
"Apa kalian setuju?" tanya Ibunya Jasmine saat kedua pasutri itu bertamu ke rumah ibunya.
"Tentu saja, kami sudah sepakat melakukan resepsi tiga bulan lagi." Ucap Jasmine.
"Itu sih mau mu, jika aku sih tiga hari lagi seharusnya kita melakukan resepsi pernikahan." Batin Reza lalu merebut remote tv yang di pegang Jasmine dan merebahkan tubuhnya di pangkuan sang istri. Dengan penuh kasih sayang Jasmine membelai lembut rambut suaminya.
"Sudah jangan membuat ibu cemburu begitu, kalau mau berdua-duaan mulu sana di kamar atau jalan-jalan gih!" Jasmine yang terkejut mendengar perkataannya ibunya langsung berdiri dan menjatuhkan Reza.
"Kau ini."
"Ya sudah berangkat, kamu besok sudah harus kembali ke Indonesia bukan?" tanya ibunya Jasmine.
"Kemana?" tanya Reza ketika mereka sudah keluar dari rumah megah keluarga istrinya.
"Terserah."
"Ke mall aja ya." Ucap Reza menghidupkan mobil mewah istrinya itu.
"Terserah!" Jasmine susah menaikkan oktaf suaranya karena kesal dengan Reza.
"Ok."
...🍃🍃🍃...
"Ayo nonton film dulu." Ucap Jasmine menarik tangan suaminya.
"Ia sabar dulu."
"Tadi dia bilang terserah, sekarang dia pula yang paling semangat." Batin Reza tidak habis fikir dengan istrinya yang plin-plan itu.
"Eh jangan film horor!" seru Reza ketika istrinya mengantari di tempat penjual tiket film horor.
"Kau takut?" tanya Jasmine dengan polosnya. Tanpa di tanya juga Jasmine tahu seberapa besar rasa takut suaminya pada film horor.
"Tidak! Ya sudah aku membeli cemilan dulu."
Ketika film di putar, wajah Reza terus saja bersembunyi di lengan istrinya. Jasmine yang tidak bisa fokus menonton terus saja menatap kesal kepada suaminya. Di liriknya pasangan-pasangan lain, dimana para wanita yang bergelanyut manja di lengan sang pria, dirinya justru terbalik.
"Akh!" pekik Reza menumpahkan popcorn karena tangannya bergetar hebat ketika melihat adegan hantu yang muncul dengan tiba-tiba, sembari berteriak dengan sangat keras hingga membuat semua orang menatapnya. Jasmine yang sudah sangat malu, gadis itu menarik tangan Reza keluar dari ruangan itu.
"Kau takut?" tanya Jasmine dengan wajah kesalnya.
"Tidak!"
"Hei! Kau lihat dahi mu itu?! Kau bahkan sampai berkeringat dingin seperti ini, masih mau bilang tidak juga?!" bentak Jasmine menyeka keringat yang bercucuran di dahi suami narsisnya itu.
__ADS_1
"Tidak, aku hanya terkejut. Mana mungkin seorang Reza takut pada film hantu. Aku Tampan dan sempurna--" Reza tidak melanjutkan perkataannya karena Jasmine saat ini meliriknya dengan malas bercampur kesal.
"Baiklah bagaimana jika kita bermain saja." Reza menarik tangan istrinya dan membawa Jasmine ke lantai di mana di penuhi anak-anak yang sedang bermain.
Berbagai permainan di tempat itu sudah mereka coba, dan saat Jasmine bertemu sebuah mesin yang berisi berbagai macam boneka, wanita itu langsung berhenti ketika menatap boneka kecil berwarna biru muda, boneka apa lagi yang di sukainya jika bukan Doraemon.
Wanita itu memasukkan koin di sana, capit yang ia kendalikan saat ini tengah fokus pada target dan...
"Akh!" geram Jasmine ketika dirinya tidak mendapatkan boneka incarannya.
"Dasar bodoh, minggir!" ucap Reza mulai bermain. Dirinya terus fokus pada boneka incaran istrinya hingga.
"Akh, mengapa ini sulit!" geram Reza lalu mencobanya lagi. Pria itu sudah melakukan percobaan puluhan kali namun tetap gagal. Jasmine yang sudah muak, menarik tangan suaminya agar pergi, namun tidak di hiraukan sama sekali oleh Reza dan tetap mencoba.
"Paman kau itu bodoh sekali." Ucap seorang anak laki-laki yang dari tadi memperhatikan Reza.
"A-apa?"
"Ya, kau itu bodoh sekali. Sudah ratusan kali kau mencobanya tetapi tidak bisa, minggir!" ucap anak itu mengusir Reza.
"Coba kau buktikan?"
Anak itu terus fokus pada boneka Doraemon yang dari tadi ingin di ambil oleh Reza, dan hanya sekali ia bermain ia langsung mendapatkan boneka itu. Reza menatapnya tidak percaya dan langsung kembali mencoba, namun lebih dari lima kali iya tidak bisa mendapatkannya.
"Sudah ayo!" ucap Jasmine menarik lengan suaminya.
"Sepertinya membawa mu jalan-jalan itu hanya akan mempermalukan diri ku saja." ucap Jasmine frustasi.
Sedangkan Reza yang saat ini terlihat fokus menyetir, pikirannya tengah berkelana mengingat kembali kebodohannya yang tidak bisa mendapatkan satu boneka pun dari ratusan kali percobaan.
"Akan ku beli itu, akan ku beli itu, akan ku beli itu." Batin Reza.
"Bagaimana? Kau sudah mengatakannya?" tanya Brian ketika Jasmine sedang membersihkan diri di kamar mandi.
"Aku tidak bisa mengatakannya." Jawab Reza jujur.
"Kau ini, hanya mengatakan cinta saja tidak bisa. Coba berlatihlah." Ucap Brian lalu memutuskan sambungan telefon itu.
"I love you, no, no! I love... Akh!" geram Reza ketika tidak bisa mengatakan hal simple yang memiliki arti luas itu.
"I love you, dasar bodoh!" ucap Reza menghardik dirinya sendiri. Reza lalu menarik selimut yang ada di sebelahnya dengan kasar, frustasi boleh kebodohan dirinya sendiri."
"Kau kenapa?" tanya Jasmine berdiri mematung ketika melihat Reza yang mengacak-acak tempat tidur mereka.
"Tidak!"
__ADS_1
🍃🍃🍃
Reza memeluk erat tubuh istrinya yang sedang terlelap di dekapannya. Pikiran Reza melayang entah kemana memikirkan nasib rumah tangga mereka.
"Besok aku sudah harus kembali ke Indonesia." Gumam pria itu, entah Jasmine mendengarnya atau tidak, tetapi wanita satu ini memeluk erat dirinya seakan tidak mau melepaskan Reza. Reza yang di dekap erat oleh istrinya hanya tersenyum lalu membalas dekapan istrinya lebih erat.
Keesokan paginya...
"Apakah di dalam koper mu ada barang yang tertinggal?" tanya Jasmine saat memasangkan dasi Reza.
"Tidak." ucap Reza melirik jam tangannya.
"Kapan kau akan berangkat?" tanya wanita itu kembali.
"Setengah jam lagi." Untungnya jarak antara apertemen Jasmine tidak terlalu jauh dari bandara.
"Rambut mu kenapa berantakan seperti ini!" ucap Jasmine menyisir rambut Reza yang sudah sangat rapi.
"Apa tidak ada yang tertinggal? Paspor? KTP? Dompet?" ucap Jasmine kembali.
"Tidak, ya sudah aku berangkat." Ucap Reza lalu meraih kopernya dan melangkah pergi. Namun baru beberapa langkah ia berjalan, Reza langsung berhenti dan berbalik badan. Di tatapnya mata Jasmine yang berkaca-kaca menahan air matanya agar tidak jatuh, Reza langsung meletakkan kopernya dan berjalan kembali ke arah Jasmine.
Reza mendekap erat tubuh istrinya dan memberikan kecupan kecil di pucuk rambut Jasmine. Sedangkan Jasmine kini tengah menangis di dekapan Reza dan melingkarkan tangannya erat di tubuh Reza, ia meluapkan rasa yang ada di hatinya di dada suami narsisnya. Reza hanya membelai lembut kepala Jasmine mencoba menenangkan istrinya.
"Aku akan segera kembali, pekerjaan di kantor saat ini sedang menumpuk." Ucap Reza mencoba melepaskan diri dari Jasmine, namun istrinya itu justru mendekapnya lebih erat. Reza yang merasakan Jasmine tidak mau melepaskannya langsung membalas Jasmine dengan mendekap tubuh istrinya lebih erat.
"Setelah aku memegang perusahaan pusat aku akan membawa mu bersama ku, dan biarkan orang lain memegang tanggung jawab di sini. Kau juga harus ke kantor bukan? Sudah sayang."
Reza menghapus air mata istrinya dengan lembut dan penuh kasih sayang, di kecupnya lembut mata Jasmine. Jasmine memejamkan matanya, menikmati perlakuan lembut suaminya. Namun kecupan itu berganti posisi, adegan ciuman manis bak di drama romantis Korea terjadi di antara mereka.
"Baiklah aku pergi."
"Tolong hubungi aku setiap hari, sayang." Ucap Jasmine membelai wajah Reza.
"Pasti."
Pesawat pribadinya tengah lepas landas, meninggalkan kota Berlin dimana sang belahan hati menetap di sana. Reza memandang jendela, tersenyum samar ketika mengingat sesuatu. Sedangkan Sifa yang sedang duduk tidak jauh dari atasannya hanya terdiam.
"Sayang." Gumam Reza lalu tersenyum lepas.
Sedangkan itu, Jasmine menatap ke langit biru di balkonnya. Senyuman manis tercipta di bibir gadis itu.
"Sayang?" tanya Jasmine pada dirinya sendiri lalu tersenyum gemas pada dirinya sendiri.
To be continued
__ADS_1
Huaaa! Author laper!🙁