
Jasmine menatap tajam ke arah Lunna yang sedang tersenyum riang sembari di suapi oleh Dika. Lunna yang di tatap seperti itu oleh kakak iparnya hanya diam sembari tersenyum tersenyum seakan mengejek kakak iparnya itu.
"Tak!" Jasmine menusuk tajam sandwich-nya dengan pisau. Kilatan kemarahan jelas terpancar dari matanya, Reza dan dokter Aditya saling pandang ketika melihat wajah Jasmine.
"Aku ke toilet sebentar.". Setelah Dika menjauh, Jasmine langsung mendekati Lunna dan memukul ringan lengan sepupunya yang berasa tidak tahu malu itu.
"Auh! Apaan sih Mine!" pekik Lunna saat Jasmine memukul lengannya.
"Apa? Kau bilang aku kenapa? Jelas-jelas kau sudah tahu siapa Dika sebenarnya, siapa kekasihnya yang sesungguhnya, dan tadi kau menempel pada Dika kaya koala? Kau tahu, kalian berdua itu seperti monyet dan induknya." ucap Jasmine dengan amarah yang membuncah di dadanya, wanita itu tidak habis fikir dengan pola pikir adik iparnya itu.
"Mine jangan lebay deh, jika kau mengenal kekasihnya kak Dika atau jangan-jangan kau adalah kekasihnya kak Dika!" ucap Lunna dengan penuh kecurigaan. Reza bisa saja marah jika hal itu terjadi, namun pria itu sudah tahu siapa kekasih Dika yang sebenarnya dari mulut Dika sendiri.
"Kekasih Dika adalah sahabat ku." Reza yang mendengar perkataan Jasmine langsung tergelak.
"Aku tidak menyangka kau punya sahabat, teman saja kau tidak punya mengingat sikap dingin mu itu."
"Dasar bedebah! Diam lah! Bukankah kau tadi pagi sudah sarapan, untuk apa kau disini?" tanya Jasmine mencoba mengusir Reza dari ruang makan itu.
"Mau aku berada di mana pun di apertemen ini, itu adalah hak ku. Karena, apertemen mewah dan super megah ini adalah milik Reza sang pria tampan nan mapan yang di gilai banyak gadis di--"
"Sudah diam lah, jadi orang kok narsis banget!"
"Sejak kapan kau jadi narsis begitu kak? Setahu ku kau adalah pria dingin dengan hati mulia yang di cintai para anak panti, kenapa kau berubah seperti bajingan seperti itu." ucap Lunna lalu memakan sandwich-nya. Sedangkan dokter Aditya yang duduk di antara mereka hanya menahan tawa saat kedua wanita di hadapannya.
"Dari kecil dia memang sudah seperti bajingan, baik hati dari mana."
Sedangkan dokter Aditya yang duduk di antara mereka hanya menahan tawa saat kedua wanita di hadapannya mengoceh menjelekkan Reza.
__ADS_1
"Kau mau aku pecat?" ucap Reza menatap tajam kearah Aditya saat mendengar pria di sampingnya itu menahan tawa.
"Maaf pak."
"Oh iya, setiap satu bulan sekali di hari minggu kak Reza selalu keluar bukan? Nah, dia itu keluar untuk mengunjungi anak-anak panti di pinggir kota. Bahkan yang merenovasi panti asuhan itu kak Reza, dan sampai sekarang dia masih menjadi donatur tetap." ucap Lunna membanggakan kakaknya di depan Jasmine.
"Benar?" tanya Jasmine tidak percaya.
"Jika kau tidak percaya, ikutlah denganku jam sebelas nanti."
"Kak aku kapan punya keponakan." ucap Lunna tiba-tiba. Jasmine yang mendengar perkataan sepupunya itu langsung tersedak sandwich yang di makanannya, dan Reza langsung menyodorkan air minum.
"Ciee suami siaga." Reza yang mendengar perkataan Lunna langsung menatap tajam kearah adiknya, sedangkan Lunna yang di tatap hanya menyengir tidak berdosa.
"So sweet-nya. Aku tidak menyangka pak Reza itu sangat baik hati." bisikperawat yang berdiri di samping Ayana.
"Kak, jika kau tidak mau di pecat buang rasa di hati mu itu. Kau tidak lihat bagaimana Kak Reza bersandiwara hanya untuk mendapatkan perhatian Nona Jasmine."
"Diam lah!" bisik Ayana saat dokter Aditya menatap tajam ke arah mereka berdua.
"Kau ke toilet atau ngantri buat BPJS? Lama banget." ucap Jasmine ketika Dika berjalan ke arah mereka.
"Tadi aku mengangkat telfon sebentar. Oh iya Lunna, apakah aku bisa pergi? Ada sesuatu yang mendadak terjadi." jawab Dika.
"Kak gak bisa gitu dong, terus aku bagaimana?"
"Bisa. Lunna juga akan pergi dengan kami nanti, kau tenang saja pergilah." Lunna yang mendengar ucapan Jasmine langsung melotot ke arahnya. Sedangkan yang di tatap hanya tersenyum licik ke arahnya.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu aku pergi. Terima kasih, maaf." ucap Dika tersenyum lalu pergi dari apertemen sahabatnya itu.
"Jika Lunna pergi, lalu untuk apa saya disini?" tanya dokter Aditya bingung.
"Kau ikut. Jaga Lunna saat disana, dan kita akan memakai mobil terpisah. Aku bersama Jasmine, kau bersama Lunna dan para perawatnya." ucap Reza lalu bangkit dari duduknya, menarik Jasmine agar ikut dengannya.
...🍃🍃🍃...
"Kak Reza!" pekik anak-anak panti ketika Reza turun dari mobilnya. Jasmine yang melihat suaminya mengelus lembut kepala anak-anak yang berada di sekelilingnya langsung kagum, ia tidak menyangka jika Reza memiliki sifat lembut dan sayang terhadap anak-anaknya seperti itu.
Seorang anak laki-laki menarik celana jeans Jasmine, gadis itu langsung berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan anak perempuan yang sangat menggemaskan itu.
"Hai cantik, siapa nama mu?" ucap Jasmine mengelus rambut gadis kecil itu.
"Dita. Kakak siapa? Kenapa datangnya sama kak Eza?" tanya Dira membuat Jasmine makin gemas kepadanya. Jasmine mencium gemas pipi gembul Dita lalu mengusap bekas ciumannya itu.
"Nama Kakak Jasmine sayang, kak Reza juga kakaknya kak Jasmine. Ayo masuk." ucap Jasmine karena Reza dan anak-anak yang mengerubunginya sudah masuk ke dalam. Jasmine menggandeng tangan mungil itu memasuki panti, sedangkan mobil dokter Aditya belum tampak di parkiran panti asuhan itu.
"Hai peri kecil." ucap Reza menyapa Dita yang sedang duduk di pangkuan Jasmine. Dita yang di sapa langsung bersedekap dan membuang wajahnya, ekspresi marah yang di tunjukkan gadis kecil itu membuat siapapun yang melihatnya gemas.
"Hey, kenapa." tanya Reza ingin menggendong Dita, namun sebelum pria itu meraih tubuh kecilnya, Dita langsung memeluk erat Jasmine. Semua karyawan di sana tertawa melihat interaksi ketiga manusia itu.
Seorang anak laki-laki yang tadi di gendong oleh Reza langsung mendekatkan diri ke arah Jasmine. Tubuh mungilnya mencoba memanjat kursi yang di duduki gadis itu. Wajahnya terlihat sangat mirip dengan Dira. Reza langsung menggendong kembali tubuh mungil itu lalu mendudukkan dirinya ke sebelah Jasmine.
"Mau tukaran?" tanya pria kecil itu. Dira yang mendengar suara anak laki-laki di sampingnya langsung menoleh ke samping. Gadis itu lalu menggeleng dengan cepat membuat semua orang di sana bingung. Reza langsung menggendong tubuh Dita dan menyuruh anak laki-laki di pangkuannya pindah ke pangkuan Jasmine.
"Hai tampan, siapa nama kamu?" tanya Jasmine sembari mengelus pipi tembam anak laki-laki yang mirip dengan Dita.
__ADS_1
"Dito Kak." ucap pria kecil itu dengan senyuman.
To be continued