
"Maaf, aku ke toilet sebentar." Pamit Jasmine. Jeniffer melihat Reza dengan lirikan mata penuh menelisik, sedangkan Reza yang melihatnya hanya diam dan memasang wajah datarnya. Muncul rasa untuk memanas-manasi suami atasannya itu.
"Wah, ternyata suami Jasmine tidak lebih baik dari lelaki yang saat ini berusaha untuk mengejarnya." Ucap Jeniffer membuat Reza mendelik dan tidak terima.
"Tidak seperti dia yang memberikan kenyamanan dan kehangatan di setiap harinya." Ucap Jeniffer kembali, ia tahu kata-kata yang ia ucapkan mengandung makna ambigu, dan ia mengatakan hal itu agar Reza mengartikannya dalam tanda kutip.
"Apa maksudmu!" ucap Reza sudah mulai tersulut emosi, Jeniffer kembali meliriknya dengan tajam.
"Ya begitulah." Jawab Jeniffer cuek lalu meminum kembali jus yang ada di hadapannya. Reza sangat frustasi ketika mendengar Jeniffer cuek kepadanya, bisa saja Reza langsung memecat Jeniffer tapi wanita beranak dua itu adalah sekretaris ayahnya Jasmine yang baik, kompeten dan selalu mengerjakan pekerjaannya dengan perfact.
Reza menarik nafasnya untuk menstabilkan kembali emosinya.
"Bisa tolong ceritakan apa yang terjadi dengan Jasmine setelah dua bulan ini?"
"Tidak." ucap Jeniffer acuh tak acuh.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Reza mulai frustasi.
"Kau menyogok ku?!" tanya Jeniffer dengan nada yang mulai meninggi.
"Ya bisa di bilang begitu." Reza berusaha untuk bersikap tak acuh ketika melihat kilatan amarah Jeniffer dari matanya, ia sudah salah menyogok sekretaris istrinya.
"Baiklah aku mau." ucap Jeniffer dengan nada santai membuat Reza membelalakkan matanya seketika.
"Apa yang kau mau?"
"Bahan dapur ku sudah habis semua, dan hari ini adalah jadwal aku membeli bahan-bahan dapur. Oh iya, kemarin juga anak kedua ku yang perempuan minta di belikan gitar listrik yang kecil, di belikan dress cantik berwarna pink dan juga aku ingin membelikan pembantu ku yang di rumah pakaian. Bisa kau berikan itu?" tanya Jeniffer membuat Reza langsung bungkam. Pria itu tidak habis pikir dengan wanita di hadapannya, selain kompeten ternyata dia adalah ibu rumah tangga dan majikan yang sangat baik.
"Kau yakin dengan permintaan mu itu?" tanya Reza.
"Iya, tiga hari lagi baru aku menerima gaji. Jadi tolong belikan semua itu."
__ADS_1
"Kau gila? Aku kau suruh membelikan semuanya sendiri?!"
"Ya tidak begitu juga bodoh! Kau tinggal memberikan ku uang, sekolah tinggi-tinggi tapi kok masih bodoh."
"Aku tidak memiliki uang chas, nanti aku akan menariknya di bank, jadi bisa kau katakan pada ku?"
"Baiklah, mulai dari mana yah? Ah, kau itu sangat beruntung memiliki istri seperti dia, baik cantik, dan bisa menjaga diri. Tidak sedikit orang yang menyukai istri mu itu, para klien yang masih muda, karyawan di kantor dan banyak pria asing dari luar yang terpesona akan kecantikan istri mu itu." Reza mendengarkan dengan setia, memasang telinganya baik-baik agar tidak ada satu katapun yang lolos dari pendengarannya.
"Jasmine selalu punya cara untuk menghindari mereka, satu bersikap dingin dan datar, dua tegas dan selalu cuek, tiga ini." Jeniffer memperlihatkan cincin di tangannya.
"Maksud mu?"
"Hmm! Jasmine menunjukkan cincin pernikahan kalian menandakan dia sudah ada yang memiliki, kau ini!"
"Sebenarnya Jasmine menyukai laki-laki yang manja kepadanya tetapi dia selalu bersikap dingin dan tempramental jika di dekat, aneh bukan?"
"Tidak juga, di balik sikap dinginnya dia, dia selalu bisa menghangatkan ku dengan cara kami sendiri."
"Jasmine itu sangat baik dan ramah sebenarnya, tetapi hanya pada orang-orang tertentu yang di dekatnya. Wajahnya cantik, hatinya juga bersih dan baik seperti malaikat sama persis dengan namanya. Satu lagi, dia sangat tidak suka orang yang memaksanya, jadi jangan sekali-kali kau melakukan hal itu, sekali dia tidak suka seumur hidup dia akan bersikap dingin kepada orang itu."
"Kau tidak tahu? Jasmine sangat gampang cemburu dan salah sangka. Oh ya, bisakah kau mengatakan pada ku cara mengejar Jasmine dengan cara ku sendiri yang tidak bertolak belakang dengan ku?"
"Itu..."
"Sudah? Ayo kembali ke perusahaan." Ucap Jasmine karena setelah ini akan ada meeting kembali. Kedatangannya membuat Reza dan Jeniffer sangat terkejut, lalu beberapa detik kemudian merek tersenyum dan mengangguk.
...🍃🍃🍃...
"Ada yang bisa aku bantu?" tanya Reza ketika Jasmine hanya cuek pada pekerjaannya saja. Karena Jasmine tidak menjawabnya, Reza langsung menarik Jasmine dari kursinya dan duduk di kursi kebesaran sang istri lalu mendudukkan kembali istrinya di pangkuannya.
"Reza jangan gila, kau tidak malu di lihat orang?"
__ADS_1
"Tidak." Ucap Reza lalu menatap layar komputer itu dan cepat membantu istrinya agar ia memiliki waktu bersamanya.
Setelah mereka selesai, Reza langsung melingkarkan tangannya perut sang istri, sementara Jasmine hanya terdiam sembari mengelus rambut Reza.
"Sudah jangan bermesraan di kantor, lihat ini setumpuk pekerjaan belum terselesaikan." Ucap Jeniffer tiba-tiba membuat Jasmine langsung berdiri dari pangkuan sang suami.
Reza menarik kembali Jasmine ke pangkuannya lalu mendekatkan bibirnya di telinga sang istri.
"Kita kerjakan bersama."
"Jijik tau gak." ucap Jeniffer lalu berbalik badan ingin keluar.
"Bilang aja iri."
"Iri? Suami ku bahkan lebih mesra dari pada diri mu, jika pembantu kami sedang cuti di hari minggu, suami ku membantu ku membereskan rumah, mencuci piring bersama-sama. Tidak seperti mu, mencuci piring satu saja langsung kau hancurkan." Reza bagai tertampar dengan perkataan Jeniffer, ternyata memang Jasmine itu sangat dekat dengan sekretarisnya, bahkan aib yang ia simpan rapat dan tidak pernah di bicarakan oleh siapapun di beberkan Jasmine pada wanita tengah baya itu.
"Mengapa kau ceritakan padanya!" bisik Reza tidak mau jadi bahan ejekan Jeniffer.
"Maaf, itu karena kami sering berbicara rumah tangga masing-masing." ucap Jasmine cuek lalu fokus kembali ke pekerjaannya.
Setelah selesai mereka mengerjakan pekerjaannya, Reza langsung memeluk erat Jasmine kembali. Jasmine membalikkan badannya agar dapat melihat sang suami. Reza yang di tatap hanya tersenyum lalu memberikan isyarat ingin di cium istrinya. Namun setelah bibir mereka hampir bersentuhan,
"Jangan berbuat hal mesum di kantor, ini teh dan cemilannya." Ucap Jeniffer yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka.
"Bisa kau memecatnya?" Reza menatap punggung Jeniffer dengan kilatan kemarahan, jika matanya dapat mengeluarkan laser mematikan mungkin laser itu dapat tembus di punggung sekretaris istrinya.
Jasmine yang merasakan suaminya jengkel langsung membalikkan badan dan menatap suaminya, dan saat bibir mereka hampir bertabrakan,
"Jangan berbuat hal mesum di kantor!"
To be continued
__ADS_1