
Reza mencoba menghubungi Jasmine kembali, namun wanita itu sama sekali tidak menerima panggilan dari dirinya. Sembari tersenyum Reza terus saja menghubungi nomor istrinya, hingga...
"Kak, ayo makan." Panggil Lunna memasukkan hanya menampakan kepalanya di pintu. Reza terkejut bukan main saat mendengar suara adiknya yang datang dari arah pintu.
"Huh, Kau ini! Apa kau sudah sembuh total total?" tanya Reza menghampiri adiknya.
"Sudah dong, apa kakak lupa? Adik mu ini gadis cantik yang kuat Oh iya, kakak sedang apa?" tanya Lunna memasuki kamar kakaknya itu. Diliriknya kamar Reza yang banyak boneka-boneka besar berwarna biru yang sering di panggil orang Doraemon di atas ranjangnya.
"Aku mencoba menghubungi Jasmine, tetapi tidak bisa." Reza ikut mendudukkan tubuhnya ke ranjang sembari tetap mencoba menghubungi istrinya.
"Nah, makanya kalau sekali di telfon istri itu angkat. Sudah satu minggu kan gak ada kontak dengan Jasmine?"
"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Reza penuh selidik.
"Tentu saja, setiap hari dia menelfon ku sebelum aku tidur, ya kira-kira di sana dia baru pulang bekerja." Jawab Lunna jujur lalu meraih boneka besar berwarna biru itu.
"Tunggu, apa?!"
"Iya, dia menelfon ku untuk menanyakan kabar dan keadaan ku. Dia juga sering bertanya bagaimana kabar kakak." Reza syok bukan main ketika mendengar perkataan adiknya.
"Kenapa kau tidak pernah mengatakannya pada ku?!" kesal Reza dengan tatapan tajamnya.
"Ya karena kau selalu pulang larut malam dan pergi sebelum aku bangun. Dan soal Jasmine tidak menghubungi kakak, itu karena dia marah kau tidak mengangkat telfonnya sekitar seminggu yang lalu. Aku juga sering chat dia sebelum dia pergi ke kantor."
"Sebenarnya suami wanita itu siapa sih?! Aku iri pada gadis cerewet ini."
"Kak!" protes Lunna saat kakaknya itu mengambil paksa handphone miliknya.
"Apa passwordnya?" tanya Reza ketika membuka layar ponsel Lunna.
"Tanggal ulang tahun ku." ucap Lunna dengan memberengut kesal. Reza tidak memperdulikan adiknya saat ini, ia memilih untuk menghubungi istrinya.
"Ya ada apa Lun?" ucap seseorang dari sebrang sana.
"Ada yang merindukan mu!" pekik Lunna karena sudah sangat kesal ponselnya di ambil paksa Reza.
"Apa?" Reza langsung berjalan ke arah balkon agar adik manjanya itu tidak mengganggu obrolannya dengan sang istri.
__ADS_1
"Lunna? Kenapa sih? Siapa yang rindu?" tanya Jasmine.
"Tidak ada yang merindukan mu." Jasmine yang mendengar suara seseorang langsung mendengus kesal.
"Mau apa kau?!"
"Tidak ada, aku hanya ingin tahu kenapa seorang istri yang sedang pergi jauh ke negri sebrang lebih mementingkan adik iparnya dari pada suaminya sendiri." cecar Reza. Pria itu menatap langit malam yang terlihat sedang mendung, tidak ada bintang satupun yang tampak dari langit.
"Aku sedang sibuk." jawab Jasmine singkat sembari membereskan file-file yang berserak di hadapannya.
"Lalu mengapa kau sering menghubungi Lunna?!"
"Baiklah, aku tidak mau berdebat dengan mu lagi. Apa yang mau kau katakan? Ingin aku menjadi saksi pernikahan mu dengan jalang itu?" tanya Jasmine dengan nada terdengar ingin marah namun malah terdengar seperti orang putus asa.
"Aku merindukan mu. Boleh kah aku mengatakan hal itu." Batin Reza.
"Jangan berkata yang aneh-aneh. Apa kau ingin mengatakan sesuatu, aku ingin mandi setelah ini."
"Aku merindukan mu. Tapi nanti pasti kau akan meledek ku tanpa ampun." Batin Jasmine.
"Tidak, cepatlah mandi dan makan malam lah segera." ucap Jasmine. Reza yang merasakan di perhatikan oleh Jasmine langsung tersenyum senang.
"Baiklah, aku tutup dulu telfonnya." Reza langsung melangkahkan kaki menuju ke ranjangnya. Lunna menatap kakaknya dengan senyuman mengembang manis di bibirnya.
"Bisakah kau itu diam?!"
"Pakai ponsel kakak sendiri jika mau aku diam." Lunna langsung merebut ponsel kakaknya lalu beranjak pergi dari kamar kakaknya.
...🍃🍃🍃...
"Kak Ayana, apa kalian harus pergi?" tanya Lunna ketika mereka sedang makan malam.
"Iya Nona, anda sudah bisa bebas melakukan apapun saat ini meskipun anda belum sembuh total tetapi kami tidak di perlukan lagi di sini."
"Kak Anggun, apa kau juga tidak akan menjenguk ku kembali?"
"Saya adalah dokter yang bertanggung jawab penuh pada pengobatan anda, saat ini keadaan anda sudah hampir sembuh total jadi saya akan memeriksa keadaan anda beberapa kali satu bulan."
__ADS_1
"Diamlah, mereka ini punya pekerjaan penting di rumah sakit. Bukan seperti mu yang selalu menghamburkan uang untuk membeli barang-barang tidak berguna."
"Enak saja tidak berguna, lagi pula aku juga bekerja. Minggu depan aku akan memulai karir ku lagi di dunia entertainment, sudah hampir 4 bulan aku melepaskan diri dari pekerjaan ku."
"Kau akan kembali ke New York?"
"Tidak, ada tawaran film dari teman ku di Indonesia. Jadi untuk beberapa bulan kedepan mungkin aku akan sibuk dengan jadwal syuting yang padat."
"Kak, besok aku ikut ke kantor kakak yah?" tanya Lunna lagi karena Reza sama sekali tidak membalas perkataannya.
"Terserah."
"Mau tambah Za?" tanya dokter Anggun. Dokter cantik bernama Anggun itu adalah adik kelas Reza yang seumuran dengan pria itu. Kenapa adik kelas? Karena Reza melompat dua kelas saat ia duduk di bangku kelas dua, pria itu juga di tempatkan di kelas akselerasi membuat murid-murid lainnya yang seumuran dengan pria itu tertinggal sangat jauh.
"Tidak."
Sementara itu, di restoran cukup terkenal di Jakarta sedang duduk dua manusia yang saling berhadapan.
"Kau sedang apa?" tanya Dika yang melihat sedari tadi Hana hanya terfokus pada ponselnya.
"Aku ingin menghubungi Jasmine, tapi tidak bisa. Aku khawatir terjadi sesuatu dengannya."
"Oh iya, dua bulan lalu sebelum dia pamit pergi kembali ke Berlin. Dia dulu pernah memekikkan nama Reza, apa kakak tau siapa Reza yang di maksudnya?" tanya Hanna.
"Hanna amelia, mengapa kau bertanya sesuatu tentang orang yang belum aku kenal sepenuhnya. Kau sahabatnya pasti lebih mengerti." Ucap Dika berbohong.
"Benar juga." Hanna tersenyum lalu kembali melanjutkan makan malam romantisnya dengan Dika.
"Reza! Gara-gara kau aku terpaksa berbohong pada Hanna." Batin Dika sembari tersenyum ketika Hanna melihatnya.
"Ada apa?" tanya Reza saat menerima panggilan telefon di saat dirinya tadi hampir tertidur.
"Maaf bos, lusa anda pergi ke Berlin untuk meeting bersama para klien. Apakah saya juga akan pergi atau memantau perusahaan?" tanya Gilang.
"Tidak perlu, cukup Sifa saja yang ikut, kau pantau saja perusahaan selagi aku pergi ke Berlin." ucap Reza lalu menutup panggilan itu.
Reza menatap langit-langit kamarnya, tampak seringai devil terpancar dari wajah tampannya sebelum ia memejamkan mata.
__ADS_1
To be continued.