Mr. Sargeant

Mr. Sargeant
Chapter 38


__ADS_3

"What?! seriously!" pekik Jasmine. Lunna hanya terdiam menundukkan kepala untuk menyembunyikan rona merah dari wajahnya.


Flashback on.


"Ayana stay dan tetap berdiri di depan sana, Renata tolong berdiri di sisi samping kiri untuk berjaga-jaga." ucap dokter Aditya memberi aba-aba.


"Baiklah kita mulai." Dokter Aditya langsung membantu Lunna berdiri dari kursi rodanya. Dituntunnya perlahan Lunna mengarah ke arah Ayana yang siap menyambutnya.


"Bayangkan Ayana adalah manta-mantan mu yang ingin kau aniaya."


"Tidak ada perumpamaan lain apa?!" kesal Lunna.


"Baiklah terserah kau mau membayangkannya apa." Dokter Aditya tidak mau berdebat hari ini dan membiarkan Lunna mengoceh sesuka hatinya. Perlahan gadis itu melangkahkan kaki di bantu oleh dokter Aditya, perlahan tangan dokter muda itu menarik diri dari tubuh Lunna. Karena tidak ada yang bisa di jadikan penopang, Lunna langsung kehilangan keseimbangan dan terjatuh karena kakinya masih belum terlatih kembali untuk berjalan.


Namun, sebelum tubuhnya tersungkur ke lantai dokter Aditya lebih dulu menarik tubuhnya dan tanpa di sangka, kedua bibir mereka saling menempel. Keduanya sama-sama membelalakkan mata namun masih terdiam di tempatnya masing-masing. Ayana melihat adegan romansa bagai film Korea yang sering ditontonnya hanya bisa menggigit jari, sedangkan Renata hanya terdiam menatap kedua makhluk yang bibirnya sedang menempel satu sama lain.


Saat tersadar Lunna langsung menarik diri kebelakang namun tangan yang mencengkram erat kemeja yang di kenakan dokter Aditya.


"Ah! Dasar dokter mesum!" pekik Lunna membuyarkan lamunan semua orang di sana.


Flashback off.


"Itu namanya bukan dia yang mencium mu, tetapi dia mencoba menolong mu namun terjadi tragedi yang tidak di sengaja."


"Aku tidak mau tau, pokoknya dokter mesum itu harus di pecat!" ucap Lunna tidak bisa di bantah. Jasmine hanya terdiam dan menatap malas kepada adik iparnya itu lalu beranjak pergi dari kamar Lunna.


Sementara itu, Reza sedang menyaksikan rekaman cctv yang berada di ruang tempat tragedi itu terjadi. Pria satu ini hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap sang adik yang seakan tidak pernah mau menyelesaikan masalahnya dengan benar, terlebih kejadian itu murni kecelakaan yang tidak di sengaja.

__ADS_1


"Reza, lihat handphone ku tidak?" tanya Jasmine masuk ke kamar pria itu tanpa mengetuk pintu.


Reza menatap ponsel istrinya yang tercampak di atas ranjang, saat istrinya berjalan mendekati kasurnya Reza dengan cepat berjalan ke ranjang dan mengamankan ponsel istrinya bagai anak kecil yang tidak rela di ambil orang mainannya. Jasmine berkacak pinggang menatap jengah pada Reza yang sedang bersikap kekanak-kanakan, gadis itu sudah sangat muak jika harus bertengkar dengan Reza.


"Aku harus pergi besok, kau mau apa?!" tanya Jasmine kesal.


"Kau akan pergi untuk waktu yang tidak bisa di ketahui kepastiannya, dan kau akan meninggalkan ku sendiri di sini." ucap Reza menarik tangan Jasmine dan mendudukkan tubuh istrinya ke pangkuannya, pria itu melingkarkan tangannya ke perut rata Jasmine yang sangat ia harapkan akan tubuh baby di sana.


"Bawalah aku bersama mu." Reza memeluk erat tubuh Jasmine dan menenggelamkan wajahnya di curuk leher istrinya.


"Apa yang kau katakan?! Jangan aneh-aneh, lagi pula aku perginya bukan saat ini. Tiket pesawat belum aku pesan."


"Mengapa kau dan Lunna itu suka sekali menggunakan pesawat sejuta umat dari pada memakai pesawat pribadi. Padahal--" Reza belum menyelesaikan perkataannya, ponsel yang ia taruh di belakang tubuhnya ia berikan kepada Jasmine agar wanita itu mengangkat telfon itu.


"Ya kak, ada apa?"


"Jasmine weekend kita jalan yuk, aku ingin membagi kebahagiaan ku bersama mu." jawab Hanna dari seberang telfon.


"What?! Seriously?! Jika kau ingin ke Jerman mengapa kau tidak pernah memberi tahu ku."


"Maaf, ini juga aku baru dapat kabar dan harus ke Jerman, Reza!" bentak Jasmine saat suaminya membuka pengait branya.


"Reza siapa Mine?"


"Ah itu, Reza teman ku kak, dia sedang mengganggu." Reza yang mendengar Jasmine tidak mau mengakui dirinya langsung menggigit punggung Jasmine hingga istrinya itu meringis.


"Baiklah-baiklah, dia suami ku." Saat Jasmine mengatakan itu, Reza hanya tersenyum lalu melanjutkan kembali aktivitasnya.

__ADS_1


"What suami?! Kau sudah menikah? Kenapa tidak pernah mengatakannya kepada ku."


"Kak kita lanjut nanti ya." Jasmine mematikan sambungan telefon sepihak karena terus di ganggu oleh baby besarnya.


Sedangkan di sebrang sana Hanna masih menerka-nerka siapa suami yang di maksud Jasmine.


"Tidak mungkin Pak Reza, tapi tadi Jasmine bilang Reza, Reza banyak yang mana satu. Yang aku kenal hanya wakil CEO dingin itu."


"Stop!" bentak Jasmine ingin melepaskan diri dari dekapan suaminya. Reza tidak memperdulikan perkataan Jasmine dan tetap melakukan aktivitasnya sembari tetap memeluk erat tubuh istrinya.


"Bolehkah?" tanpa mendengar jawaban istrinya Reza langsung menggendong tubuh Jasmine dan berjalan memutari ranjang.


"Mengapa kau bertanya jika kau tidak pernah mendengarkan jawaban dari ku." Kesal wanita itu.


🍃🍃🍃


Reza berbaring dengan posisi tubuh ke samping menghadap istrinya, kepalanya tersangga telapak tangan dengan siku yang menjadi penopang. Tatapan mata pria itu tidak lepas dari wajah Jasmine yang saat ini sedang meliriknya jengkel.


"Jangan menatapku seperti itu, mau ku colok bola mata mu." Ancam Jasmine ketika kedua manusia yang tengah berbaring di ranjang. Tubuh wanita itu tertutup sempurna oleh selimut yang membalut tubuh indahnya. Jasmine mengizinkan Reza menyentuhnya jika mereka melakukannya dengan selimut yang menutup tubuh keduanya, itulah yang membuat Reza ingin sekali menyibakkan selimut putih tebal yang saat ini tengah mereka kenakan.


Tangan Reza perlahan mendekati tubuh Jasmine di balik selimut, saat tangannya menemukan sebuah benda kenyal tanpa pembatas Reza langsung meremasnya perlahan. Jasmine langsung memukul tangan Reza yang saat ini menjamah kembali gunung kembarnya.


"Aku juga ingin melihat secara langsung tubuh istri ku. Jika hanya menyentuhnya tanpa menyaksikan itu terasa kurang." Bisa saja ia menyibakkan selimut itu secara paksa dan kembali mengulang permainan panasnya, namun niat itu di urungkan ketika mengingat kejadian kemarin malam di mana Jasmine yang tidak mau di sentuh sedikitpun jika dia tidak mengikut sertakan selimut sebagai pembatas keduanya.


"Kenapa kau tidak menonton film-film atau menyewa wanita malam saja jika ingin melihat tubuhnya."


"Jika aku menyewa wanita malam, rugi jika hanya menatapnya saja. Lebih baik aku bermain sekaligus dengan mereka." Jawab Reza membuat Jasmine sangat kesal. Jasmine membalikkan tubuhnya malas menatap wajah suaminya.

__ADS_1


"Bisa-bisanya dia mengatakan hal itu setelah seenaknya meniduri ku, dasar tidak tahu malu! Apa dia kira aku ini hanya pemuas nafsunya saja?!" Gumam Jasmine kesal.


To be continued.


__ADS_2