
"Aku kembali ke Jakarta sore ini." Reza melepaskan dekapannya dan membiarkan Jasmine pergi ke manapun istrinya, namun bukannya pergi Jasmine hanya terdiam di tempatnya mencoba mencerna kembali ucapan suaminya.
"Ya sudah pergi, mau ngapain lagi?" tanya Reza membuat wanita itu mengerucutkan bibirnya kesal, Reza yang tidak menyangka melihatj ekspresi wajah istrinya yang begitu kekanak-kanakan membuatnya tersenyum.
"Kau ini kenapa sih?" tanya Reza mengecup bibir istrinya lembut. Jasmine tidak membalas perkataan suaminya dan langsung memeluk erat tubuh Reza, membelai lembut perut sixpack Reza membuat adik kecilnya Reza terbangun dari tidurnya yang singkat.
Ketika Reza kembali menerkam dan menelusuri tubuh istrinya, Reza merasakan perbedaan sesuatu di tubuh istrinya. Entah kenapa ia baru menyadari hal itu, padahal sudah dua hari selalu bermain dengan Jasmine.
"Belakangan ini sepertinya kau lebih berisi." Jasmine yang mendengar itu langsung bangkit dengan mata tajam menatap suaminya.
"Kurang ajar, kau mengatai ku gendut?!"
"Bukan, tapi memang tubuh mu lebih berisi."
"Itu sama saja!" seru Jasmine lalu berjalan ke kamar mandi dengan selimut tebal menutupi tubuhnya.
"Ini bagaimana?" tanya Reza mengetuk kamar mandi yang telah di kunci istrinya.
"Urus saja sendiri!"
Dengan gerakan cepat Reza menyambar jubah mandinya. "David brengsek! Apa yang telah kau lakukan!" Geram Reza lalu berjalan mencari David yang menjadi dalang permasalahannya.
"Hei bocah kemana kau?!" seru Reza mengetuk pintu kamar sahabat yang sudah ia anggap adiknya sendiri. Mengetuk pintu kamar itu seperti rentenir yang menagih hutang kepada seseorang yang sudah lama belum di bayar.
"Ada apa?" tanya lelaki itu sembari menguap lebar.
"Aku menyuruh mu mendisain kamar itu, kenapa jadi seperti ruangan mayat?!"
"Calm down bro! Lepas dulu." Ucap David menyentuh tangan Reza yang mencengkram kera lehernya.
"Dengar yang mendisain ya bukan aku, aku hanya mengatakan kepada mereka suruh buat dekorasi indah dan menaburkan bunga di atas tempat tidur kalian, yang menurut mereka indah letakkan saja di kamar itu, mana tahu aku jadinya seperti itu." Reza mendorong tubuh lelaki itu lalu menarik knop pintu David dan menutup pintu kamar lelaki itu dengan keras.
"Aku lapar, keluar yuk?" Ajak Reza ketika Jasmine keluar dari kamar mandi. Wanita itu hanya mengangguk dan memakai pakaiannya di dalam kamar mandi karena tidak menginginkan sesuatu yang akan merugikan namun menguntungkan suaminya walau dirinya juga sangat menikmatinya.
__ADS_1
...🍃🍃🍃...
"Ann..." Panggil seorang pria tampan kepada gadis di sampingnya.
"Maafkan aku." Ucap lembut pria itu sembari menatap intens ke arah gadis cantik di hadapannya.
Gadis itu hanya tersenyum dan mencoba menahan tangisannya, ia menyentuh lembut telapak tangan pria yang sedang menggenggam erat tangannya.
"Tidak ada cinta di dunia ini yang perlu di maafkan Rey. Tapi kini..." Gadis itu tidak melanjutkan perkataannya karena tubuh mungil itu sudah di dekap oleh pria di hadapannya, mendekap dengan sangat erat seakan terakhir kalinya bisa memeluk tubuh itu. Dan saat gadis itu membalas pelukan pria itu...
"Cut!" Suara sutradara seakan menghentikan aksi mereka yang sedang berpelukan hangat.
"Oke, sangat bagus. Break sebentar untuk touch up kembali, setelah itu kita mulai lagi."
"Haus?" tanya pria di sampingnya ketika mereka sudah melepaskan dekapan itu.
"Boleh."
"Ceritanya panjang, tetapi yang jelas aku lebih suka di sini, dan jadwal syutingnya juga tidak terlalu mencekik." Ungkap Lunna dengan memejamkan matanya saat make up yang ia pakai di bersihkan oleh MUA.
"Maksud mu? Jika setiap hari saja selalu seperti ini bagaimana pula di liar?"
"Ya begitulah, kerja keras tidak akan mengkhianati hasil. Kau juga baru menginjak ranah entertainment bukan?" tanya Lunna.
"Ya, kira-kira satu tahun yang lalu. Tidak seperti mu, sejak sekolahpun kau sudah menjadi idola banyak orang di mancanegara."
"Percayalah itu tidak menyenangkan sama sekali, masa remaja ku di renggut oleh kegiatan-kegiatan itu. Ah aku malas mengingatnya."
" Ya, kau sepertinya sudah menjalani pahit manisnya dunia entertainment."
"Disini memang susah sinyal ya?" tanya Lunna ketika membuka ponselnya.
"Tidak seberapa, nanti kita juga ada adegan di atas perahu atau kapal kecil? Entah lah, yang aku ingat awal-awal cerita kau akan banyak mengeluarkan air mata, dan pada pertengahan hanya akan ada kemanisan cerita."
__ADS_1
"Sebentar, aku ingin membeli sesuatu."
"Tidak usah Lun, biar saya saja mau beli apa?" cegah wanita yang selalu saja berdiri di samping Lunna.
"Tidak perlu, biar aku saja."
Lunna berjalan mencari cafe yang tersedia di dekat sana, karena sudah cukup lama meninggalkan lokasi Lunna akhirnya berjalan terburu-buru.
"Brak!" Lunna tersandung kakinya sendiri ketika menaiki tangga dan bodohnya gadis itu mengenakan sepatu heels membuatnya terkilir. Fokus gadis itu teralihkan sepenuhnya kepada kakinya yang terkilir, hingga membuatnya tidak menyadari seseorang yang sedang berdiri dan hadapannya.
Pria itu menarik kaki Lunna membuatnya meringis hebat, pekikan Lunna kembali menggelegar ketika kakinya yang terkilir di luruskan oleh orang di hadapannya.
"Dokter mesum apa yang kau lakukan?! Auh! Pelan-pelan!"
"Sudah jangan cerewet!"
"S-sakit! Pelan sedikit, auh!" raung gadis itu tak kuasa menahan di kakinya.
"Kau itu punya mata tidak? Baru juga kau sembuh kau mau mematahkan kembali tulang mu?!" gertak Aditya ketika ia merasa kaki Lunna sudah mulai baikkan.
"Sudah aku sedang terburu-buru, minggir!" Gadis itu dengan keras kepalanya mencoba berjalan kembali ke lokasi syuting, namun kakinya terasa sangat nyeri ketika ia melangkahkannya. Karena tidak sabar Aditya menarik tangan kiri gadis itu dan menaruhnya di pundak kanan, lalu mencoba menuntut Lunna. Namun jalan Lunna yang begitu lambat membuat Aditya kesal sendiri dengan wanita di hadapannya.
"Hei apa yang kau lakukan turunin!" seru Lunna ketika Aditya menggendong ala-ala bridal style seperti adegan romantis di drama Korea, namun karena Lunna tidak bisa diam, Aditya langsung menurunkan lalu kembali mengangkat tubuh mungil gadis itu seperti sekarung beras yang di angkat di pundaknya.
"Kau tidak tahu malu ya? Turunin! Hei! Dokter mesum!" teriak Lunna sembari memukul pundak Aditya.
"Diam atau aku akan benar-benar melakukan hal mesum kepada mu, lagi pula siapa yang menginginkan tubuh seperti jalan tol itu? Depan belakang flat dan datar." Ucap Aditya menurunkan Lunna di dekat lokasi syuting gadis itu.
"Makasih." Ucap Lunna ketika dirinya hendak berjalan kembali ke arah teman-temannya. Aditya tidak menghiraukan perkataan Lunna dan berjalan menjauh dari tempat itu.
To be continued.
Doble update nyusul nanti malam kalau author belum tidur yah, kalau mau author share visualnya (Kalau mau)
__ADS_1