Mr. Sargeant

Mr. Sargeant
Chapter 26


__ADS_3

Jam telah menunjukkan pukul sebelas malam. Setelah Ayana pulang ke rumahnya, Reza menunggu Jasmine di sofa ruang tengah. Namun hasilnya nihil, Jasmine belum pulang hingga sekarang. Pria itu memutuskan untuk menunggu di kamar istrinya. Dan betapa terkejutnya ia saat mendengar suara percikan air dari kamar mandi Jasmine.


"Bodoh sekali, aku menunggunya semalaman tetapi dia sedang berada di kamarnya." Ucap Reza lalu merebahkan tubuhnya ke ranjang Jasmine. Pria itu hanya menggunakan boxer mengekspos perut sixpacknya dan otot-ototnya yang kekar.


"Dari mana saja kau?" tanya Reza saat Jasmine keluar dari kamar mandinya. Gadis itu hanya diam, matanya sembab bahkan membengkak, hidung mancungnya memerah karena menangis berjam-jam di kamar mandi.


"Apa kau bisu?" ucap Reza dengan nada datar dan dinginnya membuat Jasmine kembali mengingat bayang-bayang ingatan di mana Reza selalu berkata manis dan dengan nada yang lembut jika dengan Ayana. Sampai saat ini Jasmine hanya terdiam dan menuju lemari pakaiannya, mengambil pakaian tidurnya lalu kembali masuk ke kamar mandi. Reza yang kesal karena mendapatkan perlakuan acuh tak acuh darinya langsung menyusul Jasmine.


"Brakkk!" Reza menendang pintu kamar mandi itu dengan sangat kuat, untungnya Jasmine sedang berada jauh dari pintu. Gadis itu tengah memakai branya dan hanya menatap pada cermin yang memantulkan bayangan tubuhnya, seakan tidak peduli dengan seseorang yang menatap intens dirinya.


Reza yang tadinya menatap Jasmine tanpa berkedip kini memalingkan wajahnya ke samping kanan, menghindari pandangan indah dari sang istri. Jasmine yang menyadari Reza tidak menatap kembali tubuhnya hanya di bisa tersenyum getir.


"Menatap tubuhmu saja dia tidak sudi!" batin Jasmine merasa hancur. Gadis itu berjalan cepat melalui Reza saat ia selesai memakai tanktop dan hot pansnya.


Lagi-lagi Jasmine itu melewati Reza seperti menganggap suaminya itu tidak ada di sana. Reza yang terus menerus mendapatkan perlakuan seperti itu darahnya menjadi mendidih. Reza keluar kamar mandi dengan mata tajam yang seakan bersiap menerkam mangsanya. Namun saat ia keluar, ia melihat tubuh istrinya yang terbalut selimut dari atas kaki hingga pucuk kepala. Terdengar suara isakan tangis dari balik selimut itu, Reza langsung menyibaknya hanya dengan sekali gerakan.


"Mine?" ucap Reza saat melihat jelas mata dan hidung Jasmine yang memerah sehabis menangis. Penampakan yang sama seperti gadis itu kehilangan ayah tercintanya satu bulan yang lalu.


Reza menyibak selimut itu dan membaringkan tubuhnya ke samping kanan. Mendekap erat tubuh istrinya, lalu mencium pundak Jasmine yang terekspos. Gadis itu hanya diam tidak menolak ataupun mengiyakan.

__ADS_1


Mereka berdua tidur di satu ranjang dengan Reza mendekap erat tubuh istrinya, namun kejanggalan di malam ini, Jasmine sama sekali tidak bergerak dari tidurnya, matanya hanya menatap kosong ke depan, hingga fajar menyapa.


Sebenarnya pria itu sangat ingin berbincang dengan Jasmine, bahkan ia merindukan pertengkaran-pertengkaran konyolnya bersama sang istri. Reza semakin erat mendekap tubuh Jasmine saat merasakan istrinya itu terisak. Apapun yang terjadi pada Jasmine saat ini, dirinya tidak ingin mengungkitnya malam ini, karena tahu bagaimana hancurnya perasaan Jasmine. Jika istrinya itu menangis hingga matanya sembab, itu berarti Jasmine sedang berada di masa sulit.


...🍃🍃🍃...


"Aya, terima kasih untuk kemarin malam. Maaf membuat mu terluka." Ucap Reza kepada perawat itu, Jasmine yang mendengar percakapan di antara keduanya hanya terdiam.


"Tidak masalah kak, aku justru senang." ucap perawat itu. Sedangkan Lunna hanya menjadi penonton, menatap wajah satu persatu manusia di hadapannya itu lalu menyikut lengan Dika yang berada di sampingnya dan memberikan sebuah isyarat melirik mereka lalu menatap kembali ke arah Dika. Dika yang di tanya hanya menggelengkan kepalanya lalu menyuapikan kembali makanan ke Lunna.


"Jasmine kau ikut dengan ku atau dengan Reza?" tanya Dika saat gadis itu menyelesaikan makanannya.


"Apa ini? Aku tidak pernah melihat mu tersenyum semanis itu kepada ku." ucap Dika lalu tertawa.


"Jika aku bilang akan menggoda mu ada yang cemburu tidak yah?" tanya Jasmine melirik ke arah Lunna yang saat ini sedang berkobar api di dalam dadanya. Mereka berdua tergelak saat melihat kilatan tajam dari mata Lunna. Mereka bertiga tidak sadar adanya kemarahan lain di ruangan itu, Reza menatap ke arah ketiganya sembari meminum air seperempat gelas dengan sekali teguk.


"Tak!" Reza menaruh gelas itu dengan emosi yang bergejolak di dalam hati. Dirinya yang tidak tahan akan kondisi ini langsung pergi meninggalkan mereka di sana.


"Ayana seperti pak Reza cemburu melihat mereka." bisik perawat yang mendampingi Ayana menjaga Lunna.

__ADS_1


"Entah lah, mengapa kita peduli dengan masalah mereka." ucap Ayana lalu melihat Jasmine dengan tersenyum, senyuman manis namun penuh kecemburuan di dalamnya.


Setelah sarapan tadi, Jasmine berangkat bekerja dengan Dika. Para staf yang melihat kejadian itu langsung heboh, mereka bahkan tidak pernah melihat Jasmine datang ke kantor karena dirinya selalu ikut dengan Reza yang tempat parkirannya di sediakan khusus untuk dirinya sendiri, bahkan petinggi perusahaan tidak di perbolehkan memarkirkan mobilnya di sana, sebab mereka memiliki tempat parkir sendiri.


"Kak Hanna." ucap Jasmine saat berada di toilet. Namun wanita itu tidak menggubris sapaan Jasmine dan mengabaikannya.


"Kak kau kenapa?" tanya Jasmine kembali, dan lagi-lagi Hanna tidak menjawab ucapan Jasmine.


"Jika kau tidak menjawab aku akan pergi." ucap Jasmine, dan saat gadis itu ingin beranjak keluar Hanna langsung mencegatnya.


"Kenapa kau bisa bersama pak Dika?" tanya Hanna membuat senyuman Jasmine mengembang.


"Ah kau cemburu? Jadi bagaimana dengan pangeran katak mu itu kak?" ucap Jasmine lalu terkekeh. Namun sesaat kemudian tawanya terhenti.


"Jangan bilang?" ucapan Jasmine menggantung dengan mulut terbungkam dengan telapak tangannya sendiri.


To be continued


Reza pun bodoh, masa gak punya insting untuk nenangin Jasmine terus di tanya kenapa istrinya bisa nangis. Pingin buang Reza ke laut, ke segitiga Bermuda sekalian!

__ADS_1


__ADS_2