
"Mau tidak? Seorang istri yang menolak ajakan suami untuk berhubungan, maka saat ia tertidur malaikat tidak akan berada di sisinya jika ia hendak tertidur, dan akan di laknat hingga fajar tiba. Mau?! Dosanya besar tau." Ucap Reza panjang lebar.
"Tuan Alexander yang terhormat, apa anda lupa dua minggu yang lalu meminum minuman keras? Dan meniduri banyak wanita seenaknya?"
"Itu beda lagi, aku waktu itu khilaf." Ucap Reza entengnya.
Jasmine memutar bola matanya malas. "Ada khilaf hingga tiga tahun lamanya?"
Reza tidak memperdulikan ocehan Jasmine dan berlalu mencari sesuatu di meja yang berisi buku dan segala perlengkapan alat tulis yang dulu istrinya gunakan untuk belajar. Ketika mendapatkan apa yang ia inginkan, Reza kembali duduk di samping Jasmine, tentu saja setelah ia mengobrak-abrik meja belajar gadis itu.
"Kau benar mau melanjutkan pernikahan ini?" Tanya Reza membuka buku yang diambilnya tadi.
"Lihat saja kedepannya, apa yang akan terjadi. Jikapun ini memang keinginan terakhir untuk Papa yang bisa aku turuti, apa salahnya mencoba." Ucap Jasmine dengan santainya. Hanya dirinya dan Tuhanlah yang mengetahui rasa sesak di dadanya ketika mengatakan itu.
"Bagiku pernikahan adalah sebuah ikatan yang sakral. Kau tidak bisa seenaknya mengatakan 'mencoba'. Itulah alasan kenapa aku tidak pernah berfikir untuk merebut Dara dari tangan pria yang telah menikahinya."
"Masih terbelenggu dengan masa lalu, hah?" Tanya Jasmine dengan sinisnya.
"Hanya karena wanita melupakan janji pada Opa. Meminum alkohol dengan santainya, melakukan zina dengan bebasnya. Kau bukan hanya mempermalukan diri mu sendiri, namun kau juga mempermalukan keluarga dengan kelakuan bejat mu."
Reza mencerna baik-baik perkataan sepupu yang kini telah sah menjadi istrinya, hingga tak terasa bibirnya berucap dengan sendirinya. "Maaf aku telah lupa, hati tertutup dosa. Keangkuhan begitu terasa, hingga melupakan pencipta. Hanya untuk hambanya yang berdosa."
"Tapi semua orang memiliki dosa, baik kecil maupun besar. Kau tidak ingat kau pun pernah hampir merusak mahkota mu jika tidak ku pergoki?" Lanjut pria itu.
"Hampir!" Tegas Jasmine meskipun didalam hatinya merasakan malu yang amat sangat besar.
"Baiklah bagaimana jika kita membuat kesepakatan. Aku bebas kau juga bebas, tenang aku tidak akan menuntut mu apa-apa. Punyamu rata." Ucap Reza menunjuk dada Jasmine yang terbungkus switernya. Munafik, itulah Reza. Padahal tadi ia sampai berperang dengan otak mesumnya ketika melihat bra Jasmine yang memiliki ukuran yang cukup waw untuk seorang perawan.
Jasmine berdecak kesal ketika mendengar ejekan suami laknatnya ini. "Heh, setidaknya dada ku ini tidak seperti para ***** mu yang sudah jatuh kebawah karena sering di buat mainan."
"Apa lagi yang kau inginkan?" Tanya Reza mencatat perkataannya tadi.
Jasmine meraih buku yang menjadi alas untuk tinta Reza menulis, setelah menarik paksa buku itu, Jasmine langsung memukuli kepala Reza dengan brutal.
"Sudah, hei, sudah Mine!" Pekik Reza karena merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Jika kalian menganggap pukulan Jasmine adalah seperti sebuah pukulan manja seorang gadis pada boyfriendnya maka kalian salah besar, Jasmine adalah tipe gadis sadis yang hanya akan menyerang seseorang jika ia merasa orang yang mengganggunya benar-benar menjengkelkan. Dan lihatlah sekarang gadis itu bahkan gadis itu menjambak rambut Reza hingga membuat pria itu merasakan kulit kepala dan rambut hitam lebatnya akan terpisah.
Ingin sekali Reza menghentikan tingkah liar istrinya, bagaimana tidak liar? Gadis itu bahkan sudah dengan santainya duduk di atas pangkuan Reza. Namun pria itu hanya bisa pasrah karena jika ia terus memberontak pasti Jasmine akan semakin menggila. Saat ingin menghentikan tingkah liar Jasmine, ponsel gadis itu berdering. Dan dengan segera Jasmine meletakkan jari telunjuknya yang lentik di bibir Reza.
"Ada apa Tante?"
Oooo_oooO
Jasmine kini tengah duduk di bangku tunggu ruangan ICU (intensive care unit) sembari memeluk erat Ibunya Reza yang tak lain adalah Tante dan juga ibu mertua gadis itu. Sudah empat jam lamanya pintu operasi itu tertutup dengan dua dokter andalan dan beberapa suster pembantu.
"Tenanglah Angel, semua akan baik-baik saja, hm?" Ucap wanita paruh baya itu dengan mengusap lembut punggung Jasmine.
Ceklek...
__ADS_1
Semua pasang mata kini tertuju pada seorang pria yang baru saja membuka maskernya.
"Operasi pasien berjalan dengan lancar dan tidak ada hambatan. Untuk saat ini, kita hanya perlu menunggu Mr. Devano Cerdic untuk sadar." Ucap pria berjas putih itu membuat tangis Jasmine pecah. Gadis itu memeluk erat tubuh Ibunya Reza, menyalurkan rasa bahagia, sedih, dan juga lega.
"Sudah, sudah selesai." Bisik ibunya Reza menenangkan Jasmine.
"Maaf, kira-kira kapan Paman saya sadar?" Tanya Reza to the poin.
"Otak manusia itu kompleks dan rumit, saya tidak bisa memastikan kapan mereka akan siuman."
"Baik, kalau begitu terima kasih." Ucap Reza sebelum pria paruh baya itu melangkah pergi.
Malam semakin larut, namun Jasmine bersikeras untuk tetap menjaga ayahnya hingga pria itu siluman. Mau bagaimanapun menasehati Jasmine, itu akan percuma. Keras kepala gadis itu tak ada yang bisa menandingi lagi.
"Son, jaga ! Baba kembali ke rumah Amca mu dulu. Anne mu sudah sangat kelelahan." Pesan ayahnya Reza dan hanya di angguki Reza.
"Tanpa disuruh juga pasti akan Reza lakukan Ba." Ucap Reza mengambil bungkusan makanan yang ada di tangan ayahnya.
"Hello kuzen, oh no! Hello my wife?" Sapa Reza membuat Jasmine jengah.
"Dari siang kau belum makan, nanti saja ngocehnya." Reza menatap Jasmine yang hanya diam dan tetap menggenggam erat tangan keriput Papanya.
"Semua akan baik-baik saja, Amca hanya perlu istirahat sejenak untuk membayar perjuangannya yang panjang tadi." Pria itu mengusap dengan lembut pucuk kepala Jasmine hingga bahu gadis itu bergetar.
"Sudah, semuanya sudah selesai. Amca baik-baik saja." Bisik Reza sekali lagi.
Dan kini, ada satu sudut pandang lagi yang melihatnya. Sudut pandang dari seorang istri, Jasmine belum bisa memastikan kata apa yang akan dipilihnya untuk melukiskan suaminya ini.
Oooo_oooO
"Aku sudah sembuh, pergi. Aku mau anak gadis ku kembali!" Ucap Devano dari tadi ketika melihat anak gadisnya tertidur di pelukan hangat seorang pria.
"Astaga Amca yang benar saja. Belum 24 jam dia jadi istri ku, kau mau merebutnya?" Tanya Reza dengan tangan bersedekap.
"Sayang, lihatlah dia...." Adu Papanya Jasmine pada Sevda, ibunya Jasmine.
"Heh! Yang kemarin ngebet minta anaknya dikawinin siapa?" Omel ibunya Jasmine menarik gemas telinga suaminya yang sedang duduk lemas di ranjang mewah rumah sakit.
"Itu aku khilaf, pikirkan ku bawaannya mau mati aja. Dari pada anak gadis ku gak ada yang wakilkan, ya udah a... Aw sakit yang!" Teriak Devano saat telinganya di terik sang istri dengan lebih kuat.
"Hai cucu Opa." Sapa seorang pria tua yang baru saja memasuki kamar rawat inap itu.
Reza langsung berhambur ingin memeluk pria tua itu namun dengan cepat Opanya Jasmine itu memeluk Jasmine. "Aku juga cucu Opa!" Rajuk Reza ketika Jasmine dipeluk erat oleh Papanya.
"Gak malu udah besar minta peluk." Sindir Opa mereka dengan sinisnya.
"Badan tingginya kaya tiang tower, badan besar tapi minta peluk, gak malu?" Lanjut pria itu membuat semua orang menertawai Reza.
__ADS_1
"Heh pria tua, jangan peluk-peluk putri ku!" Ucap Devano dengan posesifnya.
Opa mereka menghembuskan nafasnya kasar "Kalau gak ada kecebong ku, kau memang bisa menggelantung kaya monyet sama anak ku, heh?"
"Kalau gak ada benih ku yang jebol Sevda emang cucu gadis mu itu ada?" Tanya Devano tak mau kalah.
"Disini aku suaminya, kedudukan suami bagi istri lebih tinggi dari pada orang tuanya." Ucap Reza menengahi.
Oooo_oooO
Hari ini Papa Devano sudah diperbolehkan pulang setelah perdebatan panjang dengan pihak rumah sakit.
"Iya, dua atau tiga hari lagi gue juga bakal balik." Ucap Reza santai sembari meneguk soda kalengan ditangannya.
Jasmine keluar kamar mandi dengan hanya mengenakan celana jeans diatas lutut, dan baju lengan panjang yang sayangnya tidak bisa menutup pusar gadis itu. Tak lupa dengan handuk yang melilit di kepalanya membuat gadis itu... Ah sudahlah, mendeskripsikan isi pikiran Reza yang rumit hanya akan berujung pada stress yang berkepanjangan.
Jasmine mengambil laptopnya lalu berjalan menuju balkon. Ketika melihat Jasmine menggeser pintu kaca itu, Reza langsung membereskan laptopnya dan segera menghampiri Jasmine.
"Mine? Kau sedang apa!" Tanya Reza ketika melihat istrinya memainkan jari lentiknya di atas keyboard dengan beberapa lembar kertas yang ada di pangkuan gadis itu.
"Ah, tidak." Ucap Jasmine segera menutup layar laptopnya lalu membereskan kembali kertas-kertas yang berserak itu.
"Mine, ada yang perlu aku sampaikan." Ucap Reza ikut menutup pagar laptop yang ia ada di meja bundar itu.
Jasmine yang sedang menikmati pemandangan indah tamannya langsung menoleh "Ketakan saja."
"Chika hamil." Mendengar perkataan itu, Jasmine langsung tersedak salivanya.
"Bedebah gila!" Jasmine langsung melayangkan tinjuannya di dada bidang milik Reza. Bukannya Reza yang meringis, justru gadis itulah yang merintih.
"Shit!" Umpat Jasmine merasakan baku tangannya memanas. Reza yang sebenarnya ingin mengaduh kesakitan, namun dengan sekuat tenaga ia tahan karena melihat wajah kesal Jasmine.
"Lagian sih belum selesai ngomong udah di potong aja. Chika hamil bukan anak aku. Aku selalu pakai pengaman, gak pernah bocor sekalipun." Ucap Reza santai.
"Masa sih? Para ***** mu itu bagaimana nasibnya? Apakah juga selalu pakai pengaman?" Tanya polos.
Reza sontak tertawa mendengar pertanyaan Jasmine. Dengan gemas pria itu menarik hidung Jasmine hingga gadis itu hampir kehabisan oksigen. Jasmine yang memang anti disentuh seperti itu selain Papanya langsung menepis tangan kekar yang berulah itu.
"Aku gak pernah yang namanya pakai jalang buat di tiduri, pernah sih tapi itu dulu sebelum Chika lempar diri dengan suka cita." Jasmine yang mendengar perkataan Reza langsung naik pitam, bukan karena ia cemburu, no! Itu hanya karena Chika merendahkan dirinya sendiri, membuat para kaum hawa lainnya malu ketika mendengar itu.
"Terus kenapa berhenti?! Udah puas sama Chika mu itu?!" Sinis Jasmine.
"Tidak, seminggu setelah aku meniduri salah satu jalang yang ada di club mengaku mengandung anak ku. Tidak masuk akal, benih kecebong itu akan tumbuh dalam janin ketika satu minggu masa pembuahan, dan saat dia mendatangi ku ia bilang anaknya sudah dua minggu." Kesal Reza ketika mengingat kejadian bertahun-tahun silam.
Reza kembali menatap Jasmine uang sedang menikmati alunan angin yang menyejukkan, perlahan pria itu mendekatkan wajahnya dengan wajah sang istri. Semakin lam semakin dekat, hingga....
To be continued
__ADS_1