
Fajar telah menyapa, namun kedua manusia yang kemarin malam telah melewati malam panasnya kini masih tertidur nyenyak di ranjangnya. Keduanya tertidur pulas tanpa penghalang sehelai benangpun, keduanya masih mengirimkan rasa hangat dari dalam dirinya untuk satu sama lain.
Jasmine sudah terbangun lebih dulu, gadis yang sekarang tengah menjadi seorang wanita dan istri yang sesungguhnya kini tengah menatap suaminya. Di usapnya rahang keras suaminya yang di tumbuhi dengan bulu-bulu halus di sekitarnya. Maaf seribu maaf ia terus lontarkan dalam batinnya untuk Reza(ngomong dalam hati yah, kalau ngomong langsung gengsi donkπ). Sebelum suaminya itu terbangun, Jasmine langsung memeluk erat tubuh Reza seakan tidak mau kehilangan, namun tanpa di duga Reza langsung membalas memeluk erat tubuh istrinya, Reza memegang bokong Jasmine dan membawanya semakin merapat dengan tubuh polosnya, memaksakan Jasmine untuk merasakan kembali juniornya yang kini tengah tegak dan mengeras menunjukkan seberapa fatalnya akibat yang di timbulkan Jasmine karena memeluk dirinya tanpa mengenakan pakaian.
"Mine, buat baby lagi yuk?" ajak Reza. Dengan cepat Jasmine menggelengkan kepalanya, rasa letih kemarin malam belum menghilang dari tubuhnya. Reza meremas salah satu gunung kembar yang menggoda imannya itu, sekuat tenaga Jasmine menahan suara aneh yang akan keluar dari bibirnya, namun hasilnya nihil karena Reza kini tengah menyesap lembut dan memainkan lidahnya membuat Jasmine tidak bisa lagi menahan gairah dari tubuhnya, namun akal sehatnya masih berfungsi dengan baik, Jasmine langsung mendorong kuat tubuh Reza agar menjauh darinya.
"Ah!" ringis Jasmine saat ia ingin bergerak turun dari ranjang.
"Sudah, itu akan sakit jika pertama kali bermain, ayo buat baby lagi, pasti tidak akan sakit." bujuk Reza, Jasmine mendelik menatap Reza namun pria itu tidak memperdulikan tatapan tajam Jasmine, justru ia meraih kembali tubuh indah istrinya dan menaruhnya di tempat semula. Reza langsung menghimpit tubuh Jasmine dan kembali memulai permainan panas mereka.
...πππ...
Jasmine kini duduk bersandar di kepala ranjang, tubuhnya sudah terbalut pakaian lengkap, bukan pakaian formal untuk bekerja namun pakaian lengkap untuk bersantai. Reza yang melihat Jasmine yang menatapnya dengan tatapan tajam hanya tersenyum, pria itu berjalan menghampiri Jasmine di ranjangnya dengan senyuman.
"Sudah jangan ngambek lagi." ucap Reza mengecup sekilas bibir istrinya.
"Bedebah!" Jasmine menatap suaminya dengan sangat tajam.
"Aku tidak bodoh sampai tidak mengetahui masalah kewanitaan seperti itu, bukannya rasa sakitnya makin ringan ini malah makin sakit bodoh!"
"Sudah jangan marah-marah lagi, nanti akan aku suruh Bi Mar membelikan obat untuk meredakan nyeri." Jasmine langsung memukul keras
"Jadi kau mau ngasih tau mereka kalau kita abis itu?! Jangan gila! Kok tidak sekalian saja kau buat konferensi pers, umumin kalau kita sudah---" Reza membungkam mulut Jasmine dengan ciuman. Ketika Reza masih asik menautkan bibir mereka, Jasmine langsung menjauhkannya karena tidak ingin adegan merembet kemana-mana.
__ADS_1
"Sudah pergilah, atau kau akan terlambat!" ucap Jasmine, dan dengan patuh suaminya itu menuruti perkataan Jasmine, setelah mencium lembut kening istrinya Reza pamit pergi.
"Tidak sia-sia aku berakting." batin Reza saat melangkah keluar kamar. Saat membuka pintu kamarnya Reza tersenyum dengan menggelengkan kepalanya, namun senyumannya itu mendadak hilang saat ia melihat Ayana berdiri di depan pintu kamarnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Reza berusaha menutupi rasa malunya.
"Maaf Kak, aku ingin memberikan ini kepada Nona Jasmine, bukan kah kakak yang menyuruh ku?" Reza langsung mengangguk cepat dan menyuruh Ayana masuk.
"Aku ini perawat atau pembokat sih?!" kesal Ayana dalam hati.
"Nona, apakah anda sakit?" tanya Ayana saat melihat Jasmine terbaring di ranjang dengan selimut menutup rapat tubuhnya.
"Tidak kak." Jawab Jasmine singkat lalu mendudukkan tubuhnya menerima susu yang di sodorkan Ayana.
"Apa--"
"Kak aku tidak apa-apa. Apakah boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Jasmine dan tentu saja langsung di angguki oleh Ayana.
"Tapi tidak mungkin, kak Ayana belum menikah mana mungkin dia sudah melakukannya." ucap Jasmine pada dirinya sendiri.
"Melakukan hubungan seks maksud anda?" tanya Ayana spontan. Dengan malu Jasmine menganggukkan kepalanya, Ayana yang melihat sikap malu-malu Jasmine langsung tergelak karena belum pernah melihat sisi Jasmine yang satu itu.
"Jika anda mau tahu, saya dulunya adalah seorang gadis SMA yang menjadi kupu-kupu malam di salah satu klub." ucap Ayana membuat Jasmine tersedak dengan susu yang di minumnya.
__ADS_1
"Ya kau pasti tidak menyangka bukan? Perawat seperti ku pernah jadi kupu-kupu malam, Hah! Eh maaf." ucap Ayana karena tersadar tidak menggunakan bahasa formal kepada Jasmine.
"Santai saja kak, lebih enak jika biasa saja agar kita lebih akrab." ucap Jasmine. Pikiran gadis itu tengah melayang ke hari di mana ia mendengarkan rintihan Ayana di kamar itu. Ternyata Reza benar-benar berkata yang sesungguhnya tanpa ada mengada-ngada.
"Dulu aku di paksa menjadi wanita malam karena di paksa oleh ayah tiri ku, saat aku menjadi kupu-kupu malam aku memang sudah tidak perawan lagi karena sudah sering menjadi pelampiasan nafsu ayah tiri ku. Aku ingat dengan jelas 3 bulan aku bekerja di sana, bahkan aku juga pernah melayani ayah teman baik ku sendiri." Jasmine yang mendengarkan perkataan Ayana hanya bisa tercengang, bagaimana mungkin ada manusia yang keji itu hingga sering memperkosa anak tirinya sendiri dan menjualnya di klub malam.
"Maafkan aku telah berprasangka buruk kepada mu Kak." ucap Jasmine menaruh gelas susunya di nakas lalu berhambur memeluk Ayana.
"Maaf, memangnya Nona berprasangka seperti apa kepada ku." ucap Ayana menghapus air matanya.
"Aku kira waktu itu Kakak berhubungan se*s dengan Reza sekitar satu minggu lalu" Ayana kembali tergelak ketika mendengarkan perkataan Jasmine yang malu-malu seperti itu.
"Nona ini berfikiran apa?! Mana mungkin Aku dan Kak Reza bermain seperti itu. Kak Reza hanya membantu ku merawat luka ku yang terkena pecahan kaca. Jika Nona mau tahu siapa yang membebaskan saya dari klub itu saya akan menjawabnya sekarang."
"Saat itu yang membooking ku adalah om-om tidak tahu malu tapi berdompet tebal. Saat itu dia memesan hotel mewah di kota, karena aku sudah lelah aku mencoba melarikan diri dan meminta bantuan orang lain. Untungnya kunci kamar hotel berada di nakas saat pria tua Bangka itu mandi, kesempatan ya sudah aku mencoba melarikan diri. Dan saat aku keluar kamar ada seorang pemuda tampan yang berjalan di depan kamar itu." Ayana masih mengoceh dengan mulut yang penuh karena tidak sadar memakan sandwich yang seharusnya menjadi sarapan pagi Jasmine.
"Kak itu sarapan ku." ucap Jasmine baru sadar sandwich nya telah di habiskan Ayana.
"Astaga! Maaf, sebentar aku ambilkan lagi."
TO BE CONTINUED
Jangan lupa like sama komen ya guys, gak maksain juga kok, makasih udah mampir... See you next time π
__ADS_1