
"Maju sedikit lagi ku gampar!" Ucap Jasmine tidak main-main membuat niat dan fantasi kotor Reza buyar.
Saat ponsel Jasmine berdering, raut wajah yang tadinya galak mendadak menegang. Dengan cepat gadis itu menekan tombol cancel, menimbulkan tanda tanya yang besar bagi suaminya.
"Masih tidak bisa keluar, heh?" Sindir Reza saat ponsel Jasmine kembali berdering.
"Temui dia, atau aku sendiri yang akan melenyapkannya." Ucap Reza santai kembali membuka laptop baru yang dipinjamkan Devano.
Jasmine berdecak malas "Aku tidak sebodoh itu hingga mau jatuh ke lubang yang sama."
Oooo_oooO
Satu minggu yang lalu setelah ayah Jasmine dinyatakan pulih, sepasang pasutri baru itu kembali ke Indonesia untuk menghandle kembali perusahaan milik kakeknya. Selama itu pula Jasmine di disibukan dengan kegiatannya memelihara Aera.
Kejadian beberapa hari yang lalu, tidak membuat gadis kecil itu luluh kepada Jasmine. Justru saat ini tingkahnya semakin menjadi, mulai dari rengekan yang tiada henti, kata-kata mengatur yang ketus, hingga sering mengganggu kenyamanan Jasmine yang sedang tertidur.
"Aera, bukan tidak mungkin Aunty bersikap seperti Aunty Chika!" Geram Jasmine sudah tidak tahan lagi dengan sikap Aera yang menurutnya sudah sangat keterlaluan.
Tentu saja, gadis bertempramental buruk itu, lama kelamaan pasti emosinya akan membuncah dengan menjadinya sikap pembangkang Aera. Di tambah kejadian beberapa menit lalu yang membuat mentalnya terguncang.
Sedangkan gadis kecil yang mendengar nama seorang wanita iblis itu, langsung memeluk erat kaki Jasmine. "No, Aunty!" Pekik Aera histeris.
Melihat ketakutan yang amat besar dari gadis itu membuat Jasmine tersenyum. Gadis itu berusaha mengontrol emosinya, menghirup udara sebanyak-banyaknya kemudian menghembuskan nya dengan perlahan.
Jasmine melepaskan cengkraman erat Aera dari kakinya, lalu menggendongnya ke ranjang yang sudah tak berbentuk akibat kenakalan Aera.
"Kenapa, hm? Apa kau takut gadis kecil?" Tanya Jasmine memangku tubuh Aera yang mendekapnya erat.
"No! Aunty boleh marahi aku... Tapi... Tapi jangan-" gadis itu tidak melanjutkan perkataannya, ia memiliki menumpahkan tangisannya di dada Jasmine. Mencengkram erat kaus oblong Jasmine dengan tangannya yang mungil.
Jasmine kelabakan, lebih baik ia menerima kata-kata ketus gadis kecil yang ada di pangkuannya dari pada mendengar tangisan histeris Aera. Bagaimanapun, berada di posisi gadis kecil itu pasti akan sulit. Terlebih Aera baru menginjak usia 4 tahun, dan usia di masa belianya ini ia harus menerima kata-kata dan perlakuan kasar Chika.
"Hei, tidak apa... Sudah, ayo kita mandi." Bisik Jasmine berusaha menenangkan Aera dengan mengusap lembut punggung kecil itu.
"A-Aunty ti-tidak marah?" Tanya Aera yang masih sesenggukan.
"Tidak, sudah ayo." Ajak Jasmine menghapus air mata Aera dengan jemari lentiknya.
Maafkan Aunty ya sayang? Batin Jasmine tidak tega melihat respon gadis kecil itu ketika menyinggung nama Chika.
Kilas balik kejadian tiga hari lalu. Saat mereka baru saja memasuki gedung apertemen Reza, mereka berdua disambut dengan Chika dan Aera.
"Urus anak sialan ini sendiri!" Amuk Chika melemparkan Aera pada Reza di depan pintu apertemen.
__ADS_1
Reza dan Jasmine yang melihat kondisi gadis kecil itupun syok bukan main. Bagaimana tidak? Sekujur tubuh Aera dipenuhi dengan memar dimana-mana. Pergelangan tangan yang tercetak cengkram seseorang, pipi tirus yang memerah, dan lutut serta siku yang tergores membuat Jasmine meringis.
Jasmine mengambil alih Aera yang hanya menangis tanpa berani mengeluarkan suaranya. Chika melakukan itu untuk mendapatkan uang kembali dari Reza, setelah melihat langsung kekerasan yang dilakukan wanita itu pada Aera, Reza langsung menarik semua fasilitas yang ia berikan dan menitipkan sementara Area pada seorang laki-laki kepercayaannya yang tinggal di sebuah panti asuhan.
Kehilangan fasilitas mewah, dan juga perhatian Reza membuat Chika frustasi dan bertekad mencelakai Aera. Dan karena tindakannya termasuk kriminal, ia di tuntut dengan alasan kekerasan fisik pada anak dibawah umur, bahkan bisa di katakan masih balita.
Pada dasarnya, setiap orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan kekerasan terhadap anak (Pasal 76C UU 35/201)
Dengan, sanksi pidana bagi orang atau pelaku kekerasan/peganiayaan yang melanggar pasal di atas ditentukan dalam Pasal 80 UU 35 tahun 2014:
Setiap Orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76C, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun 6 (enam) bulan dan/atau denda paling banyak Rp72 juta.
Dan karena itulah Chika saat ini sedang berada di balik jeruji besi.
"Sebentar lagi Papa pulang, ayo." Ajak Jasmine kembali menggendong Area ke kamar mandinya.
Jasmine mengisi bathub dengan air hangat, tangannya dengan lihai membuka pakaian Aera. Tampak sisa memar yang ada di tubuh gadis kecil sedikit menyamar, membuat Jasmine menghembuskan nafas lega.
Oooo_oooO
Malam ini giliran Aera tidur di kamar milik Reza. Sedangkan Jasmine yang terbebas memilih duduk di kursi ayunan gantung yang ada di balkon. Namun ketenangan yang ada di dalam diri wanita itu tidak berlangsung lama ketika sebuah pesan masuk dari kontak seseorang yang sangat ia benci kehadirannya.
Belum lagi ia membaca pesan itu, sebuah panggilan telepon dari pengirim pesan itu. "Dasar parasit!" Geram Jasmine mematikan ponselnya.
"Itu sudah menjadi resiko mu, sudah aku bilang berhenti berhubungan dengannya." Ucap seseorang dengan nada datar menarik kursi yang ada di balkon itu.
"Itu urusan mu." Ucap Reza berdiri dari tempat duduknya.
"Mau kemana kau?" Tanya Jasmine menyadari Reza tidak mengenakan boxer dan kaus oblongnya seperti biasa.
"Club. Istri ku tidak mau aku sentuh, dan peliharaan ku sekarang ada di jeruji besi." Dusta Reza.
"Terserah mu,"
"Tunggu! Aku memiliki penawaran yang bagus untuk mu?" Ucap Jasmine turun dari ayunannya menghampiri Reza.
"Aku memiliki penawaran yang bagus untuk mu, aku akan melayani mu asal kau juga melayani ku." Reza yang bingung dengan ucapan ambigu istrinya hanya menaikkan sebelah alisnya.
"Bantu aku hapuskan parasit itu, maka aku akan menjadi milik mu." Ucap Jasmine memberikan penawaran.
"Hei, Nona muda. Melayani ku adalah kewajiban bagi mu, dan untuk menghapuskan bedebah itu apa kau yakin? Menghapus orang itu jauh dari pemikiran mu."
"Aku tidak akan seperti ini jika bukan dia yang memulainya." Jasmine bangkit dan mengambil sebuah kotak dari meja kerjanya.
__ADS_1
"Lihatlah!" Ucap Jasmine memberikan kotak itu pada suaminya, lalu membuang muka ke samping. Pada saat Reza membukanya, ia dikagetkan dengan isi yang ada di dalamnya. Seekor tikus yang mati dengan tusukan pisau di perutnya. Setangkai bunga mawar merah yang layu juga menancap tepat di sebelah mata tikus malang itu dengan secarik kertas yang bertuliskan kata 'aku mencintaimu' yang di tulis dengan menggunakan darah segar.
Reza menutup kotak itu dan langsung membuangnya dari atas balkon, tidak peduli dengan nasib orang yang melihat itu nantinya. "Pantas saja Aera mengatakan kau tadi mengamuk." Kekeh Reza memeluk tubuh gemetar Jasmine.
"Aku tidak tau dia sekejam itu." Ucap Jasmine yang menahan mati-matian tangisnya.
"Baiklah, aku akan memusnahkan bedebah gila itu. Dengan imbalan!" Jasmine mencubit pinggang Reza sekuat tenaga hingga membuat sang empu meringis sekaligus tertawa.
"Papa!" Teriak Aera dari luar sana.
Oooo_oooO
Hari telah berganti, kini Jasmine dan Aera sedang menyusuri jalanan kota metropolitan itu dengan ocehan Aera yang tiada hentinya. Reza sendiri juga melarang Jasmine bekerja, dan menugaskan gadis itu untuk menjaga Aera.
Saat mereka ingin kembali ke apertemen Reza. Ada dua motor yang berhenti secara mendadak di hadapan mereka.
"Aera, ke jok belakang yuk. Aunty ke depan dulu ya?" Ucap Jasmine dan diangguki dengan cepat oleh Aera.
"Maaf, ada masalah apa ya?" Tanya Jasmine dengan santai ketika keluar dari mobilnya.
"Wah, ternyata benar-benar bernyali besar." Ucap seorang pria yang sedang menyenderkan diri di motornya.
Tanpa basa-basi, seorang pria bertubuh lebih kekar mendekat kearah Jasmine. Melangkahkan dengan pelan dengan mata sayunya yang menjijikkan. Saat pria itu ingin menyentuh pipi lembut Jasmine, gadis itu langsung menepisnya. Melompat, dan langsung menendang perut pria itu dengan kedua telapak kakinya dengan sekuat tenaga. Untungnya Jasmine tidak mengenakan heels tinggi, jika tidak bisa dipastikan pria itu akan mati ditempat saat itu juga.
"Menarik, sangat agresif. Tapi, bagaimana jika kau agresif di atas ranjang ku?" Tanya pria itu mengundang tawa kedua temannya.
Jasmine tidak memperdulikan perkataan pria itu dan tetap memasang wajah datarnya. "Boleh, mau kau bayar berapa aku ini?"
"Wow, dasar jalang murahan!" Ucap pria itu mendapatkan hadiah bogem mentah dari Jasmine.
Saat merasakan bibir nya robek "Bangsat! Gue kecolongan lagi! Diam, gadis ini milik ku" Geram pria itu hendak menampar wajah Jasmine. Namun sebelum tangan besarnya mendarat di pipi Jasmine, gadis itu langsung memutarnya dan menendang kuat lutut belakang pria yang menyerangnya.
Salah seorang yang sedari diam menyaksikan maju untuk membantu temannya. Namun ketika ia mendekat, Jasmine menjambak kuat rambut pria yang ada di genggamannya untuk menjadi tumpuan agar dapat menendang perut pria yang ingin menyerangnya.
"Akhh!" Raung pria yang sedang dijambak Jasmine karena merasakan rambutnya terasa ingin lepas dari kulit kepala.
Pria yang tadinya menyenderkan tubuhnya di samping motor langsung mendekati Jasmine, dan ketika ia mendekat, Jasmine menjadikan dada pria yang di cengkramannya sebagai alas untuk kakinya berpijak, menendang kuat perut pria yang ingin mendekatinya lalu berjalan menendang motor milik para pria bedebah itu.
Sedangkan tidak jauh dari tempatnya beraksi, seorang pria terkekeh melihat betapa gesit gadis yang tengah menghajar para preman itu.
"Gila Lo? Bini di serang orang malah ngekeh." Ucap Gilang yang sedang menghisap rokoknya dengan santai.
"Lang, minggu besok kayanya ada yang nangis-nangis gak jelas gajinya akan di potong." Ucap Reza sinis membuat Gilang tersedak asap rokoknya sendiri.
__ADS_1
"Nasib jadi bawahan."
To be continued