Mr. Sargeant

Mr. Sargeant
Chapter 28


__ADS_3

"Wah-wah... Sejauh mana kau berhubungan dengan kakak mu itu?" tanya Reza mengintrogasi Jasmine. Wanita itu hanya melewati Reza seakan-akan suaminya itu tidak ada di hadapannya. Jasmine sudah lelah karena menjaga Gilang seharian. Wanita itu benar-benar menyesali perbuatannya yang meninju hidung Gilang dan membuatnya terpenjara.


"Hei apa kau tuli?" tanya Reza menggenggam pergelangan tangan Jasmine, istrinya itu langsung melepaskan tangan Reza yang menggenggam erat tangannya. Dengan berjalan gontai ke kamar, dan menggerakkan lehernya meredakan rasa pegalnya.


...🍃🍃🍃...


Gadis itu merebahkan tubuhnya di dalam bathub, matanya terpejam menikmati air hangat yang seakan memijat seluruh tubuhnya yang terasa letih. Sabun beraroma terapi yang tercampur dengan air hangat membuatnya rileks, tak terasa Jasmine saat ini sudah menjelajahi alam mimpi.


Sekelebat perkataan Hanna pagi tadi, membuat Jasmine terkejut. Saking terkejutnya ia, kepala Jasmine sampai merosot kedalam air membuat hidung mancungnya dengan mudah di masuki air. Jasmine langsung terduduk, mencoba mengeluarkan air yang ada di hidungnya. Mata Jasmine juga perih karena air yang digunakannya untuk berendam di campur dengan sabun beraroma terapi.


Setelah membasuh mata dan sekujur tubuhnya dengan air bersih dari shower lalu menyambar handuk merah maroonnya yang minim.


"Hei kau mau kemana?" ucap Reza dengan suara beratnya. Jasmine yang sudah berada di hadapan pintu kamarnya ingin keluar, diurungkan karena perkataan Reza.


"Kamar Lunna." Reza langsung mencampakkan handphonenya ke ranjang Jasmine lalu berlari cepat ke arah istrinya yang sedang memegang gagang pintu.


"Dikamar Lunna ada petugas yang sedang menyedot saluran pembuangan air yang tersumbat." ucap Reza menggenggam erat tangan istrinya. Namun sesaat kemudian, entah apa yang merasuki pikiran pria itu Reza langsung melepaskan tangan Jasmine dan membuang wajahnya menghindari pemandangan indah namun menyesatkan itu.


"Mine, bisakah kau memasakkan makan malam untuk ku?" ucap Reza melingkarkan kedua tangannya di leher Jasmine dari arah belakang.


"Bukan kah kau memiliki Aya mu itu? Minta saja dia memasak untuk mu." Reza yang mendengar perkataan Jasmine langsung menghentikan aktivitasnya. Ditatapnya wajah Jasmine dari pantulan cermin di hadapan mereka. Keduanya saling menatap namun arti dari tatapan mata kedua manusia itu berbeda.


"Aya? Bagaimana jika aku mau makanan yang lain?" tanya Reza. Kedua manusia itu sangat menikmati percakapan mereka yang penuh kemanusiaan, karena bulan lalu mereka melewati hari demi hari dengan sangat dingin.


Jasmine menatap heran kepada Reza, lelaki itu seakan tahu apa yang ada di benak istrinya. "Bagaimana jika aku mau memakan mu?" ucap Reza menjawab semua teka-teki yang ada di benak Jasmine.


"Makan saja kak Aya mu itu. Bukan kah kalian sudah sering melakukannya." Ucap Jasmine memakai krim malamnya.


"What?! Kau gila yah? Mana mungkin!" ucap Reza melepaskan tangannya dari leher istrinya.

__ADS_1


"Kau kira aku tidak tahu perbuatan menjijikkan mu itu?" Jasmine membalikkan tubuhnya menatap langsung manik mata Reza dengan mata yang berkaca-kaca. Semua visi dan misi yang telah ia bangun hancur berantakan karena setetes air mata yang jatuh dari pelupuk matanya. Jasmine melingkarkan tangannya ke pinggang Reza, membenamkan wajahnya keperut sixpack Reza yang terekspos bebas.


"Perbuatan apa sih, Mine?" tanya Reza mengusap pucuk kepala istrinya.


"Kemarin malam apa yang kau lakukan dengan Kak Yana di dalam kamar mu?" ucap Jasmine mendongakkan kepalanya menatap wajah Reza dengan tangan yang belum terlepas dari pinggang suaminya.


"Jadi ceritanya kamu jealous? Oh my God, sepertinya karakter mu yang dingin, datar, arrogant dan tempramental itu benar-benar hilang." Reza terkekeh ketika dirinya ditatap tajam oleh istrinya.


"Kau tahu? Apa yang aku lakukan dengan Aya, jauh di diluar ekspektasi mu."lanjut Reza lalu mencium pucuk kepala Jasmine.


Flashback on


Reza tangah duduk di meja kerjanya, pandangan matanya terfokus ke depan layar dengan perantara sebuah kaca mata.


"Kak ini tehnya, siapa tahu bisa lebih rileks." ucap Ayana saat dirinya memasuki ruangan kerja Reza. Pria itu hanya menatapnya sekilas lalu memberikan perintah lewat lirikan katanya.


"Gila kali yah? Emang gue apaan sampe tau itu artinya apa?" batin Ayana lalu mendekat ke meja Reza.


"Saya gak ngerti Kakak mau apa." Ucap Ayana membuat Reza hanya menepuk jidat.


"Letakkan di meja itu." Ucap Reza dan Ayana hanya diam dan mengangguk. Ayana memperhatikan Reza yang sedari tadi hanya terdiam dan terus terfokus pada apa yang di kerjakannya saat ini.


"Ini orang homo atau impoten yah?" Ucap Ayana dengan sedikit kuat membuat Reza refleks menatapnya.


"Eh enggak Kak!" pekik Ayana. Saking kagetnya ia, Ayana bahkan menabrak meja di sampingnya membuat gelas berisi teh hangat untuk Reza tumpah, bukan hanya tumpah tetapi gelas itu jatuh dan pecah. Ayana yang panik tidak sengaja menginjak pecahan gelas yang berhamburan dilantai.


"Auh!" pekik Ayana saat kakinya tertusuk


Reza yang melihat Ayana terduduk dengan kaki berdarah langsung menghampirinya.

__ADS_1


"Auh sakit kak!" pekik Ayana ketika Reza mencoba mencabut pecahan gelas di kakinya.


"Pelan kan suara mu Aya. Jika Lunna terbangun nanti akan ribet masalahnya. Bersabarlah, sakitnya akan segera hilang." Ucap Reza lembut mencoba menenangkan Ayana.


Flashback off


"Jadi kau dan Kak Ayana tidak pernah." Ucap Jasmine dengan gerakan tangan seperti dua orang yang sedang bercumbu.


"Apaan sih! Ya engga lah." Ucap Reza menepis tangan Jasmine lalu memeluk erat kembali tubuh istrinya. Didalam dekapan itu Reza tersenyum karena ada kemungkinan istrinya itu telah menyukainya, bahkan mencintainya.


"Bibit ku ini hanya untuk calon ibu dari anak-anakku nanti. Jadi bagaimana jika kita membuatnya sekarang?" Jasmine langsung mencubit keras perut sixpack suaminya yang terakspos bebas.


"Apa yang ada di pikiran mu itu hanya hal-hal mesum?" Reza yang mendengar perkataan Jasmine langsung tergelak, dirinya sendiri tidak tahu bagaimana dia bisa memiliki pemikiran kotor jika berada di dekat istrinya itu.


"Mine, kau ingat ketika aku tidak sengaja menarik handuk mu?" ucap Reza mendekap kembali tubuh Jasmine.


"Ya, kenapa?"


"Malamnya aku tidak bisa tertidur karena hal itu, lebih baik kejadian mengerikan saat alergimu itu kambuh terulang lagi dari pada aku harus melihat tubuh mu itu."


"Sudahlah ternyata ekspetasi ku terlalu tinggi mengenai tubuhmu itu. Tubuhmu indah tanpa cacat, apa lagi bagian idaman pria yang kau miliki sangat sempurna. Namun sayang, pemiliknya tidak bisa menikmati hal itu." lanjutnya.


"Apa? Kau itu memuji ku atau menghina ku?" ucap Jasmine membuat Reza tergelak. Diciumnya keras pundak Jasmine yang terekspos bebas karena hanya menggunakan tanktop, membuat Jasmine meringis karenanya.


"Za mau ngapain!" bentak Jasmine saat Reza menggendongnya ke tempat tidur.


"Menurut mu?" Reza mencium dengan rakusnya bibir Jasmine. Dengan sekuat tenaga gadis itu memberontak.


"Za! Hentikan! Aku sedang datang bulan!" ucap Jasmine membuat Reza berhenti seketika. Juniornya sudah semangat empat lima tetapi istrinya malah mengatakan hal yang membuatnya remuk redam, kepala nyut-nyutan dan lemes berkelanjutan.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2