
Kepalanya tertunduk dalam, menatap tanpa kedip lantai marmer putih tempat kakinya berpijak. Namun dalam diamnya, wanita itu-jasmine mengulum senyum dengan sesekali memperbaiki letak kacamatanya.
"Jasmine akan ikut bersamaku ke Jakarta." Kata yang ia tunggu-tunggu akhirnya muncul juga. Reza mengatakannya dengan lantang, mengucap tegas dengan suara berat miliknya.
Gebrakan kuat menghantam meja. Wajah seorang pria paruh baya tampak merah padam dengan kilat marah di bola matanya. Ia baru saja kembali dari perjalanan dinas yang melelahkan. Bukan hal menyenangkan, bagaikan kilat petir yang menyambar kuat, ia dibuat kaget setengah mati dengan berita keponakannya itu.
"Apa isi otak kalian sebenarnya?! Beginikah cara orang-orang berpendidikan berperilaku? Hah!" Ia menarik nafas panjang, menatap nyalang kepada anak perempuannya yang selalu dianggap bencana bagi hidupnya.
"Apakah kau tidak pernah dididik? Sebegitu kuatnya keinginan mu untuk menghancurkan martabat ku?" Lanjut Morgan-Ayah Jasmine.
"Cih! Memangnya kapan kau mendidik ku secara langsung? Kau selalu lepas tangan dengan pendidikan yang aku dapatkan. Lalu didikan mana yang kau maksud? Seperti apa kau mengharapkan ku tumbuh jika kau saja tak pernah menghargai apa yang telah aku capai." Dalam diam Jasmine berucap. Miris rasanya menjadi anak tak diinginkan, terlebih oleh orangtuanya sendiri.
Untungnya sang ibu benar-benar menyayangi nya sepenuh hati. Dan untungnya ia adalah anak tunggal, satu-satunya keturunan dari keluarga mereka. Jika tidak, mungkin ia akan mati bunuh diri sejak lama karena selalu di bandingkan dengan saudara-saudara nya.
"Keputusan ku sudah final Uncle, aku dan Jasmine akan menikah dalam waktu dekat ini." Senyuman Jasmine langsung pudar kala mendengar berita menggelegar itu. Apa-apain ini? Ini tidak ada di daftar rencananya!
"Pikirkan dahulu kalimat yang akan kau ucapkan. Apa kalian tidak memikirkan jaka panjang? Dua nama keluarga benar-benar dipertaruhkan di sini. Kalian itu bersaudara. Bukannya mereda, kasus perempuan ini justru akan melebar."
Jasmine diam. Sesak terasa ketika mendengar sang ayah tak sudi mengucapkan namanya.
"Namun tak setetes pun darah yang sama, mengalir dalam tubuh kami Uncle. Kami tau apa yang kami perbuat, dan aku akan bertanggung jawab dengan apa yang ku lakukan." Reza melirik Jasmine.
__ADS_1
"Secepatnya akan ku urus pernikahan kami." Lanjut pria itu bagaikan menjungkir balikan dunianya.
"Tunggu. Apa? Tidak! Aku tidak ingin menikah!" Jasmine menyanggah. Ini benar-benar diluar rencana. Apa-apaan manusia itu. Dari tadi menikah, menikah, menikah. Siapa yang mau menikah?!
"Yah kita akan menikah. Secepatnya." Cepat Reza berkata. Lalu jika tidak ingin menikah apa yang diinginkan wanita ini? Wanita bajingan itu telah merenggut keperjakaannya yang berharga. Sumpah demi apapun, ia benar-benar belum pernah menyentuh wanita manapun. Selama hampir 30 tahun hidup di dunia, waktunya hanya dihabiskan untuk belajar dan bekerja.
Morgan, pria itu memijat pelipisnya yang mendadak pusing. Tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Dan juga, ada kemungkinan ia akan di amuk oleh ayah mertua dan kakak iparnya. Salahkan saja anak dan keponakannya yang gila, ia tidak tahu menahu tentang ini semua.
"Bicarakan semua dengan kakek kalian, persetujuanku tergantung pada restunya." Pelan Morgan berkata. Ia benar-benar angkat tangan. Mungkin dipikirannya semakin cepat perempuan itu pergi, semakin tentram pula hidupnya.
Alis Reza menyatu, bingung dengan perkataan sang paman. Kakek dan Neneknya saat ini tengah berbulan madu ke Turki, tidak anda tidak salah membaca, kedua pasangan yang telah renta itu tengah menikmati usia senja mereka. Sedangkan ayah dan ibunya tengah pergi perjalanan dinas bersama sang ibu, sekalian bercocok tanam mungkin?
"Lalu apa kau mau mempunyai paman atau bibi baru yang selisih umurnya hampir tiga puluh tahun?" Lirih, namun sinis Jasmine berkata. Astaga, ia bergidik ngeri saat membayangkan ada seorang bayi kecil yang lahir dari rahim neneknya.
Sepertinya itu akan sedikit mengerikan, dan untungnya itu sebuah kemustahilan.
oooO_Oooo
Cincin telah melingkar, keduanya resmi bertunangan dengan wajah Reza bertabur bekas ungu kebiruan. Ia diamuk oleh sang kakek, dan ayahnya. Sedangkan sang paman? Pria itu bahkan tak peduli pada anak semata wayangnya. Ayah yang harusnya memberikan kasih sayang pada sang anak, justru memberi kritik yang menjatuhkan mental sang anak, cemooh terus didapatkan Jasmine hampir seumur hidupnya dari sang Ayah.
Jasmine melirik cincin tunangan yang melingkar di jari manisnya. Tak ia duga ia akan terikat oleh sang sepupu. Ini semua berawal dari meledaknya emosi dalam dirinya yang terus mendapatkan gunjingan karena menolak lamaran seorang pangeran dari kerajaan Prusia. Berita tentang dirinya yang mempermalukan Cedric-sang pangeran sejuta umat disiarkan dua Minggu ini.
__ADS_1
Bermula dari pertemuan untuk membahas kerja sama, Pangeran Cedric justru melamarnya. Berlutut di antara banyaknya orang-orang yang menyaksikan. Masih segar di ingatan bagaimana malunya ia saat semua orang menyorakinya, berteriak agar Jasmine menerima lamaran sang pangeran.
Namun bukan serial di negri dongeng, Jasmine menolaknya. Cara bicaranya yang memang tegas membuat ia di gunjing semua orang. Mereka berkata jika ia menginjak harga diri pangeran Cedric dengan penolakannya yang terkesan angkuh. Hei, setiap orang berhak menentukan pilihan dalam hidupnya.
Berita semakin panas dengan klarifikasi sang pangeran yang mengatakan, "Bukankah seorang pria memang bertugas mengejar dan mendapatkan hati pujaan hatinya? Mungkin aku harus berusaha lebih keras." Ucapnya dengan senyuman manis. Sungguh dia benar-benar pria pemilik senyuman paling indah yang pernah Jasmine temui.
Namun bukannya mereda, orang-orang kembali menggunjingnya. Berkata ia tidak tahu diri, terlalu arogan dan sombong. Hei sekali lagi ia berhak menentukan pilihan, bisakah para manusia manusia itu memfilter keyboard mereka? Tidak sadarkah mereka, ketikan yang mereka torehkan bisa saja melukai seseorang. Menjatuhkan mental, hingga membuat depresi orang yang mereka gunjing? Seperti para reader yang mencemooh author padahal mereka membaca karya gratisan.
"Sekarang kau puas?"
Jasmine menolehkan kepalanya, menatap sang sepupu yang ia pikir tengah tertidur. "Tentu saja. Akhirnya Aku bisa bebas dari manusia-manusia itu."
Bukan hanya senang lepas dari manusia-manusia berkeyboard pedas, ia juga bebas dari jangkauan sang ayah. Diam-diam dia memikirkan kenapa dia tidak menikah sedari dulu? Ia tidak perlu mati-matian menaikan image demi mendapatkan perhatian sang ayah.
"Mengapa aku tidak menikah saja dari dulu." Pelan ia berucap, namun dasar Reza telinganya terlalu tajam dan peka.
"Lalu kau akan membakar dapur suamimu? Atau kau akan meledakan rumah suamimu itu?"
Sontak wajah wanita itu mendatar, tatapan matanya berubah tajam dengan kaca mata yang tetap bertengger di hidungnya.
"Diam!"
__ADS_1