
"Bisa-bisanya dia mengatakan hal itu setelah seenaknya meniduri ku, dasar tidak tahu malu! Apa dia kira aku ini hanya pemuas nafsunya saja?!" Gumam Jasmine kesal.
Saat Jasmine membalikkan tubuhnya tadi, selimut yang menutup bahunya turun. Membuat punggung wanita satu ini terekspos bebas. Reza yang melihat itu langsung menarik diri ke tubuh istrinya dan menciumi punggung mulus itu karena leher istrinya telah di penuhi oleh kismark yang di tinggalkannya.
"Tidak ada yang menganggap mu seperti itu, tidur lah aku tahu kau lelah. Makan siang nanti baru aku akan membangunkan mu." Ucap Reza menaruh tangan kanannya di kepala Jasmine untuk menjadi bantal istrinya, dan tangan kirinya masih bertamasya di Perut dan gunung kembarnya.
"Bagaimana aku bisa tidur jika tangannya seperti ini."
"Biarkan tangan ini menjelajahi tubuh mu sebentar, setelah ia puas juga pasti akan berhenti."
"Reza bisa singkirkan tangan mu."
"Tidur lah sayang." Ucap Reza dan mendekap semakin erat tubuh istrinya.
"Apa aku tidak salah dengar? Sayang?!" Batin Jasmine. Entah mengapa hatinya begitu senang ketika mendengar perkataan suaminya yang memanggilnya sayang, dengan lembut Jasmine mengusap lengan Reza yang masih melingkar di perutnya lalu bergegas tidur.
"Jika setiap hari selalu bermain di atas ranjang dan selalu tidur setelahnya pasti badan ku melar." Batin Jasmine lalu terlelap.
"Tok, tok, tok! Kak." Panggil seseorang dari balik pintu kamarnya Reza. Reza terbangun dengan tangan masih melingkar erat di tubuh Jasmine. Perlahan pria itu menarik tangannya yang menjadi bantal istrinya dan berjalan menuju ke lemari, lalu mengenakan pakaiannya. Pakaian yang berserak di lantai ia kumpulkan lalu dilemparkan begitu saja ke dalam keranjang pakaian kotor.
"Ada apa?" Tanya Reza saat membukakan pintu kamarnya.
"Tadi Bi Mar meminta bantuan ku untuk memanggil kalian makan siang."
"Bawa saja makanannya ke sini."
"Sekali main langsung candu." Gumam Ayana dan terdengar di telinga Reza.
"Apa?!"
__ADS_1
"Ah itu, baiklah akan saya laksanakan pak." Ucap Ayana lalu berjalan cepat menuju dapur.
"Biasanya dia selalu berlagak memanggil ku kak. Tapi memang benar, tubuh wanita ini memang bagaikan candu untuk ku." Batin Reza dengan tersenyum sembari menatap Jasmine yang tengah tertidur dengan liarnya membuat Reza seketika menengang. Baru saja gadis itu ia tinggal, namun arwah silumannya telah kembali. Lihatlah bagaimana gadis itu tertidur, selimut yang di kenakannya telah jatuh ke lantai membuat tubuh polos istrinya terpampang jelas di atas ranjang.
"Dia selalu melarang ku melihat tubuhnya, tapi lihat lah sekarang." Keluh Reza berjalan ke ranjangnya.
"Hey wanita genit, apakah kau mencoba menggoda ku?" Tanya Reza kepada Jasmine yang sedang tertidur pulas.
"Jika iya memang kenapa? Kau mau bermain lagi?" Tanya Jasmine masih terlelap.
"Otak mu itu memang bekerja 24 jam, bahkan saat kau tertidur. Tetapi aku lebih suka jika kau tertidur seperti ini." Ucap Reza menutup kembali tubuh Jasmine dan dengan selimut yang tergeletak di lantai.
"Kau melarang ku menatap tubuh mu jika kita bercinta bukan, tapi saat ini kita sedang tidak bercinta, jadi boleh aku--"
"Tok, tok, tok!" Pintu kamar itu kembali terketuk, dengan segera Reza membukakan pintu dan menyuruh Bi Mar meletakkan makanan itu di atas meja di kamar super mewahnya.
"Jasmine." Panggil Reza bermaksud membangunkan istrinya agar makan siang bersamanya.
"Jasmine jika kau tidak bangun juga, akan ku makamkan kau sekarang." Ancam Reza namun istrinya tidak menghiraukan perkataannya dan memeluk guling yang di dekapannya dengan erat.
"Jasmine!" Teriak Reza tepat di telinga Jasmine membuat wanita itu kaget bukan main.
"Reza!" Bentak Jasmine ketika arwahnya yang di paksa terkumpul dalam sekejap menyatu. Di tariknya selimut untuk menutupi kedua gunung kembarnya agar tidak menjadi tontonan suami mesumnya itu.
"Kau masih hidup? Tadi aku ingin memakamkan mu karena kau belum bangun juga."
Reza menggendong tubuh Jasmine ke meja tempat makan siang mereka tersaji. Dalam hati Jasmine, wanita itu terus saja mengumpat karena ia belum mengenakan pakaian. Disilangkannya tangan wanita itu untuk menutupi tubuh polosnya, namun tangan itu langsung di hempas kasar oleh Reza yang mengenakan jubah mandi untuk dirinya.
"Makan lah!"
__ADS_1
🍃🍃🍃
"Reza, aku akan berangkat besok pagi sekitar jam sepuluh pagi. Jadi sampai sana tidak terlalu malam." Ucap Jasmine memberi tahu suaminya yang sedang sibuk membereskan file-filenya. Reza sama sekali tidak memperdulikan Jasmine dan tetap melakukan tugasnya.
"Kau kenapa?" Tanya wanita itu, namun Reza sama sekali tidak menjawab pertanyaan dan justru meninggalkan kamar dan pergi ke ruang kerjanya.
Bulan dan bintang telah menyapa, dan dari tadi Reza tetap berada di ruang kerjanya sedangkan Jasmine sedang mengganti seprai ranjang kamar Reza yang saat ini telah menjadi kamarnya.
"Ganti itu, warnanya terlalu mencolok." Ucap Reza ketika masuk ke kamarnya. Dengan sabar Jasmine membuka seprai itu dan menggantinya dengan warna putih.
"Itu warna seprainya cepat kotor, ganti." Perintah Reza. Jasmine sudah menatap jengah kepada suaminya itu namun masih tetap menuruti perkataan Reza dan menggantinya dengan seprai berwarna hitam.
"Itu kain seprainya panas, ganti! Pakai warna merah yang tadi saja." Ucap Reza membuat amarah Jasmine meledak.
"Pasang saja sendiri!" Ucap Jasmine mencampakkan seprai yang ada di tangannya.
***
"Reza, lihat koper ku tidak!" Tanya Jasmine menguncir rambutnya.
"Tadi sebelum mandi aku letakkan di sini."
"Tidak tahu." Dengan cuek Reza memainkan ponselnya di atas tempat tidur. Jasmine yang merasa tidak berguna bertanya pada suaminya langsung mencari koper di seluruh sudut kamar, namun hasilnya nihil tidak ada koper yang telah di siapkannya dari kemarin. Namun saat ia melihat kaki Reza yang seakan menyembunyikan sesuatu di bawah ranjang, Jasmine langsung menggeser tubuh suaminya dan mengambil koper yang ada di bawah tempat tidurnya.
"Kamu! Apa maksudnya?" Dengan sekiat tenaga Jasmine mengontrol emosinya.
Reza langsung memeluk perut Jasmine yang tepat berada di hadapannya. Bagai anak yang tidak mau di tinggal ibunya pergi, Reza memeluk erat tubuh istrinya membuat Jasmine meringis karena terlalu erat di peluk Reza. Jasmine mengusap lembut rambut suaminya lalu tersenyum mencoba mengontrol emosi yang tadi hampir meledak.
"Bawalah aku bersama mu." Rengek Reza.
__ADS_1
"Dasar kau ini! Sudah berapa kali aku katakan kau itu memiliki tanggung jawab yang besar pada perusahaan di sini. Jangan aneh-aneh, aku di sana untuk mengembangkan perusahaan ayah dan membuktikan kemampuan ku kepada kakek, bukan kah itu tujuan awal ku datang ke sini." Ucap Jasmine mengecup lembut pucuk kepala suaminya.
To be continued.