
"Aku minta maaf, aku tidak bisa mengendalikan diri ku sendiri ketika berada di dekat mu. Lagi pula kau juga menikmatinya bukan, desahan mu bahkan masih terngiang-ngiang di benak ku." Ucap Reza mencoba membujuk istrinya. Jasmine masih terdiam di tempatnya dengan wajah kesal dan ingin melampiaskannya ke orang yang sedang berbaring di belakangnya itu.
Tangan Reza yang di pakainya untuk bantal terangkat. Membelai lembut wajah istrinya, Jasmine yang malas berdebat hanya menutup matanya dan pura-pura tertidur. Reza tidak merasakan pemberontakan istrinya sama sekali, pria itu menaikkan sedikit kepalanya untuk mengintip apakah Jasmine sudah tertidur atau belum. Laki-laki itu hanya tersenyum lalu mengecup lembut kening istrinya dan membawa tubuh Jasmine ke dekapannya. Ia menenggelamkan wajah istrinya sendiri ke dadanya dengan di bumbui kecupan kecupan kecil di pucuk kepalanya.
Ponsel Reza berdering di saku celananya yang tergeletak di lantai. Perlahan ia melepaskan diri dari dekapan Jasmine dan mengambil ponselnya.
"Ada apa?" tanya Reza dengan nada datarnya berjalan kembali ke ranjang tempat Jasmine tertidur. Pria itu perlahan mengangkat kepala Jasmine dan menjadikan lengannya kembali menjadi bantal istrinya. Jasmine yang sebenarnya masih terjaga dari tidurnya tersenyum saat mendapatkan perlakuan manis dari suaminya. Reza menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua masih dengan posisi mendekap Jasmine.
"Pak bapak di mana? Saya sendiri di sini." protes Sifa karena di tinggal begitu saja oleh Reza.
"Kembali ke hotel dengan menggunakan taksi. Oh iya, apakah kau bisa membawakan koper ku di hotel dan membawanya kemari? Kuncinya ada di tas yang saya bawa tadi masih ada sama kamu kan?"
"Iya pak, saya kirim ke mana?" tanya Sifa.
"Mine, ini di mana?" bisik Reza di telinga istrinya karena tahu Jasmine masih terjaga.
"Amano home apertments." Jawab Jasmine semakin memeluk erat tubuh suaminya.
"Amano home apertements." Ulang Reza kembali lalu memeluk tubuh Jasmine.
"Baru kali ini, perjalanan untuk pekerjaan ku seperti ini." Keluh Sifa di tempatnya.
Ponsel Reza kembali berdering, Reza kembali meraih ponselnya namun belum sempat Reza menjawab telfon itu Jasmine langsung merampasnya. Reza langsung menggelitik perut rata Jasmine yang tidak terbalut apapun selain selimut putih tebal itu.
"Kak!" seru seseorang ketika Jasmine menekan ikon berwarna hijau.
"Ada apa?" ucap Reza terus menggelitik perut istrinya.
__ADS_1
"Mengapa kakak lama sekali mengangkat telfon ku?! Sudah lebih lima belas panggilan aku menghubungi kakak tapi tidak kau angkat satu pun!" Reza tidak memperdulikan adiknya dan terus menggelitiki Jasmine membuat gadis itu tertawa terbahak.
"Reza!" seru Jasmine lalu mencubit ringan perut suaminya.
"Jasmine?" panggil Lunna di balik telfon.
"Ya." ucap Jasmine. Reza tetap tidak peduli dengan adiknya dan terus mendekap tubuh istrinya.
"Pantas kakak tidak menjawab telfon ku ternya kau bersamanya. Aku hanya ingin mengatakan jika jadwal syuting ku di mulai lusa, dan syutingnya di Kuala lumpur selama tiga sampai empat bulan, apa aku boleh pergi?" tanya Lunna. Baik Jasmine dan Reza tidak menjawab pertanyaan Lunna membuat Lunna bingung.
Gadis itu berjalan ke balkon dan menyalakan speakernya, namun bukan jawaban yang di dengarnya, Lunna justru mendengar suara desahan Jasmine yang terdengar samar, namun makin lama makin terdengar jelas. Dengan cepat Lunna langsung mematikan telfon itu.
"Dasar pasutri mesum!"
"Reza hentikan aku sudah sangat lelah." Keluh Jasmine ketika tahu arah permainan suaminya. Reza tersenyum lalu mengecup kening Jasmine, wajah istrinya itu memang terlihat sangat kelelahan. Reza memeluk erat tubuh istrinya dan mencoba menurunkan hasrat yang bergejolak di hatinya, Jasmine hanya tersenyum senang karena Reza lebih mementingkan ke adaan dirinya dari pada benda keras yang berdiri tegak menyentuh perut ratanya.
🍃🍃🍃
"Pak maaf ini---" ucapan Sifa tergantung saat melihat seseorang yang berdiri di hadapannya. Wanita yang sama yang di seret paksa atasannya entah karena masalah apa.
Jasmine menatap penampilan sekretaris suaminya dari atas hingga ke bawah. Penampilan yang begitu seksi untuk seorang sekretaris, apalagi pakaiannya itu senada dengan lekuk tubuh Sifa, bagian atas yang besar dan bagian belakang yang padat dan penuh. Jasmine mencoba tersenyum untuk menghargai Sifa, pikiran gadis itu tengah berkelana di masa-masa suaminya hanya berdua dengan wanita seksi di hadapannya.
"Maaf, ini bukannya apertemen pak Reza?" tanya Sifa merasa ada yang ganjil.
"Maaf anda salah orang, pemilik tempat ini adalah saya bukan orang yang kau katakan tadi." ucap Jasmine lalu mengambil koper suaminya dari genggaman Sifa.
"Tapi Reza adalah suami saya." ucap Jasmine dengan senyuman lalu berjalan ke arah kamarnya yang tidak lebih besar dari kamar mandi di apertemen Reza.
__ADS_1
Sedangkan Sifa masih terdiam di tempatnya berdiri, gadis itu menatap pintu kamar apertemen yang tertutup dan mencoba mencerna perkataan Jasmine yang mengatakan dirinya adalah istri atasannya.
Sedangkan saat ini Jasmine sedang berjalan kembali ke kamarnya dengan amarah yang bergejolak di dalam hatinya. Wanita itu melemparkan koper Reza ke lemari kayunya, membuat Reza langsung terbangun.
"Ada apa?" tanya Reza ketika melihat Jasmine mendekat ke arahnya. Pandangan mata wanita itu menatap Reza dengan sangat tajam dan penuh kemarahan. Jemari tangannya membuka ikatan jubah mandi putih itu dan membuat tubuhnya terekspos bebas, Reza yang melihat tubuh polos istrinya terbelalak.
"Kau kenapa Mine?" tanya Reza tidak tahan dengan pemandangan di hadapannya. Reza bangkit dari tempat tidur dan mendekati istrinya.
Ketika wajah mereka saling berhadapan, Jasmine langsung mencium bibir suaminya dengan rakus seperti suaminya ******* bibirnya seperti biasa.
"Katakan pada ku, apa kau memiliki hubungan dengan sekretaris sexy mu itu?!"
"Ya, aku sudah menjamahnya berkali-kali. Tubuhnya bagai candu untuk, bibir seksinya yang mampu membuat pertahanan ku runtuh seketika." Ucap Reza membuat Jasmine membelalakkan matanya. Reza kini ******* kembali bibirnya membuat Jasmine semakin emosi.
"Apa maksudmu!" Ucap Jasmine mendorong tubuh suaminya.
"Bukan kah apa yang aku katakan benar? Tubuh sekretaris ku itu membuat ku candu." Jasmine langsung menendang keras junior suaminya karena sangat kesal.
"Bajingan!" bentak Jasmine ketika telapak kakinya menghantam junior suaminya, membuat Reza langsung meringis kesakitan menahan nyeri yang amat mendalam di adik kecilnya.
"Apa yang kau lakukan? Aku mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, tubuh mu memang sudah membuat ku candu. Apa aku salah bicara karena kau juga mantan sekretaris ku." ucap Reza panjang lebar sembari menahan rasa nyerinya.
"Kau tidak bicara soal sekretaris mu itu?" tanya Jasmine hati-hati.
"Ya tidak lah, apa yang kau pikirkan? Masa iya aku berbicara tentang tubuh sekretaris ku yang sempurna bak model."
"Bajingan! Sama saja kau mengatakan tubuhnya jauh lebih indah dari ku. Jangan harap kau dapatkan jatah malam ini, besok, atau lusa." ucap Jasmine menendang kembali junior Reza dan masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
"Aku masih bisa bermain dengan sekretaris ku itu!" pekik Reza agar Jasmine mendengarnya. Sementara Jasmine kini mengepal erat tangannya ketika mendengar pekikan sang suami.
To be continued.