Mr. Sargeant

Mr. Sargeant
Chapter 64


__ADS_3

"Bodynya bro!" Bisik Aldi lalu mengikuti langkah Lunna yang mempersilahkan mereka berdua duduk.


"Stop! Berdiri!" Seru Aditya ketika Lunna hampir mendaratkan bokongnya keatas sofa.


"Hah? Ini kamar ku, terserah aku dong mau apa, mau duduk, mau jungkir balik masalahnya sama kamu apa?" Protes Lunna tidak jadi duduk.


"Masalahnya adik gue udah tegang!" Batin Aditya dengan mata yang masih menatap intens pada paha putih mulus Lunna.


"Bro? Gue terangsang." Adu Aldi mencoba menelan salivanya ketika menatap pada kaus Lunna yang memperlihatkan betapa indah area dada Lunna yang penuh, padat dan juga bulat( Hai-hati jangan treveling pikirannya, jangan di bayangkan cukup di nikmati:))


Diam-diam dibawah sana, Aditya sedang menendang keras kaki Aldi agar pikiran pria itu kembali normal. Namun bukannya normal, pikiran keduanya justru makin melayang saat tangan Lunna bersedekap dibawah dadanya dan yang pasti kelakuan gadis ini membuat dadanya makin tercetak sempurna.


"Lihat apa kau?! Ini ponsel mu." Aditya mendorong kepala Aldi agar tatapan lelaki itu tidak terus-terusan menatap tubuh Lunna, namun bajingannya dokter satu ini, ia justru menikmati keindahan tubuh Lunna bukannya menghindar dan mengingat kekasihnya yang sudah terbang kembali ke Jakarta.


Lunna mengambil ponsel dengan layar retak yang di sodorkan Aditya. Menatap benda itu seperti memikirkan dengan keras mengapa ponselnya bisa ada di tangan Aditya. Karena pegal terus berdiri, akhirnya Lunna memutus untuk duduk di sofa dan bergabung dengan kedua pria ini.


"Stop!" Seru Aditya kembali membuat Lunna kembali terlonjak.


Kilas balik kejadian pagi tadi, tepat dimana Aldi dan Lunna sedang makan bersama di tempat makan ala kadarnya yang ada di pulau yang cukup terpencil itu.


"Sudah selesai?" Tanya Lunna ketika menatap piring Aldi yang belum habis sepenuhnya.


"Belum, kau tidak makan?" Balas Aldi karena melihat isi di piring Lunna belum habis setengah.


"Sudah kenyang, aku ke toilet dulu." Dengan entengnya Lunna meletakkan ponselnya di atas meja karena berfikir nanti juga pasti akan ke meja ini kembali.


Tidak lama setelah itu, Lunna sudah selesai dengan kegiatannya. Aldi juga sudah membayar makanan mereka, karena itu Aldi langsung mengajak Lunna kembali ke kamar masing-masing karena sebentar lagi akan ada pemotretan terakhir sebelum mereka pergi.

__ADS_1


Alhasil, Lunna benar-benar lupa pada ponselnya yang tergeletak di atas meja. Dan inilah akhirnya, Aditya menjadi pahlawan Kepagian untuk Lunna dan ponselnya karena pria satu ini memperhatikan mereka dari sebelum datang hingga pergi.


"Makasih. Ya udah Al, ayo kembali ke lokasi."


"Pergilah dahulu, saya ingin berbicara dengan Lunna sebentar." Usir Lunna dan dengan terpaksa Aldi menyudahi tontonannya yang sangat menarik ini.


"Duduk!" Seru Aditya ketika Aldi sudah keluar.


"Hello! Dari tadi kau menyuruhku untuk berdiri dan sekarang kau--"


"Duduk!" Perintah Aditya sekali lagi. Dengan kesal Lunna menghempaskan tubuhnya ke sofa, otomatis baju kebesaran yang ia kenakan terangkat dan menampilkan hot pansnya. Aditya tampak menghembuskan nafasnya lega.


"Kemari!"


"Tunggu, tunggu! Sebenarnya siapa kau? Seenaknya memerintah ku, dan di kamar siapa ini?"


"Kemari!" Ulang Aditya dengan nada tegasnya membuat nyali Lunna menciut.


"Apa yang kau lakukan? Bagaimana jika kekasih mu tau!" Bentak Lunna mencoba melepaskan diri dari dekapan Aditya.


"Aku tidak peduli." Aditya langsung melu**t bibir mungil Lunna dengan ganasnya hingga Lunna hampir kehabisan nafas di buatnya. Dengan tidak tahu malunya, Aditya merapatkan pelukan diantara mereka berdua, membiarkan Lunna merasakan adik kecilnya yang menegang akibat melihat tubuh mungil yang padat berisi di bagian yang penting.


"Aditya aku mohon lepaskan." Ucap Lunna. Namun bukannya melepaskan Aditya justru membalik posisi, dirinya di atas dan Lunna yang berbaring di atas sofa panjang itu.


"Jangan pernah mengenakan pakaian sependek seperti itu jika kau tidak mau hal seperti ini terulang, bahkan bisa berakibat fatal jika kau berani mengulangnya. Ini hanya sebagai hukuman agar kau memperbaiki diri." Ucap Aditya dengan suara seraknya. Tunggu, sejak kapan pira satu ini memiliki suara serak?


"Aku pergi dulu, kekasihku sedang menunggu." Aditya bangkit dari atas tubuh Lunna dan meninggalkan kamar itu begitu saja. Lunna hanya diam mematung mencerna semua perbuatan Aditya dan juga kata-katanya.

__ADS_1


"Sebegitu murahannya diriku?" Tanya Lunna pada dirinya sendiri. Perlahan suara tawa keluar dari bibirnya, tawa pelan yang perlahan berubah menjadi kikikan dan berakhir dengan sebuah tangisan dan rintihan.


...🍃🍃🍃...


"Hati-hati." Ucap Lunna mengusap lembut pipi Aldi dengan tersenyum hangat.


"Rey… I love you." Lunna memeluk erat tubuh Aldi, mencengkram jaket jeans yang pria itu kenakan. Mata Lunna benar-benar mengeluarkan air mata, bukan karena totalitasnya dalam memainkan perannya, namun teringat pada kebodohannya pagi tadi.


"I love you more."


"Ann…" Panggil Aldi mengusap lembut pucuk rambut Lunna yang hanya sedagunya. Perlahan Aldi mendekatkan wajahnya ke wajah Lunna, nafas keduanya bersahut-sahutan hingga pada saat bibir mereka hampir bertaut dua orang pria berlari kearah mereka dan langsung menuju wajah Aldi hingga membuat bibir lelaki itu robek dan mengeluarkan darah.


"Tody, Peter apa yang kalian lakukan!" Bentak Lunna pada kedua pria dewasa berwajah blasteran.


"Sorry miss, kami hanya…"


"Pergi atau aku adukan ke kakak!" Bentak Lunna lalu beranjak melihat Aldi yang sedang di kelilingi. Sedangkan pria yang berdiri menyaksikan semua itu hanya tersenyum lalu pergi melangkah meninggalkan lokasi syuting sang pujaan hati.


"Wow nona, siapa itu?" Tanya Aldi ketika bibirnya di obati oleh seseorang.


"Sudahlah lupakan, apa kau baik-baik saja?" Tanya Lunna membantu membersihkan wajah Aldi. Untung wajah lelaki satu ini tidak memar, jika ia maka keberangkatan mereka pasti akan di undur kembali seperti saat ini.


"Baik, sudah bersih? Apakah adegan tadi mau di lanjut?" Tanya Aldi sembari terkekeh.


"Belum tersentuh saja wajah mu sudah seperti ini, apa lagi kalau kau nikmati? Bisa-bisa kau koma tiga bulan di rumah sakit." Ucap MUA yang membersihkan luka Aldi membuat semua orang yang ada di sana tertawa.


To be continued.

__ADS_1


Sudah jelas bukan siapa jodohnya Lunna? Siapa yang mikir kalau yang ngeliatin Lunna dari jauh itu Aditya? Salah besar Boo, bukan Aditya tapi... Nanti lanjut malam^^


Oke, see you next time... Gak janji tapi yah:)


__ADS_2