
Jasmine membuka menu yang ada di genggaman tangannya. Matanya dengan tajam melirik Reza yang sedari tadi memandang seorang wanita berpakaian minim, mengedip-ngedipkan matanya genit minta di colok.
"Lihat apa?!" Tanya Jasmine galak saat Reza tak kunjung mengalihkan pandangannya.
"Sepertinya kamu cantik seperti itu, kalau di kamar. Tentu saja!"
Jasmine diam tak menggubris. Jadi beberapa menit yang lalu pria itu memperhatikan wanita seksi itu dan ingin membuat Jasmine menjadi pelampiasan? Enak saja.
Saat asik makan, wanita itu berjalan menghampiri mereka. Melenggak lenggokkan tubuhnya membuat Jasmine insecure. Ayolah, tubuhnya tidak kalah namun melihat kulit putih gadis itu sungguh... Jasmine bisa membayangkan setiap lelaki yang tergoda dengan payudara putih itu, apalagi jika memang dada wanita itu berwarna sedikit pink. Ia melihat miliknya sendiri. Besar, tapi tetap saja tidak bisa bersinar begitu!
Wanita itu sepertinya ingin bermain api. Ia melewati mereka dengan bokong yang sengaja menyenggol lengan Reza, sungguh membuat ratu iblis itu meradang.
"Ah maaf apa sakit?" Tanya wanita itu dengan nada lembut hampir membuat Jasmine melemparkan kotak tisu yang ada di depannya.
"Tidak. Anda bisa pergi!" Titah Reza tegas menyadari perubahan wajah Jasmine. Bisa mati ia kalau Jasmine tak mau tidur berdekatan nanti.
Jasmine awalnya tersenyum meremehkan. Namun lagi-lagi ia harus dibuat dongkol oleh tingkah laku wanita itu. Otaknya seketika mendidih melihat bahu dan lengan Reza di usap-usap dengan lembut, perhatian, dan... Sensual.
"Bisakah anda pergi?" Tanya Reza lugas.
"Ah, tidak begitu. Maaf aku hanya merasa bersalah...."
Ladenilah dia! Ku potong si Missile nanti malam! Kira-kira begitulah arti tatapan Jasmine yang menghunus Reza.
"Pergi!" Sentak Reza kasar membuat wanita itu memasang mimik wajah menyedihkan.
Setelah wanita itu meninggalkan mereka. Jasmine langsung angkat bicara, "Nampaknya kau menikmatinya. Wajah mu memerah."
Makin mendengus lah Jasmine begitu melihat senyuman di bibir Reza.
"Tunggu... Apa?! Aku tidak-"
Dengan kesal wanita itu meletakkan sendok dan garpunya. Meneguk kandas sisa air mineral yang di sediakan untuknya. "Habiskan makanan mu. Aku selesai."
"Hei tunggu!"
"Diamlah aku akan ke toilet."
Reza diam. Menatap punggung Jasmine dengan senyuman manis di bibirnya.
__ADS_1
"Pelayan!" Panggil Reza.
[][][][][][][][][][]
Selesai membayar makanannya, Reza menunggu Jasmine di luar mobil. Menyandarkan tubuhnya ke body mobil, dengan kedua tangan menyilang di dada, menikmati angin malam sembari menunggu sang pujaan datang.
"Hai?" Sapa wanita ulat tadi dengan senyuman lebar.
Reza diam, malas menanggapi wanita yang sudah membuat mood baik Jasmine ambruk dan berakhir mengakhiri makan malam yang sudah di gadang-gadang akan menjadi malam paling romantis mereka. Ah tidak, memang ada momen yang mengalahkan malam penyatuan mereka? Meskipun sedikit absurd namun jika di ingat semuanya terasa indah dan menjadi momen favorit pria itu.
"Pergilah dari hadapan ku jika kau tak mau tulang tanganmu patah!" Ancam Reza dengan nada dingin dan sorot mata mengintimidasi.
"Ta-tapi-"
"Pergi!" Sentak Reza kasar langsung mendorong wanita itu hingga terjerembab di tanah.
"Cih! Kau akan menyesal!"
Baru saja wanita itu pergi dari hadapannya, suara Jasmine langsung terdengar membuat jantung Reza hampir Copot.
"Kenapa wajahmu memerah? Kau masih membayangkan tubuh wanita itu?"
Setelah mengucapkan kata itu, Reza sama sekali tidak mendengar satu katapun keluar dari Jasmine. Wanita itu bungkam saat Reza terus menerus berceloteh memekakkan telinga. Merengek-rengek sepanjang jalan menjelaskan bahwa tidak ada apapun yang terjadi dengannya dan wanita sialan itu.
"Kau tidur sendiri, aku bersama Aera." Satu kalimat yang membuat Reza membatu di tempat.
"Kau sudah janji malam ini aku akan mendapatkan Jatah!" Protes dengan wajah tidak terima.
"Tidak mood,"
Jasmine melangkah, memasuki kamar tidur putri mereka. Namun sebelum pintu itu tertutup, Reza menyela masuk dan menggendong Jasmine bagaikan kuli mengangkat karung semen.
"Hei turunkan aku!" Pekiknya dengan suara pelan, mengingat anaknya yang tertidur pulas di atas ranjang yang empuk.
Reza memasuki kamar mereka dengan istri yang masih stay di pundaknya. Mengunci pintu kamar mereka, lalu membuangnya asal ke atas lemari. Di jatuhkan nya Jasmine ke kasur, namun dengan perlahan tanpa membanting tubuh sang kekasih. Di kecupnya kening Jasmine, lalu beranjak membuka lemari kamar mereka. Mengacak-acak isinya lalu kembali membawa dress yang jelas tak akan muat lagi dipakainya. Muat, oke muat dia tak segemuk itu. Namun saat kakinya menapak di Indonesia, berat badan Jasmine hampir naik lima kilo. Bagaimana tidak? Ia terus di jejalkan beraneka makanan enak khas Nusantara. Untung ia rajin olahraga, jika tidak entah bagaimana bentukan badannya.
"Hei apa yang kau lakukan? Yak!"
Reza melucuti seluruh pakaian sang istri, hingga menyisakan bra dan ****** *****. Memakaikan dress itu dengan perlahan tanpa paksaan, maaf sedikit memaksa. Reza mengangkat tubuh itu, membenarkan letak pakaian kekecilan yang kini tengah melekat sempurna di tubuh wanitanya. Tidak terlalu sempit seperti yang di bayangkan. Namun tetap saja kekecilan dan membuat *********** sedikit menyembul. Jangan lupakan jika lingkar dada Jasmine lebih besar setelah di jamah Reza.
__ADS_1
"Kau menjadikan aku pelampiasan fantasi mu?!" Kesal Jasmine.
"Tenanglah okey? Sejak awal fantasi ku hanya kau Mine. Saat melihat wanita itu, wajah mu langsung muncul di kepala ku. Membayangkan diri mu berjalan sembari melenggak-lenggok menghampiri ranjang kita. Membayangkan aku merobek dress yang kau gunakan membuat ku gila. Sejak kau lahir, tak pernah sekalipun aku menaruh perhatian lebih pada wanita lain kecuali Mommy dan Alexa. Aku selalu ingin merengkuh mu, memeluk seerat mungkin, berada di sisimu dan menyayangimu sampai ajal menjemput ku." Jelas Reza panjang lebar.
Melihat Reza di goda seperti itu sungguh membuat hati Jasmine teremas. Lalu apa kabar dengan Reza yang selama ini selalu menyaksikannya berbincang akrab dengan Raditya.
"Ketika tadi aku tersenyum dengan wajah memerah, itu aku... Merasa sangat senang. Pertama kali mendapatimu kesal karena cemburu padaku, melihatmu peduli dan perhatian kepada ku sungguh... Aku merasa malu," ucap Reza. Merendahkan harga dirinya, membuang gengsinya demi meredam amarah Jasmine. Ia tahu, seberapa tidak enaknya menahan cemburu itu. Yang tidak di ladeni saja cemburu bukan kepalang, apalagi sampai tertawa akrab bersama dengan pria lain. Reza sangat akrab dengan perasaan itu.
"Jadi inilah yang kau rasakan ketika melihat ku berbincang akrab dengan asisten mu," celetuk Jasmine mengingat bagaimana tingkah konyol Reza ketika dirinya berbincang dengan Raditya.
"Ya, bahkan lebih dari itu." Reza membenamkan wajahnya di perut ratanya. Melingkarkan tangannya yang besar dan kokoh ke pinggang Jasmine.
Jasmine membiarkan tingkah Reza. Bahkan wanita itu menyisir rambut Reza dengan jemarinya. Saat netranya menangkap lengan kokoh berbulu itu, otaknya langsung mengingat si jantan Missile. Ia langsung melirik sikunya sampai ke pergelangan tangan, ah Missile dan lengannya itu sebelas dua belas. Baik panjang maupun besarnya. Ia bingung, mengapa miliknya bisa menampung Missile. Ya memang saat pertama mereka melakukannya inti Jasmine terasa di robek paksa, dan ketika melakukannya Missile sampai mengetuk-ngetuk rahimnya. Untung tidak tembus ke lambung.
"Apa aku benar-benar menjadi wanita panas memakai ini?" tanya Jasmine.
"Hot, sampai Missile sajak tadi tidak bisa di ajak kompromi." Reza mengangkat wajahnya dari perut Jasmine. Merah padam sudah wajah suami Jasmine itu. Pantas ketika ia mengusap lengan itu rasanya hangat.
"Kau menginginkannya?"
"Sangat, sangat menginginkannya...."
"Kalau begitu lakukan, aku menginginkannya... Menginginkan Missile tak terkendali hingga membuat milikku berayun cepat di depan mu. Aku ingin bibir ini mengulum bibir ku... Yang di bawahhh," ucap Jasmine sensual.
Reza terdiam sejenak, baru kali ini ia merasakan hal ini. Mendengar Jasmine mengeluh seksi, mengusap-usap Missile dengan sensual. Tak ingin kehilangan kesempatan Reza bangkit, dan memulai aksinya.
Menggila, keduanya menggila malam ini. Reza benar-benar kehilangan kendali, mengajak bertempur tanpa henti sembari terus membisikkan kata-kata cinta. *******, jeritan dan erangan Jasmine bagaikan mantra pembangkit gairah, sungguh Reza tak bisa berhenti malam ini. Bergaya, dari normal sampai kayang mereka lakukan.
Hentakan terakhir, begitu dalam dan penuh. Namun ketika Reza mengeluarkan Missile, yang keluar bukan hanya cairan putih ataupun cairan bening milik Jasmine, melainkan... Darah.
"Astaga, apa yang terjadi mine?!" Pekik Reza panik bukan main. Segera berlari mengambil tisu dan mengelap darah yang keluar. Namun hasilnya, darah itu tetap mengalir tanpa henti dan begitu deras. Jasmine tidak menjawab, apa yang terjadi padanya ia pun tidak tahu apapun. Ia memang merasakan nyeri di perutnya tadi, namun mengingat Reza yang berulang kali membuat dinding rahimnya terbentur kuat membuat ia menganggap itu semua hanyalah rasa sakit atas penyatuan mereka.
Dengan napas yang tersengal setelah melakukan penyatuan hebat. Ia berlari panik mengambil pakaiannya, memakai dengan cepat dan melakukan hal yang sama pada Jasmine. Ia menggendong Jasmine, berlari secepat mungkin agar segera sampai mobil. Di sini Jasmine lebih tenang, namun raut wajahnya tak begitu. Ia merasakan sakit yang luar biasa pada perutnya.
"Kunci kamarnya ada dimana?!"
To be continued...
Ini potongan bab yang sebenarnya udah aku tulis lama banget, tapi masalahnya akun ****** ku hilang, aku coba pulihkan tapi lupa sandinya. Jadi di sini aja deh, padahal aku mau ke Fizzo tapi tempat paling anu kayanya cuma di sini. Besok besok aku up ulang yah?
__ADS_1
Mine\= MAIN. Namanya memang Jasmine, tapi Reza selalu mengklaim Jasmine punya si bapak. Nanti ada di bab sebelum ini.