
Jasmine yang tadinya diam membisu dalam perjalanan ke Indonesia, kini mengeluarkan Isak pilu dalam dekapan Reza. Pria itu sendiri tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini untuk menenangkan Jasmine. Saat ini dia hanya membiarkan Jasmine mengeluarkan segala emosi yang terpendam di hatinya.
"Menangis lah, keluarkan semua yang engkau rasakan. Dan jika esok ayah mu sudah tidak bisa mendekap mu kembali tidak akan ada Isak tangis lagi." Gumam Reza. Dirinya saat ini menerima pukulan di dadanya dari Jasmine. Namun pukulan itu semakin keras membuat ia meringis.
"Mine, Mine! Udah mine sakit!" ucap Reza menggenggam kedua pergelangan tangan Jasmine hanya sekali Sambaran dari tangan kanannya yang beberapa hari lalu terjepit pintu.
"Bug!"
"Auh! Gila yah?!" ucap Reza saat dadanya kembali di pukul Jasmine.
"Itu dada apa beton sih?! Keras banget!" ucap Jasmine sembari mengelap sisa air matanya dengan telapak tangannya.
"Ini bukan saatnya melawak. Beberapa minggu ini aku melihat banyak ekspresi dari mu?" ucap Reza menghapus air mata Jasmine. Jasmine yang di perlakukan manis oleh Reza mendadak menjadi muram. Tangannya langsung memukul keras telapak tangan Reza yang menghapus air matanya.
"Hei aku ini baik loh, tadi kau pukuli aku saja aku diam, mau ku balas?" tanya Reza dengan tatapan tajamnya.
Jasmine mendadak melihat ke arah dadanya karena Reza mengatakan akan membalasnya. Gadis itu langsung menatap tajam ke arah Reza dengan tangan yang di silangkan ke dada. Tatapan tajam mata Jasmine dengan mata dan hidungnya yang memerah membuat gadis itu seperti boneka hidup yang menggemaskan di mata semua orang, tidak terkecuali Reza.
"Hei apa yang kau pikirkan?" tanya Reza lalu mencubit gemas pipi Jasmine. Jasmine yang tidak suka di sentuh wajahnya oleh seseorang langsung memukul tangan Reza.
...πππ...
Sementara itu Dika sedang duduk di depan ruang ICU, dirinya tidak tenang dengan keadaan seperti ini. Terlebih yang berada di dalam adalah adik dari sahabatnya, seorang gadis yang sudah di percayakan oleh kakaknya kepada Dika. Ya, Reza memang meminta Dika untuk menjaga baik-baik adik semata wayangnya.
"Bagaimana keadaannya dok." ucap Dika saat dokter baru saja keluar dari ruangan ICU.
"Mari kita bicarakan di ruangan saya." ucap dokter itu dan dengan patuh Dika mengikuti langkahnya.
"Lebih baik anda meminta Dokter spesialisΒ Bedah Ortopedi dan Traumatologi untuk mengecek kondisi kekasih anda. Kemungkinan besar kekasih anda patah tulang atau kemungkinan terburuknya adalah kelumpuhan." ucap dokter itu membuat Dika terasa tersambar petir.
__ADS_1
"Apakah saya bisa menjenguk Lunna dok?" tanya Dika mencoba tenang.
"Tentu saja, saat ini kekasih anda berada di dalam obat bius. Mungkin dua sampai tiga jam lagi baru akan sadar." ucap dokter itu.
"Lun." panggil Dika lembut, dirinya tau jika Lunna tidak akan membalas perkataannya karena gadis manja yang suka berfoya-foya itu sedang berada di bawah pengaruh obat bius.
"Maafkan aku, karena keteledoran ku kau jadi seperti ini." ucap Dika dengan wajah tertunduk.
"Tetapi kenapa kau bisa terjatuh dari eskalator itu?" tanya Dika tersadar akan kejadian di mall tadi. Pria itu lantas menghubungi seseorang.
"Tolong cek cctv di mall, kejadian yang menimpa Lunna. Cepat cari informasi tentang hal ini." Ucap Dika lalu memutus sambungan telefon itu. Diusapnya lembut punggung tangan Lunna lalu bangkit dan meninggalkan ruangan itu.
......πππ......
"Bu bagaimana keadaan ayah?" tanya Jasmine saat sampai di depan pintu kamar rawat Ayahnya. Terlihat ibunya hanya diam membisu tidak mengeluarkan sepatah katapun, namun matanya mengeluarkan air mata dengan derasnya di dalam dekapan mamanya Reza.
"Ma?" tanya Reza berlutut mensejajarkan wajah di hadapan ibunya, sedangkan mamanya hanya menggeleng pelan tanpa melepaskan dekapannya dari ibunya Jasmine.
Ayahnya terbaring lemah di ranjang ruang inapnya dengan alat-alat medis di sekitarnya, wajah pria itu tampak lebih pucat dari saat kemarin ia tinggalkan, kondisinya jauh lebih buruk. Pria itu tampak memberikan isyarat kepada Jasmine agar anak gadisnya menekat, dan dengan patuh Jasmine melangkahkan kakinya ke ranjang ayahnya itu.
"Jasmine, apakah kau masih ingat janji mu yang terakhir pada pria tua ini?" tanya ayahnya Jasmine dan gadis itu hanya tersenyum lembut sembari mengusap lembut tangan ayahnya. Pandangan mata Jasmine tertuju ke arah dokter yang tadi sempat menangani ayahnya, dokter itu hanya tersenyum tipis lalu mengangguk.
"Apa pun yang ayah minta Jasmine akan memberikannya kepada mu, meskipun Jasmine menyuruh Jasmine meminum racun, Jasmine akan melakukan itu." Ucap Jasmine diiringi isakan dari bibirnya.
"Benarkah?" tanya ayahnya. Jasmine mengangguk dengan tetap mengeluarkan air mata dengan deras.
"Akhir-akhir ini kau sering sekali menangis, kemana putri ayah yang dingin dan kaku, bahkan kau tidak sudi di lihat siapapun saat kau menangis, tapi lihatlah kemarin kau terus saja menangis di pelukan sepupu yang kau bilang narsis itu." ucap ayahnya Jasmine lemah, bahkan nyaris tidak di dengar oleh Jasmine, namun putrinya tidak mau membantah apapun.
"Mine, keinginan terbesar seorang ayah pada putrinya itu hanya satu. Melafalkan ijab untuk menikahkan putrinya, apakah ayah bisa melakukan itu." ucap ayahnya Jasmine dan tanpa pikir panjang Jasmine mengiyakan.
__ADS_1
"Panggil dan tanya Reza apakah dia mau menikahi mu." Ucap ayahnya Jasmine membuat Jasmine terkejut bukan main, namun setelah itu dirinya mengiyakan dan langsung berjalan cepat keluar dari ruangan itu.
"Za!" panggil Jasmine membuat mereka semua yang berada di depan ruangan itu melihat kearahnya.
"Kenapa?" tanya Reza berjalan mendekat kearah Jasmine.
"Za kamu mau nikahin aku?" bisik Jasmine membuat Reza terkejut bukan main.
"Gila ya kamu? Kamu waras enggak sih?" tanya Reza menaruh telapak tangannya ke kening Jasmine.
"Apaan sih! Tinggal jawab aja susah! Jadi mau apa enggak?!" ucap Jasmine menghempaskan tangan Reza yang menempel di keningnya.
"Enggak." Jawab Reza singkat membuat Jasmine memukulnya dengan sangat kuat.
"Jangan bercanda, jika bukan karena permintaan ayah aku tidak mungkin mau menikahi orang seperti diri mu. Tolong lah." ucap Jasmine.
.....πππ.....
"Tidak masalah, kaki nona ini hanya patah tulang ringan. Untungnya kalian bertindak cepat jika tidak mungkin tulang nona ini bisa hancur." Ucap dokter yang memeriksa kondisi tulang Lunna membuat pria dihadapannya bernafas lega.
"Berapa lama tulang Lunna bisa sembuh total?"
"Hanya keretakan tulang seperti ini, tiga sampai enam bulan akan sembuh total sering-seringlah mengecek kondisi nona itu, jangan biarkan dia banyak bergerak. Perbanyak mengonsumsi vitamin D dan kalsium. Kita akan melihat perkembangannya nanti."
"Baik terima kasih dok." Ucap Dika lalu pergi menuju ke kamar rawat inap Lunna, bahkan saking paniknya ia, Dika sampai lupa memberi tahu kondisi Lunna pada sahabatnya.
"Sudah bangun? Eh mau ngapain!" tanya Dika begitu ia sampai di kamar Lunna.
"Mau mengambil air minum." ucap Lunna tersenyum manis namun ketika ia ingin bergerak senyuman itu mendadak menghilang menjadi sebuah kepanikan.
__ADS_1
"Kak kaki kanan aku kenapa gak bisa di gerakin? Kak?!" pekik Lunna dengan suara seperti menahan Isak tangis.
To be continued...