
Malam harinya.
"Mine! Tok... Tok..." Panggil Reza di depan pintu kamar Jasmine. Dirinya tidak mau melihat kejadian tempo hari di mana ia asal membuka pintu kamar sepupunya dan melihat paha mulus Jasmine yang terekspos karena hanya memakai hot pans.
"Ada apa?" tanya Jasmine ketika membuka pintu kamarnya.
"Bantu aku mengetik."
"Kau kan bisa mengetik sendiri." Jasmine berkata dengan ketus dan menatap malas kepada sepupunya.
"Hei apa perlu aku mengingatkan dosa mu tadi?" ucap Reza membuat Jasmine mendengus kesal.
Flashback on.
Setelah acara makan malam yang dingin dan tidak ada drama seperti biasa, ketiga makhluk itu masuk ke kamar masing-masing. Lunna dengan kegiatan bercengkrama mesra dengan kekasihnya, Reza yang sibuk dengan semua file dan berkas kantor dan Jasmine yang sibuk dengan buku-buku nya.
Saat sedang dalam posisi nyamannya, seseorang mengetuk pintu kamar nya membuat Jasmine mendengus kesal. Dan saat di biarkan oleh gadis itu, pintu kamarnya di ketuk semakin keras membuat Jasmine mencampakkan buku yang di pegangnya dan berjalan kesal ke arah pintu.
"Tok... Tok... Tok!"
"Ada apa?!" tanya Jasmine dengan wajah merah menahan kesal.
"Apa kah kau melihat berkas berwarna hitam yang ada di meja kerjaku?" tanya Reza.
"Tidak!" ucap Jasmine berbalik badan, dan saat dirinya ingin menutup pintu tangan Reza dengan cepat menahan pintu itu.
"Ada apa lagi?!"
"Kau benar-benar tidak melihatnya?"
"Tidak!" pekik Jasmine lalu melepaskan kasar tangan Reza dan membanting pintu itu dengan kuat.
"Auh!" pekik Reza yang tangan kanannya terjepit pintu kamar.
Jasmine meringis melihat tangan Reza yang memerah dan tampak jelas bekas pintu tadi. Yang menjadi masalah di sini adalah Reza paling tidak bisa jika tergores kecil seperti ini. Jasmine sangat hapal dengan sifatnya Reza yang sangat kekanak-kanakan, selain takut akan hal-hal mistis yang tidak masuk akal, Reza juga sangat takut akan yang namanya Jarum suntik.
"Kau dendam pada ku yah?" tanya Reza membuat Jasmine tergelak.
"Dasar psychopath! orang kesakitan dia malah tertawa bahagia." Ucap Reza menatap tajam pada Jasmine yang belum berhenti tertawa.
"Sudah diam lah. Dan jangan menggangguku lagi." ucap Jasmine lalu menutup pintu kamarnya kembali.
__ADS_1
"Hei! Setidaknya bantu aku mengompres ini. Auh!" ucap Reza kembali meringis.
"Dimana tangan mu?!" ucap Jasmine kembali membuka pintu kamarnya.
"Mata mu buta? Tangan kekar sebesar ini tidak terlihat oleh mu?!" jawab Reza.
"Sudah jangan banyak bicara. Ayo cepat, bukan hanya kau yang harus aku urus."
"Pelan-pelan! Ah Pelan sedikit!" rengek Reza membuat Jasmine emosi.
"Jika mau tidak sakit kompres sendiri." ucap Jasmine melemparkan kantong es ke pangkuan Reza.
"Baik lah aku akan diam." Ucap Reza pasrah. Tetapi bukannya diam, pria itu justru meringis lebih keras membuat Jasmine semakin naik darah.
"Hei bisa diam tidak?!" pekik Jasmine membuat Reza terkekeh.
"Kenapa kau tertawa?"
"Ayolah, bagaimana nanti jika kau menjadi ibu?" setelah mengucapkan kata itu Reza kembali tertawa membuat Jasmine menjitak kepalanya.
"Kau ini bar-bar sekali?" Ya, manusia satu ini harus menanggung pukulan yang lebih keras dari Jasmine karena berani mengatainya bar-bar.
Flashback off.
"Aku ingin mencekik mu."
"Aku tau aku tampan, tapi jika ingin menyentuh ku jangan memakai cara murahan seperti itu. Jika kau mau menyentuh ku katakan saja aku tidak akan melarang." Ucap Reza lalu mengambil tangan kanan Jasmine dengan tangan kirinya, lalu di usapkan nya tangan kanan kanan Jasmine ke wajahnya.
Jasmine yang baru sadar jika tangannya berada di wajah Reza, refleks menampar pipi sepupunya itu. Reza yang tidak tau akan di tampar langsung terhuyung ke samping dengan tangan kirinya memegang pipinya yang terasa panas.
"Maaf, kaget." Ucap Jasmine dan saat Jasmine melihat bekas telapak tangannya di pipi Reza gadis itu meringis sembari melihat kembali ke arah pipinya Reza.
"Apakah sakit." ucap Jasmine dengan penuh rasa bersalah karena telapak tangannya terjiplak sempurna di pipi Reza.
"Lihat lah, sebegitu sukanya kau menyentuh ku."
"Hah?" tanya Jasmine menatap bingung pada Reza. Dan dengan tersenyum licik dirinya memberikan isyarat lewat lirikan mata ke arah Jasmine. Jasmine yang melihat arah lirikan itu terkejut karena tangannya masih menempel di wajah Reza, dan karena kesal wanita itu menampar kembali pipi Reza.
"Hei!" panggil Reza.
"Apa?!" Ucap Jasmine ketus.
__ADS_1
"Kau suka memegangi pipi ku kan." ucap Reza dengan pandangan menjengkelkan.
"Dih ogah, pipi kasar jenggotan kaya gitu. Cukur makannya!" ucap Jasmine lalu menutup pintu kamarnya kembali dengan kesal.
"Biasanya yang kasar itu lebih... Dasar!" Ucap Reza ketika Jasmine sudah menghilang kembali ke kamarnya.
Pagi harinya..
Hari libur adalah hal yang di tunggu-tunggu para manusia di muka bumi, tapi tidak dengan Reza. Begitu pula dengan Reza dan Jasmine. Saat ini Jasmine dan Lunna sedang bersih-bersih ruang tengah dan kamarnya karena tidak mungkin ia membersihkan apertemen sebesar itu. Sebenarnya hanya Jasmine yang membersihkannya, sedangkan Lunna hanya diam dan memperhatikan Jasmine bekerja.
"Kakak kamu mana Lun?" tanya Jasmine yang sedang terkapar di sofa ruang tengah tempat mereka biasa menghabiskan waktu.
"Setelah sarapan tadi kakak pergi. Aku juga tidak tahu kemana." jawab Lunna sembari menyalakan televisi.
"Ini sudah siang, sebentar lagi makan siang. Apa perlu aku buatkan makan siang buat kalian? Kau sudah bekerja terlalu keras hari ini, biar aku yang akan melayani mu." Ucap Lunna, dan saat gadis itu bangkit Jasmine dengan cepat menahan tangannya.
"Ada apa?" tanya Lunna.
"Delivery saja." ucap Jasmine menyalahkan AC lebih dingin, karena saat ini tubuhnya di penuhi dengan keringat yang bercucuran membasahi dirinya.
"Siap bos, kau pesan apa?" tanya Lunna.
"Saat ini aku mau yang pedas-pedas." Ucap Jasmine sembari menerawang apa yang akan di pesannya.
"Kak kau sudah pulang?" tanya Lunna saat melihat kakaknya berjalan mendekati mereka.
"Tanpa aku jawab pun kau sudah tahu bukan?" ucap Reza duduk di samping Jasmine.
"Tangan mu hanya terjepit pintu bukan patah tulang atau di tusuk orang." ucap Jasmine saat melihat tangan kanannya Reza yang di balut perban.
"Hei kau kira ini tidak sakit apa? Coba kau yang seperti ini." ucap Reza.
"Sudah lah jangan lebay, dari mana saja kau? Aku setengah mati membersihkan rumah ini, kau malah keluyuran entah kemana."
"Tadi aku mengurus masalah pabrik itu, dan..." perkataan Reza menggantung membuat Jasmine menyirit.
"Dan?" tanya Jasmine dan Lunna bersamaan karena tidak sabar dengan jawaban manusia di hadapan mereka ini.
"Dan aku sekalian jalan-jalan, lagi pula untuk apa kau membersihkannya? Setiap minggu ada beberapa pelayan yang membersihkannya. Baiklah aku mau mandi." Ucap Reza asal lalu pergi melangkah ke kamarnya.
To be continued.
__ADS_1