Mr. Sargeant

Mr. Sargeant
Chapter 23


__ADS_3

Setelah satu setengah bulan sejak hari itu, Dika terus menjaga Lunna. Rasa lelah akibat bekerja ia tepis untuk tetap siaga jika Lunna meminta sesuatu. Lunna sendiri di rawat di apertemen kakaknya dan di jaga oleh dua perawat wanita.


"Kak kau lelah bukan? Jangan terlalu memaksakan diri untuk menjaga ku." Ucap Lunna dan hanya di balas senyuman oleh Dika. Dika juga berubah drastis, dari Dika yang cuek menjadi Dika yang sangat hangat kepada Lunna.


"Bagaimana hasil pemeriksaan kemarin?" tanya Dika menyuapi Lunna kembali dengan penuh perhatian. Setelah rapat tadi, Dika langsung menuju ke apertemen Reza karena mendapatkan laporan dari salah satu perawat. Perawat itu mengatakan Jika Lunna tidak mau makan dan bahkan setelah di bujuk tadi bukannya mau menyentuh makan siangnya, Lunna justru mengamuk.


"Baik, sepertinya aku juga sudah bisa belajar berjalan minggu depan." Ucap Lunna dengan tersenyum manis dan di balas pula oleh Dika.


"Syukurlah kalau begitu. Ternyata lebih cepat dari perkiraan dokter. Aku kira kau akan sembuh dua atau tiga bulan lagi." Ucap Dika sembari mengelus lembut pucuk kepala Lunna.


Seorang dokter yang sering mengecek perkembangan Lunna juga berada di sana.


"Yang lumpuh itu kakinya tetapi mengapa dia sangat manja seperti itu." Batin dokter pria itu sembari tersenyum.


Setelah beberapa menit mereka berbincang, Dika kembali ke kantor diiringi dengan senyuman manis Lunna. Dika yang tadinya menunjukkan sikap hangatnya dan senyuman yang terus mengembang di bibir kini sirna berganti menjadi seorang pria dingin saat keluar dari kamar adik sahabatnya itu.


"Hai Nona. Minta di perhatikan boleh, tetapi jangan seperti itu juga." Ucap dokter itu sembari membereskan peralatannya. Ia di panggil ke sini hanya karena permainan konyol Lunna yang pura-pura pingsan dan akhirnya mendatangkan Dika ke apertemen kakaknya.


"Kau itu tidak bisa di ajak bermain sedikit." ucap Lunna mengerucutkan bibirnya.


"Hei! Aku ini memiliki banyak pekerjaan di rumah sakit. Banyak orang-orang yang menderita di sana dan membutuhkan pertolongan cepat. Apa kau kira dengan aku ikut memerankan tokoh dalam drama mu tidak berakibat? Oh iya, tadi anda berakting dengan sangat bagus, luar biasa, Punuh dengan totalitas." Ucap dokter itu membuat Lunna ingin menangis.


"Ingat nona, perempuan yang baik memang akan menuntut untuk di perhatian, namun tidak menjadikan dirinya pengemis perhatian." Ucap dokter itu seperti menghujam hati Lunna bertubi-tubi.


"Kau ingat bukan pria tadi mengatakan kepada mu, dia akan menikahi mu jika kau tidak sembuh. Dan kemungkinan kau sembuh itu adalah 99,99% jika kau mau berusaha, bahkan hanya dalam kurun waktu empat bulan saja kau bisa sembuh jika kau mau berusaha." Ucap dokter yang bernama Aditya itu.


"Coba kau fikir, mungkin saja dia memiliki seorang kekasih maka dari itu dia berjanji pada mu jika kau tidak sembuh namun kenyataannya kau itu memiliki peluang besar untuk sembuh dari kelumpuhan ini."


...🍃🍃🍃...

__ADS_1


Sedangkan itu, di waktu yang sama namun di tempat yang berbeda seorang pria di samping Jasmine sedang berdiri di pantry.


"Ini." Ucap Jasmine memberikan secangkir kopi hangat ke seorang Pria. Pria yang sedikit lebih tinggi darinya, kulit putih bersih dan senyuman yang mempesona.


"Terima kasih Mine." Ucapnya. Dia adalah Gilang anggara. Asisten pribadinya Reza yang satu bulan lalu bekerja, dan ternyata Gilang adalah adik kelasnya Jasmine meskipun ia lebih tua tiga tahun dari gadis itu.


Kedua manusia itu berjalan beriringan keluar dari pantry dengan kopi, Gilang yang memegang gelasnya sendiri sedangkan Jasmine membawa nampan berisi teh chemomil dan kudapan untuk Reza dan teh untuknya sendiri.


"Siang pak." Ucap Jasmine dan Gilang saat berpas-pasan dengan Reza. Pria itu hanya menatap kedepan tidak melirik mereka sama sekali, melalui mereka berdua tanpa berbicara sepatah katapun.


"Bos kita itu memang sangat dingin, tetapi di balik sikap dinginnya ia memiliki sejuta kharisma dan sangat berwibawa." Ucap Gilang saat mereka berjalan kembali ke ruangan wakil CEO mereka.


"Kak ambil kan teh ku." Ucap Jasmine dan Gilang langsung mengerjakan perkataan Jasmine. Gadis itu langsung berjalan ke ruangan Reza dan menaruh nya di meja sang suami. Di kantor tidak ada satupun yang tahu jika Reza dan Jasmine telah menikah, bahkan yang tahu Jasmine adalah cucu kandung pemilik perusahaan ini juga tidak ada. Semuanya tertutup rapat, hanya Dika yang mengetahui hal itu. Selama di rumah pun mereka berdua pisah ranjang dan jarang berkomunikasi.


"Jasmine, malam ini kamu free enggak? Dinner yuk." Ajak Gilang saat Jasmine kembali duduk di mejanya yang berada di samping meja Gilang.


"Sepertinya Bos sedang kesal. Meskipun biasanya wajahnya itu datar tapi sepertinya hari ini auranya berbeda." Ucap Gilang menatap pintu ruangan Reza.


"Hai cantik, malam ini dinner yuk?!" ucap Hanna tiba-tiba membuat kedua manusia yang ada di sana terkejut bukan main.


"Maaf tapi dia milikku malam ini." Ucap Gilang membuat Hanna menatapnya dengan sangat tajam.


"Mine, kau ikut dengan ku bukan? Ayolah, aku ingin menceritakan sesuatu dengan mu." Ucap Hanna mencoba membujuk Jasmine.


"Tidak Kak, Kak Gilang tadi lebih dulu mengajak ku." Ucap Jasmine tersenyum ramah. Gilang yang mendengar perkataan Jasmine langsung tersenyum menjengkelkan ke arah Hanna, mencoba menggoda wanita itu dengan menaik-turunkan alisnya.


"Baiklah besok yah? Ingat aku sudah membooking dia untuk besok." ucap Hanna meninggalkan kedua manusia itu dengan tatapan mata masih menatap tajam ke Gilang.b


"Di kira aku apa? Main booking aja." Gumam Jasmine lalu kembali memeriksa agenda Reza.

__ADS_1


...🍃🍃🍃...


Reza membuka pintu apartemennya karena


"Mau kemana kau?!" tanya Reza dengan suara beratnya.


"Mau makan malam di luar Za." Ucap Jasmine menjawab seadanya kepada suaminya itu.


"Sama siapa?"


"Sama kak Gilang." Ucap Jasmine mengecek kembali ke tasnya, ada yang tertinggal atau tidak.


"Kau bisa memanggilnya kakak, tapi pada suami ku sendiri kau memanggilku dengan sebutan nama. Aku bahkan lebih tua darinya." Ucap Reza, terdengar suara seperti seseorang yang tidak terima keluar dari bibir Reza.


"Kau cemburu padanya." Ucap Jasmine sembari tersenyum.


"Tidak! Lihat lah, sejak kau mengenal dirinya kau lebih banyak tersenyum, seperti dia membawa pengaruh yang cukup besar pada dirimu." Ucap Reza menatap Jasmine dengan tajam, sedangkan yang di tatap mengangkat bahu acuh.


"Jika kau tidak cemburu ya sudah, menyingkir lah, aku ada janji padanya." Ucap Jasmine mengusir Reza.


"Dimana kalian dinner?" ucap Reza menghentikan langkah Jasmine.


"Di restoran Wilshire." Ucap Jasmine tanpa membalikkan tubuhnya lalu berjalan kembali ke luar.


To be continued.


"Perempuan yang baik memang akan menuntut untuk di perhatian, namun tidak menjadikan dirinya pengemis perhatian"


^^^22 Januari 2021^^^

__ADS_1


__ADS_2