
Jasmine dan Hardhan tengah bercengkrama di salah satu cafe yang cukup terkenal di Paris, sedangkan Jeniffer meninggalkan mereka berdua dan pergi ke kamar mandi. Tak jauh dari mereka berdua duduk seorang pria tengah menatap dengan tatapan kilatan kemarahan yang terpancar dari matanya. Ingin rasanya ia memukul keras wajah Hardhan dan menyeret istrinya dari tempat itu, namun itu ia tepis karena ia mendengarkan nasehat Jon tadi.
"Wanita itu paling tidak suka di kasari, jangan sekali-kali kau melakukannya kepada istri mu. Terlebih istri mu itu tempramental, datar, dingin dan kaku, sekali kau melayangkan tangan mu itu di tubuhnya, bersiap lah kau akan kehilangan dirinya untuk selamanya. Tahan emosi mu, mengerti!" ucapan itu seakan terus terngiang-ngiang di benak Reza.
Dengan langkah panjangnya ia berjalan menuju kedua manusia yang tengah asik bercengkrama itu. Reza menarik kursi kosong di samping Jasmine dengan kasar dan duduk di sana dengan tidak tahu malunya. Jasmine yang melihat seseorang di sampingnya langsung terlonjak, terlebih itu adalah suaminya yang telah membuatnya terbakar amarah sejak kemarin.
"Apa yang kau lakukan dengannya?!" tanya Reza bersedekap sembari menatap tajam ke arah Hardhan.
"Sedang apa kau di sini?!" tanya Jasmine dengan tatapan terkejutnya. Bagaimana tidak terkejut? Reza kemarin baru saja memanas-manasi dirinya dengan mengirim foto kepadanya dan sekarang? bagaimana bisa sekarang Reza berada di hadapannya.
"Kau masih bertanya aku sedang apa?! Apa aku harus diam saja melihat istri ku menggoda pria lain? Jawab!" bentak Reza. Hardhan yang menyaksikan hal itu ingin sekali merekam adegan di hadapannya, tetapi akal sehatnya masih bekerja, ia tidak akan melakukan hal konyol yang akan berdampak pada proyek yang sedang ia bangun bersama perusahaan Jasmine yang bernilai ratusan juta.
Jasmine hanya terdiam ketika Reza membentaknya tadi, wanita itu langsung pergi meninggalkan suaminya tanpa sepatah katapun. Reza yang melihat Jasmine pergi tanpa mengucapkan ataupun meladeni perkataannya langsung tersadar dan berdiri hendak mengejar istrinya.
"Kau yang mengajaknya makan bersama bukan? Bayar!" ucap Reza lalu berlari mengejar istrinya yang sudah sampai di parkiran.
"Jasmine berhenti!" seru Reza saat Jasmine hendak membuka pintu mobilnya. Jasmine tidak menghiraukan perkataan Reza dan hendak masuk kedalam mobilnya, namun belum dirinya masuk, Reza mencengkram erat pergelangan tangannya, menarik tubuh itu ke dekapannya dan tangan kirinya kembali menutup pintu mobil itu.
Reza menyandarkan punggungnya ke mobil mewah Jasmine dan mendekap istrinya agar tidak ada jarak di antara keduanya. Reza dan Jasmine bersitatap karena Reza mencengkram dagunya, kedua manusia itu saling menatap, Reza dengan tatapan lembutnya dan Jasmine dengan tatapan tajamnya. Perlahan Reza mengusap lembut pipi istrinya namun langsung di tepis oleh Jasmine, pria itu hanya tersenyum lalu menabrakkan bibirnya gemas ke bibir Jasmine, mengecupnya dengan lembut dan kasih sayang yang belum bisa ia utarakan. Jasmine menggigit bibir Reza karena masih sangat kesal dengan manusia di hadapannya.
Reza yang dari tadi gagal romantis terus menerus langsung berjalan memutar sembari menggenggam tangan istrinya, dan mendudukkan Jasmine di kursi penumpang.
"Mana kuncinya?" Jasmine mencampakkan tas selempangnya di dada Reza namun tidak mengatakan apapun. Setelah mengambil apa yang ia cari, Reza langsung masuk ke sisi mobil sebelah kiri hendak menjalankan mobil itu entah kemana.
Reza mencoba tenang dan menyetir dengan kecepatan normal agar tidak ugal-ugalan di jalanan negri orang, hanya karena ribut masalah rumah tangganya.
"Apa yang kau lakukan dengan pria brengsek itu?!" tanya Reza namun tidak mendapatkan jawaban apapun dari istrinya.
"Apa kau tuli?"
__ADS_1
"Kenapa jadi kamu yang marah?!" bentak Jasmine dengan suara mulai bergetar.
"Jadi kau mau aku diam saja ketika melihat istri ku menggoda pria lain? Itu maksud mu?!"
"Siapa yang menggoda? Seharusnya aku yang marah seperti itu! Mengapa aku harus menikah dengan pria brengsek seperti mu!"
"Owh! Jadi kau mau marah? Silahkan! Apa yang mengganggu mu? Katakan!"
"Siapa yang marah." Ucap Jasmine membuang muka mukanya ke jendela.
"Kau marah karena aku mengirimkan foto itu?" ucap Reza mulai dapat mengendalikan kembali emosinya.
"Siapa yang marah!" bentak Jasmine dengan kilatan kemarahan dan mata sudah berkaca-kaca.
"Ya kau, siapa lagi."
"Jadi kau marah? Tidak suka aku dekat dengan wanita lain dan cemburu melihat foto itu? Kau bertanya kapan kau mengatakan itu? Tadi kau baru saja mengatakan semuanya." Ucap Reza tidak bisa menahan tawanya.
"Diam lah, tawa mu menjengkelkan!"
"Astaga kau ini." Reza mencium Jasmine gemas pipi istrinya membuat sang empu tidak suka dan mencoba menjauhkan wajah suaminya.
"Geli tau!"
"Jika kau mau balas dendam kepada ku dengan cara seperti itu, oke aku akan angkat tangan. Jika kau tidak mau aku melakukan hal konyol itu lagi, jangan pernah abaikan chat atau telfon dari ku, mengerti?" tanya Reza mengusap lembut pipi istrinya.
"Kau tidak bercukur ya?" tanya Jasmine mengusap pipi suaminya yang di penuhi bulu itu.
"Kenapa harus di cukur? Bukan kah kau sangat suka mengusapnya, itu menjadi daya tarik tersendiri." Jawab Reza dengan kedua alis di naik turun kan. Jasmine mendengus kesal dan menatap jengkel ke arah suaminya, tangannya itu menampar ringan pipi Reza membuatnya sang empu tertawa.
__ADS_1
"Jangan melakukan hal itu lagi atau aku akan membalasnya lebih parah lagi." Ancam Jasmine membuat Reza tersenyum senang.
"Hei mau apa kau?!" bentak Jasmine ketika bibir Reza bermain di tempat favoritnya.
"Ini negara bebas Mine." Jawab pria itu lalu melanjutkan kembali kegiatannya.
"Bukan berarti kau bertingkah seakan ini tempat punya nenek moyang mu, ayo pulang!" ucap Jasmine mendorong pelan suaminya. Reza mematuhi perkataan istrinya dan mengecup bagian favoritnya itu hingga meninggalkan bekas merah.
"Itu milik ku. Baiklah kemana kita sekarang?" tanya Reza kembali siaga untuk menjadi supir istrinya.
"Terserah mu."
"Baiklah jangan salahkan aku jika besok pagi kau tidak bisa berjalan."
"Jangan gila, besok hari terakhir meeting versi klien. Apa jadinya jika aku tidak hadir."
"Terserah mu." Ucap Reza menirukan perkataan istrinya itu membuat Jasmine berdecak kesal.
...🍃🍃🍃...
"Baiklah, karena kau sudah tidak bisa di ajari lagi, lakukan dengan gaya mu sendiri. Jangan meniru orang lain, ungkapan perasaan mu dengan cara mu sendiri, gara-gara kau aku jadi bermain solo karena istri ku berada di sana."
"Hanya empat hari dia ada di sini, besok juga akan pulang. Aku dua bulan puasa, dan bulan ini bertambah satu minggu."
"Ya, ternyata memang nasib ku itu jauh lebih bagus jika masalah percintaan namun naas di perekonomian. Sudah, anak ku sedang menangis Nany ku sedang mandi. Ingat, sebelum hari ini berganti kau harus menyatakan perasaan mu, jika tidak belikan aku mobil baru." Ucap Jon lalu memutus sambungan telefon itu.
Reza berjalan kembali ke kamar dan meninggalkan balkon, di tatapnya seorang wanita yang tengah tertidur pulas yang tubuhnya hanya tertutup dengan selimut.
To be continued.
__ADS_1