
Hari telah berganti, minggupun telah berlalu. Jasmine kini tengah disibukan dengan pekerjaannya yang menghandle semua pekerjaan Reza karena pria itu sedang pergi ke luar kota. Ingin gadis itu membenturkan kepala Reza sekarang, namun tampaknya itu hanya angan-angan belaka.
Frustasi, akhirnya Jasmine membenturkan kepalanya sendiri ke atas meja, berharap dirinya geger otak dan terbebas dari semua pekerjaan ini. Belun lagi dengan beberapa kertas yang tersobek di atas meja kerjanya.
"Kapan Papa akan sampai?!" Tanya seorang gadis kecil dengan gaya sombongnya.
Ah, aku lupa dengan iblis kecil ini. Batin Jasmine sembari menatap tajam pada gadis itu. Mata hitam yang manis dengan garis wajah yang sangat identik dengan wajah Asia.
"Hei gadis manis, bisakah kau berbicara sopan pad orang yang lebih tua?" Tanya Jasmine dengan tatapan tajamnya.
"Papa mu itu sedang dalam perjalanan pulang, bersabarlah dan kembali ke ruangan. Sebentar lagi juga Aunty mu akan kembali." Lanjut Jasmine dengan nada cueknya.
Aera, gadis kecil berumur lima tahun yang lahir sebagai bukti buah cinta hubungan gelap ibu dan ayahnya. Aera adalah anak dari Dara Sarasvati, mantan kekasih Reza empat tahun lalu. Dara sendiri adalah seorang wanita yang begitu Reza cintai, hingga tak akan sanggup jika merusak masa depan Dara.
Namun siapa sangka? Niat awal ingin menjaga kesuciannya, Dara justru berfikir sebaliknya, ia berfikir jika kekasihnya yang sedang menetap di negri paman Sam itu adalah seorang impoten yang tidak akan pernah terpancing meskipun ia sudah puluhan kali menggodanya. Alhasil, inilah akhirnya.
Setahun setelah Dara melahirkan anak dengan pria berkebangsaan korea selatan, Reza kembali ke Indonesia bermaksud ingin mempersunting wanita itu. Naas, nasi sudah menjadi bubur, wanita yang begitu ia cintai ternyata main belakang dengan pria lain. Ia kira tidak putus komunikasi dan tetap memberikan kebutuhan materi kekasihnya sudah cukup, namun nyatanya tidak.
Hal itu membuat kepribadian Reza berubah pesat, lelaki hangat nan penyayang tidak pernah lagi muncul ke permukaan. Reza menutup hatinya rapat-rapat, tidak membiarkan satupun wanita yang mencoba mendekatinya. Melampiaskan kekesalannya dengan meniduri banyak wanita. Dan salah satu di antara banyaknya pelampiasan itu adalah Chika, adik semata wayangnya Dara yang sudah lama menaruh perasaan pada Reza.
Terbesit rasa takut di hati gadis kecil itu, tatapan mata Jasmine yang tajam memang dapat mengintimidasi manusia manapun mau itu dari kalangan anak kecil sampai manusia bau tanah, dengan catatan memang sudah mengenalnya. Namun namanya manusia angku, Aera tetap kekeh pada pendiriannya.
"Aunty!" Pekik Aera meminta perhatian Jasmine yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.
"Huh! Ada apa?" Tanya Jasmine dengan nada sinisnya. Jujur, Jasmine adalah seseorang yang tidak bisa manis dengan seseorang kecuali orang tuanya dan orang terdekatnya. Di dukung oleh sikap dingin dan tempramentalnya yang buruk, lengkap sudah penampilan judesnya.
Oooo_oooO
"Aku mencintaimu!" Teriak seorang gadis yang berdiri di atas gedung pencakar langit dengan wajah dibanjiri air mata. Ketika gadis itu melangkahkan kaki dengan mata terpejam, tiba-tiba...
"Untuk saat ini skor untuk Argentina lebih unggul dari pada..."
"Bedebah! Apa yang kau lakukan!" Pekik Jasmine ketika Reza mengganti Chanel dengan seenaknya.
"Kau tidak pantas menontonnya." Ucap Reza dengan santainya lalu merebut bungkusan makanan ringan dari tangan Jasmine dan memakannya dengan senyuman menjengkelkan miliknya.
"Ayah dan anak sama saja. Sama-sama menjengkelkan!" Gumam Jasmine kembali merebut jajanannya dari tangan Reza.
"Dia bukan anak ku. Bibit unggul ku masih tersimpan rapat sampai sekarang,"
"Dua bulan yang lalu." Bisik Reza ketika melihat Jasmine yang memutar bola matanya jengah.
"Ya Tante?" Jawab Jasmine ketika menjawab panggilan telefon yang sedari tadi mendesak. Mendengar panggilan yang dilontarkan Jasmine, nafas Reza seakan berhenti berdetak.
"Angel, bisakah kau kembali sekarang?" Tanya Ibunya Reza dengan suara serak.
"Ada apa?" Tanya Jasmine mulai panik dengan suasana malam itu.
Terdengar hening untuk sesaat, hingga... "Angel, Papa kamu sedang di rawat inap di rumah sakit. Pagi ini Papa mu tidak sadarkan diri, ternyata pemasangan ring itu tidak akan berefek pada penyakit jantung koronernya. Dokter menyarankan untuk melakukan operasi bypass, operasi ini memiliki tingkat resiko yang cukup tinggi, dan juga memiliki efek samping. Dan inilah satu-satunya cara yang bisa membuat Papa mu dapat bertahan. Tapi Papa mu juga tidak mau melakukan operasi," Jasmine terdiam di tempatnya, mencoba mencerna baik-baik apa yang di sampaikan oleh ibunya Reza.
"Mine?" Panggil Reza. Dirinya saat ini juga tidak bisa berkata banyak, bagaimanapun juga Papanya Jasmine adalah satu-satunya yang selalu memanjakan dirinya dengan memperbolehkan nya melakukan apapun apa yang ia suka.
Mengambil alih perusahaan cabang di Indonesia, bukan hal yang di inginkan dan di dukung oleh keluarganya, namun karena bantuan Amca tercinta, Reza bisa mendapatkan izin Kakek dan Ayahnya.
__ADS_1
"Angel!" Panggil Ibunya Reza kembali.
"Hanya satu yang Papa mu inginkan jika mau dia menjalankan operasi ini, dia ingin kau datang sendiri ke sini dan menemuinya, dia tidak mengatakan apa yang ia minta kepada kami." Lanjut ibunya Reza.
"Ya Tante, Jasmine akan kembali ke Berlin sekarang." Ucap Jasmine kemudian memutuskan sambungan telefon itu.
Beberapa jam setelahnya..
"Ck! Bangun, kau itu tidur atau mati?" Ucap seseorang tepat di telinga Jasmine.
"Sebentar lagi lepas landas, dan setelah itu kita langsung ke rumah sakit." Ucap pria yang tidak lain adalah Reza.
Mereka berdua berangkat menggunakan jet pribadi milik Reza yang biasanya di gunakan pria itu untuk melakukan perjalanan bisnis. Didalam pesawat saat Reza masih terjaga, Jasmine tidak berani mengeluarkan air mata, dan saat Reza telah berenang ke alam mimpi, dirinya menangis dalam diam tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
Oooo_oooO
"My Angel." Panggil Ayahnya Jasmine dengan tersenyum manis.
"Don't call me your Angel." Ucap Jasmine duduk di sofa ruang rawat inap mewah bak hotel itu.
"Apa susahnya melakukan operasi itu? Aku tidak mau melihat Papa tersiksa seperti ini." Gadis galak itu tiba-tiba menjelma menjadi seorang gadis manja saat mendekati ayahnya.
Tangan Papanya Jasmine bergerak membelai lembut rambut kepala gadis semata wayangnya "Papa mau melakukan operasi itu jika kau memenuhi syarat dari pria tua ini,"
"Apapun itu, jika untuk kesembuhan Papa akan Jasmine lakukan." Ucap Jasmine.
"Papa ingin menjadi wali dirimu, menikahkan putri ayah ini...."
"Pa, Papa bercandakan?" Tanya Jasmine yang begitu tercengang mendengar permintaan ayahnya.
Dan dari sana Papa menjadi seseorang yang memeluk agama Islam, ya meskipun dulu hanya di KTP saja. Tetapi saat itu terbesit keinginan besar di hati Papa, Papa juga ingin menjadi wali nikah anak gadis Papa satu-satunya."
"Jasmine mengerti, tapi anak Papa ini akan menikah dengan siapa? Sedangkan kekasih, teman pria saja tidak punya."
"Kenapa? Apa kau tidak laku?"
"Apa Papa amnesia sesaat? Papa lupa siapa yang dengan posesif melarang pria satu sekolah mendekati anak gadisnya." Sindir Jasmine membuat Papanya terkekeh.
"Kau akan menikah dengan Reza." Ucap Papanya Jasmine bertepatan dengar Reza yang memasuki Ruangan rawat inap itu.
"Apa?!"
"Nah, keponakan Papa sudah datang. Mari sini!"
"Reza, kau mau mempersunting anak gadis Amca mu ini?"
"No, Amca! Aku tidak mau. Kau tau putri mu itu manusia jelmaan macan hamil, mana mung...." Reza menghentikan ucapannya ketika melihat kedua orang di hadapannya menatap horor kepadanya.
"Baiklah kalau begitu Papa akan meminta, El-"
"Aku mau!" Ucap Reza cepat tanpa pikir panjang. Papanya Jasmine yang mendengar itu langsung menerbitkan senyuman licik di bibir pucatnya.
Oooo_oooO
__ADS_1
Akad nikah telah digelar secara sederhana di ruang rawat inap Papanya Jasmine. Dengan bantuan Papanya Reza tidak sampai satu jam semua keperluan sudah beres teratasi.
"Jadi besan juga." Cengir Ayahnya Reza yamg duduk di sebelah ranjang Papanya Jasmine.
"Apa sih yang gak bisa dilakukan oleh Devano." Ucap Papanya Jasmine dengan sombongnya.
Sedangkan para pengantin dadakan baru saja tiba di rumah keluarga Grint. Setelah mereka berada di dalam kamar yang sama, Jasmine tidak memperdulikannya sama sekali. Gadis itu langsung berlalu ke kamar mandi, entah itu untuk menghindar dari Reza atau memang tubuhnya yang lengket karena belum mandi sejak terbang ke negaranya kembali.
Reza membuka pintu balkon kamar Jasmine untuk menerima panggilan telefon yang sedari tadi berdering.
"Kirim saja semuanya lewat email, aku sepertinya akan berada di sini lebih dari satu minggu."
"Reza!" Panggil Jasmine dari arah kamar mandi.
"Nanti aku hubungi lagi." Ucap Reza lalu menutup sambungan telfon.
"Ada apa?"
"Ambilkan handuk..."
"Baju, celana, dan dalamnya sekalian." Sambung gadis itu.
Reza berjalan malas kearah lemari pakaian milik istri dadakannya. "****** ***** dan branya ada di mana?!" Teriak Reza tanpa filter.
"Cari di laci!"
Saat mendapati barang yang ia cari, Reza mengangkat tinggi-tinggi benda yang berguna untuk menyangga dada istriku. "Ini benar ukurannya segini?" Gumam Reza menatap dua bolongan yang cukup dalam.
"Reza, kau mau aku mati kedinginan di sini?!" Teriak Jasmine menyadarkan dialog kotor Reza dengan pikirannya.
"Hei aku ini baik loh, masih untung aku mau menikahi wanita jelek seperti mu." Ucap Reza mengamati setiap inci wajah istrinya yang asik membaca.
Jasmine menutup buku yang ia pegang lalu meletakkannya di atas pangkuannya.
"Oh ya? Apa yang kau sukai?" Tanya Jasmine dengan senyuman manis di bibirnya. Sedangkan perasaan Reza yang sudah tidak enak hanya menatap bingung kearah istrinya.
"A-apa maksud mu?" Tanya Reza karena tidak biasanya gadis itu tersenyum manis.
"Istri mana yang kau sukai? Bijaksana dan setia?" Tanya Jasmine menaruh tangannya di atas buku di pangkuannya.
"Seksi? Wanita karir? Mem-"
"Hentikan!" Ucap Reza dengan tampang terkejutnya.
"Tapi kalau aku mau di servis setiap hari? Bisa?" Lanjut Reza menanggapi perkataan Jasmine.
"Servis? Servis a... Dasar gila!" Teriak Jasmine melemparkan buku yang ada di pangkuannya kearah Reza.
"Cih! Jikapun kau adalah pria terakhir di muka bumi ini, aku tidak akan pernah sudi di sentuh oleh barang bekas sepertimu." Sarkas Jasmine dengan tangan bersedekap dengan arogannya.
"Oh ya? Okay. Aku tidak akan menyentuhmu dengan sebuah syarat, tidak! Beberapa syarat." Ucap Reza dengan seringai menjengkelkan dari wajahnya.
"Menjengkelkan!" Ucap Jasmine mencoba menahan dirinya untuk tidak memaki pria di hadapannya.
__ADS_1
To be continued