
POV 2
Aku menunggu di depan ruangan Uncle sembari menenangkan Aunty dan Mama ku, didalam ruangan itu Uncle sedang berbicara dengan Jasmine, sepupu dingin ku itu. Setidaknya wanita datar nan kaku itu lebih mudah di alihkan pikirannya, secara Jasmine adalah gadis dengan tempramental nya buruk.
Aku mendengar pintu ruangan itu terbuka.
"Za!" Jasmine memanggil ku, namun bukan hanya aku yang melihat ke arahnya.
"Kenapa?" tanya ku sembari berjalan mendekat ke arah sepupu datar ku itu.
"Za kamu mau nikahin aku?" bisik Jasmine, aku yang mendengar pertanyaan dia terkejut bukan main walaupun sebenarnya hati ku sedikit berbunga mendengarnya, bukan karena aku menyukai dia tetapi karena aku berhasil mengambil hatinya dia, buktinya dia melamarku saat ini.
"Gila ya kamu? Kamu waras enggak sih?" ucap ku lalu menaruh punggung tangan ku ke kening Jasmine.
"Apaan sih! Tinggal jawab aja susah! Jadi mau apa enggak?!" ucapnya lalu menghempaskan tangan ku.
"Enggak." ucap ku singkat membuat sepupu dingin ku itu memukul ku, sepertinya dia memukul ku dengan sekuat tenaga.
"Jangan bercanda jika bukan karena permintaan ayah tidak mungkin aku mau menikah dengan orang seperti mu." ucap Jasmine membuat kepercayaan diri ku turun drastis, dari yang tadinya setinggi menara Shanghai kini lebih rendah dari tinggi rumput taman yang baru di pangkas.
"Tolong lah." Lanjutnya. Sebenarnya aku ingin jual mahal sedikit namun ketika melihat mimik wajahnya yang belum pernah sama sekali aku lihat dari wajahnya, terlebih di dalam ruangan itu ada seseorang yang sangat berarti bagi gadis di hadapan ku sedang sekarat, maaf ralat keritis. Mau tidak mau aku mengiyakan permintaannya.
Entah bagaimana papa melakukan semua itu dalam waktu singkat, hanya dalam 15 menit perlengkapan akad nikah siap. Mulai besok sepertinya aku juga harus memiliki asisten pribadi seperti papa. 15 menit sepertinya satu abad bagi Uncle, wajahnya nampak sangat pucat, lebih pucat dari pada dua hari lalu di mana aku dan Jasmine terbang ke Indonesia.
"Za mau kemana kau?!" seru Jasmine saat aku berbalik badan ingin keluar dari ruangan penuh dengan alat medis itu.
"Aku belum siap Mine."
__ADS_1
"Sudah ayo, hitung-hitung belajar mengucapkan ijab kabul nantinya." Ucap Jasmine menarik tangan ku. Aku yang merasa ada yang aneh dengan ucapan Jasmine langsung menarik tangan ku.
"Jadi maksud mu aku akan menikah lagi nantinya?" ucap ku berhenti secara mendadak dan saat ini semua orang siang menatap ke arah kami.
Setelah dua kali berlatih aku memantapkan diri untuk menikahi anak orang. Suara Uncle yang mengucapakan Ijab terdengar sangat lemah, sepertinya dengan sekuat tenaga ia mengeluarkan kalimat itu.
"Sah?" tanya penghulu dan di jawab serentak oleh semua orang yang ada di ruangan ini.
"Alhamdulillah..." Saat penghulu ingin mengucapkan sebuah doa,
"Ayah!" pekik Jasmine saat menyadari bahwa Uncle telah pergi karena tangannya sedang di genggaman oleh ayahnya, sedikit aneh memang jika orang yang lahir dan di besarkan di Jerman memanggil kedua orang tuanya dengan sebutan ayah ibu.
Penghulu itu tetap melanjutkan doanya sedangkan Jasmine berteriak histeris, Uncle pernah mengatakan kepada ku, jika Jasmine adalah detak jantungnya sedangkan Unclenya itu bagaikan nadi bagi Jasmine.
Setelah penghulu itu mengakhiri doanya Aunty langsung jatuh pingsan. Dokter yang sudah siap siaga di sana langsung memeriksa detak jantung Uncle dan nadinya, saat melihat dokter itu menggeleng refleks aku memeluk erat tubuh Jasmine. Sepertinya setelah dia tinggal bersama ku aku jadi melihat berbagai ekspresi darinya.
...🍃🍃🍃...
Jasmine duduk termenung di kamarnya, mata indahnya tiada henti mengalirkan air mata, isakan tangis yang memilukan tidak terdengar sama sekali dari bibirnya. Tatapan matanya kosong menatap ke arah cermin yang memantulkan dirinya yang terlihat kacau.
Suara pintu kamar terbuka, sepupu narsistik yang kini menjadi pendamping hidupnya memasuki kamar itu. Memakai kemeja hitam dengan celana panjang yang berwarna senada dengan pakaiannya. Melangkahkan perlahan dan duduk di ranjang tepat di hadapan Jasmine. Pria itu mengusap lembut kedua punggung tangan Jasmine yang di ada di pangkuan wanita itu sembari tersenyum lembut.
"Setidaknya dia tidak menderita di sana, cukup sudah rasa sakitnya. Kau tahu operasi ayah mu pada saat kau lulus S1? Penyakitnya tidak sembuh total dan setelah seminggu kau berada di Indonesia itu adalah puncak di mana rasa sakit ayah mu benar-benar tidak bisa terabaikan." Ucap Reza mencoba menjelaskan kondisi ayah Jasmine yang saat ini pergi dan hanya menyisakan kenangan.
"Dan kau tahu semua itu... Lalu kenapa kau menyembunyikannya dari ku? Kenapa?!" seru Jasmine pada akhirnya kalimatnya.
"Jadi pada saat kau terlihat frustasi itu?" ucap Jasmine dan di angguki oleh Reza.
__ADS_1
"Aku kecewa pada mu Za...."
"Jika kau tahu hal itu apakah kau akan pergi dari sisi ayah mu? Kau selalu dingin dan datar kepada semua orang, namun tidak dengan ayah posesif mu.
"Jadi maksud mu aku akan menghambat proses penyembuhan ayah? Apa itu maksud mu?" potong Jasmine.
"Bukan begitu... Ah sudah lah, intinya ayah mu sudah bahagia di sana. Dia sudah menyusul adik kecil mu Mine, mereka sudah berkumpul kembali." ucap Reza mengelus pucuk kepala Jasmine. Jasmine menyentuh lembut tangan Reza yang membelai rambutnya, lalu menghempaskan dengan kasar dengan mata tajam menatap Reza.
"Kau mau kemana?" tanya Jasmine saat Reza bangkit dari duduknya.
"Ikut?" tanya Reza dan dengan cepat Jasmine menggeleng.
"Ya sudah." ucap Reza lalu membalikkan badan ingin beranjak dari posisinya.
"Kau mau kemana?!" ucap Jasmine karena pertanyaannya belum di jawab Reza.
"Aku mau mandi mine! Kau mau ikut? Tidak kan?" tanya Reza membuat wajah Jasmine memerah.
"Itu handuk ku!" ucap Jasmine saat melihat pinggang Reza terlilit handuknya.
"Kau ini pelit sekali, ini hanya handuk. Mau aku belikan pabriknya juga bisa. Apakah kau tidak punya jubah mandi untuk laki-laki? Atau jubah yang lebih besar?" tanya Reza melihat isi lemari pakaian Jasmine.
"Ya tidak lah, buat apa juga aku menyimpan itu. Sebentar," ucap Jasmine lalu pergi berlalu ke luar kamarnya.
15 menit kemudian...
"Kau dari mana saja? Aku sudah mau mati kedinginan di sini." Ucap Reza namun Jasmine tidak terlalu memperhatikannya dan melemparkannya sebuah jubah mandi putih untuk lelaki yang saat ini sudah sah menjadi suaminya di mata agama.
__ADS_1
To be continued.