk di samping Jasmine.
"Mbok pikir dulu toh Wi, Den Reza itu wes ganteng, mapan, dermawan juga dia itu penyayang. Sopo toh yang gak suka sama Den Reza, kalau aku masih muda yah Wi, Mbak Jasmine ini wes tak tikung."
"Iya kalau Nak Reza mau sama kamu Yan." ucap penjaga lainnya lalu tergelak bersama. Jasmine yang kurang nyaman berada di lingkungan itu langsung pamit untuk menyusul Reza.
"Kau kemana saja." Panggil Jasmine saat dirinya sampai ke parkiran panti itu menyusul sang suami. Reza hanya menatapnya sekilas kearahnya lalu kembali berbicara dengan lelaki di hadapannya.
"Bukan kah kau gadis yang tadi?"
"Ya." ucap Jasmine singkat namun tersenyum untuk menghargai pertolongan pria itu. Reza yang melihat interaksi kedua manusia di hadapannya hanya terdiam dengan wajah dinginnya.
"David Chris." pria itu menyodorkan tangannya untuk berkenalan dengan gadis cantik di hadapannya.
"Jasmine." Balas Jasmine dengan tersenyum. Gemuruh hati makin membara di hati Reza, jauh di dalam lubuk hatinya Reza merasa tidak terima jika Jasmine memperlakukan pria lain dengan manis seperti itu, padahal Jasmine hanya membalas uluran tangan pria itu. Untuk sesaat Jasmine menatap intens ke wajah David yang tengah tersenyum kepadanya, membuat Reza semakin kesal setengah mati.
Reza meninggalkan kedua manusia itu dan langsung baik ke dalam mobilnya, dengan kasar Reza memencet klaksonnya agar Jasmine masuk ke dalam.
"Maaf, duluan yah." Jasmine langsung memasuki mobil Reza. Wajah suaminya itu tampak datar tanpa ekspresi sama sekali, padahal Reza kini tengah memendam amarah di dalam dadanya.
"Ini." Jasmine menyerahkan kembali handphonenya kepada Reza. Lelaki itu langsung mengambil ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku celananya, wajahnya tampak dingin dan datar namun Jasmine tidak terlalu memperhatikannya.
__ADS_1
"Apa kau senang berkenalan dengan pria kembali?" tanya Reza memecah keheningan di antara mereka.
"Maksud mu?"
"Bukan kah kau sangat senang jika berkenalan dengan para pria, terlebih jika pria-pria itu adalah lelaki tampan seperti impian mu. Kau tahu, kau itu seperti wanita murahan." ucap Reza menaikkan kecepatan mobil mereka.
"Maksud mu apa?!" bentak Jasmine tidak terima. Reza tidak menggubris perkataannya, justru menambah kembali kecepatan mobil mereka, untung jalanan itu sedang sepi.
Setelah makan siang, mereka berdua langsung menuju pulang karena sudah lelah. Terlebih Reza,
"Kalian dari mana saja?!" tanya Jasmine saat memasuki apertemen.
"Maaf Nona, mendadak kami di suruh dokter Aditya untuk pulang saat kami melewati taman kota. Saya juga tidak tahu karena apa." jawab Ayana dengan menundukkan kepalanya.
"Tidak apa."
Jasmine memasuki kamar Lunna yang terlihat sangat kacau, bukan hanya kamarnya, Lunna juga terlihat tak kalah kacaunya dengan keadaan kamar itu. Mata gadis itu sembab, hidungnya memerah dengan Isak tangis yang belum mereda.
"Kau kenapa?" tanya Jasmine duduk di
"Aku menyesal datang kemari." ucap Jasmine lalu bangkit dan menuju ke kamarnya kembali.
"Ngambekan banget sih. Ya sudah pergi sana, semua orang memang seperti bajingan!" teriak Lunna. Jasmine yang tadinya telah bangkit dari ranjang Lunna kini mendudukkan kembali tubuhnya ke hadapan sepupunya itu.
"Kau kenapa?" tanya Jasmine.
"Di taman tadi aku melihat kak Dika jalan berdua dengan seorang wanita, dia terlihat sangat bahagia, bahkan dia mencium pipi gadis itu di depan umum." bukannya turut prihatin Jasmine justru tergelak saat mendengar curhatan Lunna.
"kan sudah aku katakan, Dika mu itu sudah punya kekasih. Sudah jangan menangis dan teriak-teriak, sayang tuh laki-laki di samping mu menganggur." ucap Jasmine lalu pergi ke kamarnya.
...🍃🍃🍃...
__ADS_1
Jasmine terbangun saat fajar tengah menyapa, dengan cepat gadis itu lompat dari tempat tidurnya dan berlari menuju kamar mandi. Sedangkan seseorang yang berada di depan kamar Jasmine tengah memakai dasi dengan wajah datar seperti hari-harinya di kantor.
"Pak, ini proposal dari---"
"Letakkan saja, keluar lah!" potong Reza dingin. Jasmine yang merasa ada kejanggalan hanya mengangguk dan mengiyakan perkataan Reza.
"Hai cantik apa kabar." sapa Gilang.
"Menyingkir lah, dasar bajingan tidak tahu malu." hardik Jasmine begitu menusuk hati Gilang.
"Hei kau masih marah dengan kejadian kemarin? Ayolah saat itu pun kau sangat menikmatinya."
"Jangan sampai hidung ku itu aku patahkan kembali."
"Baiklah, santai sayang." Jasmine tidak mendengarkan perkataan Gilang lagi, pikirannya kini tengah melayang jauh menjelajahi dunia halusinasinya berfikir keras Reza bersikap sangat dingin kepadanya, padahal kemarin pria itu selalu ingin di perlakukan manis olehnya.
Dan hari ini, Reza sama sekali tidak ingin di bantu oleh Jasmine, bahkan hal kecil seperti mengcopy dokumen ia lakukan sendiri. Kejanggalan makin terasa saat rapat dengan para klien mereka di restoran saat jam makan siang. Reza biasanya selalu mengajak Jasmine makan siang bersama selepas rapat atau pertemuan dengan klien, tapi hari ini Reza justru memberikan kartu kreditnya kepada Jasmine agar istrinya dapat makan dan kembali ke perusahaan menggunakan taksi.
"Reza." panggil Jasmine mengetuk pintu kamar suaminya itu.
"Masuk! Ada apa?" tanya Reza dingin, tangannya memegang kancing jasnya yang tersangkut, namun ketika melihat Jasmine masuk, Reza ingin langsung menarik kancing kasar bajunya itu.
"Hei, jangan di paksa nanti kancingnya lepas, mari." ucap Jasmine mendekati Reza yang berwajah datar namun mata penuh kilatan kemarahan.
"Apa peduli mu?"
"Bukan kah aku istri mu, bukan kah tugas istri melayani suaminya."
"Apa kau pernah, menganggap ku sebagai suami mu? Kau sendiri bukan yang mengatakan kau tidak pernah menganggap pernikahan ini benar terjadi."
"Deg!" jantung Jasmine seakan berhenti berdetak ketika mendengarkan perkataan Reza, Jasmine yang memiliki tempramen buruk, kini mencoba untuk mengontrol emosinya.
__ADS_1
"Jadi kau marah karena aku mengatakan hal itu kemarin?" tanya Jasmine mengusap lembut wajah Reza yang di tumbuhi bulu itu.
To be continued