Mr. Sargeant

Mr. Sargeant
Chapter 20


__ADS_3

"Tenanglah nona, keretakan yang terjadi pada tulang mu bukan lah masalah besar, beberapa bulan lagi tulang anda akan sembuh total bahkan akan lebih kuat dari sebelumnya." Ucap seorang pria memakai jubah putih kebanggaannya kepada Lunna.


"Kau bilang tenang? Kau bilang aku harus tenang? Aku tidak bodoh hingga tidak bisa membedakan mana patah tulang mana kelumpuhan!" ucap Lunna membuat dokter itu terdiam.


Seseorang membuka pintu rumah sakit itu dengan senyuman manis di bibirnya. Dokter itu tersenyum lalu berlalu meninggalkan mereka berdua.


"Tenanglah Lunna. Jangan membuat mereka kewalahan dengan sikap manja mu itu." Ucap Dika membelai rambut adik sahabatnya itu.


"Kau tahu? Uncle mu sudah pergi." Ucap Dika membuat nafas Lunna tercekat.


"Aku menyesal karena tidak ikut kemarin. Seandainya aku ikut bersama dengan kakak pasti aku bisa melihat Uncle untuk terakhir kalinya, dan setidaknya aku tidak akan berada di sini." Ucap Lunna.


"Nasi sudah menjadi bubur Lunna, kita tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya di hidup kita."


"Jika aku terus berbaring dan duduk seperti ini setiap harinya, apa mungkin akan ada seseorang yang menikahi ku." Ucap Lunna menundukkan wajahnya.


"Oh iya, ngomong-ngomong kakak mu dan Jasmine sudah menikah." Ucap Dika membuat Lunna terkejut bukan main.


"Kak kau jangan bercanda! Jasmine? Kak Reza? Menikah? Oh my God, itu mustahil."


"Tetapi itu lah kenyataannya. Seandainya kau ikut ke sana pasti kau akan melihat mereka berdua menikah dan tidak akan patah hati karena melihat pacar mu itu sedang selingkuh." Ucap Dika lalu terkekeh. Namun tawa Dika langsung terhenti saat melihat Lunna murung.


"Kau kenapa?"


"Kak, apa aku akan sembuh? Lumpuh! Apakah ada lelaki yang mau dengan orang seperti diri ku? Manja, cerewet, cacat lagi." Ucap Lunna tanpa di duganya, Dika langsung menaruh jari telunjuknya di depan mulut Lunna.


"Jika nanti kau tetap lumpuh selama setengah tahun atau paling lama 1 tahun, aku akan menikahi mu."

__ADS_1


"Jangan bercanda!" Ucap Lunna menghempaskan tangan Dika dari bibirnya.


"Aku bersungguh-sungguh." Ucap Dika membelai pipi mulus Lunna.


"Sekarang makan lah, ini sudah jam delapan malam dan dari siang kau tidak makan sama sekali." Ucap Dika dan di angguki oleh Lunna.


...🍃🍃🍃...


"Apa maksud mu?!" tanya Jasmine sembari berkacak pinggang di hadapan Reza yang sedang berbaring di ranjangnya. Kedua tangan lelaki itu di rentangkan seakan-akan tidak memberikan tempat untuk Jasmine sedikit pun.


"Aku mau tidur." Ucap Reza masih dengan mata tertutup dan kedua tangannya mengusap-usap seprai halus milik Jasmine.


"Sudah jangan kekanak-kanakan, minggir!" seru Jasmine menarik tangan Reza agar bangkit dari tidurnya.


"Za, Kau memilih bangkit dari sini atau bangkit dari kubur?!" tanya Jasmine membuat Reza langsung terduduk. Kedua kakinya terlipat dan menatap intens ke arah Jasmine yang sedang berkacak pinggang di hadapannya.


"Kau mau menjadi janda tapi perawan?" tanya Reza membuat Jasmine membelalakkan matanya.


"Hei kau tidur yang tenang yah!" ucap Reza saat Jasmine berbaring di sampingnya.


"Jika kau tidak mau tidur di sini tidur di sofa sana!" ucap Jasmine menyusun bantal agar pas saat di pakainya nanti.


"Sofa itu terlalu kecil."


"Makannya punya badan jangan terlalu besar." sindir Jasmine menarik selimut sampai ke pinggangnya.


"Bukan kah yang besar itu malah tambah nikmat?" ucap Reza membuat Jasmine semakin jengkel.

__ADS_1


"Dasar laki-laki gak ada akhlak! suami jahanam! Dasar mesum!" pekik Jasmine sembari memukul Reza dengan bantal guling di sampingnya.


"Hei diam lah! Kau tidak mau semua orang terbangun kan? Apa lagi Ibu, dia sedang merasa sangat kehilangan saat ini." ucap Reza menangkap bantal yang akan di pukul Jasmine ke tubuhnya kembali.


"Aku mengatakan hal itu juga karena aku tau bagaimana cara mu itu tidur." Ucap Reza membuat Jasmine menatapnya dengan tajam.


"Sok tahu!" ucap Jasmine lalu mengambil kembali bantal gulingnya dan membalikkan badannya memunggungi Reza.


"Kamu mau lihat betapa liarnya kau saat tidur?" tanya Reza lalu mengambil handphonenya yang berada di nakas.


"Lihat ini!" ucap Reza dan dengan wajah yang kesal Jasmine membalikkan badannya. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat sebuah foto terpampang disana. Seorang gadis tertidur pulas dengan mulut terbuka, rambut yang urakan dan dengan posisi tidur yang sangat liar bagaimana tidak, ia tertidur dengan kepala di kaki ranjang dan kaki perada di kepala ranjang.


"Kapan kau mengambil itu? Hapus itu!" ucap Jasmine bangkit dari tidurnya dan mencoba meraih benda pipih milik Reza, namun terlambat karena suaminya itu telah bangkit dan menjauhkannya dari jangkauan Jasmine.


"Reza kembalikan itu!" ucap Jasmine mencoba berdiri karena ranjang yang akan mereka tiduri nantinya menjadi arena trampoline untuk Reza.


"Za, ah!" pekik Jasmine. Karena ingin terjungkal kebelakang, Jasmine langsung menarik pakaian Reza, Reza yang tidak siap untuk menjadi tiang ikut terjatuh. Dan...


"Cup!" Bibir Reza mendarat mulus di bibir istrinya. Keduanya sama-sama terbelalak dengan posisi terdiam menatap mata satu sama lain. Setelah beberapa detik, Jasmine kemudian tersadar lalu mendorong kuat tubuh Reza yang menghimpitnya dan menghempasnya ke samping. Gadis itu langsung menarik selimut dan membelakangi Reza, di dalam diamnya ia mengumpat dan memaki dirinya sendiri, sementara itu Reza yang shock langsung tersadar dan menggelengkan kepalanya, lalu ikut menarik selimut dengan bibir tersenyum samar. Saat pria itu ingin tertidur,


"Matikan lampunya!" ucap Jasmine dan seperti anak kecil yang patuh pada ibunya, Reza menuruti perintah istrinya itu.


...🍃🍃🍃...


Sang mentari telah menyapa warga bumi di negara Jerman. Jasmine menghirup nafas dengan mata yang masih terpejam, tangannya menyentuh, ralat tangannya menggenggam sebuah benda berukuran panjang yang keras, bantal empuk yang ia pakai tadi malam berubah menjadi keras, tangannya kembali meremas benda keras yang di pegangnya itu namun karena merasa aneh Jasmine langsung membuka matanya dan melihat apa yang ia remas tadi. Refleks Jasmine berteriak, namun sebelum ia mengeluarkan suaranya telapak tangannya langsung membekap sendiri mulutnya. Dilihatnya bantal yang ia pakai untuk tidur bukanlah bantal yang ia kenakan kemarin melainkan betis Reza, tangannya juga tadi bukan hanya menyentuh tetapi meremas junior milik suaminya.


Dengan cepat Jasmine berjalan menuju kamar mandi namun berusaha untuk tidak mengeluarkan suara agar pria yang tidur pulas itu tidak bangun. Sedangkan Reza yang masih berbaring di tempat tidur sedang memegang adik kecilnya yang sedang berdiri tegak karena ulah istrinya.

__ADS_1


"Huh! Nasib." Ucap Reza hanya bisa menghela nafas.


To be continued.


__ADS_2